Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Sengaja memancing kemarahan


__ADS_3

Setelah selesai dengan seluruh surat menyurat dari tanah yang telah menjadi milik nya, Maya kemudian meng copy surat tersebut, setelah selesai dia menyimpan surat asli nga kemudian berkata pada sekretaris nya.


"Urus surat-surat dengan selesai, jangan sampai ada kesalahpahaman"


Ucap Maya kemudian.


Sang sekretaris mengangguk kan. kepalanya dengan cepat.


setelah memastikan sekretaris nya pergi, Maya sejenak menatap kearah layar laptop nya, entah apa yang dia pikirkan dia seperti nya merencanakan sesuatu saat ini.


"Bukankah akan sangat menarik jika aku sedikit bermain-main?"


Maya berguman, mencoba membuka media sosial nya, dia pikir mungkin dia bisa meng'upload kebahagiaan nya disana, dia berteman dengan beberapa perusahaan ternama termasuk pemilik umbrella group, ayah Shinta Hertanto. Dia ingin tahu bagaimana respon laki-laki tersebut saat dia telah memiliki tanah yang menjadi impian laki-laki tersebut sejak lama.


setali tiga uang, ini benar-benar luar biasa pikir nya, dia yakin tuan Hartanto akan marah besar kepada Shinta, ulah putri nya akan membuat nya begitu marah besar. Dia yakin akan ada perang dunia ke dua di antara mereka.


dan dengan gerakan yang begitu penuh kesenangan gadis tersebut memposting foto surat tanah milik nya dari Mawangsa, sangat senang saat dia melakukan hal tersebut.


Secara perlahan Maya meng' upload foto surat tanah itu, begitu tenang dan juga mematikan, mengucapkan terimakasih pada Mawangsa dengan mencantumkan nama laki-laki tersebut di sana dan nama perusahaan nya.


Maya menaikkan ujung bibirnya dengan penuh kesenangan,dia pikir dia benar-benar berubah menjadi gadis jahat saat ini.


Selang beberapa waktu tiba-tiba handphone nya berdering, membuat Maya mengerutkan keningnya, menatap ke layar handphonenya siapa yang menghubungi dirinya.


"Dave?"


Dia terkejut, menggeser layar handphone nya dan mengangkat panggilan laki-laki tersebut.


"Aku terkejut kamu menghubungi ku, Dave?"


Dia jelas bahagia, menampilkan rona kerinduan untuk laki-laki tersebut.


"Aku merindukan kamu, maaf karena banyak pekerjaan yang harus aku lakukan membuat ku sulit untuk menghubungi kamu"


Diseberang sana Dave menyahut dengan cepat, nada suaranya dipenuhi kerinduan dan penyesalan, dia punya terlalu banyak pekerjaan hingga terpaksa mengabaikan Maya selama berminggu-minggu ini.


"Itu bukan masalah, aku senang kamu menghubungi ku dalam waktu sibuk ku, Dave"


Maya menjawab cepat dengan senyuman yang mengembang di balik bibir nya.


Mereka mengobrol cukup lama seolah-olah melepaskan rindu, terdengar canda tawa dalam obrolan mereka di handphone untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya Dave bertanya.


"Aku melihat mu mem' posting sesuatu di sosial media mu Maya, itu surat tanah Mawangsa? kenapa bisa ada di tempat kamu?"


Tiba-tiba Dave bertanya, nada yang diberikan begitu penuh rasa penasaran.


Maya langsung tersenyum senang, dia menjawab.


"Jangan pikirkan apapun, Shinta hanya melakukan sebuah kesalahan fatal hingga membuat ku mendapat kan hal tidak terduga"


"Apa dia melakukan hal buruk pada mu?"


Dave bertanya cepat, nada nya terdengar sangat khawatir, ingin tahu apa yang terjadi.


"Jangan membuat ku khawatir, apa yang dia lakukan pada mu?"

__ADS_1


Saat Dave mendesak akhirnya Maya berkata.


"Aku mendapatkan nya dengan tidak terduga, seperti sebuah keberuntungan tapi sedikit membuat ku berada dalam kesulitan antara hidup dan mati"


Dia bercerita pada Dave, membiarkan laki-laki diseberang sana mendengar kan tiap detail kisah bagaimana dia mendapatkan surat tersebut.


"Apa?"


Dave mengerut kan kening nya, meskipun belum begitu paham dengan apa yang di ucapkan Maya, tapi hati nya menjadi gelisah.


"Saat mengejar direktur Accord keluar negeri bersama Julian, Shinta melakukan hal yang licik, dia mencoba membunuh ku saat kami berada di kolam pemandian air panas"


Dan saat Maya berkata begitu, ekspresi wajah Dave langsung berubah, andaikan Maya melihat nya dia pasti tidak berani menatap rona wajah laki-laki tersebut yang terlihat begitu berubah warna.


