
"Aku cukup terkejut saat tahu kamu ada disini dan bahkan berada di depan mobilku, seolah-olah sengaja menunggu ku." Begitu Maya menyadari siapa yang ada di hadapan tersebut bicara dengan cepat pada Mawangsa.
"Apa kau sedang berniat jahat padaku atau bagaimana?," Maya kembali bertanya pada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut sembari melipat kedua belah tangannya tepat di depan dadanya, dia bertanya seperti itu dengan tatapan penuh kecurigaan pada Mawangsa.
mendengar apa yang diucapkan oleh Maya jelas saja membuat Mawangsa langsung mengubah ekspresi wajah yang tidak senang, laki-laki tersebut pada akhirnya langsung berkata.
"Apa seburuk itu pandanganmu terhadap diriku yang seolah-olah akan melakukan perpecahan dan melakukan hal yang buruk pada diri mu?," laki-laki itu jelas saja langsung bicara seperti itu sembari menatap Maya dengan ekspresi yang cukup sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
"Aku belum sepikir itu dan juga sejahat itu Maya," dia jelas saja langsung protes atas apa yang diucapkan oleh Maya.
"Bukan seperti itu," pada akhirnya Maya menjawab ucapan dari Mawangsa dengan cepat.
"Aku hanya mencoba untuk jauh lebih waspada ketika menghadapi seorang musuh,x iya menjawab dengan cepat dan gak ada kalimat yang penuh dengan tekanan pada Mawangsa.
mendengar jawaban dari Maya jelas saja membuat mawangsa hanya bisa menghela kasar nafas nya. Dan dia pikir dia cukup kecewa melihat jawaban gadis dari pagi tersebut di mana Maya seolah-olah menganggap dia adalah musuh.
"itu bukan masalah," akhirnya Mawangsa kembali bicara pada gadis dihadapannya tersebut.
"Jadi apakah ada yang kamu ingin sampaikan padaku soal rapat tadi?," Maya bertanya secara perlahan pada laki-laki di hadapannya itu untuk beberapa waktu di mana dia bertanya sembari mereka mencoba menerka-nerka.
"Ini bukan soal rapat tadi, tapi ini soal nenek," laki-laki tersebut menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Dan saat Maya mendengar ucapan kata nenek, jelas saja dia langsung cukup terkejut setengah mati.
"apa yang terjadi pada nenek?," dia jelas saja bertanya dengan cepat dan mengeluarkan ekspresi yang sedikit panik.
"nenek berada di rumah sakit dan nenek ingin bertemu dirimu meskipun sebentar hari ini,"
bayangkan bagaimana perasaan Maya saat dia mendengar kata rumah sakit.
"Apa?," bayangkan bagaimana ekspresi gadis tersebut saat mempertanyakan hal itu.
"apakah nenek baik-baik Saja," dia jelas saja berpikir harus segera menemui nenek saat ini..
"Kamu bisa melihatnya sendiri nanti," laki-laki tersebut menjawab dengan cepat pertanyaan dari mantan istri tersebut.
"Mari pergi bersama dan aku akan mengantarmu ke sana," dan Mawangsa bicara dengan cepat kepada Maya.
Mendengar tawaran dari laki-laki tersebut jelas saja membuat maya langsung menolak.
Mawangsa jelas kecewa atas tolakan yang diberikan oleh gadis di hadapannya itu, dia baru ingin bicara namun tiba-tiba saja seseorang yang mau bawa kardus menabrak Maya,
Buggggggg.
__ADS_1
"Hah?," Maya cukup terkejut di mana dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan dia pikirkan terjadi saat ini juga namun siapa sangka Mawangsa dengan cepat langsung menyambar tubuhnya dan menahan nya agar tidak jatuh. Nyatanya ini belum usai, seketika Mawangsa yang tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan.
Brakkkkkkk.
Laki-laki tersebut jatuh ke belakang sembari memeluk Maya, meskipun dia tahu bagaimana rasa sakitnya terjatuh tapi dia bersyukur setidaknya Maya baik-baik saja.
Maya jelas terkejut setengah mati saat menyadari mereka terjatuh dan memangsa mencoba terus melindungi tubuh dan kepalanya di mana mereka bertukar posisi saat ini.
"Oh ya Tuhan, kamu tidak apa-apa?," gadis itu bertanya dengan khawatir dan panik, dia mencoba untuk membenahi posisinya dan bertanya soal Mawangsa.
Melihat ekspresi dari Maya jelas saja membuat Mawangsa berbunga-bunga, tidak tahu kenapa dia merasa begitu senang, mencoba untuk menahan senyumannya di dalam hatinya kemudian dia menjawab dengan lembut.
"Aku baik saja, jangan khawatirkan soal aku yang penting tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu " laki-laki itu menjawab dengan cepat dan penuh semangat namun suaranya terdengar begitu hangat dan lembut.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Mawangsa pada akhirnya membuat Maya berkata.
"Karena kamu sudah banyak menyelamatkanku maka aku pikir aku tidak akan menganggap musuh, aku akan menganggapmu sebagai seorang kenalan yang memiliki hati yang begitu baik," gadis itu bicara dengan cepat sembari mengganggukan kepalanya.
Mawangsa yang mendengar ucapan dari Maya jelas saja cukup kecewa, dia pikir bagaimana bisa mantan istrinya menganggap dia sebagai seorang kenangan yang memiliki hati baik tapi tidak menganggapnya sebagai teman.
"Baiklah kalau begitu aku akan segera pergi ke tempat nenek untuk menjenguk nenek saat ini juga," Maya kemudian langsung berdiri dengan cepat dari posisinya dia pikir dia harus menjenguk nenek saat ini juga karena dia takut tidak memiliki waktu banyak untuk bisa menjenguk wanita tua tersebut.
__ADS_1
Mawangsa hanya mengangguk kan kepalanya dan memilih diam mendengar ucapan Maya, dia menatap punggung gadis tersebut yang kini bergerak menjauh dari diri nya.
Jutaan rasa kecewa menghantam Mawangsa, tapi laki-laki tersebut berusaha membenamkan nya kedalam hati nya.