Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Terlambat jatuh cinta


__ADS_3

Kembali ke sisi Mawangsa.


Bayangkan bagaimana perasaan memangsa saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Julian tadi.


kata akan segera menikah dengan Maya jelas saja membuat dia mengeram setengah mati, Dia pikir apakah benar yang diucapkan oleh laki-laki tersebut jika kedua orang itu akan menikah dalam waktu dekat?.


Biasanya Mawangsa tidak gelagapan seperti orang yang kebakaran jenggot tapi kali ini dia benar-benar tidak terima, seolah-olah ucapan Julian adalah batu hambatan besar dan juga laki-laki tersebut menjadi musuh terbesar di dalam kehidupannya saat ini dan tiba-tiba saja Mawangsa berpikir dia tidak menginginkan pernikahan kedua orang tersebut terjadi. Anggap saja dia berlebihan dan sudah gila tapi dia tidak ingin jika hal tersebut terjadi, maka Mawangsa pikir dia harus mencari cara untuk menggagalkan semuanya dan dia harus membuat Maya agar kembali kepada dirinya dan tahu bahwa Julian tidak pantas untuk perempuan tersebut. Belum lagi dia pikir apa mungkin Julian telah tahu tentang kehamilan Maya atau mungkin laki-laki tersebut belum tahu sama sekali karena dia tidak yakin anak yang dikandung oleh Maya adalah anak dari Julian.


Sebab ia ingat betul malam itu dunia adalah laki-laki pertama yang menyentuh Maya.


Mawangsa sejenak mengeratkan rahangnya saat dia masih melihat Julian dan Maya sudah menghilang dari hadapannya sedangkan Heru Masih berada tepat di sampingnya.


"Ada apa denganmu, Mawangsa?," Heru bertanya sambil menaikkan ujung alisnya menatap heran ke arah sahabatnya tersebut.


Dia tahu Mawangsa bukan tipe orang yang suka mencari gara-gara atau berdebat kepada orang lain bahkan dia tahu Mawangsa bukan tipe laki-laki kasar yang suka memukul atau suka pergulatan dengan orang lain, jadi apa yang dia lihat hari ini sedikit membuatnya merasa aneh, karena dia tahu betul bahwasanya Mawangsa bukan tipe orang yang memiliki banyak musuh di sana-sini.


"Sebenarnya bukan aku yang harus kamu tanyakan ada apa, tapi kamu harus menanyakan pada laki-laki itu ada apa dengan dia," Mawangsa menjawab depan ucapan dari Heru dengan cepat.


"Ada apa dengan dia? oh ayolah Mawangsa, tentu saja dia marah kamu mendekati perempuan yang disukai nya dan perempuan itu adalah mantan istrinya tentu saja itu jadi masalah besar, sebagai seorang laki-laki dia pasti menghajarmu. Dan aku pun pasti seperti itu saat mendapati perempuan yang aku sukai dekat dengan mantan nya, seandainya dia sebentar lagi menjadi istriku tahu-tahu kembali dekat dengan laki-laki yang adalah mantan nya, aku pikir bukan hanya menghajarnya kemungkinan besar aku juga akan membunuhnya." Heru langsung bicara seperti itu kepada Mawangsa, bicara apa adanya tanpa ingin menutup-nutupi atau berbohong menyampaikan kewajaran jelas terjadi pada Julian, pantas saja laki-laki tersebut melakukan hal tersebut mengingat Mawangsa adalah mantan suami Maya, sedangkan dia tahu gosip belakangan terjadi jika Julian dekat dengan Maya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Heru membuat Mawangsa mendengus dengan kasar.


"Kau membela laki-laki sialan tersebut?," dia bertanya dengan perasaan yang begitu kesal.


Melihat kekesalan memangsa Heru hanya bisa menghela nafasnya kemudian dia berkata.


"Aku tidak membelanya tapi aku bicara apa adanya Mawangsa, siapapun yang akan berlaku hal yang sama, bukan hanya dia dan aku, laki-laki lain juga akan melakukan hal seperti itu." ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.


