Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Takut menyatakan perasaan


__ADS_3

Mendengar jawaban Julian, wanita itu jadi begitu gelisah, hingga pada akhirnya dia berkata cepat pada putranya tersebut.


"Kamu terlalu banyak berpikir sehingga pada akhirnya kamu melewati banyak hal termasuk banyak momen bersama Maya, seandainya di masa lalu kamu tidak banyak berpikir bisa jadi Maya tidak menikah dengan Mawangsa." wanita itu mengeluarkan unek-unek nyeri juga berpikir jika selama ini dunia terlalu banyak menimbang hingga pada akhirnya dia gagal untuk mendapatkan Maya.


"Bergeraklah lebih cepat dan agresif Julian, para perempuan suka pada laki-laki seperti itu, jika kamu lagi-lagi terlambat untuk mengatakannya ibu takut kamu malah akan kehilangan kesempatan untuk yang kedua kalinya." ucap wanita tersebut lagi kemudian.


Mendengar ucapan ibunya Julian terlihat diam, dia menatap dalam wajah ibunya untuk beberapa waktu. Sebenarnya apa yang di ucapkan oleh ibunya jelas ada benarnya karena jika dia bergerak terlambat sekali lagi bisa jadi dia terlambat untuk mendapatkan perasaan Maya mengingat ada banyak sekali laki-laki yang menyukai garis tersebut bahkan termasuk Dave.


Julian terlihat gelisah, dia cukup ragu dengan keadaan, yang paling dia takutkan saat ini bagaimana jika Maya menolaknya? karena mereka bersahabat sejak kecil, tentu saja takut setelah mengungkapkan tentang perasaannya, tiba-tiba Maya menolaknya dan jarak besar akan terbentang di antara mereka. Dia benar-benar seolah-olah harus menelan buah simalakama.


"Ibu, apakah yakin tidak ada yang perlu dibantu?," tiba-tiba Maya menyeruak masuk ke dapur.


Julian jelas saja terkejut karena kehadiran gadis tersebut saat ini.


"Oh sayang tentu saja tidak perlu, semua sudah selesai, duduk lah kemari dan mari menikmati makan malam kita." ibu Julian langsung menyambut Maya, dia bergerak mendekati gadis tersebut dan memintanya untuk duduk di salah satu kursi, memperlakukan Maya layak nya seperti tuan Putri.


Maya sejenak diam, menganggukkan kepalanya kepada ibu Julian, tiba-tiba dia jadi sedih karena dia pikir kenapa ibu Mawangsa tidak memperlakukan nya layaknya seperti ibu Julian memperlakukan nya saat ini di masa lalu?.


Padahal dia pikir dia tidak pernah memiliki salah apapun kepada wanita tersebut bahkan dia selalu berusaha untuk menjadi menantu yang diimpikan oleh wanita itu, tidak ada satu pekerjaan rumah pun yang tidak bisa dilakukan, bahkan dia memperlakukan wanita itu seperti ratu, tapi bayangkan bagaimana balasan nya bahkan hingga hari ini pun tetap memperlakukan nya dengan buruk.


Mereka pada akhirnya mulai melahap makanan yang ada di atas meja, menikmati makan bersama bahkan terkadang tertawa dan bercanda bersama. Ibu Julian jelas memang luar biasa dia merupakan tipe kamar yang sangat disukai oleh calon menantu nya, begitu hangat dan ramah juga penuh dengan rasa pengertian yang tinggi. Maya pikir ternyata beda orang beda pula cara berpikir, bahkan tidak semua orang tua memiliki sifat yang buruk.


Ketiga orang tersebut terus sibuk menikmati makan mereka, hingga akhirnya mereka tiba di penghujung acara makan bersama, Julian membantu untuk membereskan sisa makanan dan piring, seorang pelayan langsung menerima semuanya dan membersihkan nya sedangkan ibu Julian buru-buru langsung pergi ke lantai dengan cepat dan meninggalkan kedua orang tersebut yang kini mengobrol bersama kemudian bergerak menuju ke arah ruang tamu.


