
Catatan \= Tiara/Heru pernah masuk beberapa kali di episode-episode sebelumnya yah Mak, sebab ada yang agak bingung Tiara siapa dan lain sebagainya.
******
Disisi lain,
mobil.
Tiara terlihat menghubungi Heru, dia meminta laki-laki tersebut untuk menjemput Maya yang seorang diri di restoran xxxxxxxx dimana mereka makan tadi. Maya berkata kaki nya sedikit bermasalah karena insiden tidak disengaja di kamar elevator. Hal tersebut jelas membuat Tiara cukup khawatir. Andaikan dia tidak terburu-buru mungkin dia sudah putar balik tapi karena dia sedang dalam keadaan terburu-buru mau tidak mau dia meminta Heru untuk menjemput nya.
"Jemput dia sekarang, kaki nya tidak dalam keadaan baik-baik saja jadi aku sangat khawatir dan jangan sampai kamu terlambat menjemput nya." ucapkan dari headset bluetooth-nya.
"Siap meluncur." dari seberang sana Heri dengan semangat langsung menjawab.
Begitu panggilan dimatikan buru-buru di lokasi dimana Tiara katakan.
*******
Restoran xxxxxxxx,
Pusat kota.
Mawangsa menggunakan kurang nyaman tak ada seorang laki-laki yang menjemput Maya yang tidak lain adalah temannya sendiri.
"Kau kemari?." dia jelas saja mengeringkan keningnya berpikir bagaimana bisa hero yang menjemput Maya dalam keadaan kaki yang terkilir.
ada Rona kecemburuan di balik wajahnya tersebut saat ini dia pikir bagaimana bisa Maya setelah bercerai dengan nya mengenal banyak laki-laki. Julian, Dave, Heru dan entahlah siapa lagi. Kepalanya jadi berdenyut-denyut memikirkannya dan tidak tahu kenapa dia merasa suasana menjadi gerah dan suram.
"He em, aku menjemput Maya." Heru pertanyaan dari Mawangsa, dia mendekati Maya dan mencoba memeriksa kakinya.
Terlihat terlalu berlebihan dan romantis, membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa cemburu.
"Akhhh sakit." Maya meringis dengan nada manja.
Terlalu berbeda dengan respon gadis tersebut tadi saat Mawangsa yang melihat dan bertanya.
"Ini cukup bengkak." Heru bicara pelan, memperhatikan pergelangan kaki Maya dengan iba.
"Aku kurang hati-hati saat di dalam elevator, mereka berhenti mendadak hingga membuat aku sedikit terhempas ke dinding dan-,"
Oh shi-t, Maya bicara dengan ada yang begitu lemah lembu seperti seorang gadis yang mengeluh kepada kekasihnya, membuat Mawangsa sedikit gerah, dia mengendurkan dasi kerjasama dengan kesal. Arif hanya bisa melirik respon dari tuannya. Dia pikir bukankah sudah terlalu terlambat untuk marah dan cemburu?, mereka bukan lagi sepasang suami istri, Maya berhak untuk dekat dengan siapapun tanpa halangan.
"kita harus ke rumah sakit untuk memeriksanya, aku takut sesuatu yang buruk terjadi." Haru menawarkan sedikit solusi, melihat kaki yang sedikit membekas dan membiru, Heru pikir rumah sakit menjadi pilihan terbaik untuk mereka.
"Hmmm." Maya hanya menganggukkan kepalanya, persis seperti kucing yang patuh, hal tersebut semakin membuat Mawangsa memanas.
"ingin aku gendong?." Heru kembali bertanya pada Maya dengan tatapan yang cukup serius.
__ADS_1
Gadis tersebut malah terkekeh kecil kemudian dia berkata,
"aku terlihat begitu manja, lupakan saja. Bantu aku berjalan menuju ke mobil saja."
