
Pada akhirnya ibu Shinta terlihat mengeram kesal atas apa yang diucapkan oleh Heru, dengan perasaan dongkol wanita tersebut bergegas pergi meninggalkan Heru dan Maya tanpa ingin memperpanjang persoalan kepada kedua orang tersebut meskipun sebenarnya perasaannya masih sangat dongkol dan kesal.
Dia pikir karena dia sudah tua tidak ada gunanya meladeni anak-anak muda dan dia membiarkan saja Heru salah dalam pilihannya karena dia tahu Maya bukanlah gadis yang baik.
Begitu nyonya Hartanto meluncur menjauh dari mereka, Heru tampak menatap ke arah wajah Maya untuk beberapa waktu.
"Tidakkah kamu menyadarinya, Maya?" Laki-laki tersebut bertanya dengan jutaan rasa penasaran yang tinggi setelah nyonya Hertanto menjauh dari mereka dan hilang ditelan bayangan.
"Kenapa?" Maya bertanya balik, mereka pada akhirnya bergerak secara perlahan menuju ke area parkiran.
Mereka berjalan saling mensejajarkan diri antara satu dengan yang lainnya.
"Aku pikir kamu dan ibu Shinta memiliki banyak kemiripan," Ucap Heru tiba-tiba.
"Tidak kah kamu menyadari nya? dari mata, hidung, lekuk wajah dan-," Heru bicara sembari mengernyitkan keningnya dan dia terlihat berpikir dengan keras saat berusaha mencari persamaan di antara kedua orang tadi.
Sangat aneh saat Shinta malah tidak mirip sama sekali dengan nyonya Hertanto, tapi Maya yang bukan siapa-siapa malah terlihat banyak kemiripan nya.
Mendengar ucapan Heru, Maya terlihat terkekeh kecil.
"Bagaimana bisa? itu terdengar sangat buruk sekali ketika aku terlihat mirip dengan nyonya Hartanto." Maya mendengus kecil, dia pikir pemikiran Heru ada-ada saja.
"Aku memperhatikan nya." jawab Heru cepat.
"Di dunia ini ada banyak orang yang memiliki kemiripan antara satu dengan yang lainnya, bahkan ada yang bilang ada 7 orang yang mirip dengan diri kita di dunia ini, jadi aku pikir kemungkinan nyonya Hertanto salah satu orang yang mirip denganku.Tapi demi apapun meskipun sebenarnya aku cukup tidak suka, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Mungkin itu hanya kebetulan saja dimana kami memiliki kemiripan antara satu dengan yang lainnya." Lanjut Maya lagi kemudian.
Heru terlihat diam dan tidak melanjutkan ucapannya, seolah-olah dia masih berpikir dengan keras namun tidak ingin terlalu dalam memikirkannya. Mungkin seperti apa yang diucapkan oleh gadis itu mereka hanya kebetulan mirip saja, jadi dia tidak harus memikirkan hal yang tidak-tidak seperti apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.
"Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan memikirkan nya, maafkan aku karena aku bilang kamu mirip dengan wanita tadi. Hanya saja aku tidak habis pikir jika kalian ibu dan anak, dan kamu saudara Shinta. Benar-benar terlalu berbanding terbalik antara satu dengan yang lainnya." Heru bicara sambil terkekeh kecil, dia geli sendiri dengan pemikiran nya barusan.
Mendengar apa yang dikatakan Heru membuat Maya itu tertawa kecil.
"Anggap saja ini sebagai hiburan di waktu senggang, aku harap aku mirip tuan Hertanto atau mirip dengan ayah Mawangsa." Heru kembali bercanda dengan gadis tersebut.
Maya ikut tertawa terkekeh mendengar apa yang diucapkan teman nya tersebut. Mereka terus melangkah menuju ke area parkiran dimana mobil Maya berada, hingga pada akhirnya setelah menemukan mobil mereka, kedua orang tersebut langsung naik ke dalam mobil itu dan meluncur pergi menjauh dari tempat tersebut.
Tidak terjadi percakapan sedikitpun di antara mereka di mana Heru lebih memilih untuk fokus pada stir mobilnya dan jalanan, sedangkan Maya lebih suka menikmati alur jalanan sejak tadi. Hingga pada akhirnya tiba-tiba Maya berkata.
"Ngomong-ngomong Heru," Ucap gadis tersebut kemudian.
Heru tidak menjawab, dia masih membiarkan tangan nya mengendalikan stir mobil dan bola matanya menatap fokus kearah depan.
__ADS_1
"Katakan pada ku soal bebek putih." Dan Maya berkata dengan cepat tiba-tiba.
Ciiittttt.