Mawangsa sepertinya sangat tidak suka dengan ucapan Heru, dia pada akhirnya mengabaikan laki-laki tersebut dan membuang pandangannya kemudian dengan cepat bergerak menuju ke arah depan.


"Hei kau mau ke mana katakan padaku." Heru mencoba untuk mengejar langkah laki-laki tersebut.


"Pergilah menghindar dariku, aku sedang butuh udara segar untuk menenangkan pemikiran." dan pada akhirnya Mawangsa bicara seperti itu kepada sahabatnya tersebut sembari dia mengeluarkan rokok yang ada di dalam kantongnya.


Dia sengaja keluar dari tempat tersebut dan mencoba untuk mencari tempat yang nyaman untuk dia duduk sambil menikmati rokok sembari berpikir dan menenangkan perasaanmu yang saat ini kacau balau.


"Aku akan menemanimu." Heru berusaha untuk menawarkan diri.


Alih-alih menjawab ucapan laki-laki itu, Mawangsa lebih suka memilih diam dan menggerakkan kakinya terus menuju ke arah depan.


"Apa kamu marah?," tanya Heru sambil berjalan mensejajarkan diri pada Mawangsa.


Mereka bergerak menuju ke bagian kiri villa tersebut, dimana terdapat satu tempat yang cukup sejuk untuk dijadikan tempat bersantai, beberapa kursi terlihat disana, dengan pemandangan yang cukup menyejukkan mata, membuat berbagai pemikiran berat juga stress bisa menghilang dengan duduk disana.


Mawangsa memilih untuk duduk di salah satu kursi di mana dia kini menikmati rokoknya secara perlahan, laki-laki itu membiarkan bola matanya menatap lurus ke arah depan untuk beberapa waktu.


Heru terlihat duduk tepat di sisi kanan sahabatnya itu, membiarkan dirinya ikut menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Apakah cemburu pada Julian?," pada akhirnya Heru membuka suaranya kemudian dia melirik ke arah Mawangsa, menatap laki-laki tersebut yang tengah menikmati rokoknya secara perlahan.


mendengar apa yang diucapkan oleh Heru membuat memangsa sejenak terdiam, dia melirik ke arah laki-laki tersebut balik.


"aku pikir kau sepertinya cemburu dan mulai jatuh cinta kepada Maya." lanjut Heru lagi kemudian membuang pandangannya dari Mawangsa.


"kau cukup terlambat jatuh cinta pada Maya, setelah menyakitinya dan berpisah kau baru menyadari tentang perasaanmu, dan seperti kata ku tadi, aku takut itu sudah cukup terlambat." lanjut Heru lagi kemudian.


Mawangsa memilih untuk tidak menjawab ucapan dari Heru sama sekali, dia membiarkan pemikirannya berkelana jauh, mencoba untuk membiarkan jawaban tersebut berada di dalam hatinya di mana hanya diri sendiri yang tahu bagaimana sebenarnya perasaannya saat ini terhadap Maya.


******


Jelang makan malam bersama,


dapur villa.


Shinta turun dari anak tangga di atas sana bergerak menuju ke arah dapur dalam semangat yang membara di mana dia sangat bahagia malam hari ini sebab dia memang bersemangat untuk membuat Mawangsa tergoda kepada dirinya dan dia merencanakan untuk menarik laki-laki itu dan membawanya ke kamarnya sebab dia mencoba untuk melancarkan sebuah aksi untuk menjerat Mawangsa agar menidurinya malam ini.


Dia sudah lama memikirkan hal ini dan dia berharap saat hal itu terjadi Mawangsa tidak bisa tidak menikahinya, karena dia tahu laki-laki itu pasti mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kesalahan semalam mereka, jika hal itu terjadi malam ini ia telah merencanakan hal tersebut dengan sangat baik dan matang, diiringi dengan rencana Elsa yang membuat dia begitu senang.


