Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Picik dan licik


__ADS_3

Maya keluar dari ruangan dokter di mana dia berada, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut-denyut saat dokter spesialis lambung berkata dia harus pergi ke dokter spesialis kandungan.


"Apa mungkin?," Maya bertanya di dalam hatinya dalam perasaan gelisah, dia mencoba memegang keningnya untuk beberapa waktu, berpikir dengan baik apa yang terjadi, kapan terakhir kali dia mendapatkan tamu bulanannya dan.


"Bebek?," kembali dia ingat dengan teman one night stand nya.


"Mawangsa? ohhh aishhhh." pikiran Maya jadi kacau balau.


Dia tidak bisa menebak apapun bahkan dia tidak berani menebaknya saat ini karena takut salah, karena dua ingatan yang menghantam nya saat ini antara bebek dan Mawangsa. Tapi Maya tiba-tiba ingat dengan respon yang diberikan oleh Shinta stadium resep perutnya 3 baik-baik saja dan dia mual ketika mengunjungi nenek tua. dia pikir apakah mungkin ini adalah anak Mawangsa dan Shinta mengetahui nya?.


"Tapi tidak mungkin," Maya bergumam di dalam hatinya.


Di tengah pemikiran Maya yang berkacamak menjadi satu di ujung sana berada di luar ruangan dokter yang memeriksa keadaan Shinta. Laki-laki tersebut menoleh ke arah Maya baru saja keluar dari ruangan dokter spesialis lambung, bisa dilihat Maya bergerak menuju ke arah yang berbeda. Dia pikir apakah mungkin saat ini Maya sakit?.


Mawangsa berniat untuk mengejar langkah perempuan tersebut tapi belum sempat dia melakukannya tiba-tiba saja suara seseorang mengejutkan dirinya membuat Mawangsa langsung mengurungkan niatnya.


"Mari bicara empat mata dengan serius," seorang dokter bicara dengan cepat ke arah Mawangsa, tersebut yang bertanggung jawab memeriksa keadaan Shinta.


Mawangsa pada akhirnya menghubungkan untuk melangkah maju mengejar keberadaan Maya dan dia akhirnya mengiyakan ucapan dokter di harapannya tersebut, memilih untuk masuk ke dalam ruangan di mana Shinta dirawat.


Mereka bicara di sisi ruangan berbeda yang disekat dengan kaca, bisa memangsa lihat Sinta berbaring dalam keadaan belum sadar di sisi kanannya di mana dia dan sang dokter bicara secara serius saat ini.


"Aku pikir kesehatan Shinta tidak baik-baik saja," dokter itu bicara dengan cepat pada Mawangsa.


Mendengar kata tidak baik-baik saja jelas saja membuat Mawangsa langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aaku sedikit tidak mengerti," Mawangsa menjawab dengan cepat, dia menggantung pertanyaannya, membiarkan dokter di hadapannya tersebut menjelaskan lebih detail atas ucapannya tentang Shinta.


"Kondisi psikis Shinta tidak baik-baik saja, maksudku dia memiliki kepribadian ganda saat ini, Mawangsa." dokter itu mulai menjabarkan tentang penyakit Shinta.


Mendengar kata berkepribadian ganda membuat Mawangsa menatap dokter di hadapannya itu untuk beberapa waktu. Entahlah dia pikir itu tidak mungkin karena dia pikir Shinta baik-baik saja, dia pikir Shinta pasti memiliki penyakit lain, tidak mungkin memiliki kepribadian ganda yang sedikit tidak masuk akal.


Tapi mengingat laki-laki yang ada di hadapan tersebut merupakan teman baik Mawangsa di mana dia tahu laki-laki itu tidak pernah membohongi diri nya selama mereka sering mengenal dulu hingga kini jadi Mawangsa pikir tidak mungkin jika teman nya tersebut berbohong.


"Apakah penyakit ini akan memicu kerugian mendalam untuk orang lain?." Mawangsa melesatkan tanya, mengingat bagaimana cara Shinta mencoba melukai Maya, hal itu membuatnya cukup khawatir kedepannya.


