
Kediaman Maya,
Kamar utama Maya.
Mawangsa terjaga dari tidurnya untuk beberapa waktu, dia mencoba untuk membiasakan bola matanya atas silau nya cahaya lampu yang ada di atas sana, menutup sebelah matanya untuk beberapa waktu.
Laki-laki tersebut terlihat diam, mencoba untuk tidak mengeluarkan suaranya sama sekali untuk beberapa waktu dan mencoba untuk mendapatkan kesadaran penuhnya. hingga pada akhirnya Mawangsa secara perlahan menghela nafasnya kemudian dia baru menatap ke area sekelilingnya.
Laki-laki tersebut mencari sosok Maya sejenak, berharap perempuan itu ada di sana tapi nyatanya dia tidak menemukan siapapun di sana, bahkan aroma Maya pun dia tidak menciumnya. Mawangsa pada akhirnya mencoba untuk memijat-mijat kepalanya sejenak, rasa sakit menghantam kepala dimulai dia bangun tidur tadi, cukup lama dia membiarkan jemari-jemari nya memijat kedua belah pelipis dan kepalanya hingga pada akhirnya laki-laki tersebut melepaskan jemari jemari nya dari kepalanya.
Mawangsa tiba-tiba menyadari tentang sesuatu, seperti nya dia baru menyadari jika dia tidak menggunakan pakaian nya.
Mawangsa menatap dirinya sendiri untuk beberapa waktu, mengernyitkan keningnya dengan berat. dia tidak lagi menggunakan pakaian yang digunakan semalam tapi saat ini pakaiannya telah berganti. seketika laki-laki tersebut berpikir siapa yang mengganti pakaiannya apakah mungkin itu adalah Maya?.
tiba-tiba saja dia mengulum senyumannya entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini tapi hatinya seolah-olah berdebar-debar dan mungkin dia sudah gila.
secara perlahan laki-laki tersebut turun dari posisi dia mencoba untuk melangkahkan kakinya dan menyetek dimana dia berada saat ini, lagi lagi Mawangsa mencoba untuk memastikan tentang sesuatu di mana dia mencoba untuk mengitari ruangan kamar yang dia yakini adalah milik Maya. bola matanya seolah-olah mencari sesuatu di dalam ruangan kamar tersebut dan cukup lama, dia mengelilingi ruangan itu kemudian tiba-tiba laki-laki tersebut mencoba untuk keluar dari ruangan kamarnya dan ini melihat apa kah mungkin Maya ada di luar kamar nya? sedang melakukan aktivitas lainnya.
dia perlahan keluar dari ruangan tersebut dan mencoba untuk mencari keberadaan perempuan itu namun nyatanya begitu dia keluar dia tidak menemukan siapapun di ruangan yang dia itari. Nyatanya rumah terlihat sepi dari sudut manapun dan dia pikir tempat itu benar-benar tidak ada penghuninya sama sekali.
__ADS_1
Gurat kekecewaan jelas tampil di balik wajah laki-laki tersebut, harapannya untuk melihat perempuan itu sepertinya tidak ada sama sekali karena dia pikir ini bukan hari libur jadi bisa jadi Maya mungkin pergi ke perusahaannya dan Maya meninggalkan dirinya.
Laki-laki tersebut masih berusaha untuk mengitari setiap ruangan di tempat tinggal Maya, bola matanya tidak lepas dari sisi manapun saat ini, dia mencoba untuk meneliti tempat yang ada ruangan kamar kosong kamar mandi ruangan tamu dan lain sebagai nya hingga pada akhir nya Mawangsa mengembang kan senyuman di balik wajah laki-laki tersebut karena tiba-tiba saja satu kebahagiaan menyergap dirinya, dia yakin saat ini Maya tidak memiliki sosok yang dekat dengannya atau bahkan pacar.
tidak dia lihat jejak laki-laki di dalam kediaman perempuan tersebut. Untuk orang yang berpacaran setidaknya mungkin terdapat pakaian sepatu dan lain sebagainya dan dia tidak menemukan itu dari kediaman Maya sama sekali saat ini dan hal tersebut jelas saja membuatnya bahagia itu artinya Maya memang tidak sedang dekat dengan siapapun dan kedekatannya dengan Julian atau Dave pasti hanya sekedar gosip.
bayangkan bagaimana perasaannya tentu saja dia begitu bahagia karena dia memangnya tidak sedang dekat dengan siapapun saat ini. anggaplah dia telah keluar dari akal waras nya, terlalu serakah memikirkan keinginannya sendiri Meskipun tidak dipungkiri ada sesal di masa lalu tentang Maya dan dirinya dan juga tentang Shinta, tapi memang saya tidak bisa mengekspresikan tentang penyesalannya selain ini saya hanya bisa dilakukan adalah Mungkin dengan cara memperbaiki semuanya.