Senyuman terus mengembang di balik wajah perempuan tersebut dimana bisa dia lihat calon adik iparnya ternyata sudah ada di dapur sejak tadi. Bola matanya sengaja mencari Mawangsa dan juga Maya tapi dia tidak melihat kedua orang tersebut. Saat ini sepertinya shinta juga tengah merencanakan sesuatu terhadap Maya malam ini.


Entah apa yang direncanakan oleh perempuan tersebut tapi yang jelas Shinta benar-benar memiliki sebuah rencana untuk menjatuhkan Maya juga menjebak Mawangsa nya perempuan selalu memiliki berbagai macam ide di atas kepalanya.


"Hay." begitu tiba di dapur dia menyapa adik iparnya Elsa dengan cepat.


Bisa dia lihat gadis tersebut cukup sibuk dengan kegiatannya saat ini meskipun dia tidak tahu apa yang tengah dilakukan Elsa, sepertinya sibuk membuat sebuah jus di dalam blender yang ada di hadapannya.


"Hay kak," Elsa menjawab sapaannya sembari mengeluarkan senyumannya, dia tidak tahu jika gadis di hadapannya itu memiliki sebuah rencana yang berbeda dengan rencananya malam ini.


Dua orang tersebut jelas memiliki rencana masing-masing dan mereka memutar otak untuk mengeksekusi rencana mereka agar berhasil.


"Apakah makanannya sudah datang?," dia bertanya pada calon adik iparnya tersebut.


"Mereka sedang di dalam perjalanan dan membawanya ke mari jangan khawatir soal apapun." Elsa kembali menjawab pertanyaan dari perempuan di sampingnya tersebut di mana bisa dia lihat Shinta langsung duduk di salah satu kursi makan di mana mereka duduk saat ini.


Di tengah obrolan mereka tiba-tiba saja bisa Shinta lihat Maya datang bersama Julian, dia menaikkan ujung bibirnya sembari sedikit mencibir ke arah Maya lantas membuang pandangannya.


Sama halnya dengan ekspresi dia, Maya terlihat sangat tidak suka melihat Shinta langsung membuang pandangannya dan mengabaikan perempuan tersebut saat mereka tiba di dapur.


Julian menarik sebuah kursi dan membiarkan Maya duduk di sana dengan posisi cukup berhadapan dengan Elsa dan Shinta.


Kemudian laki-laki tersebut menarik kursi nya sendiri, lantas memilih untuk duduk tepat di samping Maya kemudian mereka terlihat bercanda bersama.


Tidak lama disusul oleh Mawangsa, yang baru saja turun juga dari lantai atas, laki-laki itu terlihat menggoda dengan penampilannya dalam balutan pakaian mendominasi berwarna putih terlihat begitu tampan dan juga kharismatik, jelas saja membuat Sinta begitu tergila-gila kepadanya.


Mawangsa sama sekali enggan untuk menyapa Shinta, sepertinya mood booster-nya cukup kurang baik malam ini, dia melirik ke arah Maya dan juga Julian seketika sejuta kecemburuan menghantam dirinya saat dia melihat keakraban kedua orang tersebut yang dipamerkan di hadapan dirinya di mana Mawangsa memilih duduk tepat di samping Elsa dan dia memilih memasang jarak dengan Shinta.


Melihat Mawangsa lebih memilih duduk di samping adiknya jelas saja membuat Shinta langsung menurunkan keningnya dengan buru-buru dia langsung bergerak dari posisinya dan memiliki kursi di samping Mawangsa, perempuan itu menempel pada sang kekasihnya dengan cepat kemudian mencoba untuk bermanjat-manjaan di lengan laki-laki tersebut. sengaja untuk memanas-manasi Maya, seolah-olah berkata aku juga bisa berlaku romantis bersama Mawangsa seperti dirimu dan Julian. Dia sengaja melakukan hal tersebut untuk membuat Maya cemburu pada mereka.


Mawangsa mencoba untuk bicara pada Shinta, namun belum sempat ia membuka mulutnya tiba-tiba saja seseorang datang menyeruak masuk dan mengejutkan semua orang di mana itu adalah sang pengantar makanan.


