Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Tidak ada maaf untuk tersangka


__ADS_3

Setelah sekian lama memilih diam bergelayut pada pemikirannya yang tidak menentu setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Windi, akhirnya Shinta berkata.


"Tetap diam dan tutup mulu jangan bicara soal apapun tentang hal yang lainnya jika seandainya kamu tertangkap basah," perempuan itu bicara dengan cepat sembari memutar otaknya berharap jika Windi tidak membuka mulutnya dan berkata jika dia terlibat.


"Jangan sedikitpun menyebut namaku karena itu akan semakin mempersulit keadaan jika seandainya kamu tertangkap," Lagi Shinta bicara.


"Aku akan membantumu untuk menyelesaikan semuanya jadi jangan khawatir soal apapun," Lanjut nya lagi kemudian.


Mendengar apa yang di ucapkan Shinta cukup membuat Windi tenang, dia pikir tidak menyangka Shinta sangat setia kawan dan akan membantunya dalam keadaan terdesak tersebut.


Shinta menutup telponnya dengan cepat tanpa banyak bicara, dia tidak ingin terlalu banyak bicara basa-basi dengan Windi mengingat di mana posisinya saat ini, Mawangsa bisa mengetahui kejahatan nya jika dia terlalu banyak bicara.


Setelah mematikan panggilannya, Perempuan tersebut buru-buru membenahi penampilan nya, menarik nafasnya untuk beberapa waktu sebagai memejamkan bola matanya sejenak kemudian dia membuka kembali bola matanya dan menatap pantulan dirinya ke depan cermin.


"Semua pasti baik-baik saja." Batin perempuan tersebut pelan.


Didetik berikutnya Shinta bergerak keluar dari posisi nya, keluar dari kamar mandi dan mencoba mendekati Mawangsa. Laki-laki tersebut terlihat baru saja mematikan handphone nya.


"Sayang." Shinta bicara, mendekati diri pada Mawangsa, bicara sambil menyentuh bahu laki-laki tersebut.


"Bukankah Windi teman mu?," tanya Mawangsa tiba-tiba, dia menaikkan ujung alisnya sambil menatap wajah Shinta untuk beberapa waktu.


Shinta yang di cecar pertanyaan tiba-tiba langsung terkejut.


"Apa... maksud mu sayang?," Dia bertanya cepat dan gugup.


"Teman mu terlibat soal kasus di Instagram, dia teman mu, sangat tidak memungkinkan dia tahu kisahku dan juga Maya serta dirimu jika bukan dari dirimu sendiri, sedangkan Maya jelas tidak berteman dengan nya." Mawangsa terus menanyakan Shinta dengan berbagai macam pertanyaan, dia menatap curiga pada perempuan tersebut, merasa tidak beres dengan keadaan.


"Dia memang teman ku tapi mana mungkin aku bercerita soal kejadian 6 tahun yang lalu, aku belum gila," Shinta tetap bersikeras berkata dia tidak melakukan nya.


"Aku yakin ibu yang bercerita tanpa sengaja pada Windi, karena itu dia sampai tahu kejadian 6 tahun yang lalu, baik kecelakaan, perbuatan Maya yang menabrak ku dan berbohong mencintai kamu dengan menipu menjadi aku." Lanjut Shinta lagi kemudian.

__ADS_1


Dia kembali melakukan aksi pura-pura merasa terintimidasi mengeluarkan air mata buaya nya dihadapan Mawangsa. Hal tersebut membuat Mawangsa diam dan tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Laki-laki tersebut pada akhirnya kembali memilih untuk mengalah. Air mata membuat dia lemah, dia benar-benar tidak bisa melihat orang menangis dihadapan nya.


"Aku tidak mungkin melakukan hal seburuk itu pada Maya." Lanjut Shinta lagi kemudian.


Dan Mawangsa memilih tetap bungkam tanpa mengeluarkan ekspresi nya sama sekali.


*******


The Malaka company,


Ruang kerja Maya.


"Semua perbuatan dari Windi teman Shinta." sekretaris Maya bicara dengan cepat.


Mendengar apa yang diucapkan perempuan dihadapan nya membuat Maya diam, membiarkan diri untuk berpikir sejenak sembari memejamkan bola matanya. Dia cukup kecewa dia kalah taruhan pada Mawangsa.


