
Elsa seketika membeku saat dia melihat kakak laki-lakinya kini tengah berdiri tepat di hadapannya, gadis tersebut seketika menelan ludah nya.
"Kak"
dia tercekat untuk beberapa waktu.
"kau pulang cukup terlambat"
Memangsa bicara kemudian menggeser tubuhnya, dia membiarkan gadis tersebut untuk masuk ke dalam rumah.
secara perlahan Elsa mulai masuk ke dalam rumahnya sembari sesekali dia mengiringi ke arah mawangsa dengan perasaan takut.
meski bagaimanapun juga pada hakikatnya anak perempuan selalu takut kepada kakak laki-lakinya setelah ayah mereka.
"kamu tidak ingin bicara padaku Dari mana kamu seharian ini?"
Mawangsa mencoba untuk memancing pertanyaan, melirik kearah adiknya untuk beberapa waktu lantas dia berjalan mendekat ke arah kursi sofa ruang tamu.
Laki-laki itu meletakkan tubuhnya pada kursi sofa yang ada di hadapannya dan membiarkan tubuhnya bersandar ke kursi sofa tersebut guna menghilangkan rasa lelah dan pegal atas banyaknya pekerjaan dia selama seharian ini.
mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kakaknya seketika membuat Elsa diam sejenak, dia cukup ragu untuk bicara dari mana dia hari ini dan soal apa yang terjadi.
Tapi dia pikir bukankah seharusnya dia sedikit membanggakan diri karena berhasil pada kegiatan ekstrakurikulernya.
"aku terlambat karena ikut dalam ujian basket"
gadis itu menjawab dengan sedikit ragu-ragu dan takut.
"aku memenangkan uji cobanya dan berhasil dikirim di tim internasional"
dia menjawab dengan cepat dan penuh semangat namun berusaha mengatur intonasi nadanya agar tidak kebablasan dan dimarah oleh kakak laki-laki yang tersebut.
mawangsa terlihat diam dan sama sekali tak menjawab ucapan adiknya, hingga pada akhirnya laki-laki itu berkata.
"kamu bisa memilih apapun sesuai dengan apa yang kamu inginkan, sekolah dan juga ekstrakurikuler adalah pilihan kita masing-masing, kakak sama sekali tidak pernah memaksamu untuk mengikuti keinginan kakak atau menghentikan harapanmu juga cita-citamu di tengah jalan hanya karena takut kepadaku atau juga ibu"
mendengar ucapan dari Mawangsa seketika membuat Elsa langsung mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Benarkah?"
dia bertanya dengan penuh kebahagiaan serta antusiasme, ucapan kakaknya jelas membuat dia bahagia setengah mati.
"tentu saja kau bebas melakukan apapun itu selama tidak merusak pergaulan dan juga bisa menjaga dirimu"
jelas aja senyum berkembang di balik wajah cantik Elsa.
"terima kasih banyak kak, aku akan menjaga kepercayaan kakak hingga akhir, aku meyakinkan diri untuk tidak akan pernah mengecewakan kakak sedikitpun"
mendengar ucapan adiknya seketika membuat mawangsa menahan senyumannya kemudian laki-laki itu berkata.
"apakah aku begitu galak padamu hingga kamu terkadang melihatku begitu takut?"
pertanyaan itu menjadi satu pertanyaan yang begitu penting dalam hidupnya, karena baginya terkadang Elsa tampak begitu takut untuk bicara dengannya atau membahas soal sekolah dan lain sebagainya dari gadis tersebut.
pertanyaan dari kakaknya seketika membuat Elsa memilih untuk diam sejenak, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk menganggukkan kepalanya.
"kakak memang seperti itu, karena itu terkadang aku cukup takut untuk bicara pada kakak soal banyak hal"
dia pikir ini adalah kesempatannya untuk bicara soal Mawangsa.
"aku baru tahu jika aku kakak yang cukup buruk untukmu"
ada segurat sesal yang muncul di dalam diri mawangsa saat ini, seketika wajah dan bola matanya terlihat mendung.
"seharusnya aku bisa menjadi kakak yang dapat diandalkan"
ucap laki-laki itu kemudian.
Elsa buru-buru menggelengkan kepalanya kemudian dia berkata.
"aku berusaha memakluminya dan tidak memaksa keinginanku untuk dipedulikan oleh kakak, tanggung jawab yang kakak emban begitu besar soal kami, karena itu aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengandalkan kakak dalam banyak persoalan"
ucap gadis tersebut pelan.
"tapi kamu mengandalkan Maya dalam banyak persoalan"
__ADS_1
mawangsa buru-buru menjawab.
mendengar ucapan kakaknya seketika membuat Elsa membulatkan bola matanya.
"Kakak tahu?"
tanyanya sedikit tercekat.
"tentu saja aku tahu, aku tidak melarangmu untuk meminta bantuannya tapi kau harus tahu kapasitas dan batasan untuk meminta bantuan gadis itu, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi bersamanya"
Laki-laki tersebut mencoba untuk mengingatkan adiknya.
Elsa terlihat diam, dia menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku"
Ucap nya pelan.
setelah berkata seperti itu Elsa buru-buru langsung meletakkan tasnya kemudian dia berkata kepada mawangsa.
"aku akan membuatkan makan malam untuk kakak"
mendengar ucapan dari adiknya seketika membuat laki-laki tersebut menaikkan ujung alisnya.
"kau bisa memasak?"
tentu saja itu pertanyaan yang harus dilontarkan saat ini, karena dia tahu betul jika adiknya tersebut sama sekali tidak bisa masak selama ini.
"kak Maya yang mengajarkan ku"
dia kebablasan mengatakan nya, takut salah bicara maka buru-buru mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Ah kak...apa kakak tahu...?"
Dia takut salah bicara terutama soal laki-laki yang ada di dekat Maya.
anggaplah dia terlalu berlebihan, dia hanya berharap Maya dan Kakak nya bisa kembali bersama tanpa ada orang lain di sekitar mereka.
__ADS_1