Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Selalu merebut apapun milik nya


__ADS_3

Jangan ditanya bagaimana terkejutnya Maya saya tiba-tiba seseorang menyambar jam tangan yang ada di hadapannya, dan yang lebih membuatnya terkejut lagi tersebut adalah Shinta.


Apa dia harus memutar bola matanya? cih yang benar saja.


Maya hanya menaikkan ujung bibirnya, membiarkan perempuan tersebut melakukan apapun yang dia inginkan, dia hanya berusaha untuk melihat sejenak tanpa mesti harus bersusah payah untuk mengeluarkan ekspresi tidak elegannya menghadapi perempuan seperti Shinta.


Bagi Maya meladeni Shinta itu sangat tidak berkelas, istilahnya ketika kamu menghadapi orang gila jangan ikut-ikutan menjadi gila cukup melihatnya saja tanpa harus terlihat kamu lebih gila dari diri nya.


Kesal lah dengan cara yang elegan, sebab ada yang berkata, semakin tinggi sebuah pohon angin yang datang jelas akan semakin kencang, diri nya jelas tidak sepadan untuk meladeni perempuan seperti Shinta.


Bagi Maya meskipun Shinta putri orang terpandang dan kaya raya, tapi sifat nya sama sekali tidak mencerminkan dia berasal dari kalangan kelas atas, lebih tepatnya dia pikir Shinta lebih mirip dengan OKB, orang kaya baru yang harus pamer sana sini untuk memamerkan apa yang baru dia miliki saat ini.


"Maaf karena aku harus mengambil jam tangan ini lebih dulu"


Ucap Shinta Sembari menatap Maya dengan tatapan penuh ketidaksukaan dan permusuhan.


Maya terlihat mengabaikan Shinta, bola matanya fokus pada barisan jam yang lain, sedangkan pelayan toko yang melayani nya tadi kini terlihat melayani Shinta sembari melirik kearah Maya sejenak.


Satu pelayan lainnya berusaha menyeruak ke antara mereka.


"Aku akan mengambil yang ini, tolong di bungkus dengan Serapi mungkin, sebab ini akan aku hadiahkan untuk calon suamiku"


Shinta bicara dengan cepat sembari mendengus kearah Maya, dia selalu merasa baru saja mendapatkan dan memenangkan lotere besar.


merasa sangat puas karena bisa mendapatkan barang yang akan dibeli oleh Maya.


bahkan perempuan itu dengan sengaja berkata jika jam tangan tersebut akan dia hadiahkan untuk mawangsa, dia tahu Maya akan sakit hati mendengarnya.

__ADS_1


bisa dilihat bagaimana Rona bahagia di balik wajah Shinta saat ini, perempuan tersebut menunggu dengan hati berdebar-debar jam tangan yang akan di packing oleh pelayan toko itu.


"Maaf nona"


tiba-tiba sang pelayan toko bicara sembari menundukkan kepalanya.


"Apakah anda memiliki kartu member?"


"Ya?"


Saat mendengarkan pertanyaan seperti itu seketika membuat Shinta bertanya sembari menaikkan alisnya.


Member toko?!.


tentu saja dia tidak memilikinya karena ini adalah kunjungan pertamanya, bahkan dia tidak tahu di masa lalu apakah dia pernah mengunjungi tempat ini, sepertinya sebelum mengalami lupa ingatan dia pun tidak pernah mengunjungi tempat ini dan membuat member di toko tersebut.


dia menjawab dengan cepat.


"Bisakah aku mendapat kan nya?"


Tanya nya kembali sembari menunggu dengan perasaan tidak sabar.


alih-alih mendapatkan jawaban yang memuaskan, tiba-tiba saja sang pelayan toko berkata.


"Maafkan kami nona, tapi jam ini merupakan edisi limited edition dan hanya bisa dibeli oleh member aktif di toko ini"


ucap sang pelayan sembari mengembangkan senyuman terbaiknya, kemudian dia menoleh ke arah Maya lantas berkata.

__ADS_1


"Karena nona Maya adalah member toko aktif selama 2 tahun lebih ini, maka kami akan bertanya pada nyonya Maya terlebih dahulu, apakah Nona masih menginginkan jam tangan ini?"


tanya perempuan itu ke arah Maya sembari menundukkan kepalanya.


What?!.


bayangkan bagaimana ekspresi Shinta saat ini?! wajahnya jelas langsung merah padam, dia benar-benar tersinggung dan marah.


namun alih-alih bisa marah pada Maya, Shinta hanya mampu menggenggam erat telapak tangan.


Maya yang mendengar pertanyaan sang pelayan toko jelas Langsung mengembang kan senyuman nya.


"Tentu saja aku masih menginginkannya, Anda bisa membantuku untuk mem packingnya dan meletakkan beberapa tulisan khusus untuk sang penerimanya"


jawab Maya dengan intonasi yang begitu tenang, dia mengembangkan senyumannya sembari sedikit mengangguk kan kepalanya.


"Maaf kan kami nona, anda bisa memilih jam tangan yang lain dan mencoba mulai mengaktifkan member anda di toko kami untuk mendapatkan barang limit edition lainnya"


kembali pelayan tersebut berkata sembari mengembangkan senyumannya, dia menundukkan kepalanya dan meminta maaf karena tidak bisa memberikan ada yang bukan member atas jam tangan limit edition tersebut.


Shinta benar-benar merasa tersinggung dan naik darah, tapi dia berusaha untuk menetralisir kemarahannya. Dia pikir apa dia harus memaki-maki Maya lagi sekali ini? tapi karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan pada akhirnya Shinta mau tidak mau mengalah.


setelah Maya mendapatkan jam tangan tersebut, dia langsung mengembangkan senyumannya lantas langsung bergerak pergi dari sana tanpa harus berpamitan kepada Shinta atau berbasa-basi lagi.


tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Shinta saat ini, perempuan itu jelas mengeram dengan sangat kesal bahkan dia berkata dengan ketus.


"apakah dia tidak bisa tidak mengambil hak milik orang lain? dia selalu saja mendapatkan apa yang harusnya aku dapatkan dan selalu saja merampas apa yang seharusnya menjadi milikku"

__ADS_1


Geram nya sembari menggeratkan rahangnya dan menggenggam arah telapak tangan kanan nya dengan penuh kemarahan.


__ADS_2