"Aku pikir pasti pada sesuatu yang tidak beres tapi kita tidak bisa menyelidiki dirinya untuk saat ini." asisten Maya kembali bicara kepada gadis di hadapannya tersebut.


"itu bukan masalah yang penting aku tahu siapa yang menyebarkan beritanya." Pada akhirnya Maya menjawab sambil membuka bola matanya, dia pikir mungkin memang bukan Shinta yang pelaku utamanya.


Maya terlihat diam sembari menghela nafasnya, di detik berikutnya tiba-tiba handphone nya berdering, gadis itu mengintip siapa yang menghubungi nya. Begitu tahu siapa yang menghubungi nya, dia mendengus dan mengangkat panggilan tersebut.


"Cihhhh." Maya berdecih.


"kamu ingin menyampaikan jika Shinta bukan pelakunya?," dia bicara cepat, menyadari Mawangsa yang ada di ujung sana.


"Selamat karena kamu bisa semakin dekat dengan nya dan tidak lepas dari calon istri kesayangan mu," lanjut Maya lagi kemudian.


Mawangsa yang mendengar apa yang diucapkan Maya agak tersinggung, dia belum bicara tapi Maya langsung menyerang nya.


"Ya aku senang dia bukan pelaku utamanya." laki-laki tersebut menjawab cepat dengan perasaan kesal, dia sebenarnya tidak senang mendengar ucapan Maya.

__ADS_1


"Bagus lah kalau begitu, setelah ini tolong jangan usik hidup ku, berhenti membuat kekacauan dan urusan Windi jangan pernah ikut campur untuk meringankan hukuman nya, aku tidak suka kau atau Shinta ikut campur lagi dengan seluruh hal yang berhubungan dengan diriku." Maya pada akhirnya memperingati masa dengan cepat.


"Jangan sampai hanya karena dia teman Shinta kamu ikut campur untuk membelanya atau mendengarkan permohonan Shinta untuk membebaskan temannya," dia memberikan ancaman telak kepada laki-laki di ujung sana, tidak ingin jika Mawangsa kembali ikut terlibat dalam urusannya.


"jika kamu menghalangiku untuk menghukum Windi dan ikut campur dalam urusan ku, maka aku akan membuat perhitungan denganmu atau Shinta."dan itu peringatan keras dari nya untuk Mawangsa.


"Baik." Mawangsa pada akhirnya menjawab dengan cepat apa yang menjadi peringatan Maya.


Dan Maya pada akhirnya mematikan panggilan nya bersamaan dengan datangnya seseorang dari arah luar sana.


"Kebetulan kamu ada di sini Julian," ucap Maya dengan cepat saat melihat kehadiran Julian.


"Ada apa?," Julian mengernyitkan keningnya, bergerak mendekati Maya.


"Mari buat konferensi pers, aku akan membuat sebuah konfirmasi dan klarifikasi di depan publik."


********


Disisi lain.


"Aku dengar Windi dipenjara dan kasus nya akan di naikkan ke muka publik," Di mobil Mawangsa membuka suaranya, dia dan Shinta bergerak menuju kearah jalan pulang.


Mendengar apa yang diucap oleh Mawangsa perempuan tersebut terkejut.


"Apa?," dia terlihat gemetaran.


"Itu bagus untuk Maya." Mawangsa bicara dengan cepat, memfokuskan pandangannya ke jalanan.


"Sayang aku pikir kamu seharusnya membantu temanku, aku juga kasihan dengannya mungkin dia tidak berniat untuk melakukan hal tersebut, bisa jadi dia tidak sengaja melakukannya." Shinta berusaha untuk membujuk Mawangsa agar membebaskan Windi dan meringankan keadaan.


Dia takut jika Windi tertangkap maka kejahatan nya akan terbongkar tidak lama lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan nya, orang yang salah harus di hukum bagaimanapun caranya, tidak peduli siapa dia, dia harus menerima konsekuensinya." Mawangsa berkata dengan tegas pada Shinta.


Dan percayalah Shinta jelas saja langsung menggenggam erat telapak tangan nya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Mawangsa. Dia pikir dia harus bertindak cepat menyelesaikan semuanya termasuk menyingkirkan Maya agar semua kejahatan nya tidak terbongkar dan diketahui Mawangsa.


__ADS_2