
Di kediaman Ayunda.
Perempuan tersebut terlihat mengeram kesal, dia mencengkeram telapak tangan nya dalam balutan kemarahan, menatap kearah depan sembari bergumam.
"Kau akan merasakan apa yang aku rasakan nanti." gumam perempuan tersebut geram.
Kemarahan Ayunda jelas luar biasa, berpikir bagaimana bisa dia bisa berurusan dengan Maya, seharusnya dia tidak perlu melangkah sejauh ini. Membantu Shinta malah mencelakai dirinya dan keluarganya, bahkan dia harus menerima sebuah konsekuensi besar di mana ayahnya dipenjara dan kasus keluarganya naik satu persatu kepermukaan. Bahkan dia harus mengalami kesulitan keuangan saat ini karena itu dia pikir dia benar-benar akan membalas perempuan itu cepat atau lambat dia tidak sudi kehidupannya hancur hanya karena perempuan sialan itu.
*******
Heri Jaya company.
Shinta dengan langkah terburu-buru bergerak dari area parkiran menuju ke arah perusahaan Heri Jaya dimana Mawangsa berada, perempuan tersebut pikir dia harus mengadu pada Mawangsa soal ancaman Ayunda, agak takut juga jika Ayunda akan berbuat yang buruk pada dirinya. Secara karena membantu dirinya Ayunda dan keluarganya terlibat masalah.
Dia harus sedikit mencari perhatian dan mengadu dengan manja pada Mawangsa, dan dengan begitu dia bisa semakin dekat dengan Mawangsa juga. Meskipun sebenarnya dia agak gugup datang kesana. Ini untuk pertama kalinya dia memberanikan diri menemui Mawangsa di perusahaan nya.
Tidak peduli apakah orang-orang akan menyukainya yang penting dia mendatangi Mawangsa, dia tahu laki-laki tersebut mana mungkin menolak kehadiran nya bukan? Mawangsa telah dibutakan oleh cinta nya jadi mana mungkin laki-laki tersebut peduli dengan omongan orang lain apalagi cuma karyawan nya.
Shinta seketika mengulum senyuman nya dengan bangga, dia mendongakkan kepalanya dengan angkuh, masuk keperusahaan tersebut dengan berlenggak-lenggok dalam balutan kesombongan nya.
Disisi lain Heru terlihat serius membahas urusan kerja dengan Mawangsa, sesekali terlihat mereka bicara secara bergantian antara satu dengan yang lainnya.
"Yakin jika semua akan berjalan sesuai rencana?," Heru mencoba bertanya.
"Selama tidak ada yang mengacaukan atau orang-orang disekitar membuat ulah, pembangunan nya pasti berjalan dengan lancar." Mawangsa menyakinkan.
"Pastikan jika beberapa orang-orang sudah diberikan kompensasi yang paling sesuai, ah jangan lupa untuk menambahkan ruang-,"
Mereka terus bicara dengan cara yang cukup serius, terus membahas tentang pekerjaan dan proyek penting mereka hingga pada akhirnya sebuah ketukan pintu terdengar. Membuat kedua orang tersebut langsung diam dan menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Begitu pintu terbuka, Heru dan Mawangsa cukup terkejut saat menyadari jika yang datang adalah Shinta.
"Oh god, cihhh." Heru bicara didalam hati nya, menatap jijik kearah Shinta yang berjalan bergerak mendekati mereka. Laki-laki tersebut memutar bola matanya untuk beberapa waktu.
"Aku terkejut kamu kemari.". Mawangsa terlihat mengernyitkan keningnya.
"Sayang-," Shinta dengan gerakan terburu-buru bergerak mendekati Mawangsa, dengan mata berkaca-kaca dia mengadu dan langsung memeluk laki-laki tersebut dengan tidak tahu malu.
Heru benar-benar jijik melihat cara dan ekspresi perempuan tersebut.