Wanita itu terlihat meraih handphone nya, mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana. Cukup lama belum terdapat jawaban dari panggilannya, hidup pada akhirnya bisa didengar suara balasan di seberang sana.


"Nyonya?,"


"Kamu lama mengangkat nya?,"


"Maafkan aku, ada tamu tadi yang datang dan memesan dan membooking tempat." laki-laki diseberang sana menjawab cepat.


"Ah itu bukan masalah, buat jadwal untuk hari sabtu, 2 orang akan masuk ke arena permainan kuda." ucap wanita tersebut cepat.


Mendengar ucapan wanita tersebut membuat laki-laki di seberang sana cukup terkejut dia jadi agak bingung.


"tapi seseorang telah memesan untuk akhir minggu ini bahkan telah membayarnya dengan full, nyonya." dia jelas bilang setengah mati karena dia pikir mereka tidak mungkin membatalkan pesanan orang tersebut.

__ADS_1


"kita tidak mungkin mengembalikan pembayarannya karena di sana tertera kita yang akan di tuntut seandainya orang itu tidak menyetujui," laki-laki tersebut menjawab dengan gelisah.


"Hmmm Benarkah? bukan masalah, tidak ada yang akan mengganggu tamu yang datang, tamu menjadi privasi tamu, dan Julian akan datang bersama kekasihnya." ibu Julian menjawab dengan cepat menyatakan jika tidak ada yang perlu di khawatir kan, semua akan berjalan baik-baik saja.


"Mereka pasti tidak akan saling mengganggu karena mereka jelas tidak saling mengenalkan satu dengan yang lainnya," lanjut wanita itu lagi kemudian.


Mendengar ucapan dari wanita tersebut membuat laki-laki di ujung sana menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baik nyonya, saya mengerti."


Kemudian ibu Julian buru-buru langsung mematikan teleponnya, dia meletakkan telepon tersebut ke atas meja kemudian bergerak bergegas menuju turun ke arah bawah.


"Bu, dari mana?," Julian bertanya kepada ibunya yang tiba-tiba menghilang dan kini kembali.


"Oh sayang maafkan ibu," tiba-tiba saja wanita tersebut ber'akting dan meminta maaf kepada putranya, wanita itu bergerak turun dengan cepat mendekati kedua orang tersebut kemudian duduk di depan Maya dan menatap Julia dengan penuh penyesalan.


Hal tersebut jelas membuat Julian agak bingung dan terkejut.


"Bu?,"


"Ibu akhir minggu ini tidak bisa pergi ke gelanggang berkuda, kamu bisa pergi dengan Maya saja bukan? karena ada yang harus ibu urus," ucap wanita tersebut tiba-tiba.


"Ya?," Julian bahkan terlihat jauh lebih bingung.


"Sayang, Julian dia berkali-kali mengajak ibu untuk pergi ke gelanggang kuda, ibu sangat menyesal karena tidak bisa pergi karena itu bisakah kamu menemani Julian menggantikan ibu untuk membuatnya tidak kecewa?," wanita tersebut bertanya dengan cepat ke arah Maya.


Dia bener-bener memberikan kalimat permohonan kepada gadis tersebut.


Maya yang mendengar penuturan ibu Julian sejenak berfikir kemudian pada akhirnya gadis tersebut menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, itu bukan masalah." jawab gadis itu dengan cepat.


Dia langsung menyetujuinya karena Maya pikir sudah lama juga dia tidak bermain kuda, dia sangat suka pergi ke tempat seperti itu dan menaiki kuda, baginya itu seperti sebuah tantangan yang luar biasa.


Mendengar jawaban dari gadis tersebut jelas saja membuat ibu Julian bersorak kegirangan di dalam hatinya.


