
Disisi lain.
Mawangsa terlihat mengerutkan keningnya saat Arif memberikan laporan kepadanya jika calon ayah mertuanya membuat kekacauan lagi pada Maya.
"Tuan Hertanto mengirim bawahan nya dan membiarkan mereka membuat kerusakan pada perusahaan baru yang di bangun oleh nona Mawangsa." ucap Arif pada Mawangsa.
Mawangsa terlihat mengeratkan rahang nya, laki-laki itu terlihat marah sembari menggenggam erat telapak tangan nya.
"Sebenarnya ada apa dengan keluarga Hertanto?," dia mempertanyakan hal tersebut pada dirinya sendiri, merasa ada yang tidak beres pada laki-laki tersebut dan juga para keluarganya.
Seolah-olah saat ini semua orang sedang berusaha untuk menyulitkan Maya, dia merasa cukup bodoh karena baru menyadarinya saat ini hingga pada akhirnya laki-laki tersebut mencoba untuk memijat-mijat kepalanya sejenak.
Tuan Hertanto yang terus-terusan mencoba untuk menyulitkan Maya, nyonya Hertanto yang jelas-jelas sangat tidak menyukai Maya kemudian Shinta calon istrinya yang terlihat rumit dengan rahasia yang dibawa nya sejak 6 tahun silam.
"Bergerak dan coba untuk terus menyelidiki, pastikan diam-diam bergerak dibelakang Maya, aku akan bicara dengan tuan Hertanto." pada akhirnya laki-laki tersebut bicara kepada sekretarisnya Bahar bergerak untuk terus menyelidiki.
"Bergerak tenang dan jangan sampai di curigai." lanjut Mawangsa lagi .
"Baik tuan." ucap laki-laki tersebut dengan cepat.
Mawangsa secepat kilat membuka laci meja kerjanya dan tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah handphone yang berbeda dari sana, lagi-lagi tersebut mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana. Cukup lama hingga akhirnya bisa dia dengar sahutan di ujung sana dengan suara khas yang belakangan sudah sangat dia hafal.
"Kamu disana?," tanya Mawangsa kemudian.
*******
The Malaka company,
ruang kerja Maya.
Maya langsung membulatkan bola matanya begitu dia mendengar handphonenya mengeluarkan nada dering yang berbeda, seketika bola mata gadis tersebut membulat dengan sempurna dan tiba-tiba raut wajah bahagia menyelimuti dirinya saat ini kemudian tanpa berpikir dua tiga kali lumayan langsung mengangkat panggilannya dengan cepat.
'Bebek putih?," dia begitu antusias bicara dengan laki-laki yang ada di seberang sana.
"Aku cukup terkejut kamu menghubungiku lagi setelah beberapa waktu," tambah gadis itu lagi kemudian.
Tiba-tiba Maya diam, saya dia mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut disebrang sana.
__ADS_1
"Ya?," Maya melesatkan tanya, langsung diam mendengar penjelasan bebek teman laki-laki yang pernah tidur bersama nya di hotel pada malam itu.
"Hmmm aku cukup terkejut mendengar nya," Maya bicara pelan.
"He em, aku akan mengatasinya, terimakasih karena kamu begitu banyak membantu ku sejak dulu." lanjut Maya lagi kemudian.
*******
Disisi lain
Tuan Hertanto bergerak dengan cara terburu-buru untuk naik menuju lantai atas dan bergerak menuju ke salah satu ruangan yang ada di sisi kanan. Begitu menemukan ruangan yang dia cari laki-laki tersebut terlihat begitu marah langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa berpikir dua tiga kali.
brakkkkkkkk.
tuan Hertanto masuk dengan cara membanting pintu dengan kasar kemudian bergerak melangkah menuju ke arah dalam membuat satu sosok laki-laki yang ada di dalam sana cukup terkejut.
Mawangsa langsung mendonorkan kepalanya dan menatap ke arah depan gimana bisa dilihat calon mertuanya ini bergerak melangkah mendekati dirinya.
"Paman?," mawnsgsau tanpa terkejut bertanya sembari mengerutkan keningnya saat mengetahui laki-laki itu datang ke perusahaannya dengan ekspresi yang begitu marah.
"Apa kamu yang berusaha melindungi Maya dan memberikan informasi tentang apa yang terjadi?," laki-laki tersebut bertanya menyimpan sebuah kecurigaan terhadap memangsa karena baginya orang yang mengacaukan rencananya jelas adalah orang-orang yang terlibat di sekitar Mawangsa.
