Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Ancaman besar


__ADS_3

Pemandian air panas xxxxxxx


setelah berhasil menandatangani kerjasama akuisisi dengan direktur Accord, Maya langsung membawa Julian untuk menikmati sensasi pemandian air hangat.


setelah berganti pakaian Maya dan Julian berjalan menuju ke area pemandian air panas masing-masing di mana area tersebut terpisah antara laki-laki dan perempuan.


Julian mencoba menyentuh lembut bahu Maya, berusaha memeluk nya tapi juga berusaha untuk menahan nya, dia tahu mungkin Maya tidak suka type laki-laki yang terlalu agresif.


"bukankah di sini ada kolam pemandian campuran untuk perempuan dan laki-laki? bukankah bagus jika kita bisa mandi bersama dan mengobrol bersama?"


Julian bertanya sembari menggoda ke arah Maya, berharap mereka bisa mandi di bagian pemandian kolam air panas campuran bersama.


mendengar godaan dari Julian seketika Maya langsung menaikkan kedua belah bahunya dia kemudian menggerak-gerakkan jemarinya.


"No...aku tidak begitu tertarik untuk mandi bergabung bersama para laki-laki"


Jawab nya dengan cepat.


"Kamu tetap sulit berbaur dengan para laki-laki"


Julian terkekeh, padahal aku ini kekasihmu, apa kamu lupa?"


"Itu peeylnyataa mu di media, aku belum pernah membuat klarifikasi atas hubungan kita"


Protes Maya kemudian.


mendengar ucapan gadis tersebut seketika membuat Julian kembali terkekeh.


"aku harus berusaha dengan keras untuk mendapatkan hatimu"


Maya terlihat mengulum senyuman nya, kemudian dia melengos bergerak menuju ke arah kanan sembari melambai-lambaikan tangannya.


"aku akan pergi ke pemandian air panas khusus"


ucapnya dengan cepat sembari meninggalkan Julian yang mematung menatap punggungnya.


gadis tersebut memilih salah satu tempat pemandian air hangat, begitu masuk ke dalam ruangan tersebut dia secara perlahan membuka jubah mandinya, menggantungnya di salah satu teman di mana telah disiapkan untuk menggantung pakaian para tamu yang datang, setelah itu dia mulai terjun ke kolam pemandian air panas dan menyamankan tubuhnya di sana.

__ADS_1


"Oh god...ini begitu nyaman"


dia bergumampelan sembari memejamkan bola matanya, mencoba bersandar di salah satu batu yang ada di belakangnya.


namun siapa sangka saat dia akan menikmati mandi kolam air panas saat ini, tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang masuk menuju ke arah dirinya


gadis itu membuka bola matanya dan cukup terkejut melihat sosok orang yang bergerak mendekati dirinya.


Shinta ikut terkejut saat dia mendapati Maya tengah berendam di dalam kolam pemandian air panas yang dia pilih, dia pikir bagaimana bisa dia bertemu dengan gadis sialan itu di sini.


Maya seketika menaikkan ujung alisnya, dia pikir tempat ini jelas sangat besar sekali, bahkan kolam pemandian air panasnya pun sangat banyak dan bebas pilih, tapi kenapa perempuan yang tidak tahu diri itu harus masuk ke dalam ruangan yang sama di mana dia berada dan itu sangat mengganggunya.


"Dunia sempit sekali"


Maya mendengar menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya tersebut, dia kembali mencoba membuat rileks tubuhnya, mengabaikan Shinta yang kini bergerak mendekati dirinya, perempuan itu secara perlahan ikut masuk ke dalam kolam pemandian air panas tersebut.


"iya aku juga tidak menyangka rupanya bertemu denganmu di sini dan ini sangat menggangguku"


cinta bicara dengan cepat sembari mencoba untuk menyandarkan tubuhnya di salah satu batu yang ada di belakangnya.


"Aku cukup heran dulu di masa sekolah kau begitu menyukaiku bahkan kau selalu iri dengan kehidupanku, lalu tiba-tiba kau begitu membenciku bahkan sampai dengan saat ini"


mendengar gadis di hadapannya tersebut bertanya seperti itu seketika membuat Shinta mendengus, kemudian perempuan tersebut berkata.


"kau ingin tahu kenapa aku membencimu?"


tanyanya sembari menatap dalam dan tajam bola mata Maya.


"Kau bisa mengatakannya sesuai kemauan mu"


Maya menaikkan ujung bibirnya.


"itu karena sejak dulu kau selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, bahkan kau selalu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku"


saat Shinta berkata seperti itu membuat Maya menaikkan ujung alisnya.


