
"Ibu aku hanya bicara berdasarkan kenyataan, jangan memikirkan soal apapun dan kita tidak bisa sembarang menuduh seseorang, Maya memang tidak terlibat penculikan Shinta,aku sudah menyelidiki nya." Mawangsa menjawab ucapan calon ibu mertuanya dengan cepat, dia terus membela Maya jika gadis tersebut tidak terlibat.
Bayangkan bagaimana perasaan Shinta mendengar ucapan Mawangsa yang membela Maya, dia merasa cukup tersinggung dan sedih, dia pikir bagaimana bisa Mawangsa begitu membela mantan istrinya.
"Berhentilah membuat persoalan menjadi semakin pelik, ini hanya akan memperkeruh suasana, bu." Lanjut Mawangsa lagi kemudian.
"Kau pikir aku-," Sebenarnya wanita tersebut begitu kesal, dia pikir bagaimana bisa calon menantunya berkata seperti itu seolah-olah sangat membela Maya, dia ingin menyala ucapan mewangsa dan ingin berkata jika tindakan Mawangsa salah dan Maya memang bersalah.
Tapi belum sempat wanita itu menyela pembicaraan Mawangsa, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu depan dan menyuruak masuk secara perlahan. Itu adalah Arif, asisten pribadi Mawangsa. nyonya Hertanto terpaksa menghentikan ucapannya.
"Tuan." Arif bicara sambil menundukkan kepalanya.
"Keluarlah, mari kita bicara diluar." Mawangsa memerintahkan Arif untuk berbalik dan keluar, dia pikir tidak etis jika bicara didalam.
Arif terlihat mengerti, dia langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat dan beranjak keluar dari sana diikuti oleh Mawangsa. Shinta menatap kesel ke arah laki-laki itu dia pikir merasa sepertinya memang benar-benar masih mencintai Maya, pengorbanan nya selama ini seperti nya sia-sia, dia mengeram dengan kesal.
"Katakan." Begitu mereka ada di luar memangsa bertanya kepada Arif dengan cepat.
"Dave bukan laki-laki bertopeng tersebut." Arif mulai membuka suaranya.
Yah Mawangsa meminta laki-laki tersebut untuk menyelidiki soal siapa laki-laki bertopeng dan siapa saja yang terlibat pada skandal penculikan Shinta, bahkan dia meminta Arif untuk memeriksa tentang orang-orang yang dekat dengan Maya, dia ingin tahu siapa-siapa saja laki-laki yang memiliki hubungan sosial dengan gadis tersebut setelah mereka bercerai.
"Dia tidak memiliki kesamaan sama sekali dengan laki-laki bertopeng ditambah lagi pada malam kejadian penculikan Shinta, Dave punya alibi yang sangat kuat karena dia memiliki jadwal pemotretan dan juga syuting di Korea, jadi sangat tidak mungkin jika dia terlibat pada penculikan Shinta pada malam itu." Arif berusaha untuk meyakinkan Mawangsa jika Dave sama sekali tidak terlibat dengan kasus Shinta.
"Dave memang memiliki kedekatan secara langsung dengan Luna Maya, selain Julian, Dave satu-satunya laki-laki yang paling dengan dengan nona."
Ditengah pembicaraan mereka, dari arah berbeda dua orang perempuan bergerak mendekat kearah kamar dimana Shinta dirawat, itu adalah Ayunda perempuan yang akan bercerai dengan suaminya yang merupakan anak jenderal ternama teman Shinta yang pernah bertemu Mawangsa dalam taruhan kartu dan menghapus tatto.
Ayunda melirik kearah Mawangsa sembari mengerutkankan keningnya, dia berbisik pada teman nya.
"Dia calon suami Shinta?." Dia bertanya cepat, karena lupa pada pertemuan pertama.
__ADS_1
"Iya." Teman nya menjawab dengan cepat.
Ayunda menelisik Mawangsa dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya dari posisi nya, baru sadar jika Mawangsa sangat tampan dan elit, berkelas juga sangat menarik, jauh lebih baik dari pada suami yang akan dia ceraikan. Pantas saja Shinta tergila-gila padanya, dia baru menyadari nya karena malam itu tidak benar-benar memperhatikan wajah Mawangsa, selain pencahayaan yang kurang bagus, keadaan membuat dia tidak terlalu memperhatikan nya.
