Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kemarahan Mawangsa dan kepicikan Maya


__ADS_3

Maya jelas saja bertanya begitu khawatir kepada Julian, dia mencoba melihat tangan Julian dan bisa dia lihat bagian-bagian dari jemari Julian memerah setelah memukul Mawangsa.


"Ini memerah, apakah aku harus mengompres nya? mari pergi dan pulang ke perusahaan, aku akan mengobati nya." Sungguh terlalu perhatian Maya untuk Julian saat ini.


Hal itu jelas saja membuat Mawangsa terlihat begitu marah, kecemburuan membakar di balik hatinya bahkan bola matanya menatap pasangan di hadapan tersebut dengan tatapan penuh kilat kemarahan dan kebencian. Dia iri sebab Maya begitu perhatian pada Julian tapi sama sekali tidak pernah memperhatikannya sebesar itu selama ini.


"Dia tidak apa-apa, apa kau tidak lihat, aku yang sebenarnya terluka," laki-laki tersebut meninggikan suaranya sepertinya dia nyaris tidak bisa mengontrol emosinya saat ini.


mungkin laki-laki tersebut tidak menyadari Jika dia cemburu pada Julian atas perlakuan Maya. Dia mungkin tidak menyadari jika dia mungkin sudah jatuh cinta pada Maya tanpa disadari oleh dirinya.


Mendengar ucapan Mawangsa dengan nada suara yang cukup tinggi membuat Maya langsung menoleh karena laki-laki tersebut sembari mengerutkan keningnya, dia cukup terkejut mendengar ucapan dari Mawangsa.


"Apa?," tanya Maya.


Dia pikir mana dia peduli soal Mawangsa, dia pikir mau bagaimanapun hal menghantam Mawangsa itu jelas bukan urusannya.


"Apa kau tidak bisa melihatnya dengan jelas siapa yang terluka dan siapa yang memukul bahkan Apakah tidak melihat bagaimana wajahku saat ini dan bisa-bisa nya kamu memberikan perhatian kepada dirinya," ucap Mawangsa lagi kemudian, dia benar-benar meninggikan suaranya dan terlihat sangat marah dengan keadaan.


Laki-laki itu cemburu dan lain sebagainya namun tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan benar.


Mendengar ocehan Mawangsa yang tidak bermutu membuat Maya langsung mendengus kesal.


"Lalu apakah aku harus sibuk mengurusi mu jika kamu terluka?," dan Maya melesatkan sebuah tanya yang begitu luar biasa membuat Mawangsa langsung menganga tidak percaya.

__ADS_1


Maya menatap jijik kearah Mawangsa, jujur saja dia tidak pernah membenci dan jijik melihat siapapun sebelumnya tapi melihat laki-laki di hadapannya tersebut membuatnya begitu muak.


"Kau benar-benar marah karena aku meminta mu untuk tidak memenjarakan Shinta?," pada akhirnya Mawangsa mencoba menanyakan hal yang sebenarnya tidak sepantasnya dia tanyakan.


Maya kembali mendengus.


"Kau seharusnya sedikit tahu diri, Mawangsa." dan Julian berkata.


Mawangsa langsung melirik ke arah laki-laki tersebut dengan cepat kemudian kembali menoleh ke arah Maya.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak melaporkan Shinta pada polisi?," dan pada akhirnya laki-laki itu mencoba untuk meredam kemarahan dan kecemburuan, dia menetap ke arah perempuan di hadapan tersebut sembari bertanya apa yang diinginkan oleh Maya agar perempuan itu tidak membuat laporan saat ini tentang Shinta.


"Kau menanyakan nya dalam keadaan serius?," pada akhirnya perempuan itu bertanya sembari menaikkan ujung alis nya.


"Baik, berikan aku perusahaan milik mu atau milik tuan Hertanto, dengan begitu aku akan menganggap semua nya impas." ucap Maya kemudian.


