
"Oh begitu kah?," Maya mengeluarkan suara dengan penuh ejekan ke arah Mawangsa saat mendengar laki-laki tersebut berkata seperti itu kepada dirinya.
"Aku sebenarnya hanya melihat dari sisi realita yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan, jadi aku pikir seorang Mawangsa akan sangat aneh sekali jika bisa berlaku cukup adil dengan lawan kerjanya mengingat kamu punya sekutu yang tidak lain adalah calon mertuamu sendiri," Lanjut Maya lagi kemudian.
Dia bicara dengan sangat berterus terang kepada mawangsa karena dia sangat tahu betul karakter laki-laki tersebut sebab selama 6 tahun pernikahan dia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu sifat laki-laki tersebut. Mawangsa jelas rela melakukan apapun demi kekasihnya Shinta. Jadi bukan hal yang tidak memungkinkan laki-laki itu akan mendepak dirinya dan akan mengambil tuan Hartanto untuk dijadikan salah satu relasi yang akan bekerja sama dengan perusahaan.
Mawangsa hanya untuk cintanya kepada Shinta jelas saja rela melakukan apapun dan mengorbankan apapun termasuk nyawanya sendiri untuk Shinta, jadi tentu saja dia harus bicara dengan terus terang kepada laki-laki tersebut jangan sampai laki-laki itu lupa jika ini adalah soal pekerjaan dan sifat profesional.
"Aku berharap kau bersikap profesional dalam bekerja, bukan memandangku sebagai seseorang yang menjijikkan yang pernah mengisi kehidupan mu, dan berpikir jika tuan Hertanto adalah calon mertuamu," sindir Maya terus menerus.
Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis tersebut jelas saja membuat Mawangsa cukup marah di dalam hatinya tapi dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya saat ini, laki-laki itu hanya bisa menahan perasaannya diiringi raut wajah yang cukup suram dan masam karena benar-benar tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh Maya.
"kamu jangan beranggapan seperti itu, aku tentu saja akan bersikap adil dan akan bekerja secara profesional tanpa memandang siapa dirimu dan juga siapa tuan Hartanto, Maya," laki-laki tersebut bicara dengan penuh penekanan sembari menatap dalam bola Maya.
Maya hanya menaikkan ujung bahu nya, dia berusaha untuk mengiyakan apa yang diucapkan oleh Mawangsa meskipun dia jelas meragukan apa yang laki-laki itu ucapkan kepadanya barusan.
******
******
Rapat terus berjalan cukup lama dan panjang hingga pada akhirnya rapat tersebut usai juga, Maya menggeser semua barang miliknya dan membiarkan sang sekretarisnya untuk menyelesaikan dan membereskan semuanya, Mawangsa terlihat bergerak menjauh dari ruangan tersebut dan meninggalkan semua orang tanpa banyak bicara. Tuan Hertanto terlihat mendengus menatap ke arah Maya kemudian dia mendekati gadis tersebut lantas berkata.
"Kau terlalu menyombongkan diri karena merasa kamu akan memenangkan keadaan, kau jangan lupa nyatanya kau terlalu ceroboh mencoba untuk masuk melawan semua orang termasuk diri ku," ucap laki-laki tersebut kemudian.
Maya yang mendengar ucapan tuan Hartanto seketika menaikkan ujung alisnya, dia menatap karena laki-laki tersebut untuk beberapa waktu kemudian gadis tersebut berkata.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Anda berkata aku menyombongkan diri jika Anda masih berjaya seperti ini, kecuali jika anda bangkrut mungkin aku akan sangat menyombongkan diri atas keberhasilanku kali ini," Dan gadis tersebut bicara dengan penuh kelicikan, sengaja menekan kata bangkrut dalam penuh pengharapan.
"Jika kegagalan di sini terjadi dan anda mengalami kebangkrutan yang sangat signifikan maka akan aku pastikan aku akan menjadi orang yang cukup sombong dengan keberhasilanku." Lanjut Maya lagi kemudian.
"Kau," tuan Hartanto jelas saja mengeram kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Maya.
"bagaimana bisa ada gadis yang bermulut pedas seperti mau di dunia ini," laki-laki tersebut bicara dengan cepat sembari memegang erat telapak tangan nya.
Dan tiba-tiba laki-laki tersebut berpikir sifat Maya benar-benar mirip dengan ibu gadis tersebut.
Ibu Maya!. Entah kenapa tuan Hertanto terus mengingat perempuan di masa lalu nya sejak beberapa hari ini.
