
Selama didalam perjalanan Maya terlihat diam, dia lebih memilih untuk membuang pandangannya menatap ke arah jendela mobil ketimbang bicara dengan Mawangsa.
Entahlah dia benar-benar semakin merasa jika mereka adalah dua orang asing yang memang sejak awal tidak seharusnya bertemu.
Maya memperhatikan setiap pepohonan disepanjang perjalanan yang Mereka lewati, membiarkan keheningan terjadi di antara mereka.
pikiran demi pikiran berkacamuk menjadi satu diantara mereka saat ini, meskipun tidak dipungkiri sesekali Mawangsa mencoba melirik kearah Maya sembari melajukan mobilnya tersebut.
begitu tiba di depan mansion mewah mendominasi berwarna putih, memastikan mobil yang di naiki Maya telah berhenti dengan sempurna, perempuan itu dengan cepat langsung membuka pintu mobil tanpa menoleh ke arah mawangsa, dia langsung turun dari mobil tersebut dan bergerak menuju ke dalam Mansion.
Begitu dia masuk ke dalam bisa dilihat seorang wanita tua dengan duduk simbol dengan beberapa sulaman di tangannya.
Maya mengembangkan senyuman nya, dia berjalan mendekati nenek tua Heri jaya sambil berusaha mengubah ekspresi wajah nya agar terlihat seceria biasanya.
"Nenek, semoga panjang umur dan sehat selalu"
Maya langsung menundukkan kepala menghadap wanita tua dihadapan nya itu, kemudian dia langsung duduk dibawah dan mendekati lutut wanita tersebut.
mendapatkan sambutan tiba-tiba dan suara tidak asing yang begitu wanita itu rindukan belakangan ini seketika membuat nenek tua bahagia, akhirnya cucu menantu kesayangannya datang juga setelah seharian dia menunggu.
"kenapa datang begitu terlambat? Membiarkan nenek tua ini menunggu sejak semalam?"
Wanita itu bertanya sambil pura-pura marah, dia menampilkan ekspresi merajuk nya untuk beberapa waktu.
Melihat ekspresi nenek seketika membuat Maya menampilkan jutaan rasa bersalah di balik wajahnya.
"Nenek maafkan aku karena datang terlambat"
Ucap Maya penuh sesal.
"Apa yang harus aku lakukan agar nenek memaafkan ku?"
tanya Maya lagi.
mendengar ucapan Maya jelas membuat wanita tua itu mengembangkan senyuman nya, itu yang paling dia suka dari Maya selama menjadi cucu menantu nya, gadis itu sangat pandai mengambil hati nya bahkan memiliki hati yang begitu lembut dan tulus.
Maya tidak seperti kebanyakan gadis yang pernah mendekati Mawangsa, penuh kepalsuan dan sangat tidak menyenangkan, Maya jelas tidak seperti mereka, Maya selalu begitu tulus memperhatikan dirinya, bahkan gadis itu tidak jarang mau melayani dirinya dan tidak mengeluh setiap kali harus menghadapi tingkah nya yang jelas sedikit rumit dan sulit.
"nenek tidak berniat menghukum mu"
Dia bicara sambil melirik kearah depan, bisa dia lihat Mawangsa berjalan mendekati kursi Sofa, laki-laki itu duduk dan mengabaikan mereka.
__ADS_1
wanita tua itu tahu Mawangsa pura-pura tidak ingin menatap kearah mereka, dia tahu laki-laki tersebut merasa bersalah kepada dirinya.
"Kenapa kamu memilih bercerai denganMawangsa?"
dia memilih sedikit meninggikan suaranya, berharap cucu bodoh nya mendengar dengan baik obrolan mereka.
"Bukankah kamu mencintai mantan suami mu yang bodoh itu? Bagaimana kamu dengan begitu mudah melepas kan laki-laki tolol tersebut"
Mendengar pertanyaan nenek membuat Maya terdiam sejenak.
"Apa kamu bisa membuang semua perasaan kamu selama bertahun-tahun ini?"
tanya nenek lagi.
"Aku tidak punya pilihan lain lagi, Nek."
jawab Maya pelan.