Bola mata Dave langsung menggelap, dia tampak mengeratkan rahangnya.


"Dia mencoba untuk membunuh mu?"


Dave bertanya, menggenggam erat telapak tangan nya diam-diam.


"He em, aku nyaris mati karena nya, saat bangun dokter berkata salah sedikit bisa patah leher, aku benar-benar tidak menyangka, perempuan itu akan berbuat licik pada ku"


Ucap Maya dengan nada pelan, dia terlihat sedih, mencoba menghela pelan nafasnya.


Dave terlihat sangat marah, mencoba menahan gejolak di dalam hati nya, tidak menampilkan suara penuh penekanan karena marah, dia berusaha menjadi sabar dan Sedikit bicara.


"Bergerak lah hati-hati lain kali,aku takut hal buruk akan terjadi, jangan pergi sendirian dan cari seseorang yang bisa menjagamu dalam banyak situasi"


Dia berusaha memberikan arahan, berharap Maya tidak gegabah dalam melangkah.


Saat gadis tersebut menjawab begitu, Dave terlihat mengembangkan senyuman nya, mereka mengobrol beberapa hal hingga akhirnya Dave mematikan handphone nya.


Dan saat setelah panggilan terputus, Dave langsung menoleh kearah depan nya, menatap seorang laki-laki yang berdiri dihadapan nya.


"Lakukan sesuatu untuk ku"


Ucap Dave tiba-tiba.


Laki-laki dihadapan nya melangkah maju, kemudian menundukkan kepalanya.


"Aku benci saat seseorang melukai harta berharga ku, buat perempuan ini merasakan lebih dari apa yang dia pikirkan dengan cara mu sendiri"


Dan Dave menyeret sebuah foto dari handphone nya, menampilkan nya pada laki-laki dihadapan Dave dengan tatapan penuh kebencian.


Di sana muncul gambar Shinta, dimana sang bawahan langsung menundukkan kepalanya.


*******


Umbrella company


Ruang kerja utama Hertanto.


Ayah Shinta terlihat fokus dengan pekerjaan nya dimana ada beberapa relasi bisnis tengah bicara dengan diri nya, mereka terlihat bicara soal beberapa hal sambil duduk di atas kursi sofa mendominasi berwarna merah.


cukup lama hingga tiba-tiba seseorang masuk dengan ekspresi wajah sedikit memucat, dia melangkah mendekati tuan Hertanto sambil berbisik pelan.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya lebih tersebut seketika Meraih handphone nya, dan didetik berikut nya ekspresi wajah pemilik umbrella group tersebut langsung berubah.


"Apa?"


Dan bayangkan bagaimana ekspresi laki-laki tersebut saat ini.


"Berikan aku waktu sebentar, aku harus menghubungi seseorang"


Tuan Hertanto bicara pada relasi bisnis nya, berdiri dari posisi nya dengan cepat dan bergerak pergi dari sana.


Dia mencoba pergi dari ruangan tersebut dan berusaha untuk menghubungi seseorang.


"Mawangsa?"


Dan seketika laki-laki tersebut terlihat mengeram kesal.


"Apa yang terjadi pada tanah dipinggiran kota tersebut? kenapa Maya bisa memiliki nya?"


Dia mengeram penuh kemarahan, bayangkan bagaimana perasaan nya, tanah itu akan menjadi investasi terbesar kedepan nya untuk perusahaan mereka, bagaimana bisa sekarang berpindah tangan pada bocah gadis tersebut.


"Maafkan aku ayah"


Saat Mawangsa berkata begitu, dia pikir apakah Mawangsa telah melewati akal warasnya.


"Apa kau masih mencintai Maya dan melakukan hal menjijikkan seperti itu tanpa membicarakan nya lebih dulu pada ku?"


Dia benar-benar marah, ingin sekali bertemu Mawangsa dan menghajar laki-laki tersebut.


"Aku tidak dengan sengaja melakukan nya, tapi ini karena Shinta yang membuat masalah dan nyaris membunuh Maya"


Dan saat Mawangsa berkata begitu, seketika tuan Hertanto terbelalak kaget.


"A..pa?"


Dia bertanya dengan suara bergetar.


Dan Mawangsa terpaksa bercerita, membuat tuan Hertanto seketika nyaris jatuh dari posisi nya.


Bocah itu.


Dia mengeram kesal, mencoba menetralisir detak jantung nya.


"Ayah harus mencoba bicara pada Shinta agar dia tidak lagi berbuat kekacauan hingga membahayakan nyawa orang lain"


Ucap Mawangsa di seberang sana.


"Ini bisa merusak reputasi perusahaan juga aku dan ayah"


Lanjut Mawangsa lagi kemudian.


"Aku akan bicara pada Shinta"


Tuan Hertanto melembutkan suaranya, berusaha menahan seluruh emosi nya yang akan meledak tidak lama lagi.


sial.

__ADS_1


__ADS_2