"Tentu saja tidak sejauh ini dia baik-baik saja, kamu hanya perlu sedikit lebih memperhatikan dirinya dan tidak mengabaikannya, kamu harus selalu ada di sampingnya dan memberikan support serta dukungan yang baik untuk Shinta. Aku yakin semua kan baik-baik saja dan tidak akan merugikan orang lain, Shinta hanya membutuhkan sedikit support dari mu, Mawangsa." dan dokter di hadapannya tersebut bicara dengan penuh keyakinan


Seolah-olah dia meyakinkan Mawangsa jika penyakit dari Shinta tidak berbahaya.


Tanpa di sadari Shinta memicingkan bola matanya, perempuan tersebut terlihat menaikkan ujung bibirnya sambil melirik balik kearah dokter laki-laki tersebut.


******


"Aku tidak tahu bagaimana bisa kamu meminta aku untuk membohongi Mawangsa." dan dokter tadi bicara pada Shinta setelah Mawangsa pergi menebus resep obat Shinta.


"Ada berbagai macam alasan aku melakukan nya," dan Shinta menjawab dengan cepat.


"Salah satunya agar dia membuat Maya tidak membuat laporan atas kejahatan yang aku lakukan pada nya." lanjut Shinta lagi kemudian.


Dokter tersebut terlihat diam.

__ADS_1


"Aku pikir Maya saat ini hamil anak Mawangsa, kamu minta teman doktermu untuk mengatakan dia memang hamil tapi katakan jika kandungan tidak baik-baik saja dan dia harus menggugurkan kandungannya karena itu akan beresiko pada dirinya dan janinnya." kali ini perempuan tersebut berkata seperti itu pada dokter dihadapan nya.


"Aku tidak ingin dia melahirkan anak itu karena aku yakin bayi yang dikandungnya adalah anak Mawangsa, jika Mawangsa mengetahui soal itu aku takut dia akan memutuskan pertunangan dan membatalkan pernikahan kami, aku tidak ingin kehilangannya dan aku tidak rela Mawangsa kembali pada pela_cur sialan itu." saat bicara seperti itu kilat penuh kebencian tampil di balik bola mata Shinta.


Sang dokter terlihat diam, dia menatap Shinta untuk beberapa waktu, berpikir apakah Shinta adalah orang yang sama yang menyelamatkan nya di masa lalu? dia merasa Shinta menjadi orang yang berbeda, begitu mengerikan dan membuat dia merinding dibuatnya.


******


"Sayang kamu pasti akan membantu ku bukan? agar Maya tidak menuntut ku di pengadilan atas kejahatan ku mendorong nya?," Shinta bicara pada Mawangsa dalam balutan wajah pucat pasi dan penuh ketakutan.


"Bukankah dokter berkata aku berkepribadian ganda? aku melakukan nya bukan dalam keadaan sadar, aku benar-benar tidak tahu atas apa yang aku lakukan sebelumnya, sungguh aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa jadi sejahat itu pada temanku sendiri." Shinta terus bicara pada Mawangsa, berkata jika dia tidak sengaja melakukan hal tersebut.


"maafkan aku, benar-benar maafkan aku," ucap Shinta lagi kemudian.


Mawangsa terlihat diam, menatap Shinta untuk beberapa waktu, dia menghela nafasnya kemudian berkata.


"Aku akan bicara pada Maya nanti," jawab laki-laki tersebut pelan kemudian.


Seulas senyuman picik terbit dibalik bibir Shinta, dia cukup bahagia karena Mawangsa masih percaya pada nya.


*****


Catatan \= maafkan Mak dengan alur yang mutar tanpa kemajuan dalam episode panjang yang na'udzubillah lama nya. Ini misi ntun Mak, bukan karya dari isi kepala author jadi maafkan jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi.


perjalanan kisah Mawangsa dan Maya sudah di susun oleh ntun sedangkan diriku hanya mengembangkan percakapan mereka tidak lebih Mak🙏🙏🙏🤧🤧🤧.

__ADS_1


__ADS_2