
Istri Hertanto mencoba menahan isakan nya namun realitanya dia sama sekali tidak bisa melakukannya, ingatannya pada anak perempuan pertama nya yang telah meninggal jelas masih melekat erat didalam pikiran nya.
tidak ada ibu yang tidak akan menangis saat dia merasa kehilangan anak-anaknya, bahkan sekuat-kuatnya wanita dia akan tumbang juga ketika kehilangan buah hatinya.
Entah berapa tahun telah berlalu dia sama sekali tidak ingin mengingatnya, tapi realitanya di setiap tahun peringatan kematian putri nya dia akan menangis tersedu-sedu baik seorang diri atau bahkan ditemani oleh Shinta atau suaminya.
dia hanya pura-pura kuat di hadapan banyak orang juga semua orang, tapi tidak pernah ada yang tahu betapa hancur hatinya setiap kali dia mengingat peristiwa di masa lalu.
mendengar sang istrinya menangis seketika membuat tuan Hertanto menghentikan laju mobilnya, dia menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mencoba untuk menenangkan istrinya.
seharusnya dia pikir dia tidak membeli rangkaian bunga untuk peringatan kematian putrinya, tapi tidak bisa dipungkiri dia tidak bisa untuk tidak melakukan hal tersebut, hari ini adalah peringatan kematian Putri kesayangan mereka.
dia telah melakukan banyak hal untuk membalaskan dendamnya, 6 tahun yang lalu dia melakukan itu semua, menjebak ayah Maya dan membuat laki-laki itu tahu bagaimana rasanya kehilangan.
dia membuat perusahaan ayah Maya hancur berantakan dan dia juga yang mengambil alih perusahaan tersebut hingga membuat perusahaan itu berubah menjadi sebesar ini dan berganti nama menjadi Umbrella company.
6 tahun yang lalu, dia telah melakukan segala hal untuk menjatuhkan laki-laki tersebut dan juga keluarganya, namun karena Maya pada akhirnya menikah dengan Mawangsa, dia sama sekali tidak memiliki cara untuk mencegahnya, dan dia tidak bisa menyelesaikan gadis itu sesuai dengan keinginannya, karena Maya berada di tangan mawangsa.
"jangan keluarkan lagi air matamu atas banyak kemenangan yang kita peroleh, kita tidak bisa lagi meratapi nasib dimana Reyna benar-benar telah meninggalkan kita"
Laki-laki tersebut bicara sembari memeluk tubuh istrinya.
****
Melaka company
Maya terlihat berjalan tergesa-gesa menuju ke arah perusahaannya saat sekretarisnya menghubunginya dan berkata jika Julian saat ini tengah berada di ruangan kerjanya dan tengah berbicara dengan pemilik perusahaan Heritage Company, tuan Heriansyah.
dia jelas juga terkejut karena laki-laki itu datang menemuinya ke perusahaannya hari ini.
"Ini cukup membuatku terkejut karena tuan datang kemari secara tiba-tiba"
Maya bicara cepat begitu dia tiba ke ruangannya, dia menyalami laki-laki tersebut dan mempersilakan tuan Heriansyah untuk duduk di kursi yang mendominasi berwarna hitam di dalam ruangan kerjanya.
"ini kesalahanku karena tidak langsung menghubungi kamu lebih dulu dan langsung datang kemari"
__ADS_1
laki-laki berusia setengah abad tersebut bicara sambil tertawa kecil, dia menatap Maya yang kini ikut duduk di hadapannya.
"kami bisa menyebut anda dengan baik ketika tuan datang kemari dengan pemberitahuan"
Maya bicara cepat sembari mengembangkan senyumannya.
"Itu bukan masalah "
laki-laki tua itu menjawab dengan cepat.
"sebenarnya kedatanganku kemari untuk menawarkan proyek kerjasama antar perusahaan"
tuan Heryansyah bicara dengan nada yang serius kali ini, dia mencoba membekan tawaran kepada Maya, mengingat bagaimana malam itu ketika mereka bermain mahyong Maya mencoba untuk mendatangi tuan Baskoro dan menawarkan kerjasama.
dia agak kurang suka dengan perlakuan laki-laki tua tersebut yang sedikit kurang ajar terhadap Maya, karena itu dia pikir dia mencoba untuk menawarkan kesepakatan dibelakang laki-laki tersebut.
mendengar tawaran dari laki-laki tua di hadapannya itu jelas membuat Maya bahagia namun sayangnya dia tidak bisa menerima tawaran nya.
"Aku pikir ini cukup terlambat, perusahaan kami telah bekerjasama dengan perusahaan lain dan sudah menandatangani kontrak kerjasamanya"
gadis itu menolak dengan cara yang halus, dia jelas tidak bisa menjalin kerjasama dengan dua perusahaan sekaligus saat ini.
lanjut Maya lagi.
mendengar ucapan Maya seketika membuat tuan Hariansyah sedikit kecewa.
"sebenarnya aku ingin datang pada waktu sebelumnya, namun karena mawangsa memintaku untuk tidak mengikat kerjasama dengan perusahaan kalian pada akhirnya aku terpaksa untuk menundanya"
mendengar ucapan laki-laki tua itu seketika membuat Maya mengerutkan keningnya, dia cukup terkejut karena mawangsa mewanti-wanti orang lain untuk bekerja sama dengan perusahaan nya.
pada akhirnya Maya mencoba untuk tertawa kecil sembari berkata.
"Itu bukan masalah, lain kali kita bisa menjalin kerjasama untuk perusahaan kita setelah kami menyelesaikan proyek kerjasama kali ini"
ucap gadis tersebut dengan cepat.
__ADS_1
Mendengar ucapan Maya tuan Hariansyah hanya bisa menghela panjang nafasnya.
"Itu ide yang cukup bagus"
pada akhirnya laki-laki tersebut pamit untuk kembali, dan begitu tuan Hariansyah pergi Julian berkata.
"Mari kita pergi untuk mendapatkan makan siang"
ajak laki-laki tersebut kemudian.
Maya meng iyakan ajakan Julian.
mereka baru akan keluar untuk menikmati makan siang namun tiba-tiba saja handphone Maya berdering.
gadis tersebut buru-buru melirik ke arah handphonenya dan melihat sebuah nomor tidak dikenal terpampang jelas di depan layar handphonenya tersebut.
dengan sedikit ragu-ragu Maya mengangkat panggilan nya.
"Halo?"
Dia bicara pelan.
"Apakah ini nyonya Maya?"
dari seberang sana terdengar suara seorang perempuan.
Maya jelas langsung mengerutkan keningnya dia pikir siapa orang tersebut.
"Yah ini adalah aku"
Jawab gadis itu pelan.
"bisakah anda pergi ke kantor polisi saat ini? sebab adik anda berada di sini dan kami membutuhkan anda untuk menjadi wali nya"
Kembali perempuan diujung handphone bicara dengan cepat.
__ADS_1
mendengar ucapan perempuan itu yang berkata soal kantor polisi dan adik seketika membuat Maya membulatkan matanya dan terkejut setengah mati.
"Ya?"