Dua orang tanpa menundukkan kepala mereka sembari membawa beberapa paket makanan di tangan mereka.


Elsa langsung bersemangat dan meminta orang-orang itu meletakkan makanan pesanan ke atas meja.


"Letakkan di atas meja dan susun dengan rapi di sana, sisanya kami yang akan mengurusnya." ucap Elsa sambil mengembangkan senyumnya terhadap kedua orang tersebut.


Dua orang pengantar makanan terlihat begitu ramah langsung menganggukkan kepala mereka dan mematuhi apa yang diucapkan oleh Elsa, meletakkan berbagai macam makanan yang mereka bawa ke atas meja kemudian setelah itu mereka menunjukkan kepala mereka kepada semua orang dan pergi pamit dari sana.


"Sayang aku sengaja membeli semuanya untuk kita dan semua orang bisa menikmati makan malam bersama kita" Shinta langsung bicara penuh dengan semangat, cukup bangga atas apa yang dia lakukan. Karena dia tahu jika Mawangsa paling suka Jika dia baik terhadap siapapun bahkan mentraktir siapapun, Shinta pikir ide Elsa sangat baik menurutnya.


Mendengar ucapan cinta laki-laki tersebut menoleh ke arah perempuan tersebut kemudian dia hanya menganjurkan kepalanya, lantas memilih menyambar sebuah majalah yang ada di hadapannya, dia pikir mungkin sebaiknya dia membaca majalah saja.


Tapi tiba-tiba saja Elsa mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik yang diantar oleh dua orang pengantar makanan tadi di mana rumahnya perempuan itu mengeluarkan beberapa macam buah-buahan.


Dan saat Elsa mengeluarkan buah-buahan tersebut seketika Julian menetap ke arah Elsa sejenak, lantas tiba-tiba saja laki-laki itu berkata.

__ADS_1


"Ini sangat baik sekali, kalian membeli mangga?." tanya Julian kepada Elsa kemudian melirik ke arah Shinta.


Mendengar ucapan dari Julian membuat Mawangsa mengerutkan keningnya kemudian dia langsung menggerakkan tangannya dan mengambil kantong plastik yang berisi mangga yang belum dikeluarkan semua oleh adiknya tersebut dan dia berkata.


"Kamu juga membeli mangga?," Mawangsa bertanya cepat kepada adiknya tersebut dan melirik ke arah Elsa.


Elsa buru-buru menganggukkan kepalanya dan menjawab.


"He em."


"Berikan pada ku, Maya begitu menyukai jus mangga, aku akan membuat kan untuk nya." Julian bicara dengan cepat.


Mendengar ucapan Julian membuat Mawangsa mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan Maya suka mangga? aku pikir Shinta lebih membutuhkan nya." Mawangsa bicara dengan cepat.


"Kak Maya begitu menyukai Mangga, bagaimana bisa kakak tidak tahu itu?," Elsa bicara, menjawab ucapan Mawangsa degan cepat


"Aku tidak tahu itu, tapi bukankah kamu membelinya untuk Shinta? aku akan membuat kan jus untuk Shinta." dan Mawangsa seperti nya tidak ingin memberikan mangga tersebut pada Julian.


Mendengar ucapan Mawangsa, Shinta langsung membulatkan bola matanya.


"Ya? jus?," dia terlihat bertanya dengan sedikit bergetar.


Wajah Shinta seketika berubah ekspresi nya, kata mangga membuat dia memucat, dia mana mungkin memakan mangga.


"Sayang, aku pikir."


"Aku akan bantu membuat nya untuk kak Maya dan kak Shinta." Elsa buru-buru menyela ucapan Shinta dengan cepat, meraih plastik berisi mangga dan beberapa mangga yang berceceran.


"Ta..pi..." seketika Shinta merasa lehernya tercekat mendengar ucapan Elsa.


Tidak!.


******


Catatan \= jangan bosan dengan catatan yang diri ku buat Mak, kasih kisah lain yang mungkin kalian sukai.


SUAMI KONTRAK NONA CRAZY RICH.



