
"Katakan pada ku bagaimana pendapat mu soal Dave?"
Tiba-tiba saja suara Julian memecah keheningan, Maya langsung terkejut dan menoleh ke arah Julian.
"ya?"
Dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Bukankah dia laki-laki yang tampan dan juga berpotensi? Aku pikir sepertinya dia sangat cocok untuk kamu, Maya"
Ucap Julian mencoba memancing Maya soal Dave.
Laki-laki itu hanya ingin tahu apa pendapat Maya soal Dave sendiri, sebab yang dia pikirkan adalah sepertinya Dave tertarik kepada Maya, tapi dia sama sekali tidak bisa menebak bagaimana isi hati dan pikiran Maya saat ini.
"Dia Begitu Kharismatik dan di gilai banyak perempuan, kamu jelas sosok yang cantik dan banyak di sukai laki-laki sebelum menikah dengan Mawangsa, aku rasa kamu dan dia akan jadi pasangan paling fenomenal ketika bersama"
Lanjut Julian lagi sembari melirik kearah Maya, dia agak khawatir sebenarnya soal perasaan Maya saat ini mengingat bagaimana Dave memperlakukan Maya belakangan.
Mendengar ucapan Julian seketika membuat Maya memutar bola mata nya.
"Aku tidak berpikir hingga sejauh itu"
Celetuk nya cepat.
Mendengar Jawa Maya seketika Julian terkekeh, kemudian dia kembali berkata.
"Kalau begitu bagaimana dengan ku?"
Tanya laki-laki tersebut cepat.
"Apa kamu memikirkannya sejauh apa yang ingin dipikirkan? aku cukup rekomendad! kau lihat? aku tampan, sukses dan pewaris kerajaan keluarga ku"
Julian memuji dirinya sendiri penuh semangat, dia berlagak sedikit sombong sembari mengangkat kepalanya, sedangkan bola mata nya melirik kearah Maya dalam hitungan detik.
"Bagaimana jika kita menikah saja?"
Setelah berkata seperti itu dia mengedipkan sebelah bola matanya, Maya sejenak melirik ke arah Julian.
Mendengar ucapan sahabat nya, seketika Maya tertawa geli.
"Oh ayolah Julian, kita berteman sejak kecil, bersama-sama sejak TK, SD, SMP SMA bahkan hingga ke bangku kuliah, aku pikir sangat aneh jika aku mengencani sahabat baik ku yang sudah seperti saudara ku sendiri kemudian menikah dengan mu"
Ucapan Maya jelas seperti sebuah penolakan halus, dia menekankan kata sahabat baik yang seperti saudara sendiri agar laki-laki disampingnya itu Ingat dengan hubungan baik mereka.
Mendengar penolakan halus Maya seketika Julian mengerutkan bibir nya.
"Kau ini..."
Dia mengeluh.
"aishhhhh, aku ini serius"
"Oh ayolah berhenti bercanda dengan ku Julian, aku tahu kamu sedang berusaha menghibur hati ku hari ini agar aku bahagia, tapi tidak dengan candaan konyol yang biasa kamu lontarkan"
Oceh Maya kemudian.
mendengar Ocean Maya seketika Julian terkekeh kecil.
dia baru akan bicara namun tiba-tiba Maya mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dari dalam tas nya.
Bisa dilihat saat Maya tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin pernikahan nya bersama Mawangsa dari kotak beludru tersebut, ekspresi wajah Maya menjadi begitu mendung, ingatan nya soal bagaimana cara Julian memperlakukan Shinta semalam dan bagaimana cara Mawangsa memandang Shinta, seketika membuat hati Maya terluka.
__ADS_1
Dia memejamkan perlahan bola matanya, mencoba menepis perasaan nya.
Bodoh.
Itu yang ada didalam hati Maya saat ini.
bukankah jelas sejak awal Mawangsa sama sekali tidak pernah mencintai dia, lalu kenapa dia Dengan bodohnya mau menikah dengan laki-laki tersebut dan bermimpi terlalu jauh soal hubungan mereka.
Aku pasti gila.
Batin nya lagi.
Julian menatap serius kearah Maya untuk beberapa waktu, kemudian bola matanya lari ke arah cincin yang dilepaskan oleh Maya.
ekspresi wajahnya jelas terlihat begitu serius hingga pada akhirnya laki-laki tersebut berkata,
"Kau tahu sayang? di dunia ini tidak sedikit laki-laki merupakan sosok yang jahat, mereka akan berkata mencintaimu hanya karena ingin memanfaatkanmu, sama seperti Mawangsa yang memanfaatkanmu untuk kesembuhan Shinta, aku harap kau tidak menjadi bodoh setelah ini"
Ucap laki-laki tersebut cepat kearah Maya, dia tahu ucapannya yang jelas akan menyakiti gadis tersebut, tapi itu jelas merupakan realita kehidupan.
tidak banyak laki-laki pura-pura mencintai seorang gadis atau perempuan hanya karena ingin memanfaatkannya atau mendapatkan keuntungan dari mereka."Berhati-hati lah dengan orang-orang jahat yang terlihat baik"
Lanjut nya lagi.
Maya terlihat diam untuk beberapa waktu, alih-alih menjawab ucapan dari Julian gadis tersebut pada akhirnya berkata.
"Pergilah untuk menjual nya, berapapun hasil uang yang akan didapatkan aku akan mendonasikan seluruhnya kepada orang-orang di daerah pegunungan miskin"
ucap Maya cepat lantas membuang pandangannya.
*****
Pesta di hotel jelas masih berlangsung meskipun sebenarnya kejadian tadi cukup terasa buruk namun semua orang seolah-olah membuang seluruh perkara dan berpikir tidak terjadi apapun tadi.
