Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kejadian malam itu


__ADS_3

Ditengah diam nya Mawangsa, Maya mendorong tubuh Mawangsa dengan cepat, gadis itu sudah merasa risih dengan keadaan dan dia bener-bener tidak suka terhadap laki-laki tersebut saat ini, dia berharap mereka tidak lagi memiliki hubungan dan dia tidak ingin terlibat hubungan lagi dengan Mawangsa, karena selama dia masih berhubungan dengan laki-laki tersebut dia merasa kehidupannya benar-benar menjadi sulit dan rumit, dia sangat tidak suka berhubungan dengan laki-laki itu lagi, berharap semua berakhir dan tidak akan pernah bertemu lagi.


Maya terus berusaha mendorong tubuh laki-laki itu untuk menjawab di sana secepatnya dari hadapannya, namun nyatanya saat Maya mencoba untuk mengusir laki-laki itu, Mawangsa seketika langsung tersadar dari keadaan dan laki-laki itu menolak untuk pergi dari sana dan tidak menerima apa yang dilakukan oleh Maya kepada dirinya.


"No Maya please, dengarkan aku dulu...," Mawangsa bicara dengan cepat dan mencoba untuk membuat gadis daripada itu agar tidak keluar dari pemikiran dan kesabaran nya.


"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi selama ini dari masa lalu dan aku...," Mawangsa berusaha untuk bicara dengan gadis tersebut, menyentuh wajah Maya dengan cepat.


Namun nyatanya Maya semakin marah, dia mencoba mendorong Mawangsa dan terus mengusir nya, hingga tanpa sadar mereka berada di ujung dua tangga naik ke teras rumah sehingga membuat kedua orang tersebut terjatuh tanpa pernah di duga. Mawangsa terkejut saya belum merasa kakinya tersandung dan hampir membuatnya terjatuh, sayangnya Maya ikut kehilangan keseimbangan, membuat mereka berdua seperti kau langsung benar-benar terjatuh ke lantai.


Mawangsa secepat kilat meraih tubuh Maya, memasukkan nya kedalam di dekapan nya dengan cepat.


Brakkkkkkkk.


Satu hantaman keras menyakiti punggung Mawangsa, Maya berada di atas tubuh nya dan menindihnya. Seketika Maya langsung memejamkan bola matanya dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam dekapan laki-laki tersebut untuk beberapa waktu, keheningan terjadi di antara mereka, Maya berusaha bergerak dan seketika tanpa sengaja netra kedua orang yang pernah menjadi suami istri tersebut bertemu antara satu dengan yang lainnya.


Sejenak Mawangsa merasa perasaan nya berdesir, tiba-tiba saja salah satu ingatan menghantam dirinya tentang apa yang pernah terjadi pada mereka di kala Maya mabuk tempo hari. Adegan demi adegan terngiang di kepala nya dikamar hotel pada waktu itu ketika gadis tersebut nyaris tidak sadarkan diri dalam mabuk nya.


"Oh shi-t," Mawangsa mengumpat, dia hampir lupa dengan apa yang mereka lakukan malam itu. Dia pikir tidak terjadi sesuatu kah dengan Maya setelah kejadian malam itu?.


Maya yang menyadari netra mereka saling bertemu antara satu dengan yang lainnya di mana Mawangsa terus menatap dan menelisik wajah nya, seketika Maya langsung berusaha untuk bergerak dan melepaskan diri dari Mawangsa.


"Menyingkir dari ku," Maya terlihat berkata cetus, mencoba bangun dari posisinya dengan cepat tapi tiba-tiba saja.


"Akhhhhh," gadis itu menjerit kecil saat menyadari kakinya kembali sakit.


Mawangsa seketika panik, dia langsung berdiri dari posisinya di mana Maya memegangi kakinya sendiri.


"Ada apa? apakah hal buruk terjadi?," Mawangsa bertanya dengan perasaan khawatir kepada gadis yang ada di hadapannya itu, menyentuh pergelangan kakinya dengan cepat, ekspresi wajah laki-laki tersebut jelas tidak baik-baik saja ini pertama kalinya dia terlihat begitu panik menatap ke arah Maya.


"Ini sakit lagi," tanpa sadar Maya mengeluh, menampilkan ekspresi wajah sedih dan sakitnya, dia meringis kembali memegang pergelangan kakinya yang pernah sakit kemarin.


Mawangsa langsung berusaha untuk memperhatikan pergelangan kaki Maya, mencoba mencari bagian mana yang sakit, tanpa sadar interaksi diantara mereka jadi in_tim.


"Maafkan aku, aku terlalu kasar tadi," laki-laki tersebut bicara dengan penuh penyesalan.


"Ini semua salah mu, semua jadi sakit lagi, butuh proses yang lama untuk menyembuhkan nya,"

__ADS_1


"Maaf, kemarikan tangan mu, aku akan menggendong mu masuk,"


"Tidak usah, pergilah pulang Mawangsa, aku mohon."


Setidaknya Maya tidak lagi bicara dengan nada tinggi dan mengegas, lebih tenang dan santai ketimbang yang tadi.


"Ini salah ku, biar aku mau bertanggung jawabkan semua ini, aku akan membawamu ke dalam mengobatinya dan memanggil dokter untuk melihat kembali bagaimana keadaan kakimu," Mawangsa masih bersikeras bicara seperti itu di mana tiba-tiba dia mengangkat tubuh Maya dengan cepat.