Obrolan mereka terus terjadi seolah-olah mereka lupa jika di sana ada Mawangsa, padahal realitanya laki-laki tersebut sejak tadi cukup memanas dengan keadaan bahkan rasanya ingin sekali memukul wajah Heru karena menyentuh Maya sejak tadi dengan baik jika Maya adalah mantan istrinya.
"Baik, naikkan tanganmu dan aku akan membawamu ke mobil." Heru bicara dengan cepat kemudian membenahi posisinya, membiarkan tangan Maya naik ke bahunya di mana dia mencoba untuk membawa Maya dan merangkul nya menjauh dari sana tanpa harus berpamitan kepada Mawangsa.
Maya menurut dan secara perlahan dia membiarkan tangannya naik ke bahu laki-laki tersebut kemudian bergerak dengan sedikit sulit menuju ke arah mobil bersama Heru sedangkan Mawangsa terlihat menatap kedua orang tersebut yang mulai menjauhi dirinya.
Mawangsa pada akhirnya menoleh ke arah Arif kemudian laki-laki tersebut berkata.
"Kau coba selidiki kedua orang tersebut ada hubungan apa mereka berdua hingga sejauh ini.". dia memberikan perintah mutlak kepada laki-laki yang ada di sampingnya tersebut dan hal itu jelas saja membuat Arif mengernyitkan dahi nya.
"Ya?." Dia bertanya bingung.
"apa aku harus mengulangi kembali perintahku barusan?," Wajah Mawangsa jelas menyerahkan ketidaksukaan atas pertanyaan Arif, menganggap laki-laki tersebut sangat lamban merespon perintah nya.
"Ah, baik tuan." Arif berusaha untuk bersikap profesional hingga pada akhirnya dia menjawab dengan cepat meskipun sebenarnya perintah yang diberikan mawangsa cukup tidak bagus.
Bayangkan bagaimana laki-laki tersebut harus menurunkan harga dirinya menyelidiki soal mantan istrinya yang dekat dengan laki-laki manapun, itu jelas terlihat aneh dan juga konyol menurut dirinya.
Dengan perasaan kesal Mawangsa langsung membalikkan tubuhnya dan bergerak menuju ke arah di mana mobilnya berada. Laki-laki tersebut pikir mood-nya saat ini tiba-tiba memburuk dan perasaannya tidak menjadi baik. Dia membanting pintu mobil dengan perasaan kesal dan dia langsung duduk di dalam sana menunggu hari untuk membawa mobilnya meluncur pergi menjauh dari tempat tersebut.
*******
pusat kota.
Mereka tiba di rumah sakit dan Hero langsung bergerak menuju ke arah bagian dokter spesialis tulang, dia ingin tahu apakah kaki Maya tidak apa-apa dan mereka harus memeriksakan keadaan gadis tersebut secepatnya karena jika sesuatu yang terjadi maka Maya akan sulit pergi ke mana-mana atau bahkan bekerja.
"aku sangat berterima kasih karena kamu sudah datang untuk membantuku, Heru." Maya merasa bersalah karena merepotkan laki-laki tersebut dan sangat berterima kasih atas bantuannya.
"Tiara yang menghubungiku dan berkata jika kakimu terkilir." baru menjawab dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya.
"aku menghubunginya tadi dan berkata bisakah dia membantuku putar balik tapi sepertinya dia memang benar-benar memiliki urusan mendadak karena itu dia menghubungimu." Maya menjelaskan bagaimana bisa Tiara menghubungi laki-laki tersebut.
Heru langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu dan membantumu secara langsung." Ucap Heru dengan antusias dan senang.
Di ujung sana tanpa mereka sadari jika teman Maya dan Ayunda melihat kebersamaan mereka, dia berada di rumah sakit ini bersama Shinta. Perempuan tersebut ada di tempat yang berbeda, melakukan pemeriksaan soal sisa luka penculikan nya.
Dia memberikan kabar pada Shinta dengan cepat.