"nenek tahu dengan baik bukan? Tidak ada yang benar-benar menyukai ku selama bertahun-tahun ini, selain Nenek tidak ada lagi"
gadis itu bicara sambil menggenggam erat telapak tangan Nenek, dia menatap wajah penuh keriput didepan nya itu dengan bola mata berkaca-kaca.
"Satu-satunya orang yang tulus dengan sejuta kebaikan dan ingin berteman dengan ku hanya nenek"
Ucap Maya sambil berusaha terus mengembangkan senyuman nya.
Mendengar ucapan Maya sang nenek hanya terdiam, dia menatap bola mata jadi cantik tersebut untuk beberapa waktu.
Tangan keriput tersebut menyentuh lembut wajah Maya secara perlahan.
"Jika Mawangsa meminta maaf pada mu, apakah kamu mau kembali dengan nya?"
Tanya nenek kemudian.
Mendengar pertanyaan ini membuat Maya mencoba kembali melebarkan senyumanmu.
"Dia tidak pernah menyukai ku nek, seharusnya aku sadar dan memahami nya selama 6 tahun pernikahan kami, akulah yang terlalu banyak berharap selama ini"
Ucap Maya sembari menahan jutaan rasa sakit di dalam hatinya, tiap kali mengingat perjalanan 6 tahun pernikahan mereka membuat Maya merasa sakit dan sedih, awalnya tidak ingin menangis tiba-tiba terasa ingin menangis.
"Jangan menyesali semua nya nek, meskipun aku bukan lagi cuma menantu di keluarga Heri jaya, aku akan tetap menghormati nenek sama seperti ketika aku menjadi menantu di dalam rumah ini"
__ADS_1
Bola mata sang nenek terlihat berkaca-kaca, wanita tua tersebut mencoba menahan tangisannya.
Tanpa mereka sadari mawangsa telah berjalan keluar, laki-laki tersebut berada di pintu depan kamar, mendengarkan percakapan kedua orang tersebut dengan seksama.
Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu, dia tidak mengeluarkan suara nya sama sekali.
Meskipun tidak mencintai Maya, selama 6 tahun pernikahan gadis itu selalu begitu baik kepada nenek, berlaku tulus dan tidak pernah menyakiti perasaan nenek nya.
Namun dia tidak bisa menepis kebencian dan rasa jijiknya ketika dia ingat jika Maya yang menyebabkan kecelakaan pada diri Shinta di masa lalu hingga hampir membuat Shinta meninggal.
Pada akhirnya setelah waktu lama berlalu, mereka berpamitan untuk pulang, nenek Berulang kali berpesan pada Maya.
"Sering-seringlah datang Kemari untuk menjenguk, kau tahu bisa jadi wanita tua ini hidup hingg akhir tahun ini saja"
pesan nenek sambil menahan kekecewaan nya atas perceraian kedua orang yang ada di hadapannya.
"nenek…"
Maya terlihat berusaha menahan kesedihannya.
"pulanglah"
Wanita tua itu membalik kan tubuhnya, dengan ribuan kekecewaan yang jelas tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Maya terlihat melangkahkan kakinya dengan gontai, Mawangsa terlihat diam untuk beberapa waktu hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata.
"Masuklah ke mobil aku harus bicara dengan nenek sebentar, setelah ini aku akan mengantarmu pulang"
Mendengar ucapan Mawangsa, Maya langsung menjawab.
"tidak usah, mereka telah menjemput ku didepan"
Kalimat Maya Terdengar begitu datar dan dingin, gadis itu sama sekali enggan menoleh kearah Mawangsa, dia menatap kedepan dimana Julian dan Dave telah menunggunya sejak tadi.
Mawangsa jelas langsung membulatkan bola matanya saat menyadari Siapa yang menjemput Maya, dia menggeram saat Maya pergi meninggalkan dirinya.
Ditengah perasaan nya yang berkacamak menjadi satu tiba-tiba nenek berkata di belakangnya.
"Aku harap satu hari kau tidak akan menyesali keputusan bodoh mu, Mawangsa"
Mendengar ucapan nenek yang tiba-tiba membuat mawangsa menjawab dengan penuh perasaan yang bergejolak.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menyesalinya"