
Heri jaya company
Ruang kerja Mawangsa
Sejenak bola mata mawangsa menatap rekaman Vidio yang diberikan oleh Heru kepada dirinya.
"dia juga kan tidak pernah menganggapku siapa-siapa, jadi mana dia peduli jika aku memperhatikan Elsa, aku hanya berharap dia bisa merenungi soal dirinya dan orang tuanya tentang memperhatikan adik perempuannya, seharusnya dia meluangkan waktu untuk peduli dan tahu bagaimana perasaan Elsa saat ini serta apa sebenarnya yang jadi kemauan adiknya"
"Kau tahu? anak-anak remaja realita nya tidak begitu terlalu tergila-gila pada uang, yang mereka butuhkan hanyalah sedikit perhatian dan para orang tua serta saudaranya tahu apa yang dia inginkan"
Mendengar dan menonton rekaman video yang dikirimkan oleh laki-laki tersebut seketika membuat Mawangsa tertawa sumbang dan Mawangsa terlihat mengeluarkan ekspresi marah serta kesalnya juga secara bersamaan.
pada akhirnya laki-laki tersebut langsung mematikan handphone nya.
kini bola mata laki-laki tersebut menatap tajam kearah seorang laki-laki berusia sekitar 36 tahunan lebih yang ada dihadapan nya.
kemarahan nya bukan berasal dari Vidio yang dikirim Heru soal Maya, tapi kemarahan nya terarah pada laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut.
Sang asisten Mawangsa, Arif terlihat berdiri tepat disamping laki-laki tersebut.
"Katakan"
Mawangsa bicara sambil memejamkan bola matanya, dia berusaha mendengar kan sembari mengerutkan rahangnya.
"audio itu dibuat atas perintah Nona Shinta, dia membayar ku untuk merekam nya dan mengedit Vidio tersebut"
ucap laki-laki tersebut penuh ketakutan, wajah nya jelas tidak baik-baik saja, Arif Cukup dapat diandalkan untuk menghajar siapapun yang membuat kekacauan.
__ADS_1
"Maafkan aku tuan, aku hanya dibayar, aku tidak pernah berpikir jika semua akan terjadi hingga sejauh ini"
Laki-laki tersebut kembali Bicara, memohon pada Mawangsa agar memaafkan dirinya.
Alih-alih peduli dengan ucapan laki-laki tersebut Mawangsa meminta Arif untuk menyelesaikan nya dan menyeretnya kemanapun hingga Mawangsa tidak lagi melihat nya.
"No...tuan aku mohon maafkan aku, lepaskan aku dan aku berjanji akan membalas kebaikan tuan, satu hari aku jamin diriku cukup bermanfaat untuk anda, anda bisa memastikan hal tersebut nanti"
Dia terus bicara Sembari memohon, meminta Mawangsa mengampuninya sekali ini.
pada akhirnya Mawangsa berkata.
"Baik pegang ucapanmu, menjauhlah dari kota ini, kembalilah saat aku membutuhkan mu"
dia saat ini memang tidak bisa sembarang menyingkirkan seseorang, karena dia tidak tahu apakah rasa sayang tersebut suatu hari akan bermanfaat untuk dirinya.
Saat ini Mawangsa berpikir jika itu adalah perintah Shinta itu artinya Shinta benar-benar perempuan kejam yang tidak berperasaan, dia seketika mulai meragukan Shinta, apakah perempuan tersebut benar sahabat pena nya?!.
semua sifat Shinta sangat bertolak belakang dengan sifat sahabat pena nya, bahkan dia yang dulu sangat tahu bagaimana watak sahabat pena nya serta apa yang menjadi kesukaannya seketika sekarang Merasa seperti berhadapan dengan orang asing yang tidak dia kenali.
Kau sebenarnya siapa?.
Mawangsa mengeram sambil mengeratkan rahangnya.
begitu yang dibayar shinta itu keluar dibawa oleh anak buahnya, Arif kemudian berkata dengan cepat ke arah mawangsa.
"Aku telah menemukan direktur atas perusahaan yang diakuisisi oleh Maya, tuan"
__ADS_1
mendengarkan kata-kata Arif cukup membuat Mawangsa puas.
''Dan..."
Arif terlihat menghentikan kata-kata nya, laki-laki tersebut memberikan beberapa lembar foto kearah Mawangsa.
"ini adalah foto tangga dimana nona Shinta terjatuh, tempatnya dipenuhi cahaya terang serta cukup baik untuk dilewati oleh orang-orang yang menggunakan sandal atau heels 👠licin, disini terdapat bagian anti selip yang tidak mungkin membuat seseorang terjatuh, apalagi dibagian sisi kanan tanggal terdapat pegangan yang bisa menahan tubuh seseorang yang mungkin akan terjatuh"
Ucap Arif panjang lebar.
"Namun sedikit aneh ketika insiden terjadi, karena tangga ini benar-benar terang dan mampu dilewati banyak orang"
lanjut laki-laki tersebut lagi.
dan mendengar ucapan Arif seketika membuat Mawangsa mengeratkan rahangnya.
"Untuk jatuh ditempat ini sangat kecil sekali kemungkinan nya"
setelah berkata begitu, Arif terlihat menatap kearah Mawangsa untuk beberapa waktu.
"itu sudah cukup, kamu sudah bekerja dengan sangat keras"
Ucap mawangsa cepat.
Arif menundukkan kepalanya, pada akhirnya laki-laki tersebut mulai beranjak pergi dari sana, meninggalkan Mawangsa sendirian di ruangan nya.
cukup lama laki-laki tersebut berdiri di depan meja kerjanya, hingga pada akhirnya Mawangsa mulai mengeluarkan handphonenya.
__ADS_1
dia sejenak mengamati jadwal direktur atas perusahaan akuisisi yang dilakukan Maya, pada akhirnya dia mencoba mengirimkan gadis tersebut sebuah pesan untuk beberapa waktu.