******


"Menikahlah denganku dan aku akan membayar mahal atas semuanya" Begitu suara datar tersebut menyeruak masuk kedalam Indra pendengaran nya, laki-laki tersebut terlihat terkejut dan ternganga menatap gadis cantik dengan penampilan luar biasa dalam balutan blazer Korea yang harganya dia tebak ratusan juta.


Sapuan make up tipis yang menghiasi wajah cantik tersebut semakin menambah kesan glamor atas gadis yang duduk dihadapan nya tersebut.


Mereka duduk disebuah restoran mewah yang makanannya jika dibayar bisa menggerus gaji nya selama hampir 1 tahun, tarif yang diberikan untuk sepiring makanan di atas piring berkelas yang isi nya cuma sedikit potongan daging wagyu dengan kualitas superior tidak kurang dari 15 juta yang di akhiri dengan pleting sempurna membuat dia hanya bisa menelan salivanya.


Tidak berani menyenggol nya karena dia takut jika gadis dihadapannya meminta dia membayar nya, sebab jangan kan untuk membayar makanan semahal itu, untuk membeli nasi serba sepuluh ribu dia harus berpikir dua tiga kali untuk kehidupan mereka sekeluarga, dia , adik nya dan ibu nya. Bagi nya masak dengan menu istimewa dari olahan tahu ditambah ikan asin atau sayur tumis sudah sangat luar biasa mengenyangkan perut mereka. Jauh lebih hemat ketimbang nasi serba sepuluh ribu dikali untuk makan 3 perut sekaligus.


"Nona....aku pikir anda sedang mabuk" Dia asal bicara, sebenarnya tidak tahu gadis itu apakah suka mengkonsumsi alkohol atau tidak.


Biasanya gadis kaya raya yang memiliki banyak uang apalagi seorang senior pasti suka menikmati minuman beralkohol dengan kelas tinggi seperti wine atau apapun itu yang tidak sengaja dia baca di novel-novel atau bahkan drama-drama percintaan yang pernah di tonton oleh adik nya atau dibawa adik nya kerumah gubuk mereka, jadi dia pikir mungkin CEO dimana dia bekerja pasti sudah terbiasa mengkonsumsi barang seperti itu.


Siapa tahu jika gadis itu mabuk dan bicara sembarangan pada dirinya saat ini, mengingat apa yang di ucapkan oleh gadis di depannya tersebut terlalu tidak masuk akal saat ini. Menawarkan pernikahan yang tiba-tiba kepada dirinya yang bukan siapa-siapa yang bahkan sangat miskin yang bekerja sebagai office boy di dalam perusahaan keluarga Hillatop dan gadis itu adalah putri dari tuan Ahem Zigaz Hillatop dan nyonya Hayat heim Azzura. Gadis tersebut pewaris dua kerajaan bisnis sekaligus, Hillatop dan Azzurra. Dan menawarkan pernikahan dengan nya dengan cara tidak masuk akal.


"Aku akan mengantar nona pulang jika nona sulit untuk membawa mobil saat ini" Ucap laki-laki tersebut lagi pada gadis dihadapannya.


Dia gugup melihat tatapan gadis dihadapannya itu.


"Aku tidak dalam keadaan bercanda, aku menawarkan pernikahan padamu antara aku dan kamu" Lagi gadis cantik di hadapannya terasa buat kembali bicara padanya.


"Aku akan memberikan banyak keuntungan dalam pernikahan ini, tidak lama hanya satu atau dua tahun berdasarkan perjanjian yang akan kita buat" Lanjut gadis tersebut lagi.


Dan demi apapun laki-laki tersebut seketika benar-benar membulatkan bola matanya, dia terhenyak dan nyaris jatuh dari tempat nya saat ini juga, lehernya terasa tercekat dan dia tampak gemetaran saat mendengar apa yang diucapkan oleh gadis yang ada dihadapan nya itu.


"Ya?" Tanya nya dengan jantung bergetar.


******


Rumah sakit xxxxxxx


Kamar kelas 3


Pinggiran kota.