"aku pikir kau yang tidak bisa mengontrol hatimu, sebenarnya aku sama sekali tidak pernah merebut apapun milikmu, hanya saja realitanya aku memang lebih dari segalanya daripada dirimu, ketika aku mendapatkan ranking paling teratas dan juga juara di sekolah dan kau harus mengalah denganku itu karena aku memang lebih pintar darimu, saat aku memenangkan ajang kecantikan pada malam tahun baru di sekolah itu juga karena aku memang lebih cantik darimu, San aku mendapat juara 1 di beberapa parade lomba aku memang pantas mendapatkannya karena IQ ku jauh melebihi IQ mu, dan jika aku menikah dengan mawangsa bukankah kau bilang kau tidak mencintainya dan kau hanya menganggapnya persis seperti kakak laki-lakimu"

__ADS_1


kata-kata Maya benar-benar terasa pedas dan menusuk hati Shinta, dia mencoba untuk mengingatkan Shinta perbedaan antara mereka berdua.


"dan jika aku menikahi mawangsa karena memang dia yang memintaku demi untuk bisa menyelamatkanmu di masa lalu, seharusnya kau berterima kasih denganku bukan malah membenciku"


bayangkan bagaimana ekspresi Shinta saat mendengar apa yang diucapkan Maya kepada dirinya, tidak tahu kenapa tapi dia merasa hati dan kepalanya benar-benar sangat mendidih saat dia melihat mendengar dan menatap ucapan serta wajah gadis yang ada di hadapan tersebut.


perempuan itu menggenggam erat telapak tangannya Dan api kemarahan terlihat jelas terlihat dibalik bola matanya.


"Kau..."


Shinta ingin sekali marah dan membalas kata-kata Maya, tapi dia tidak memiliki kata-kata cukup untuk membalas ucapan nya.


"melihatmu berkata seperti tadi itu artinya kau memang benar-benar membenciku tanpa alasan yang jelas, aku yakin akan ada banyak sekali rencanamu untuk menyingkirkanku dan juga cara dirimu untuk melenyapkanku, tapi aku akan memperingatimu tentang suatu hal, sepertinya kali ini aku tidak akan pernah mengalah lagi seperti dulu, apa ya memang seharusnya menjadi milikku akan aku pastikan suatu hari akan kembali kepada diriku"


kalimat yang diucapkan oleh Maya jelas terdengar seperti sebuah ancaman, kilat di balik bola mata Maya seketika membuat Shinta meremang dan cukup takut melihatnya.


Shinta mengeram, perempuan tersebut ingin sekali membuat perhitungan tapi tiba-tiba handphone Maya berdering.


seketika gadis itu mengabaikan dirinya.


"Ada apa, sayang?"


Maya menjawab panggilan nya, itu adalah Julian.


dia keluar dari kolam pemandian air panas sembari mengangkat panggilan dari Julian, gadis itu pikir dia telah selesai dari acara mandinya, melihat perempuan yang ada di sampingnya itu membuat dia kehilangan selera untuk berendam di pemandian kolam air panas.


"Tunggu sebentar lagi, aku akan keluar"


Maya menjawab cepat pertanyaan dari Julian di seberang sana.


setelah itu gadis itu mematikan handphonenya dan pergi untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi kolam mandi pemandian air panas tersebut.


saat dia berada di dalam kamar mandi, Shinta mendengar Maya bernyanyi, tidak tahu kenapa dia ingat jika sahabat Pena mawangsa jelas pandai bernyanyi, beberapa hari yang lalu memangsa sempat membahas bersama dirinya, bertanya kenapa dia sama sekali tidak pernah bernyanyi ketika berhadapan dengan Mawangsa.


realitanya bagaimana mungkin dia bisa bernyanyi sedangkan dia sama sekali tidak memiliki suara yang bagus, bahkan dia memaksa mawangsa agar melupakan tentang kebiasaan dirinya di dalam surat yang pernah dia kirim bersama mawangsa.


ketika dia mendengar Maya bernyanyi jelas saja dia merasa kembali ancaman baru menghantam dirinya, dia pikir jika Maya masih hidup itu artinya seperti apa yang diucapkan mayat tadi gadis itu akan mendapatkan apapun yang seharusnya memang menjadi miliknya, Dan ini menjadi ancaman besar untuk dirinya.

__ADS_1


seketika kilatan api membara di balik bola mata Shinta, gadis itu terlihat tengah memikirkan sesuatu untuk bertindak atau bahkan melenyapkan gadis yang ada di dalam kamar mandi tersebut.


Jangan sebut nama ku jika aku tidak bisa melenyapkan mu.


__ADS_2