
Kantor pengadilan xxxxxxxx,
Pusat kota.
Begitu tiba di pengadilan untuk melakukan gugatan pada Windi, tiba-tiba saja saat Maya baru turun dari mobilnya, seseorang datang mendekati nya dan bersimpuh dibawah kakinya dengan cepat. Hal tersebut membuat Maya jelas langsung membulatkan bola matanya dan dia terkejut setengah mati.
"Maya aku mohon, jangan lakukan ini pada putri ku," seorang wanita paling banyak bicara cepat dengannya sembari bersimpuh di bawah kaki tumbuhan kepada Maya mencabut tuntutan terhadap Windi.
Itu adalah ibu Windi, wanita itu benar-benar memohon dan meminta kepadaNya agar dia tidak melanjutkan tuntutannya saat ini.
Maya mengernyitkan dahinya, menatap kearah wanita tersebut untuk beberapa waktu.
Ibu Windi berlutut dan memohon iba kepada dirinya.
"Aku bener-bener minta maaf atas nama putriku, dia tidak punya salah apa-apa, ini hanya kesalahan dan kebodohan dia saja karena melakukan kecerobohan seperti itu," wanita tersebut terus bicara, mengeluarkan air mata nya dan berharap agar Maya mau memaafkan Windi.
"Aku tahu kamu gadis yang baik dan juga sangat penuh kasih sayang, orang-orang di perusahaan mau berkata kamu adalah bos yang sangat pengertian dan juga memiliki belas kasihan sangat tinggi," wanita tersebut terus bicara mencoba untuk menekan Maya dalam balutan emosional penuh tangis untuk membuat Maya merasa tertekan secara moral.
Dimana dia pikir bagaimana bisa Maya mengabaikan permohonan wanita tua seperti dirinya.
Dan memang Maya gampang terharu dan tersentuh saat seseorang, apalagi dia memiliki welas asih yang begitu tinggi bahkan mudah merasa kasihan dengan orang-orang di sekitarnya namun seketika gadis tersebut menghilangkan seluas yang ada di hatinya saat ini apa yang terjadi pada dirinya dan penderitaan selama 6 tahun ini.
__ADS_1
Bukannya dia jahat atau kejam, menurut nya dari Windi dia bisa memberikan peringatan kepada orang-orang yang ingin berbuat sewenang-wenang dengannya atau berbuat jahat kepadanya, Windy menjadi salah satu perantara untuknya membuka sedikit demi sedikit tentang teka-teki yang terjadi di dalam kehidupannya dan siapa-siapa saja yang ingin berbuat jahat kepadanya karena itu dia terpaksa menghilangkan rasa kasihan di dalam hatinya saat ini.
"Maafkan aku bibi, aku-," Maya baru akan membuka suaranya saat ini namun tiba-tiba dari ujung sana terdengar suara seseorang.
"Wah wah wah coba lihat, bagaimana bisa kau memperlakukan orang tua dengan sangat buruk?," itu adalah Shinta, dia bicara sambil menepuk kedua belah tangan yang menatap ke arah Maya dengan sedikit mencibir, perempuan itu terus berjalan mendekati Maya hingga pada akhirnya dia berdiri tepat dihadapan gadis itu.
Shinta mendekat sambilenampilkan wajah penuh kebencian terhadap Maya dimana dia tetap berpikir jika Maya selalu mengambil apapun yang seharusnya menjadi miliknya dan dia sangat benci itu.
Ibu Windi cukup terkejut dengan kehadiran Shinta, dia berusaha menyukai air matanya dengan cepat.
"Bisa-bisanya kamu berlaku dengan tidak adil dan juga kejam, meminta bibi ini berlutut dibawa kakimu memohon sembari menangis, kau begitu sombong sekali." ejek Shinta dengan cepat ke arah Maya.
"bayangkan jika itu adalah ibumu apa yang akan kau rasakan? kau benar-benar tidak punya hati," bisa-bisanya perempuan itu memarahi Maya dan bahkan sedikit memakinya karena apa yang dilakukan oleh Maya terhadap ibu Windi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Shinta, membuat Maya mendengus.
Julian yang sejak tadi berada di samping Maya seketika langsung berkata ke arah Shinta.
"Maya tidak pernah meminta ibu Windi untuk bersujud di bawah kakinya, dia sendiri mau melakukan hal tersebut," Julian tentu saja membela Maya dan dia pikir tidak ada yang salah pada mayasan ini karena Maya tidak pernah meminta wanita paruh baya lebih itu untuk melakukan hal tersebut.
Mendengar ucapan dari Julian seketika membuat Shinta mendengus.
__ADS_1
"Meskipun begitu setidaknya temanmu harusnya memiliki hati, dia harusnya mengabulkan permohonan ibu Willy untuk mencabut tuntutannya atau meringankan segala keadaan dan jangan memper rumit masalah."dengan sok tahu perempuan itu terus bicara.
Maya sangat muak melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh Shinta, pada akhirnya gadis itu melipat kedua belah tangannya kemudian bergerak mendekati Shinta.
"Bukankah kamu begitu kuat dan hebat? kenapa memintaku untuk meringankan atau bahkan membebaskan Windi atas kasus yang dia lakukan pada diriku, bukankah kau teman dekatnya seharusnya kau yang membantunya untuk bebas dari jeratan hukum." Maya bicara pada perempuan itu dengan tatapan yang begitu jijik.
"tapi aku rasa pengaruhmu sama sekali tidak berharga, kau bahkan tidak bisa membebaskannya dari jeratan hukum tapi penuh percaya diri menekan orang lain seolah-olah kau menyimpan sesuatu dibalik semua kejadian." lanjut gadis itu lagi kemudian, dia sengaja bicara seperti itu menyindir Shinta dan membuat perempuan itu terpojok.
"Aku sedikit curiga jangan-jangan kamu terlibat dengan semua ini," dan Maya menampilkan ekspresi wajah penuh kecurigaan pada perempuan dihadapannya itu.
Mendapatkan perkataan seperti itu seketika membuat Shinta membulat kan bola matanya.
"Apa?,"
Alih-alih peduli dengan ekspresi Shinta saat ini, Maya menoleh kearah ini Windi kemudian dia berkata.
"Karena Shinta teman baik Windy dan dia memiliki pengaruh yang begitu besar, nyonya bisa memintanya untuk membebaskan putrinya dengan cara Shinta sendiri," setelah berkata begitu, Maya secepat kilat beranjak dari sana dan mengabaikan kedua orang tersebut.
Rasa iba nya seketika menghilang ketika dia melihat Shinta, dia mengabaikan semua rasa karena baginya saat ini adalah membongkar kedua siapapun yang ingin menyakiti dirinya dan menghancurkan dirinya karena dia tahu Shinta mungkin bisa jadi termasuk di dalamnya.
Mendengar ucapan Maya dan Melihat Maya beranjak pergi meninggalkannya seketika membuat ibu Windi marah besar, dia langsung mendamprat Shinta, memukul lengan perempuan tersebut berkali-kali karena kesal.
__ADS_1
"Kau benar-benar perempuan sialan, jika bukan karena kau ikut masuk dan membuat kekacauan Maya pasti sedikit meringankan hukuman Windi, kau benar-benar anak sialan, seharusnya Windi tidak berteman denganmu, kau benar-benar bukan teman yang bisa menguntungkan teman sendiri melainkan menghancurkan teman sendiri." wanita itu benar-benar marah kepada Shinta, ingin sekali rasanya dia menampar dan menjabat rambut perempuan tersebut jika saja seandainya Shinta tidak didampingi oleh beberapa orang di samping nya.