
Beberapa waktu setelah nya
kembali ke kamar mandi pemandian air panas.
Satu sosok laki-laki terlihat bergerak perlahan menuju kearah kamar mandi pemandian air panas, mencoba menelisik kamar mandi tersebut untuk beberapa waktu, mencari beberapa informasi dan menggali satu kecurigaan di hatinya sejak beberapa waktu yang lalu dimana dia menemukan Maya dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Laki-laki tersebut menjongkokkan tubuhnya sejenak, mencoba menelisik lantai kamar mandi untuk beberapa waktu, membiarkan jemari indahnya menyapu sisa air sabun yang belum sepenuhnya mengering, dan berusaha untuk menggesek Jemari kanan nya secara perlahan, kemudian laki-laki tersebut mencoba untuk mencium aroma sabun tersebut sembari memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
******
Kamar inap Mawangsa dan Shinta.
Shinta terlihat sibuk membuat kan teh untuk Mawangsa ketika laki-laki tersebut menyambar handuk dan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, dia cukup lelah hari ini ditambah kekhawatir yang menghantam dirinya soal Maya.
"Mau aku belikan makan malam?"
Shinta berusaha untuk menawarkan makanan, berusaha mengambil hati calon suaminya tersebut. Mawangsa menghentikan sejenak langkah nya, berpikir untuk beberapa waktu.
"Aku tidak lapar"
Ucap mawangsa kemudian.
Mendengar jawaban dari laki-laki itu seketika membuat Shinta diam.
Mawangsa memilih untuk masuk ke kamar mandi dan mencoba untuk menyegarkan dirinya untuk beberapa waktu.
Laki-laki tersebut sejenak memejamkan bola matanya, menikmati aroma sabun yang digunakan nya tanpa banyak bicara.
cukup lama dia menyelesaikan mandinya hingga pada akhirnya laki-laki tersebut keluar secara perlahan beri dalam kamar mandi itu lantas dia mulai mengganti pakaiannya, setelah selesai mengganti pakaiannya Mawangsa berjalan perlahan mendekati cinta yang terlihat sibuk menonton televisi di ruangan hotel tersebut.
bisa dilihat perempuan itu tanpa duduk dengan tenang sembari menonton televisi sambil melipat kedua tangannya dan bersandar di atas kursi sofa mendominasi berwarna hitam, sesekali perempuan tersebut tertawa sembari mengunyah cemilan yang ada di hadapannya, hingga akhirnya dia menghentikan seluruh aktivitas saya ketika Mawangsa datang mendekatinya.
"Kamu tahu Shinta?"
__ADS_1
tiba-tiba saja laki-laki tersebut duduk di kursi sofa yang berbeda, meletakkan sebuah botol sabun cair tepat di hadapan perempuan yang menatap nya kini.
"aku sama sekali tidak pernah berharap kamu adalah pelakunya, tapi bagiku terlalu kebetulan aroma sabun yang membuat Maya kecelakaan dan sabun milik mu sama?"
Saat laki-laki tersebut bicara seperti itu seketika membuat Sinta membulatkan bola matanya, Shinta bergetar dan berusaha untuk menetralisir detak jantung nya.
"Sayang kamu bilang apa? memangnya yang memiliki sabun seperti ini hanya aku?"
Shinta pikir dia mencoba untuk berbohong tapi tiba-tiba Mawangsa menyela ucapan nya.
"aku berusaha untuk memangkas kecurigaan tapi tiba-tiba aku ingat apa yang kau bicarakan sebelumnya saat kita masih di Indonesia"
lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
"kamu memiinta uang dariku untuk menebus sabun limited edition dari produk xxxxxxx persis di botol ini, kamu bilang ini limited edition karena hanya keluar satu dalam satu tahun dan kamu Perempuan beruntung yang mendapatkan nya"
demi apapun seketika ucapan nuansa membuat cinta terdiam wajahnya memuncak Dan dia bingung harus menjawab bagaimana, isi kepalanya terus berputar, dia takut Mawangsa terlalu banyak mencurigai dirinya.
seketika ekspresi wajah perempuan tersebut berubah, menampilkan Rona kesedihan dengan bola mata yang berkaca-kaca, dia begitu manipulatif dan mampu membohongi lawan bicaranya, berkata dengan sungguh-sungguh agar memangsa mempercayai ucapannya.
"karena aku cemburuan pada nya dan aku takut kayu masih mencintainya aku melakukan itu untuk mencelakakan Maya"
dia telah terbiasa berbohong dari satu kata menuju ke kata yang lainnya atau dari satu kebohongan menuju kebohongan yang lainnya, karena itu sangat gampang sekali baginya untuk memperdaya mawangsa atau lawan lainnya.
"aku benar-benar cemburu dan khilaf"
dia mendekati mawangsa dan berusaha untuk menangis sembari memeluk laki-laki tersebut, meminta permohonan maaf pada laki-laki itu jika dia benar-benar hilang melakukan hal tersebut.
"apa kamu tidak berpikir bagaimana jika dia mati karena tindakanmu?"
Mama sejelas saja bertanya membiarkan Shinta memeluk dirinya.
"aku benar-benar tidak pernah memikirkan jika tindakanku akan mencelakainya sejauh itu, aku melakukan tindakan impulsif karena aku takut kau dan dia akan kembali bersama"
__ADS_1
dia bicara kemudian melepaskan pelukannya, menonton bola mata mawangsa dengan tatapan berkaca-kaca ditambah dengan air mata palsu yang sangat menjijikkan.
Mawangsa tidak bicara sama sekali, hanya menatap balik perempuan tersebut untuk beberapa waktu.
"aku mohon maaf karena aku sayang, aku tidak akan mengulanginya lagi"
dia merapatkan kedua telapak tangannya dan memohon agar Mawangsa tidak memarahinya atau membencinya, laki-laki tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, dan tidak tahu apa yang dipikirkannya setelah itu.
******
Disisi lain.
"apa dia baik-baik saja dokter?"
Julian bertanya khawatir pada seorang dokter yang ada di hadapannya, di mana dokter tersebut baru saja selesai memeriksa kondisi Maya.
"dia baik-baik saja dan hanya terkena sedikit gegar otak, kita telah memberikannya obat dan besok pagi semua akan baik-baik saja"
Julian cukup lega mendengar apa yang diucapkan oleh dokter tersebut hingga pada akhirnya dia mengantarkan laki-laki itu menuju ke arah pintu depan.
setelah dokter laki-laki itu pergi Julian langsung mendekati Maya, menunggu perempuan itu sadar dan dia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
namun sayangnya saat Maya bangun, gadis tersebut malah bertanya kepada dirinya.
"Ada apa dengan diriku? kenapa aku bisa terjatuh?"
dan hal tersebut cukup membuat Julian kesulitan untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dan siapa pelakunya, dia yakin banyak tidak jatuh dengan sengaja melainkan seseorang berusaha untuk mencelakai.
kecurigaan jelas menghantam dirinya pada sosok Shinta, tapi dia sama sekali tidak memiliki bukti karena pada rekaman CCTV tidak terdapat sama sekali pergerakan perempuan tersebut di sana.
Sial.
Julian mengumpat kesal.
__ADS_1