Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Mari melupakan masa lalu


__ADS_3

Ditengah pemikiran Mawangsa soal surat pena nya dan Shinta, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar kamarnya tersebut.


Mawangsa pikir mungkin itu adalah ibu nya, bisa jadi wanita itu ingin bicara sesuatu dengan nya, tapi siapa sangka begitu dia membuka pintu sosok Shinta berdiri di hadapan nya dengan menggunakan lingerie seksi yang cukup menggoda sembari membawa nampan berisi kopi.


Penampilan Shinta benar-benar terbuka dan cukup membuat mawangsa sedikit tidak nyaman melihat nya.


Laki-laki tersebut jelas mengerutkan keningnya.


"Aku pikir kamu bilang akan pulang dan di jemput oleh supir?"


Ketika Mawangsa bertanya Shinta dengan cepat masuk kedalam kamar nya, meletakkan nampan berisi kopi yang di bawahnya ke atas meja dimana biasa digunakan oleh mawangsa untuk bekerja.


"Aku ingin pulang tapi ibu melarang dan berkata sebaiknya aku tidur di sini saja, ibu tidak mengizinkan untuk pulang, apa kamu keberatan?"


Shinta bicara Sembari mencoba bertanya Kearah Mawangsa.


mendengar ucapan perempuan tersebut Mawangsa tampak diam sambil menganggukkan kepalanya.


Dia kemudian meraih tumpukan surat pena dimana dia dan Shinta dulu sering berkirim surat, Mawangsa lantas berkata.

__ADS_1


"Aku cukup tidak menyangka jika teman surat menyurat ku adalah kamu, ini adalah tumpukan surat kita dulu"


Demi apapun saat Shinta melihat tumpukan surat yang ada di tangan Mawangsa sembari Mendengar ucapan Mawangsa seketika membuat wajah Shinta memucat, dia terlihat gugup dan sedikit takut.


"Aku...pikir kita akan menikah, kamu dan aku sudah bertemu, mari Lupakan surat-surat lama kita"


Ucap Shinta cepat.


"Kita sudah bersama dan tidak ada orang lain yang akan menghalangi pernikahan kita, kita tidak membutuhkan surat-surat ini lagi, aku akan minta bibi untuk menyingkir kan nya besok, Mawangsa"


Lanjut Shinta lagi sembari mencoba merayu Mawangsa, dia mendekati dirinya dan berusaha menyentuh dada Mawangsa.


"Aku dan kamu tidak membutuhkan surat-surat itu lagi,mari melupakan masa lalu, kita bisa membakarnya dan membuka lembaran baru"


"He em seharusnya aku tidak perlu lagi memikirkan surat-surat nya, kita sudah bersama aku terlalu berlebihan mengingat masa lalu,kamu benar sebaiknya kita membakar nya"


Ucap Mawangsa pelan.


mendengar ucapan Mawangsa seketika membuat Shinta langsung mengembangkan senyumannya, perempuan itu jelas puas Mawangsa mau membuang surat-menyurat yang menurutnya tidak penting tersebut.

__ADS_1


dia pada akhirnya mencoba untuk menggoda mangsa, membiarkan laki-laki itu duduk di atas kursi di depan meja kerjanya lantas Shinta berusaha untuk duduk di atas paha mawangsa, perempuan itu mencoba untuk menurunkan satu tali lingerie nya, dia ingin Mawangsa menyentuh nya dan memberikan ciuman terbaik nya.


Shinta siap dengan banyak kemungkinan, membiarkan Mawangsa menjelajahi dirinya mengingat pernikahan mereka sebentar lagi akan berjalan.


Perempuan tersebut mencoba untuk masuk ke ceruk leher Mawangsa, mencoba memberikan pancingan lembut disana, dia memejamkan Sejenak bola mata nya, mencoba merasakan satu sentuhan lembut yang diberikan Mawangsa.


Dimalam tamaram dengan ditemani dingin nya AC di sepanjang kamar, membuat satu gelanyar panas menghantam tubuh yang rindu akan sentuhan.


Mawangsa sedikit tergerak, menerima sentuhan Shinta untuk beberapa waktu, begitu Shinta bergerak menjelajahi leher nya laki-laki tersebut sedikit mengencangkan genggaman nya pada tubuh Shinta, dia terganggu pada godaan panas bernama makhluk Perempuan tersebut.


Namun didetik berikut nya Mawangsa tiba-tiba merasa sedikit tidak nyaman dan berpikir dia sama sekali tidak memiliki selera untuk menyentuh shinta, Palung hati terdalam nya menolak untuk menyentuh shinta lebih dari pada itu, pada akhirnya dia berusaha untuk menolak sentuhan Shinta dan dengan cepat menurunkan Shinta dari tubuh nya.


"Sebaiknya kamu segera pergi beristirahat hmmm, kondisi tubuh kamu belum benar-benar fit dan masih membutuhkan banyak istirahat"


Ucap Mawangsa pelan, dia membenahi lingerie Shinta kemudian merapikan rambut perempuan tersebut dengan cepat.


"Aku masih harus mengerjakan beberapa tugas dari perusahaan"


Lanjut nya lagi sembari mengembangkan senyuman nya.

__ADS_1


Shinta yang merasakan penolakan halus tersebut sedikit kesal dan marah, berbagai macam perasaan menyelimuti diri nya.


Seketika rasa malu menghantam dirinya, dia pikir apakah dia terlalu murahan tadi karena menggoda mawangsa lebih dulu?!.


__ADS_2