
Julian mematikan handphone nya, memilih duduk di kursi sofa mendominasi berwarna hitam diruang tunggu pemandian air panas, dia pikir mungkin Bermain game adalah pilihan yang baik sembari menunggu garis tersebut tiba menghampiri dirinya.
pada akhirnya laki-laki itu mengeluarkan kembali handphonenya lantas mulai mencoba untuk bermain game di sana, dan tanpa sadar dia telah menghabiskan waktu cukup banyak dalam permainannya.
tapi sayangnya Maya tidak pula kunjung tiba menghampiri dirinya dan itu membuat Julian sedikit gelisah.
Kemana dia?!.
laki-laki itu bergumam di dalam hatinya, memilih mengeluarkan sesi permainan gamenya dan mencoba kembali untuk menghubungi Maya.
Tapi sayangnya berkali-kali dia menghubungi Maya dia tidak mendapatkan gadis tersebut menerima panggilan nya, dan dibeberapa waktu kemudian tiba-tiba sudah tidak bisa tersambung lagi.
Julian jelas panik, bergegas beranjak dari posisinya lantas mencoba untuk mencari Maya di kolam pemandian namun sayangnya dia memutar ke sana kemari dia tidak menemukan Maya.
Laki-laki tersebut diam untuk beberapa waktu sambil berpikir, pada akhirnya tiba-tiba dia menebak sesuatu.
tanpa berpikir dua tiga kali Julian langsung bergerak cepat pergi menuju ke kamar hotel di mana mawangsa dan Shinta menginap.
begitu tiba di kamar hotel tersebut, tanpa berpikir dua tiga kali laki-laki itu langsung menggedor pintu kamar hotel Mawangsa.
"Siapa?"
__ADS_1
Mawangsa yang berpikir baru saja ingin duduk di depan televisi dan membandingkan tubuhnya di atas kursi sofa seketika langsung menaikkan ujung alisnya, dia menoleh ke arah Shinta sembari bertanya.
"apa kamu memesan makanan?"
dia pikir hanya itu alasan satu-satunya pelayan hotel menggedor pintu mereka.
mendengar pertanyaan mawangsa Shinta langsung menggelengkan kepalanya.
laki-laki tersebut langsung berdiri dari posisinya, mencoba untuk membuka pintu depan dengan cepat.
dan dia cukup terkejut saat dia mendapati Julian berdiri tepat di depan pintu kamarnya tersebut.
"Kau? ada...."
"Tunggu dulu, apa-apaan ini?"
"yakkkk apa kau gila?"
Mawangsa bertanya terkejut sedangkan Shinta langsung berteriak histeris, perempuan itu mendorong Julian dengan cara yang begitu kasar sembari menatap Julian dengan penuh kebencian.
"di mana Maya?"
__ADS_1
alih-alih menjawab pertanyaan kedua orang tersebut Julian langsung bicara pada intinya, dia ingin tahu di mana gadis tersebut saat ini.
"Apa?"
mawangsa jelas terkejut saat laki-laki dihadapannya itu menanyakan keberadaan Maya.
"kenapa kau bertanya Maya kepada kami? bukankah dia bersamamu seharusnya kau bisa memegang ekornya dengan baik, dia tidak ada urusannya dengan kami berdua"
Shinta mengoceh dengan suara yang cukup tinggi, meskipun sebenarnya ada rasa panik di dalam hatinya tapi dia mencoba untuk menutupinya dengan ekspresi dan kemarahannya.
"tentu saja aku harus bertanya kepadamu karena kau beberapa kali mencoba untuk mencelakainya bahkan ketika kita bermain ice skating, memangnya siapa lagi yang harus ku curigai dan aku tanya jika bukan kalian berdua karena tiba-tiba saja Maya menghilang dan aku tidak bisa menghubunginya"
Julian terlihat begitu marah, dia mendekati Shinta dan mencoba untuk mendorong bahu perempuan itu dengan perasaan kesal berkali-kali, Shinta jelas membulatkan bola matanya karena terkejut dengan perlakuan Julian, Mawangsa dengan cepat mendorong Julian dan langsung melindungi Sinta di belakangnya.
"seharusnya kau coba mencari di tempat di mana gadis tersebut biasanya berada, kau pikir kamu yang menculik Maya? itu tentu saja tidak masuk akal kenapa kamu tidak mencoba untuk mencari di CCTV di mana keberadaan gadis tersebut untuk terakhir kalinya"
laki-laki itu bicara dengan cepat dan memberikan inisiatif untuk Julian. mendengar ucapan Mawangsa seketika Shinta membulatkan bola matanya sedangkan Julian langsung mengubah ekspresinya.
dia pikir benar kenapa dia tidak memikirkan soal kamera CCTV.
"Yah seharusnya aku memikirkan hal tersebut sejak awal"
__ADS_1
seketika ekspresi wajah Shinta sedikit berubah saat dia mendengar kata kamera CCTV.