Mawangsa cukup terkejut saat menyadari Shinta memeluk dirinya dan mulai mengeluh sambil terisak.
"Ada apa?." Dia bertanya.
__ADS_1
Heru memilih untuk pergi dari sana, melihat tingkah Shinta membuat dia mual. Dia pikir bagaimana bisa Mawangsa jatuh cinta pada perempuan seperti itu? laki-laki tersebut pasti sudah buta. Dia sebagai laki-laki normal saja tidak berselera pada perempuan, dari bentuk wajahnya saja sudah membuat dia kehilangan selera, apalagi tingkah lakunya. Dia pikir bagaimana bisa Mawangsa benar-benar tergila-gila pada perempuan semacam itu apalagi dengan tingkah buruknya yang sangat luar biasa di balik topeng wajahnya ke depan hal yang begitu mengerikan menurut dirinya.
Mawangsa benar-benar sudah gila, itu yang selalu dipikirkan oleh Heru selama ini. Membuang Maya untuk bersama Shinta. Mereka jelas sangat berbeda.
Yeah mungkin itu nama nya selera, dan dia pikir selera sahabat nya tersebut sangat buruk sekali.
Laki-laki tersebut langsung pergi meninggalkan Mawangsa dan Shinta didalam ruangan tersebut.
"Sayang aku takut." Shinta yang sudah melihat Heru pergi dari sana kembali mengadu, dia enggan melepaskan pelukannya dari Mawangsa, memilih memeluk erat laki-laki tersebut dan menenggelamkan diri nya dengan tidak tahu malu.
Dia sangat bersyukur saat Heru pergi menjauh dan keluar dari ruangan tersebut, hal itu membuatnya lebih leluasa untuk bisa menikmati waktu bersama Mawangsa.
Mendengar Shinta berkata takut, Mawangsa bertanya.
"Takut soal apa?," Tanya nya cepat.
"Ayunda menyalahkan aku atas kasus yang menimpa keluarga nya, dia bilang ini karena aku, padahal aku mana tahu tentang semua itu." Perempuan tersebut terlalu ahli dalam berbohong, dia bicara dengan perlahan, mengadu dalam ekspresi takut dan bola mata berkaca-kaca.
"Dia sendiri yang mencari gara-gara dengan Maya, bagaimana bisa menyalahkan ku?," Ucap nya lagi dengan penuh kemanjaan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh kekasihnya tersebut, Mawangsa perlahan menyentuh bahu Shinta, membiarkan perempuan tersebut melepaskan pelukan nya dan laki-laki tersebut berkata.
"Jangan takut soal apapun, Ayunda tidak mungkin bisa melukaimu," Mawangsa bicara dan berjanji.
Bayangkan bagaimana perasaan Shinta stadion mendengar apa yang diucapkan oleh Mawangsa.
"Dia tidak akan memiliki kemampuan untuk melukaimu sedikitpun." Tambah nya lagi kemudian.
Bola mata Shinta terlihat berkaca-kaca, dia sangat senang, dengan cepat memeluk kembali Mawangsa dan mengucapkan terimakasih dengan perasaan bahagia.
"Terimakasih banyak sayang, aku percaya kamu pasti bisa melindungiku." Dia berbunga-bunga, merasa melayang atas ucapan Mawangsa. Janjinya benar-benar membuat Shinta terbang ke awang-awang.
Dia mendongakkan kepalanya, kemudian secara perlahan dia mencoba untuk mencium Mawangsa tapi sayangnya sebelum Shinta mampu melakukan hal tersebut, Mawangsa langsung berusaha untuk menghindar.
"Tidak Shinta, maafkan aku." Mawangsa langsung menggeser posisi nya, mencoba mendorong tubuh Shinta agar menjauh darinya.
Melihat ekspresi Mawangsa, Shinta merasa sedikit tersinggung, dia terlihat berkaca-kaca dan berpikir apakah Mawangsa jijik padanya? karena dia sudah di sempat diperlakukan buruk dan di sentuh oleh penculik kemarin? tapi dia tidak di apa-apa kan mereka.