Mendengar kata bebek seketika Heru mengerem mendadak mobil nya, membuat Maya terkejut setengah mati, dia hampir terpental kedepan, untungnya dia begitu cekatan menahan tubuhnya di depan dasbor mobil, dan dia menggunakan sabuk pengaman dengan baik.
"Ada apa?." Maya mengernyitkan keningnya.
Heru terlihat gugup, dia sejenak menoleh kearah Maya, kemudian melirik kearah belakang, untung tidak ada kendaraan lain yang ada di dekat mereka dan menabrak bagian belakang mobil mereka. Heru kembali melajukan mobil secara perlahan kemudian dia berkata kepada Maya.
"Maafkan aku, aku pikir ada kucing tadi." laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari berkilah padahal tidak ada kucing sama sekali di depan sana tadi, yang ada hanyalah jika dia cukup terkejut dengan pertanyaan Maya soal bebek yang tidak lain adalah Mawangsa.
"Oh seperti itu." Ucap Maya pelan.
Meskipun dia pikir dia tidak melihat kucing tadi dia pikir mungkin dia saja yang kebetulan tidak melihat karena terlalu fokus pada kendaraan yang lalu lalang.
"Itu bebek putih, ada apa dengan nya?" Heru berusaha bertanya, ingin tahu apa yang dimaksud Maya.
"Katakan pada ku, jika kamu mengenal bebek, Ada kemungkinan aku juga mengenal bebek bukan? katakan padaku siapa dia?," Maya bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi ingin tahu siapa bebek tersebut.
"Dia sudah terlalu banyak membantuku Heru, bahkan sudah dua kali termasuk ketika aku ingin mendapatkan tanda tangan dari direktur Accord." Maya bercerita tentang bagaimana cara bebek membantunya yang sudah cukup banyak dan dia pikir mungkin dia harus tahu siapa bebek dan berterima kasih secara langsung kepada dirinya.
Mendengar pertanyaan Maya seketika membuat Heru sedikit menelan salivanya, dia pikir dia mana mungkin memberitahukan Maya tentang identitas siapa bebek sebenarnya karena itu jelas bukan pilihan yang bijak menurut dirinya.
"Kalau begitu apakah aku bisa menemuinya sesekali? aku benar-benar ingin berterima kasih kepadanya atas banyak bantuan yang telah dia lakukan kepada diriku," gadis tersebut terus bicara sedikit bersikeras ingin sekali bertemu denganmu karena dia merasa begitu berhutang Budi kepada laki-laki tersebut.
Mendengar ucapan orangnya, Heru buru-buru berkata.
"Dia tidak ada di sini, dia berada di luar negeri dan aku tidak yakin kapan dia kembali karena dia memiliki pekerjaan yang sendiri di sana dan mungkin dia akan datang sesekali saja ketika dia mendapatkan waktu liburan saja dan itu cukup tidak membuatku yakin kapan waktunya." Heru berusaha untuk meyakinkan Maya jika laki-laki itu tidak ada di negara mereka dan Maya pasti cukup kesulitan untuk bertemu dengannya.
Mendengar ucapan Heru, seketika Maya diam. Gadis tersebut terlihat begitu bersedih karena dia pikir dia benar-benar tidak bisa bertemu dengan laki-laki tersebut padahal dia berharap bisa bertemu dengan bebek cepat atau lambat.
"Sudah sangat disayangkan sekali dia tidak ada di sini padahal dia begitu baik dan sudah membantuku berkali-kali." Lanjut gadis itu lagi kemudian.
Heru hanya menggangguk kan kepalanya, secara perlahan tanpa berniat untuk melirik ke arah Maya dia membiarkan bola matanya terus menatap ke arah jalan'an.
"Iya, itu sangat sayang sekali." laki-laki tersebut menyetujui ucapan dari Maya.
Hingga pada akhirnya mereka tidak lagi membuka suara masing-masing dan membiarkan waktu berlalu begitu saja dan memilih untuk sibuk pada pikiran mereka sendiri-sendiri saat ini gimana Heru terus membawa modal tersebut melaju menuju ke arah kediaman Maya. Setelah beberapa waktu berlalu pada akhirnya mereka tiba di rumah gadis tersebut. Heru membelokkan mobilnya ke arah halaman tempat tinggal Maya secara perlahan dan dia masuk ke bagian halaman rumah yang ada di hadapan mereka tersebut.
Sejenak bola mata Maya menatap lurus ke arah depan tepat di bagian pintu masuk sembari dia mengerutkan keningnya mencoba untuk melihat sesuatu yang cukup mengejutkan dirinya.
