Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Menghapus semua nya


__ADS_3

Tiba-tiba Mawangsa sudah Tiba di pintu masuk room tersebut, wajah tampan dengan tubuh besar tinggi di mana tatapan mata laki-laki itu menatap dingin dan tajam orang-orang yang ada di ruangan tersebut seketika menambah kesan betapa tampannya laki-laki tersebut.


melihat sosok mawangsa seketika membuat mayat terdiam dia menunjukkan kepalanya dan kembali memperhatikan kartu yang ada di tangannya.


Mawangsa buru-buru masuk ke tempat ini saat dia tahu temannya mengirimnya sebuah foto di mana Maya dan Shinta saling bertaruh kartu untuk menghabiskan uang mereka, dia pikir kenapa Maya bodoh sekali setelah kejadian di perusahaan Velgata dan kalah kalah telak saat bertarung dengan tuan Baskoro, bisa-bisanya gadis itu bertindak ceroboh dan bodoh untuk kembali bertaruh dengan Shinta yang notabene nya sangat pandai bermain kartun.


dan lagi dia datang ke tempat ini saat dia tahu Shinta sedikit terkena demam dan flu, dia jelas mengkhawatirkan Perempuan tersebut.


laki-laki itu berjalan mendekati cinta kemudian mengambil sebuah jaket yang telah dipersiapkan dan memberikannya kepada perempuan tersebut, dia tahu di cuaca dingin seperti ini Shinta pasti akan merasa lebih buruk karena demam dan flu nya.


"Kamu terkena flu tapi masih nekat untuk keluar dan bermain kartu"


Mawangsa bicara sedikit protes ke arah Shinta.


"Sayang aku bosan di rumah dan lagi hari ini adalah ulang tahun temanku, aku juga ingin menemani Ayunda hanya sebentar setelah ini baru akan pulang"


Shinta menjawab dengan begitu manja.


"Oh ckckckck kau terlalu romantis Memperlakukan kekasih mu Mawangsa, itu membuat kami iri"


Perempuan teman nya Shinta berkata cepat, merasa iri dengan perlakuan romantis Mawangsa.


Maya terlihat kehilangan selera untuk bermain kartu, karena itu sengaja membuat dirinya kalah lebih cepat.


"Tinggal dua putaran lagi"


Ucap Shinta penuh semangat.


"Kau tidak pandai bermain kartu, berhentilah sebelum kamu kehabisan uang"


Suara Mawangsa memecah keadaan, dia memandang jengkel kearah Maya.


Mendengar ucapan Laki-laki tersebut sama sekali tidak membuat Maya gentar, dia tetap melanjutkan permainan nya.


"Kau akan kalah telak"


Lanjut Mawangsa lagi.


Alih-alih peduli ucapan Mawangsa dia terus bergerak mengeluarkan kartu nya, seolah-olah Maya sengaja untuk membuat dirinya kalah telak.


"Yeyyyy kita menang"


Shinta melonjak bahagia.

__ADS_1


"karena aku menang dalam 5 kali putaran maka kamu harus menghapus tato mu saat ini juga"


tiba-tiba perempuan tersebut mengeluarkan suara yang hingga membuat mawangsa mengerut kan keningnya.


"Tato?"


laki-laki itu bertanya sembari menatap ke arah Shinta kemudian melirik ke arah Maya.


"Oh kok tidak tahu bukankah ditinggal Maya terdapat tato namamu?"


Tiara mengeluarkan suara nya.


"mereka sejak awal telah bertarung jika Maya kalah dalam lima putaran maka Maya akan dengan rela hati menghapus tato namamu di pinggangnya"


Jelas Tiara kemudian.


"Ya?"


mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya tersebut seketika membuat Mawangsa membulatkan bola matanya.


Tato nama ku?!.


Mawangsa semakin mengerutkan keningnya.


dulu dia ada sahabat penanya pernah membahas soal tato masing-masing nama pasangan, kalau itu sahabat penanya berkata jika dia membuat tato nama nuansa di pinggangnya.