"Kenapa kamu menghindari ku?," Dia bertanya dengan raut wajah sedih.
"Kita belum menikah, jangan seperti itu." Mawangsa bicara dengan cepat, berusaha untuk menjelaskan bahwa itu tidak pantas untuk mereka.
Entahlah dia hanya merasa Shinta sangat jauh berbeda dengan Maya, dulu meskipun sudah menikah, Maya tidak seperti itu, gadis tersebut sangat menghargai diri nya sendiri, tidak pernah berlaku agresif dan,
__ADS_1
Fuhhhhh, Mawangsa menghela pelan nafasnya.
Dan dia merasakan hal yang berbeda antara Maya dan Shinta, setiap kali bersama Shinta seolah-olah hati nya menolak dengan tegas, tapi dengan Maya.
"Pulanglah dan jangan khawatir, jangan berpikiran yang tidak-tidak, kamu masih harus banyak istirahat dan jangan terlalu sering pergi kemana-mana." pada akhirnya Mawangsa memberikan perintah, meminta Shita agar segera pulang saat ini juga.
Shinta jelas saja menolak nya, dia sama sekali belum ingin pulang dari sana tapi tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang. Dia menoleh dimana pintu langsung terbuka.
"Maaf tuan, para direktur sudah datang, mereka menunggu anda." Arif bicara dengan cepat sambil menundukkan kepalanya.
"Aku ada rapat saat ini, kembalilah hmmm." pinta Mawangsa kemudian sambil melirik kearah Maya.
Dia mencoba menghubungi sopir nya, dan berpikir agar sopir nya mengantar Shinta.
"Aku bawa mobil sendiri." Shinta menjawab kesal, ekspresi wajahnya langsung berubah masam, moodnya jelas memburuk.
Perempuan tersebut secepat kilat beranjak pergi dari sana, meninggalkan Mawangsa dan melirik kearah asisten Mawangsa dengan perasaan penuh kemarahan. Bahkan saat keluar dia menutup pintu dengan cara sedikit kasar.
Kali ini Shinta pikir dia tidak bisa lagi menunda untuk mendapatkan Mawangsa, dia harus memikirkan sebuah rencana untuk membuat Mawangsa meniduri dirinya, dengan begitu jika Mawangsa dan dia sudah tidur bersama dia tidak perlu khawatir soal apapun terhadap laki-laki tersebut.
Dia harus mencari waktu yang tepat dan tempat yang baik untuk membuat Mawangsa tidak bisa menolak untuk tidur dengan nya, bahkan meskipun dia harus menggunakan cara licik sekalipun.
Shinta yakin penolakan demi penolakan yang dilakukan laki-laki itu karena Mawangsa masih mencintai Maya, dia benar-benar kesal dengan keadaan ini.
didalam ruangan kerja Mawangsa, laki-laki tersebut hanya bisa menghela pelan nafasnya, dia kemudian melirik kearah Arif lantas berkata.
"Bantu belikan aku beberapa vitamin," Ucap laki-laki tersebut kemudian.
Mendengar ucapan Mawangsa, Arif sedikit mencibir.
"Untuk Shinta? yang benar saja." Batin Arif.
"Pastikan vitamin terbaik." lanjut Mawangsa lagi.
"Apa aku juga harus mengirim nya ke rumah nona Shinta, tuan?." Arif bertanya cepat.
"Itu untuk Maya, bukan untuk Shinta." Buru-buru Mawangsa merevisi ucapan Arif.
"Ya?." Arif jelas terkejut mendengar ucapan tuan nya.
"Jangan sampai salah mengirimnya." Ucap Mawangsa lagi kemudian.
Dan bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Arif saat ini? dia benar-benar seperti laki-laki bodoh yang tidak paham dengan jalan pikiran tuannya tersebut.
__ADS_1