Dalam langkah kaki tergesa-gesa setelah melepaskan motor butut nya di area parkiran halaman rumah sakit, laki-laki yang memiliki tubuh besar tinggi tersebut berlarian tanpa jeda memasuki area rumah sakit di hadapannya tersebut, dia terlihat tergesa-gesa, membiarkan nafas tersengal-sengal nya menemani tubuh lelah setelah bekerja membantu berbagai macam pekerjaan dari berbagai macam type manusia didalam gedung Hillatop company sore ini, setelah naik turun mengitari 27 lantai gedung Hillatop company tanpa melepaskan pakaian dinas dengan tag name dan lambang office boy di bagian dadanya, laki-laki tersebut terus bergerak memasuki ruangan rumah sakit dihadapan nya tersebut.


Bola mata Wiraditya bergerak mencari dimana kamar adik perempuan nya berada, mengabaikan apapun yang ada disekitar nya saat ini, panggilan yang dia terima membuat dia kalang kabut, mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat dan memastikan dia harus datang tepat waktu.


"Adik anda dalam kondisi kritis" Suara diseberang sana terdengar memecah pendengaran nya, kekhawatiran dan kepanikan jelàs menghantam dirinya.


"Aku mohon jangan lagi" Itu yang selalu dia katakan didalam hati nya tiap kali panggilan sama terus menghantam dirinya.


"Dokter?" Begitu tiba di ruangan di mana adiknya dirawat laki-laki tersebut langsung bertanya pada dokter laki-laki berusia hampir paruh baya yang ada di hadapannya tersebut. Dia panik dan bingung harus berkata apa, mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya cukup sia-sia.


Dia tahu keadaan adik kesayangannya tidak baik-baik saja tapi dia sering berpura-pura berkata jika adiknya baik-baik saja dan akan segera sembuh dari penyakit nya.


Dia tahu berkali-kali melewati operasi di Indonesia tidak membuahkan hasil, mereka bilang pergi ke luar negeri pasti membuahkan hasil, apalah daya BPJS tidak menanggung pengobatan hingga ke luar sana, biaya mahal yang jelas tidak masuk akal, membayar biaya BPJS bulanan cukup mencekik kantung nya, apalagi harus mencari uang tunai membiayai pengobatan adik nya hingga keluar negeri, dia pasti gila jadi kini hanya bisa berharap ada keajaiban yang tiba-tiba terjadi pada adiknya.


Saat dia mencoba untuk bicara pada dokter yang di hadapannya, laki-laki hampir paruh bayi tersebut menggelengkan kepalanya.


Tidak usah dilanjutkan pikir nya, dia tahu kondisi adiknya semakin memburuk.


"Mau melakukan nya sekali lagi?" dokter tersebut bertanya pada laki-laki dihadapan nya tersebut, menatap bola mata Wiraditya untuk beberapa waktu.


Wiraditya langsung menggelengkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan dari dokter tersebut.


"Saran ku carilah seseorang yang bisa melakukan donasi, Singapura memiliki pengobatan cukup terbaik dengan berbagai macam alat yang jauh lebih canggih, tidak perlu harus pergi ke China atau Swiss untuk melakukan nya" lanjut dokter tersebut lagi.


Wiraditya terlihat diam, dia mencoba untuk tidak lagi mengeluarkan suaranya.


Gagal jantung bawaan yang di alami adik nya selalu Berujung dengan Tindakan.  Klaim untuk penyakit jantung rata-rata relatif tinggi dengan tindakan. Dan memang, penyakit jantung rata-rata selalu berakhir dengan tindakan. Dari mulai pemasangan ring atau cincin, bypass, pemasangan katup dan lainnya. Selalu berujung tindakan atau operasi, tak bisa hanya dengan pemberian obat. Penyakit jantung memerlukan tindakan baik tindakan bedah dan nonbedah. Itulah mengapa penyakit tersebut disebut sakit kelas tinggi dengan biaya selangit.