Mawangsa tampak menyapa salah satu rekan bisnisnya, mengobrol untuk beberapa waktu hingga akhirnya laki-laki tersebut pikir dia cukup lelah saat ini dan mengambil inisiatif untuk pergi beristirahat.
laki-laki tersebut memilih untuk duduk ke arah sudut ruangan yang nyaris tidak terlihat oleh orang-orang, di sampingnya Sinta terlihat mencoba memijat-meja tubuh Mawangsa dengan gerakan lembut dan hangatnya.
Awalnya Mawangsa mencoba untuk memejamkan bola matanya sejenak namun sepersekian detik kemudian tiba-tiba saja laki-laki tersebut langsung membuka bola matanya, dia langsung menatap ke arah Shinta, bola mata laki-laki tersebut terlihat menyiratkan permintaannya atas penjelasan Sinta soal apa yang di ucapkan oleh orang-orang disekitar Maya malam ini.
"Kau tidak ingin menjelaskan kebenaran soal kecelakaan malam itu?"
Mawangsa bertanya sembari menaikkan ujung alisnya.
mendengar pertanyaan Mawangsa, seketika Shinta mengentikan gerakan memikat nya, bisa dilihat tangan perempuan tersebut bergetar.
"Sayang..aku... kejadian nya sudah lama, bahkan aku koma selama bertahun-tahun, bagaimana bisa aku mengingat nya?"
Perempuan itu berusaha membuat pembelaan, dia pikir dia jangan sampai salah bicara.
"Kau tahu sayang? aku mana mungkin melakukan hal di luar ekspektasi, aku pasti terlihat bodoh karena mau mencelakai diriku sendiri bukan?"
kali ini perempuan tersebut bicara sembari menatap Mawangsa dengan bola matanya yang mulai memerah, dia pura-pura ingin menangis saat ini juga di hadapan laki-laki tersebut.
Shinta tahu Mawangsa paling sulit saat melihat seorang perempuan akan menangis di hadapannya.
Seperti dugaan nya, saat memangsa melihat bagaimana ekspresinya dan juga bola matanya yang mulai memerah dan akan mengeluarkan airnya.
"Lupakan saja, kita tidak harus membahasnya lagi mulai hari ini"
Ucap Mawangsa cepat.
__ADS_1
Laki-laki tersebut menghela kasar nafasnya.
melihat ekspresi mawangsa yang berkata tidak ingin lagi membahas perihal tersebut seketika membuat Shinta langsung mengembangkan senyumannya.
Perempuan tersebut pada akhirnya berkata,
"aku pikir aku akan memberikan hadiah pada Maya Karena banyak membantu ku selama aku koma"
Dia bicara cepat.
Mendengar ucapan Shinta seketika Mawangsa langsung berkata.
"Tidak usah melakukan hal seperti itu, dulu sudah cukup memaksanya menikah dengan ku, kali ini berhenti memaksa nya menerima hadiah yang belum tentu dia suka, itu tidak ada guna nya"
Laki-laki tersebut menolak mentah-mentah, keberatan dengan ucapan Shinta.
mendengar ucapan dari Mawangsa seketika membuat Shinta mengulum senyuman nya, dia kemudian secara perlahan bergelayut Kearah lengan Mawangsa dan mencoba memeluk laki-laki tersebut.
"Terima kasih karena masih begitu mencintai ku dan mau menunggu ku selama bertahun-tahun meskipun aku dalam keadaan koma"
Mawangsa tidak menjawab, dia menyentuh lembut puncak kepala Shinta, laki-laki tersebut mencium hangat kening perempuan tersebut.
"He em.. aku harap kalian tidak lupa jika ini di muka umum"
tiba-tiba terdengar suara ibu Shinta mengingatkan kedua orang tersebut.
melihat sang ibunya mencoba mengingatkan mereka seketika membuat wajah Shinta memerah.
Bisa dilihat ibu dan ayah Shinta pada akhirnya bergabung duduk di atas kursi sofa tersebut, Mawangsa dan Shinta langsung menjaga jarak terbaik mereka.
Pada akhirnya Mawangsa dan ayah Shinta terlihat mengobrol soal perusahaan, Shinta dan ibu nya juga berbincang-bincang soal beberapa hal.
Hingga akhirnya seorang pelayan masuk dan menawarkan beberapa jus Kearah mereka.
Shinta baru akan memesan, tapi tiba-tiba Mawangsa ingat soal sesuatu.
"Berikan jus mangga untuk calon istri ku"
Ucap Mawangsa kemudian Kearah pelayan lantas laki-laki tersebut menoleh kearah calon ayah mertua nya.
"Dulu saat kami menjadi sahabat pena, Shinta selalu berkata dia pencinta jus mangga"
Shinta dan ibu nya seketika membeku, bisa dilihat bagaimana wajah Shinta memucat saat ini Ketika sang pelayan menyuguhkan jus mangga ke arah dirinya.
Mendengar ucapan Mawangsa seketika ayah Shinta mengerutkan keningnya, dia pikir seperti nya Mawangsa salah, dia baru saja ingin Bicara namun tahu-tahu Shinta memotong ucapan nya.
"Aku pikir...."
"Ayah, Mawangsa benar aku begitu menyukainya"
Tanpa berpikir dua tiga kali Shinta secepat kilat meraih jus mangga tersebut dan menghabiskan nya dalam hitungan detik.
"Ini benar-benar nikmat"
Ucap nya sambil berusaha menahan nafas nya.
******
Catatan \=
Alhamdulillah sudah dapat feedback dari NT dan siap di update rutin tiap hari yah Mak novel SEJAUH ANGIN YANG BERHEMBUS ❤️.
__ADS_1