Dia menatap laki-laki yang untuk beberapa waktu, menaikkan ujung bibirnya sejenak.
Kemudian memilih masuk ke kamar rawat inap Shinta karena Mawangsa tidak balik menatapnya.
Begitu masuk kedalam bisa dia lihat Shinta berbaring ditemani ibu nya yang sibuk mengupas buah.
"Bibi." Ayunda memberikan salam, meminta temannya memberikan oleh-oleh kunjungan dari nya.
Nyonya Hertanto jelas dengan senang hati menerima nya, dia membiarkan ketiga orang tersebut bergabung dan mengobrol.
"Aku dengar kamu di culik oleh seseorang?." Ayunda mulai membuka pembicaraan.
Mendengar ucapan Ayunda, Shinta jelas saja langsung menganggukkan kepalanya."
"Aku yakin itu upah mantan istri Mawangsa." Teman mereka mengompori, dia langsung terlihat mengeluarkan ekspresi marah dan penuh perhatiannya kepada Shinta.
"memangnya siapa lagi yang akan mencelakaimu jika tidak perempuan tersebut." Lanjut perempuan itu lagi.
"dia benar-benar tidak tahu malu menurutku."
Mendengar apa yang diucapkan oleh temannya membuat Shinta langsung menganggukkan kepalanya.
"tentu saja aku yakin dia lah yang melakukan hal tersebut dan ingin mencelakai." Dia jelas saja bersemangat jika ada yang tidak menyukai Maya.
"Kalau begitu seharusnya kamu berikan pelajaran kepada perempuan itu dengan cepat." Ayunda bicara dengan gaya yang begitu santai di mana dia duduk di atas sebuah kursi sofa yang letaknya jelas bersebelahan dengan kasur di mana Shinta berada.
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, aku ingin sekali dia menjadi celaka dan juga merasakan akibatnya karena berani-beraninya untuk membuat masalah denganku." Shinta menjawab dengan cepat tanpa malu-malu, dia mungkin butuh strategi untuk menghancurkan Maya secepatnya.
__ADS_1
"bagaimana jika aku membantumu untuk membalaskan dendam mu? ." Dan tiba-tiba saja Ayunda bertanya sembari menaikkan ujung alisnya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ayunda seketika membuat Sinta langsung menatap dalam bola mata perempuan tersebut.
" Kau punya ide?." Tanya nya dengan cepat.
"tentu saja aku punya." Jawab Ayunda sambil mengembangkan senyuman liciknya.
"aku dengar dia membutuhkan pinjaman dari beberapa bank, kau tahu bagaimana koneksiku?, aku akan membuatnya tidak mendapatkan se sen pun dari bank manapun yang dia mau." Jawab Ayunda dengan penuh keyakinan.
"Benarkah?." Shinta jelas langsung membulatkan bola matanya dengan sempurna.
"Aku akan menghubungi mereka sekarang juga." lanjut Ayunda lagi, dia mengeluarkan handphonenya secara perlahan kemudian mengembangkan senyuman piciknya.
*******
The Malaka company.
Maya terlihat cukup fokus dengan beberapa dokumen dan berkas yang ada di tangannya hingga pada akhirnya fokusnya langsung buyar saat sang sekretarisnya tiba-tiba masuk dari arah luar.
"Nona, celaka."
Dan hal tersebut membuat Maya langsung menaikkan ujung alisnya.
"Ada apa?." dia bertanya dan menatap wajah sekretarisnya yang terlihat begitu panik menghadap dirinya.
"Semua bank yang kita ajukan pinjaman membatalkan pemberian mereka, bahkan bank yang telah mencairkan dana kita meminta pengembalian penuh atas uang yang telah kita gunakan." Ucap sekertaris nya dengan cepat.
"Apa?." Maya jika kita terkejut mendengar apa yang diucapkan sekretaris yang tersebut, dia menggenggam erat telapak tangan nya dan berpikir tuan Hartanto dari umbrella company pasti yang melakukan kepicikan tersebut.
Hah, yang benar saja.
__ADS_1