"saya mencoba untuk menghentikanku membuat perhitungan pada gadis tersebut? berani-beraninya kau melakukan hal seperti itu pada calon ayah mertua." tuan Hertanto mengeram, ini dia langsung menggebrak meja dengan perasaan kesal.
Brakkkkkkkk.
"jangan bermain-main denganku karena jika tidak kamu tahu apa yang bisa aku lakukan pada mu?," ancaman tuan Hertanto cukup mengerikan, membuat Mawangsa berusaha untuk mengontrol emosi nya yang terasa naik tiba-tiba.
Mawangsa berusaha untuk menghela kasar nafasnya beberapa waktu kemudian dia mencoba untuk menatap ke arah tuan Hertanto.
"Aku tidak melakukannya tanpa alasan, apa paman lupa soal laki-laki bertopeng rubah?," akhirnya Mawangsa berusaha untuk mengelas dia mencoba untuk mencari cara agar laki-laki tua di hadapannya tersebut tidak memasang kecurigaan pada dirinya.
Mendengar kata laki-laki bertopeng rumah seketika membuat tuan Hartanto membulatkan bola matanya.
"laki-laki itu pernah mengancam bukan di masa kemarin bergerak pergi buru-buru seperti ini dan mencoba untuk mencelakai Maya aku takut laki-laki bertopeng rubah akan membuat perhitungan pada paman dan menyulitkan Paman atas banyak hal." lanjut Mawangsa lagi kemudian.
Tuan Hertanto pada akhirnya menurunkan emosionalisme di dalam hatinya dan dia pikirkan apa yang diucapkan Mawangsa ada benarnya juga. Dia sepertinya bergerak terlalu terburu-buru hingga membuat dia lupa akan ancaman lainnya saat ingin mencelakai Maya.
__ADS_1
"Maaf kan paman, Paman benar-benar lupa soal itu, Paman akan berhati-hati lagi ke depannya untuk membuat perhitungan pada Maya.". jawab laki-laki tua tersebut kemudian dan Mawangsa hanya bisa menatap tuan Hartanto untuk beberapa waktu.
Dia tidak mengeluarkan ekspresi apapun hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan yang rumit.
*******
Maya terlihat menaikkan ujung bibirnya saat Julian berkata.
"Polisi sudah menangkap sekelompok preman yang sengaja merusak pabrik pemerintah,"
Mendengar apa yang diucapkan oleh Julian, Maya terlihat begitu puas.
"Itu bagus, tidak perlu waktu lama para preman itu akan menyeret nama tuan Hartanto di dalamnya, pastikan polisi menangkap laki-laki itu dan menaikkan beritanya ke publik." jawab Maya pada akhirnya.
Julian terlihat menganggukkan kepalanya.
"tentu saja tidak butuh waktu lama, mereka bilang para polisi telah bergerak menuju ke kediaman keluarga Hartanto, laki-laki tua itu tidak akan bisa menarik nafasnya dengan baik setelah hari ini dan aku yakin saham perusahaan Hertanto akan jatuh tidak tertolong lagi." ucap Julian kemudian.
Maya hanya mengembangkan senyumannya, merasa begitu puas dengan keadaan.
Julian bergerak keluar dari ruangannya di mana laki-laki itu akan menyelesaikan soal tuan Hertanto dengan cepat.
Ditengah kesendirian Maya dan kebahagiaan nya, handphone nya kembali berdering, gadis tersebut jelas sudah tahu siapa yang menghubunginya, Maya langsung mengangkat panggilan itu tanpa berpikir lama.
"Halo?," ucap Maya pelan.
"Terimakasih banyak karena membuat sebuah rencanaku berjalan dengan baik, bebek putih." gadis tersebut bicara dengan perasaan bahagia, mengucapkan terimakasih dan mengajak laki-laki tersebut kapan untuk bertemu karena merasa jika bebek putih sudah banyak membantu nya tanpa imbalan.
"Katakan pada ku kapan kamu kembali dari luar negeri? mari bertemu dan menikmati makan malam bersama sesekali." lanjut Maya lagi kemudian.
Mawangsa diseberang sana agak bingung.
Luar negeri? kapan dia pernah bilang ke luar negeri?.
"Ya?," tanya nya sambil mengerutkan keningnya.
"Mari buat jadwal untuk bertemu satu hari nanti."
__ADS_1
Karena tidak paham, pada akhirnya Mawangsa menyahut ucapan dari Maya.
"Tentu saja, saat kembali aku akan mengabari kamu kemudian mari pergi menikmati makan malam bersama." lanjut Mawangsa lagi.