di tengah keadaan dia masih mengitari ruangan tiba-tiba saja bel di depan rumah terdengar membuat Mawangsa mengerutkan kening nya dan menoleh ke arah pintu masuk depan rumah tersebut. kemudian secara perlahan laki-laki itu bergerak menuju ke arah depan dan ingin melihat siapa yang memencet bel saat ini apa kamu mungkin itu Maya. tiba-tiba saja dia jadi bersemangat karena dia pikir mungkin Maya yang pulang saat ini dan dengan cepat-cepat laki-laki tersebut langsung membuka pintu depan.
Dan ketika dia membuka pintu depan tiba-tiba saja ekspresi wajah Mawangsa berubah ketika dia tahu siapa yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Rupanya itu kau kenapa kau datang?," sungguh tidak ramah cara laki-laki itu menyambut sekretarisnya sendiri, dia bergerak kembali masuk ke dalam kediaman Maya diikuti oleh Arif di belakang nya.
mendengar ucapan tuannya membuat Arif mengerutkan keningnya dia pikir sepertinya sang tuannya kurang menginginkan kehadirannya saat ini.
"Saya menjemput anda untuk pulang, katanya Anda terkena demam dan tidak baik-baik saja?," Arif bicara dengan siapa menjelaskan jika kedatangannya untuk menjemput laki-laki itu pulang.
Maya menghubungi dirinya dan berkata jika Mawangsa tidak dalam keadaan baik-baik saja, meminta dirinya agar segera datang ke kediaman perempuan tersebut maka dari itu dia langsung bergerak untuk menjemput tuan nya. Tapi sangat disayangkan dan juga menyebalkan rupanya laki-laki itu sepertinya tidak menerima kehadirannya.
__ADS_1
Dan Mawangsa terlihat sangat baik-baik saja, dia pikir tuan nya tidak demam sama sekali.
"Ckckckckck dia semakin merepotkan, bahkan Mak Mak berdaster tidak serumit itu pemikiran nya." keluh Arif didalam hatinya.
Laki-laki tersebut menghela pelan Nafasnya.
"Ada rapat di perusahaan 10.30 nanti, anda akan menghadirinya atau ingin saya memundurkan jadwalnya?," Arif kembali membuka suarany, dia kali ini dia bertanya dengan sedikit serius kepada sang tuannya mengingat ada rapat yang harus dihadiri pada hari ini oleh laki-laki yang kini langsung menduduki pantatnya di atas kursi sofa.
Mawangsa yang mendengar ucapan dari sekretarisnya terlihat melirik ke arah jam tangan yang ada di tangan kirinya, dia melihat ke arah jalan di tangannya tersebut dan mencoba untuk menghitung waktu dan pada akhirnya laki-laki tersebut berkata.
"Aku akan bersiap membersihkan diri, apa kau membawa pakaian kerjaku?," dia bertanya pada sang sekretarisnya tersebut dengan cepat.
Arif menganggukkan kepalanya yang menandakan Jika dia membawa seluruh perlengkapan dan juga pakaian kantor tuannya.
Itu yang disukai dari Arif laki-laki tersebut selalu berjalan dan mengerti apa keinginannya, tidak harus menunggu dia marah dan lain sebagainya laki-laki itu pasti selalu membuatnya puas dengan sistem kerjanya.
"Dan soal penyelidikan yang aku minta Apakah sudah mendapatkan sedikit titik terangnya?," laki-laki tersebut kembali bertanya kepada sekretarisnya itu.
"Cukup sulit untuk mendeteksi siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh nona Maya tanpa hasil tes DNA, butuh waktu cukup lama untuk mengetahui hasilnya, hanya saja hingga sejauh ini nona Maya memang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, atau keluar dari jalurnya. Nona Maya hanya berkencan keluar masuk restoran kemudian kembali ke rumah masing-masing tidak lebih dan kurang." dan Arif menjawab dengan cepat pertanyaan dari tuan nya tersebut.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arif kembali seulas senyuman mengembang dari balik bibir Mawangsa. apakah terlalu berlebihan? dia berharap anak yang dikandung oleh Maya adalah anak nya. Dia pikir hinaan malam itu yang diberikan Maya saat mabuk membuat dia berlaku lebih pada perempuan tersebut, bukan khilaf tapi dia sendiri yang menginginkan nya dan membuktikan dia bahkan bisa memiliki utuh perempuan tersebut dan siapa sangka hasilnya benar-benar ada di luar ekspektasi saat ini.