Dan bayangkan bagaimana ekspresi Mawangsa saat mendengar apa yang diucapkan oleh Maya.


"Apa? apa kau bercanda?," tanya Mawangsa dengan tatapan tidak percaya.


"tentu saja aku tidak bercanda dan aku bicara seperti ini dalam keadaan sadar sepenuhnya," Maya menjawab dengan cepat untuk laki-laki dihadapannya tersebut.


"Jika kamu memberikan salah satu dari perusahaan kalian maka aku akan menganggap semuanya selesai dan tidak ada yang perlu lagi kita perdebarkan antara satu dengan yang lain." perempuan itu meyakinkan Mawangsa atas keputusannya.

__ADS_1


"permintaanmu sangat tidak masuk akal dan kau mencoba untuk menyulitkan keadaan juga termasuk diriku," laki-laki itu bicara dengan cepat sembari menatap ke arah Maya, dia pikir ucapan perempuan itu cukup tidak masuk akal saat ini.


"bagaimana kau ingin menukar salah satu perusahaan kami dengan laporan tersebut? itu jelas saja sangat berat." ucapan Mawangsa lagi kemudian.


Mendengar apa yang diucapkan laki-laki tersebut membuat Maya semakin jijik kepada Mawangsa, jawaban laki-laki tersebut sudah mewakili apa yang dia pikirkan. Mawangsa jelas saja memang benar-benar ingin melindungi Shinta dan tidak ingin mengalami kerugian, dan laki-laki tersebut mencoba untuk menekannya karena keadaan.


Dia benar-benar merasa menyesal Karena pernah mencintai laki-laki terhadap bayi tersebut, dan seketika dia pikir dia kenapa begitu bodoh di masa lalu mencintai Mawangsa.


"Kalau begitu jangan mendesak ku untuk tidak melaporkan Shinta, dia ingin mencelakai ku dan membuatku tidak baik-baik saja, di balik apa yang terjadi padanya saat ini, aku merasa nyawaku terancam karenanya." dan pada akhirnya Maya menutup pembicaraannya dia langsung membalikkan tubuhnya sembari menarik lengan Julian agar segera pergi dari hadapan Mawangsa.


Mawangsa cukup gelagapan, dia berusaha untuk kembali meraih Maya namun nyatanya dia terlambat dan tidak berhasil untuk menghentikan perempuan tersebut, laki-laki itu hanya bisa menatap punggung Maya yang perlahan menghilang dari hadapannya.


*******


Keesokan harinya.


Maya terlihat bersiap untuk melaporkan Shinta dan kejahatan nya, dia memiliki rekaman di mana Shinta mencoba untuk mencelakai dan membunuhnya. perempuan itu pikir dia akan pergi mengendarai mobil nya sendiri menuju ke arah kantor polisi, meyakinkan diri untuk menyelesaikan semuanya tanpa pamrih. tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh semua orang, yang jelas baginya dia harus melaporkan Shinta saat ini juga.


Maya bergegas untuk naik ke dalam mobilnya di mana dia membawa tas tangannya, tapi siapa sangka satu hal tidak terduga terjadi dan membuat perempuan itu terkejut di mana tiba-tiba saja dari arah berlawanan sebuah motor bergerak dengan cepat menuju ke arah dirinya dan membuat Maya langsung membulatkan bola matanya karena terkejut.


tiba-tiba saja tas yang dipegangnya dirampas oleh dua orang yang menggunakan motor besar dan berhelm lengkap, hal tersebut membuat Maya terkejut setengah mati di mana saat orang itu mencoba untuk menarik tas nya dan Maya masih sempat untuk menahannya dan tiba-tiba dia didorong oleh laki-laki yang ada dibelakang, membuat Maya langsung menghantam mobil nya sendiri dan.


Bugggg.

__ADS_1


"Akhhhh." dia meringis kesakitan saat perutnya menghatam bagian kap samping mobil.


__ADS_2