'Ibu senang mendengar nya, sangat berterima kasih karena kamu mau menggantikan ibu untuk menemani Julian." wanita itu begitu senang, bicara sembari menepuk-nepuk punggung tangan Maya.

__ADS_1


Julian cukup terkejut dengan rencana ibunya dia yang awalnya bingung kini hanya bisa mengulum senyumannya. Menikmati bagaimana cara ibu nya memperlakukan Maya. rencana berkuda jelas bukan rencana yang buruk bagi nya.


Mereka pada akhirnya mengobrol bersama untuk waktu yang lama, menghabiskan waktu bersama dengan bahagia hingga akhirnya Julian pamit membawa Maya pulang.


"Ibu aku pamit pulang." Maya bicara, langsung memeluk ibu Julian dan berpamitan pulang.


"Hati-hati di jalan, Julian Ingat jaga kestabilan kendaraan, jangan membawa mobil dengan ceroboh." ujar wanita itu cepat.


"Baik Bu." Julian menjawab mantap.


kemudian mereka bergegas pergi dari hadapan ibu Julian, bergerak cekatan naik ke mobil dan pergi meninggalkan kediaman orang tuanya dengan cepat.


*******


Kediaman Maya.


Begitu tiba didepan kediaman Maya, Julian bergerak dengan terburu-buru langsung turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil di mana-mana yang berada kemudian laki-laki tersebut dengan cepat langsung menyambut tangan Maya dan membiarkan gadis tersebut turun secara perlahan dari mobilnya dengan gerakan yang hati-hati.


Julian benar-benar memperlakukan gadis tersebut dengan baik dan hangat.


"Aku berterimakasih kamu sudah mau menerima undangan ibuku untuk makan di rumah kami," Julian berkata seperti itu dengan cepat berterima kasih pada gadis itu karena mau menerima undangan dari ibunya.


Maya jelas saja langsung mengembangkan senyumannya dan berkata,


"Jangan sungkan, aku sudah menganggap bibi seperti ibu kandungku sendiri, tentu saja aku tidak bisa menolaknya dan lagi aku sangat bahagia karena bisa pergi makan malam bersama kalian." jawab gadis tersebut cepat.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena diperlakukan olehmu dengan baik dan diterima oleh ibumu juga dengan cara yang sangat baik," Maya jelas sangat bahagia karena dirinya diperlakukan dan diterima dengan baik oleh ibu dan anak tersebut.


Julian tersenyum, tiba-tiba saja bola matanya tertuju pada sesuatu yang ada di atas kepala gadis tersebut.


"Ada sesuatu di rambut mu Maya," laki-laki itu berucap dengan cepat kemudian mencoba untuk mengambil sesuatu di atas kepala Maya.


Gadis tersebut diam, menaikkan ujung alisnya dan membiarkan laki-laki itu mengambil apa yang ada di atas kepalanya, agak terkejut, dia memejamkan bola matanya karena tangan laki-laki itu refleks langsung naik ke atas kepalanya.


Entah apa yang dipikirkan Julian, begitu melihat Maya memejamkan bola matanya ada satu pemikiran di mana dia pikir ingin mencium kening gadis tersebut, dengan gerakan perlahan dia mencoba melakukannya dimana bibirnya sudah nyaris menyentuh kening Maya, tapi tiba-tiba gerakan nya terhenti karena tiba-tiba satu ketakutan menghantam dirinya bagaimana Maya marah dan hubungan mereka menjadi memburuk. Julian langsung mengurungkan niatnya.


Di ujung sana tanpa pernah disadari, ada Mawangsa yang melihat kejadian tersebut, laki-laki itu memegang setir mobilnya sembari mengeratkan rahangnya, kilatan api kemarahan terlihat jelas di balik bola matanya dan kecemburuan menghantam dirinya.

__ADS_1


Dia pikir dia akan menghajar Julian saat ini juga, menghabisi nya dan membuat laki-laki itu tahu dia sedang berhadapan dengan siapa.


"Kau, berani-berani nya."


__ADS_2