Maya seketika terkejut refleks langsung mengalungkan tangannya pada leher laki-laki itu, takut terjatuh karena digendong laki-laki tersebut tanpa aba-aba.


Mawangsa langsung membawa Maya menuju ke arah dalam rumah gadis tersebut, meletakkannya dengan sangat hati-hati atas kursi sofa yang ada di dalam sana kemudian dia bergerak mencoba untuk mencari apapun yang bisa digunakan untuk dioleskan pada kaki mana seperti minyak angin atau minyak pijat dan lain sebagainya.


"Di mana kamu meletakkan minyak pijat nya?,"


"Di laci bagian bawah," pada akhirnya gadis tersebut terpaksa mengalah memilih untuk menurunkan kemarahannya karena rasa sakit di kakinya jelas mengalahkan segalanya.


Mawangsa patuh, mencari minyak pijat yang dimaksud oleh Maya. ketika dia mendapatkannya bergerak dengan cepat mendekati gadis tersebut dan langsung secara perlahan mengoleskannya ke pergelangan kaki Maya dengan sangat hati-hati.


Sesekali terdengar ingusan dari gadis tersebut yang menyatakan betapa sakitnya kakinya saat ini, Malaysia bergerak dengan sangat hati-hati, tidak ingin gadis tersebut terluka lebih dalam dan sakit.


Dia terlihat enggan untuk mengangkatnya tapi untuk menghindari pertengkaran laki-laki itu pada akhirnya mencoba mengangkatnya.


"Ada apa?," Tanya Mawangsa cepat.


"Kamu ada di mana sayang?," Shinta bertanya dengan cepat di seberang sana.


Maya bisa mendengar samar-samar suara gadis tersebut.


"Aku ada urusan penting, bisa kita bicara nanti?," setelah berkata seperti itu Mawangsa langsung mematikan panggilannya dengan cepat tanpa berpikir dua tiga kali.


Hal itu jelas saja membuat Maya menatap karena laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya di mana bisa dilihat Mawangsa benar-benar mematikan panggilannya kemudian langsung meletakkan handphonenya ke atas meja.


Maya terlihat mendengus.


"Aku cukup terkejut karena kamu tipe laki-laki yang pintar berbohong," Maya langsung bicara dengan cepat mengejek ke arah Mawangsa dan menyinggungnya.


Mendengar ucapan dari Maya seketika membuat laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya pada pergelangan kaki gadis tersebut, laki-laki itu tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, hanya bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya aku berbohong pada Shinta," batin laki-laki itu.


Mawangsa kembali melanjutkan gerakan tangannya secara perlahan dan memastikan jika minyak pijat nya telah terserap dengan baik, laki-laki tersebut kembali menyambar handphonenya dan mencoba untuk menghubungi seseorang.


"Aku akan coba menghubungi dokter pribadi ku dan memintanya kemari," ucap Mawangsa cepat.


Mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut seketika membuat Maya langsung menggeleng kan kepalanya.


"No, biar aku menghubungi dokter ku sendiri," dia pikir dia tidak ingin lagi terlibat dengan orang-orang di sekitar laki-laki tersebut.


Melihat ekspresi dari mantan istrinya itu seketika membuat Mawangsa diam, dia menatap dalam bola mata Maya untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki tersebut bicara.


"Hmmm bukan masalah, aku akan menghubungi kamu lagi untuk menanyakan perkembangan kaki mu nanti, jangan keras kepala, aku hanya akan menanyakan soal itu tidak lebih." mohon laki-laki tersebut cepat.


Maya terlihat diam, mencoba membuang pandangannya dan tidak menjawab sama sekali ucapan laki-laki tersebut.


"Pulanglah," pada akhirnya maunya berkata dengan cepat dan meminta laki-laki itu untuk segera pergi dari.


Mawangsa hanya bisa menghela nafas nya dan kemudian laki-laki tersebut berkata.


"Baiklah, jaga diri baik-baik, aku pulang sekarang," Jawab Mawangsa pada akhirnya.


Laki-laki itu memasukkan handphone nya kedalam kantong celananya, kemudian dia bergerak menjauhi gadis tersebut tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Maya memilih diam dan sama sekali tidak menatap punggung laki-laki yang kini menjauh darinya tersebut.


********


The Malaka company,


ruang kerja Maya.


"Kamu benar-benar akan menuntut nya?," Julian bertanya dengan cepat kepada Maya.


Gadis tersebut telah memutuskan untuk membuat tuntutan kepada Windi dan tidak akan pernah mencabutnya, mereka akan pergi ke pengadilan hari ini untuk menggelar sidang pertama.


Mendengar pertanyaan dari Julian Maya langsung menganggukkan kepalanya sembari dia bangun dari posisi duduknya.


"Tentu saja, ini aku lakukan sebagai peringatan untuk orang-orang yang berniat jahat kepadaku, di mana aku tidak main-main untuk mengeksekusi dan menyelesaikan orang-orang yang mencoba untuk mencelakai diriku atau mempermalukanku." jawab gadis tersebut cepat dengan senyuman picik nya.

__ADS_1


__ADS_2