Maya sama sekali tidak ingin lagi mempedulikan apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut, alih-alih berdebar kepada laki-laki tua yang dianggap tidak berguna, gadis tersebut memilih untuk mengembalikan tubuhnya dan bergerak pergi menjauhi tuan Hertanto.
"Halo, ada apa?," Dia bergerak keluar dari ruangan tersebut sembari bertanya kepada Julian yang rupanya menghubungi dirinya.
"Bagaimana dengan proyek kerjasama nya?," suara Julian terdengar dari seberang sana.
"Entahlah aku cukup khawatir dengan keadaan ini sebenarnya," Maya bicara cukup pulang di balik handphonenya dia mencoba untuk menepi di balik dinding agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Sebenarnya aku cukup takut gagal karena kondisi perusahaan kau tahu sendiri tidak sebaik yang ada, tapi aku berusaha untuk bertahan dengan sebaik mungkin dan berusaha untuk mendapatkan proyek ini bagaimanapun caranya," ucap Maya kemudian.
Ditengah pembicaraan yang terjadi pada Maya, siapa sangka Mawangsa berada di balik dinding yang berbeda, mendengar ucapan Maya tanpa sengaja. Dia mengerutkan keningnya. Laki-laki tersebut diam, berusaha untuk terus mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Maya.
Cukup lama hingga pada akhirnya dia tidak lagi mendengar pembicaraan Maya kepada seseorang di seberang sana, Mawangsa terlihat melirik kearah Arif yang sejak tadi hanya berdiri dia mematung di sampingnya.
__ADS_1
"kamu tahu apa yang harus kau kerjakan?," tiba-tiba saja laki-laki tersebut bertanya kepada sang asistennya.
"kenapa anda tidak langsung membantu tanpa menggunakan perantara siapapun?," laki-laki itu bertanya kepada atasannya tersebut sembari mengerutkan keningnya, dia pikir memangsa selalu saja membantu Maya melalui jalur orang lain atau bahkan diam-diam melakukan segala hal tanpa pernah diketahui oleh gadis tersebut.
"kau tahu sendiri jika aku melakukannya secara langsung dia jelas tidak akan pernah menerimanya," jawab Mawangsa dengan cepat pada Arif.
Mendengarkan ucapan dari sang tuan nya membuat laki-laki tersebut diam dan dia tidak melanjutkan lagi tanda tanya yang ada di atas kepalanya
******
Disisi lain.
Maya setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Julia langsung mematikan panggilannya dia dan sekretarisnya dengan cepat bergerak menuju ke arah kamar elevator dan berniat untuk segera pergi dari gedung tersebut, begitu sampai di pintu elevator mereka berdua langsung masuk ke dalam sana begitu pintu elevator terbuka dan rupanya sudah ada dua orang yang tanpa berada dalam tempat tersebut dan langsung menetap ke arah mereka berdua yang baru masuk ke dalam sana.
kedua orang tersebut menunjukkan kepalanya karena Maya dan sekretarisnya hingga pada akhirnya dia di sekretarisnya juga ikut menundukkan kepalanya saat mereka bertambah hingga pada akhirnya begitu pintu elevator tertutup Maya dan sekretaris Yang memilih untuk diam. Tapi rupanya kedua orang tersebut melakukan beberapa obrolan tentang kerjasama perusahaan dan nyatanya itu cukup berguna untuk menjadi sebagai bahan dalam pertimbangan
"Ada beberapa buku yang bisa kita jadikan landasan dan pacuan untuk bisa mendapatkan kerjasama yang baik dengan perusahaan lainnya,"
Dan seolah-olah sangat kebetulan sekali apa yang ada di pikiran Maya dan apa yang menjadi bebannya tiba-tiba saja terpecahkan oleh obrolan kedua orang yang ada di sampingnya tersebut.
Maya jelas saja langsung mencatat tiap pembicara kedua orang itu termasuk buku yang dibicarakan oleh mereka agar bisa dia cari dan jadikan landasan untuk dirinya mempelajari segalanya.
hingga pada akhirnya secara perlahan pintu elevator terbuka dan dia baru sadar jika mereka telah sampai pada bagian lantai dasar parkiran mobil. Mereka bergerak secara bergantian keluar dari sana menuju ke arah kendaraan mereka masing-masing, dan saat Maya bergerak menuju ke arah mobilnya dimana sang sekretarisnya membawa kendaraannya sendiri tiba-tiba saja bola mata gadis tersebut membulat dengan sempurna saat dia menyadari seseorang menunggunya tepat di samping mobilnya.
"Kau?,"
__ADS_1