Dan Shinta jelas saja langsung begitu antusias mendapatkan kabar jika Maya ada di tempat yang sama dengan dirinya. Dengan tatapan licik dia berusaha untuk menemui gadis tersebut dan laki-laki yang mungkin bisa jadi adalah selingkuhannya.
"Ohhh kebetulan sekali bukan?." Shinta datang mendekati kedua orang tersebut sembari mencibir saat tahu siapa yang ada bersama Maya.
__ADS_1
"Bukankah kau Heru?, teman baik calon suamiku?." dia bertanya dengan nada ditekan, sengaja menerangkan kata calon suamiku agar Maya mendengar nya dengan jelas.
Hah?!.
Maya pikir apakah dunia begitu sempit? di mana saja dia berada selalu saja ada Mawangsa, Shinta, nyonya Hertanto, nyonya Dina dan akhhhhhh bisakah mereka sekali saja tidak bertemu?, dia muak dibuat oleh semua orang tersebut.
"setelah bercerai aku pikir kau begitu banyak dekat dengan laki-laki, bukankah kau pacaran dengan Julian? bagaimana bisa kau ada bersama Heru saat ini?" Shinta sengaja memancing di air yang keruh, dia ingin memanas-manasi Maya dan ingin merusak hubungan Maya dengan laki-laki manapun yang tengah dekat dengan gadis tersebut.
"Kau apakah penikung hubungan orang lain, Heru?." sebelum susah dia bertanya hal tersebut seolah-olah tidak sadar diri jika dia lebih parah daripada Maya karena menikung suami orang lain.
Maya langsung tertawa terkekeh kemudian dia berkata.
"aku ini memiliki banyak penggemar jadi tidak heran laki-laki banyak Yang datang mendekatiku sedikit berbeda denganmu yang tidak laku." Dia tertawa renyah, mengeluarkan suara ejekan nya.
Heru terlihat menahan tawanya mendengar ucapan Maya.
"Apa?" Shinta jelas menganga mendengar ucapan Maya.
"kau bilang apa?."
Alih-alih menjawab ucapan Shinta, Maya kembali berkata.
"Aku cukup terkejut melihat kamu ada di sini, tapi aku tidak melihat calon suamimu menemani dirimu, kau terlihat cukup kasihan." Maya bicara dengan cepat, sengaja membuat kompor balik untuk Shinta, berharap gadis tersebut cukup sadar diri dengan dirinya sendiri.
"Kau..." Shinta mencoba mengeram dan mencengkeram telapak tangan nya.
"Kau ini bicara apa? bagaimana bisa kau bicara buruk seperti itu pada Shinta?." Teman Shinta yang sejak tadi diam angkat bicara, punya inisiatif untuk menyerang ucapan Maya.
"Kau yang tidak tahu malu, setelah bercerai kencan dengan banyak laki-laki." ucap nya lagi
"Kenapa? kau iri? kalau begitu kau harus pandai-pandai mencari laki-laki yang mengejar mu bukan kamu yang mengejar laki-laki."
"Apa? kau!."
"Kau mengejar Maya? kau seharusnya malu, dia itu bekas istri orang." Shinta tidak bisa menahan diri, wajahnya memerah karena malu atas ucapan Maya."
Heru yang diberikan Peringatan terlihat terkekeh.
"Masih cukup baik aku sebagai laki-laki mengejar perempuan, yang aneh saat perempuan mengejar laki-laki bukan?" Heru menjawab dengan tenang.
"Kau, apa kau membenciku hingga berkata begitu pada ku?." Shinta semakin berang.
"Yeah tentu saja, apa kau tidak sadar banyak laki-laki tidak menyukai sifat buruk mu termasuk diri ku?."
Dan ucapan terakhir Heru benar-benar membuat Shinta seolah-olah tenggelam ke dalam kubangan lumpur paling dalam.
'Hanya Mawangsa yang buta karena terus di tipu oleh kepicikan mu." lanjut Heru lagi dengan tatapan penuh ketidaksukaan.
__ADS_1