__ADS_1
Seseorang terlihat duduk dengan keadaan gelisah di depan rumahnya sembari menatap ke arah bagian gerbang luar rumah. Maya jelas semakin mengernyitkan dahinya saat dia menyadari siapa yang ada di depan rumahnya tersebut.
"Ada yang bertamu ke rumahmu, Maya." Heru bicara cepat ke arah Maya saat bola matanya juga menatap sosok seseorang yang kini berdiri menanti kehadiran mereka.
"He em." gadis itu hanya menjawab seadanya dan dia terlihat diam untuk beberapa waktu dimana Heru tampak mulai menepikan mobilnya secara perlahan.
Setelah mobil menepi secara perlahan mayat turun dari mobilnya dan bergerak menuju ke arah depan rumahnya di mana Elsa adik Mawangsa terlihat menunggunya sejak tadi.
"Kak." gadis tersebut langsung menyapa dirinya dan menundukkan kepalanya dengan cepat.
Maya melihat gadis tersebut terlihat membawa tas jinjing dan tas sekolahnya juga beberapa barang yang dia pikir itu mungkin memang barang-barang Elsa.
"Kenapa kamu ada di sini?," dia bertanya dengan cepat pada gadis di hadapannya tersebut sembari terus mengerutkan keningnya.
"Aku bertengkar dengan ibu dan melarikan diri dari rumah." tanpa berbelit-belit Elsa menjawab dengan cepat kenapa dia ada di rumah Maya saat ini.
Mendengar ucapan gadis tersebut membuat Maya sedikit terkejut dia sedikit menganga menatap kearah Elsa dan berpikir apa maksud gadis tersebut? apakah setelah bertengkar Elsa memilih untuk tinggal di rumah nya?.
"Jadi?," Maya bertanya.
"Karena itu aku akan tinggal di sini bersama kakak." dan gadis itu menjawab dengan mantap, jelas saja hal tersebut membuat Maya tidak percaya.
"No." Maya jelas saja menolaknya karena dia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Mawangsa saat ini, karena baginya berurusan dengan keluarga Mawangsa tidak bisa membuat dia bahagia dan dia merasa sangat stres dengan keadaan.
"Pulanglah ke rumah dan minta maaf kepada ibumu, aku tidak bisa menampungmu di sini." Maya jelas saja langsung menolaknya dengan cepat dan di detik berikutnya dia langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu nya dengan cepat.
Elsa jelas cukup terkejut dengan tindakan Maya, dia langsung mengetuk pintu berkali-kali sembari memohon dan berkata,
"Kakak maafkan aku biarkan aku tinggal di sini." Ucap nya penuh permohonan.
"Maafkan aku, aku tahu aku ini bukan adik ipar yang baik, tapi aku mohon maafkan aku, aku ingin tinggal bersama kakak dan aku tidak ingin tinggal di rumah lagi." Elsa terus merengek agar Maya membukakan pintu untuk dirinya dan dia ingin bisa tinggal bersama gadis itu saat ini.
Maya sama sekali tidak peduli, mana mau dia menerima gadis itu saat ini karena baginya semakin dia dekat dengan keluarga tersebut maka semakin sulit hidupnya. Dia sudah tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga Mawangsa atau bahkan Shinta. Baginya kemalangan sudah dia terima selama 6 tahun menjadi istri Mawangsa, dan dia tidak mau lagi hidup dalam kesulitan hanya karena rasa kasihan yang menghantam dirinya.
"Pulanglah dan jangan kembali kemari, aku sudah tidak ingin lagi ada kalian diantara diriku saat ini." terdengar sangat kejam saat dia mengatakan hal tersebut kepada Elsa tapi realitanya dia tidak mungkin untuk membuka hati dan menerima Elsa untuk tinggal dirumahnya.
"Jangan terlalu menyulitkanku lagi dan ingatlah bagaimana kalian memperlakukanku dulu, hubungan ini telah berakhir dan jangan pernah berharap untuk menyambungnya kembali." Ucap Maya lagi sambil menyandarkan dirinya ke pintu rumah nya.
Elsa langsung duduk di depan pintu sembari menangis dia tahu seharusnya dulu dia tidak berlaku buruk pada Maya, rupanya setelah kehilangan dia baru sadar jika Maya sangat memperlakukannya dengan baik dulu bahkan Shinta tidak mampu memperlakukannya sama seperti Maya memperlakukan dirinya meskipun hanya seujung kukunya.
Di mobil Heru yang melihat adik Mawangsa yang memohon sembari menangis seketika membuat laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya, laki-laki itu pada akhirnya mengambil handphonenya secara perlahan dan di detik berikutnya dia berusaha untuk menghubungi Mawangsa.
__ADS_1
"Ckckckck semua benar-benar buruk." Batin Heru didalam hati nya.