Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Konferensi pers


__ADS_3

"Ya, aku adalah laki-laki bertopeng rubah," dan bisa Maya dengar jawaban di seberang sana.


Maya jelas saja terkejut setengah mati, kembali menutup mulutnya dan memejamkan sejenak bola mata nya.


"Bisakah kita bertemu nanti? aku bener-bener ingin bertemu denganmu dan bisa bicara denganmu," Maya terlihat memohon agar dia bisa bertemu dengan laki-laki tersebut.


Tapi sayangnya laki-laki bertopeng rumah tersebut langsung menolak permintaan dari Maya.


"maafkan aku karena tidak bisa melakukannya itu karena ada berbagai macam alasan yang tidak bisa aku jelaskan pada dirimu saat ini." laki-laki itu benar-benar menolaknya mentah-mentah.


"tapi kamu terlalu banyak melindungiku dan mencoba untuk membantuku, aku tidak paham bagaimana untuk membalas kebaikan, setidaknya izinkan aku bertemu dan mengucapkan terima kasih secara langsung mungkin bisa mentraktir mau minum atau makan bersama," Maya berusaha untuk menawarkan kebaikan bertemu sedikit bukan masalah atau hanya punya waktu sebentar yang dia inginkan melihat laki-laki itu secara langsung yang terus melindungi nya diam-diam selama ini.


"aku tidak perlu ditraktir dan lain sebagainya bahkan aku tidak pernah dibalas Budi atas apa yang dilakukan padamu karena aku melakukannya secara tulus dan aku memang ingin melakukannya untukmu, hiduplah dengan baik dan aku akan terus melindungimu di belakang semua orang, akan ada masanya bagaimana kita bertemu karena saat ini kita tidak bisa melakukannya." laki-laki di seberang sana bicara dengan cepat sembari berkata jika saat ini bukanlah waktu yang paling tepat untuk mereka bertemu.


"lalu kapan kita bisa bertemu?," Maya jelas saja ingin tahu dia ingin bertemu laki-laki tersebut secepatnya.


"akan ada masa, tunggu saja waktu itu datang. saat ini jangan khawatir soal apapun nikmatilah kehidupanmu." ucap laki-laki itu lagi, kemudian terdengar suara handphone ditutup oleh laki-laki di ujung sana membuat Maya terdiam untuk beberapa waktu.


Jujur dia cukup kecewa karena tidak bisa bertemu dengan laki-laki tersebut, padahal harapannya dia bisa bertemu dengan laki-laki itu secepatnya.


Maya meletakkan handphonenya secara perlahan ke atas meja kemudian dia mengehela kasar nafasnya untuk beberapa waktu. Pada akhirnya Maya memilih beranjak dari posisinya dan dia pikir mungkin membersihkan diri adalah pilihan yang terbaik setelah itu mungkin dia bisa memilih untuk mengistirahatkan diri dari rasa lelah dan pernah yang menghantamnya menjadi satu. gadis itu beranjak menuju ke arah kamar mandi dan berniat untuk membersihkan dirinya dengan cepat. sembari pikirannya berkelana cukup jauh, dia pikir Windi seharusnya tidak bergerak sendiri, besok dalam konferensi pers dia akan menyelesaikan perempuan itu dengan caranya sendiri dan mungkin dia akan menekannya karena banyak yakin seseorang pasti terlibat di belakangnya.


******


Keesokan paginya.


Begitu bangun dari tidurnya gadis tersebut memilih untuk membersihkan tubuhnya kemudian langsung bergerak untuk pergi menuju ke arah perusahaan, hari ini dia harus menghadiri konferensi pers.

__ADS_1


Tapi begitu membuka pintu rumahnya bisa dilihat di atas meja terdapat sebuah paper bag yang di dalamnya dia tidak tahu apa isinya, Maya secara perlahan meraih paper bag tersebut dan ingin melihat paper bag tersebut dan ingin melihat apa isi paper bag itu secara perlahan hingga pada akhirnya bisa dilihat pada tumpukan surat di dalam sana yang di mana surat-surat itu adalah surat-surat yang dia miliki bersama sahabat penanya di masa lalu dan hari itu seketika membuat Maya diam untuk beberapa waktu.


Dia yakin jika Elsa yang membawa surat tersebut ke kediamannya kemarin, tiba-tiba dia merindukan masa-masa itu, di mana dia adalah Maya muda yang masih sangat ceria dan bahkan begitu bahagia menjalani kehidupannya, merasa menyesal karena dicintai memangsa dan menyia-nyiakan masa mudanya, menikah dengan laki-laki tersebut dan mengartikan diri selama 6 tahun berharap hati memangsa berubah melunak mencintainya hingga pada akhirnya dia sadar dia telah menghabiskan masa mudanya selama 6 tahun dan kehilangan kesempatan untuk berkumpul bermain bersama dan bersenang-senang di usia muda nya.


Terkadang ada jutaan sesal didalam hati nya, berpikir seandainya saja saat itu dia tidak jatuh cinta pada Mawangsa saat di kampus mereka, tidak tertarik pada laki-laki itu dan tidak....