Kini bola mata mawangsa menatap ke arah tukang tato yang akan membersihkan tato di tubuh Maya, tidak tahu kenapa tapi dia merasa perasaan nya seolah-olah berkata tidak rela, perasaan cuma sebentar dirinya dan satu ingatan berkelabat di atas kepalanya.


Mawangsa seketika langsung menoleh ke arah Shinta, dia kemudian bertanya.


"Dulu ketika berkirim surat kita pernah membahas soal tato apakah kau benar-benar membuatnya?"


tanya laki-laki itu sembari menatap dalam bola mata Shinta.


Shinta seketika sedikit gelagapan.


"Sayang bukankah kita telah sepakat untuk tidak membahasnya? ada lagi kenapa karena soal tato Maya tiba-tiba kamu menanyakan soal itu? apakah kamu tidak rela karena dia akan menghapus nama kamu di pinggang nya?"


perempuan itu bicara dengan bola mata berkaca-kaca, seolah-olah sengaja untuk membuat mawangsa merasa bersalah.


dia benar-benar kesal setiap kali laki-laki itu mengingat soal surat-surat mereka yang tidak berguna, untungnya dia telah menyuruh seorang pelayan untuk membuang surat-surat sialan itu.


melihat ekspresi Shinta seketika membuat memangsa terdiam ,dia kemudian langsung meminta maaf karena tidak tega melihat bola mata perempuan itu berkaca-kaca, laki-laki tersebut paling tidak bisa melihat perempuan menangis terutama itu adalah Shinta.

__ADS_1


"Maaf seharusnya aku tidak mengingat nya"


laki-laki tersebut kembali menoleh ke arah Maya di mana gadis itu kesakitan saat tato nya dihapus oleh sang tukang tato.


Maya terlihat menahan sakit dari pinggang nya, dia ingin semua cepat berlalu, ingin menghapus nama itu dengan cepat dari pinggang nya.


Dan dikala Maya kesakitan karena tatonya di hapus, tiba-tiba dari arah luar seseorang masuk ke dalam ruangan mereka.


"Maaf nona Maya?"


laki-laki muda bertanya sembari mencari sosok Maya dan menatap satu persatu perempuan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Maya buru-buru langsung menjawab.


"Ya itu aku"


ucapnya dengan cepat bersamaan dengan hampir selesainya tato miliknya dihapus.


"Ada kiriman paket untuk anda"


laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya kemudian memberikan satu kota paper bag kecil ke arah Maya.


gadis itu jelas terkejut sembari mengerutkan keningnya, dia menerima kabar baik kecil tersebut lantas langsung mengintip apa isinya.


Maya melihat sebuah kotak bludru mendominasi berwarna merah, dia buru-buru mengeluarkannya dari paper bag tersebut dan membuka isi kotaknya secara perlahan.


Hahh?!.


seketika Maya terkejut setengah mati, dia membulatkan bola matanya dengan sempurna ketika dia melihat sebuah cincin indah berada di dalam kotak tersebut.


"Oh my god, itu adalah cincin berlian limited edition tahun ini, kau tahu harga nya? itu bahkan lebih mahal dari harga cincin tunangan mu yang hilang, Shinta"


Sahabat Shinta bicara dengan bola mata berbinar-binar, dia takjub melihat cincin berlian indah tersebut.


Tiara seketika langsung mendekati Maya, bohong kalau Ayunda dan Shinta tidak terpesona dan iri, mereka berdecak kagum melihat nya.


"Ini satu-satunya yang ada di dunia ini, diproduksi secara limited edition dan tidak dicetak untuk kedua kalinya"


Ucap Tiara kemudian.


Maya melihat satu kartu yang tersemat didalam kotak tersebut, seketika senyuman indah mengembang dari balik bibir nya.


Dave?!.

__ADS_1


Itu adalah senyuman terbaik yang pernah dilihat Mawangsa dari balik wajah Maya, senyuman penuh rona kebahagiaan dan tatapan Cinta.


Semua orang jelas menatap dengan iri dan rasa panas yang mendalam termasuk Shinta.


__ADS_2