Fuhhhh Maya mengehela panjang nafasnya.


Dia mengambil surat-surat yang ada di hadapannya tersebut tanpa banyak bicara dan memasukkannya ke dalam tasnya, bergerak perlahan pergi dari sana menuju kearah mobil yang telah menunggu nya sejak tadi.


"kamu tidak terlihat baik-baik saja," suara seseorang di dalam mobil terdengar memecah keadaan, di mana Julian bicara, menatap ke arah Maya dan memandangi wajah gadis tersebut untuk beberapa waktu.


"Hanya merasa sedikit kurang enak badan," Maya menjawab dengan cepat pertanyaan laki-laki di sampingnya itu di mana dia membenahi posisi duduknya secara perlahan.


"perlu pergi ke dokter untuk memeriksakan diri atau pergi ke apotek untuk membeli obat?," Julian bicara dengan perasaan sedikit khawatir.


Mereka terlihat diam untuk beberapa waktu di mana Julian mulai melajukan mobilnya ke arah depan secara perlahan, memfokuskan pandangannya ke arah jalanan.


"Laki-laki bertopeng rubah kembali bergerak membantu ku, Julian." Dan Maya bicara pada akhirnya.


Mendengar hal tersebut Julian terlihat langsung melirik ke arah gadis di sampingnya tersebut.


"Benarkah?," tanyanya pelan.


"He em." Maya menganggukan kepalanya.


"dia sudah cukup banyak membantu ku, membuatku cukup penasaran siapa dia yang sebenarnya," Maya bicara, melirik kearah Julian sejenak.

__ADS_1


"tidak mengajaknya untuk bertemu?," Julian bertanya dengan cepat pada garis tersebut.


Maya menganggukan kepalanya tapi kemudian dia terlihat mengehela kasar nafasnya.


"Aku tidak berhasil membujuknya untuk bertemu, dia menolak dan berkata ini belum waktunya, tapi dia memastikan akan terus melindungiku bagaimanapun caranya dan jangan khawatir soal apapun," lanjut Maya lagi kemudian.


"aku senang mendengar dia akan melindungimu itu berarti setiap kali ada kejahatan yang mengintai setidaknya ada yang bergerak lebih dulu untuk mencari tahu dan juga mencoba untuk membuat kamu aman untuk bergerak ke manapun."


"tapi aku merasa begitu berhutang budi pada nya di mana aku sama sekali tidak tahu siapa dia," Maya terlihat cukup sedih.


"jangan khawatir salah takut karena aku yakin akan ada masanya dia ingin bertemu denganmu, mungkin ini diambil waktunya untuk menampakkan diri karena ini juga bisa cukup membahayakan dirinya." Julian berusaha untuk memberikan pemahaman pada Maya.


Maya yang mendengar penjelasan deh seketika menganggukkan kepalanya, dia pikir apa yang diucapkan oleh laki-laki itu cukup masuk akal, menampilkan diri saat ini mungkin akan berakibat kurang baik.


"He em, apa yang kamu ucapkan ada benarnya juga." pada akhirnya Maya mengalah, berusaha memahami apa yang dipikirkan dan diucapkan oleh laki-laki rubah semalam.


*******


The Malaka company.


Begitu mereka tiba di perusahaan Maya, bisa dilihat para wartawan telah berkumpul menjadi satu saat ini di mana Maya memang sudah merencanakan untuk melakukan konferensi pers. Dia dan Julian bergerak masuk ke dalam perusahaan di mana kilat flash lampu kamera menghantam mereka. Maya terlihat begitu tenang bergerak menuju ke arah barisan kursi yang telah disusun untuk dirinya duduk dan menjelaskan semua persoalan duduk perkara.


Gadis tersebut mulai duduk di kursi yang tengah disediakan di hadapannya gimana para wartawan sudah tidak sabaran ingin bertanya.


Diseberang sana di tempat yang berbeda Mawangsa menonton siaran langsung secara live konferensi pers yang digelar oleh Maya, menatap wajah gadis tersebut dari layar kaca dan seketika hatinya berdetak begitu kencang ketika dia menyadari betapa cantiknya gadis itu saat ini ditambah diterpar cahaya dari kilatan lampu kamera di seluruh sisi di mana garis tersebut duduk saat ini. Percayalah ada sedikit sesali dalam hatinya kenapa dia melepaskan gadis itu di masa kemarin, tapi dia sama sekali tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata karena ada bagian dari satu sisi kemanusiaannya yang tidak bisa mengabaikan Shinta.


Disisi lain nya lagi Windi menonton konferensi pers tersebut dengan jantung yang jelas tidak baik-baik saja, dia pikir seharusnya dia tidak terlibat dengan kasus ini dan kebodohannya dia membantu Shinta tanpa berpikir dua tiga kali, tidak menyangka jika kasus dia akan berkembang hingga sejauh ini dan membuatnya cukup kesulitan karena keadaan.

__ADS_1


Disisi lain Shinta terlihat mengeram, dia menatap ke arah wajah cantik Maya di balik layar televisi, cukup takut dengan keadaan jika konferensi pers yang berjalan akan menarik namanya di dalam sana.


__ADS_2