Pasien Harus Rawat Inap Bolak-balik, frekuensinya bahkan bisa bolak-balik 1 bulan minimal 2 kali. Bisa dibayangkan jika 1 bulan 2 kali bolak-balik, lalu dirawat inap 5 hari. Atau bolak-balik lebih dari 3 kali berulang, tentu itu menambah berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan oleh Wiraditya.


Mengandalkan pengobatan melalui BPJS sungguh tidak bisa diharapkan, dia berharap bisa pergi berobat keluar negeri karena katanya lebih akurat, tapi apalah daya BPJS tidak menanggung pengobatan keluar negeri, dia hanya bisa berkhayal dan berharap mendapatkan rejeki durian runtuh yang jatuh tiba-tiba.


Mendengar apa yang diucapkan oleh sang dokter membuat laki-laki itu diam untuk beberapa waktu, dia memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya dan membalikkan tubuhnya dengan perlahan sembari bergerak menuju ke arah kamar di mana adiknya dirawat saat ini.


Dia tidak memiliki kekuatan untuk bicara selain rasa putus asa yang begitu besar menghantam dirinya karena adiknya, juga ditambah kekhawatiran akan kesehatan ibunya yang semakin lama juga ikut semakin menurun, di tambah lagi hutang yang menumpuk dulu sebelum dia mendapatkan pekerjaan yang layak di perusahaan Hillatop company, dia tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan adiknya, masih belum paham soal BPJS hingga membuat dia menempuh jalur nekat meminjam uang kesana-kemari dengan jaminan rumah gubuk tidak bernilai fantastis, hanya tanah peninggalan ayah nya saja yang mungkin memiliki harga.


Dia benar-benar berada pada zona merah yang membuat kepalanya saat ini nyaris pecah.

__ADS_1


"Kapan ingin mencicil hutang-hutang mu?"


"Jika dalam akhir bulan tidak kunjung dilunasi, maafkan kami jika kami terpaksa mengusir kalian pergi dari sana"


"Kami juga membutuhkan uang nya"


Kepala Wiraditya serasa ingin pecah, dia masuk ke kamar dimana adiknya berada, memilih menutup pintu secara perlahan, menatap tubuh ringkih yang berbaring tidak berdaya diatas kasur rumah sakit kelas paling bawah tesebut yang bercampur dengan beberapa pasien lainnya.


"Menikah dengan ku dan buat kesepakatan bersama, aku akan membayar mahal diri mu juga akan memastikan seluruh keluarga mu hidup terjamin hingga hari tua"


Tiba-tiba saja tawaran dari atasan nya terngiang-ngiang dikepalanya.


"Hanya satu hingga dua tahun saja, tidak lebih. aku butuh status pernikahan untuk membuat seluruh keluarga ku tidak mempertanyakan soal kehidupan pribadi ku lagi, aku akan membiayai pengobatan adik mu, ibu mu hingga ke luar negeri dan membayar seluruh hutang-hutang yang melilit disepanjang leher mu, Wiraditya" Lagi tawaran tersebut menggema dibalik telinga nya.


Menerima nya atau bertahan seperti ini?. Nyata nya menerima tawaran gadis tersebut seolah-olah meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki, tapi apakah dia memiliki alasan untuk menolak apa yang ditawarkan oleh gadis tersebut? dia membutuhkan seluruh imbalan yang ditawarkan oleh Queen Wilhelmina untuk keadaan nya yang terdesak saat ini.


******


Wiraditya menatap langit yang masih gelap, berdiri di depan rumah sederhana berdinding bata yang belum di olesi lapisan plaster didepan nya, bagian lantai belum beralaskan keramik,masih lapisan semen kasar yang dibeberapa bagiannya mulai terlihat berlubang, atap seng yang bocor dibeberapa tempat dengan warna karat tampak menyembul dibeberapa tempat. Dia tidak harus malu tinggal ditempat seperti itu, karena ini adalah kehidupan nya, sejak kecil bahkan sebelum dilahirkan dia sudah hidup disana, terlalu jauh dari kata mewah.


Krieeetttttt.


Suara pintu dibuka terdengar dari dalam, sang ibu menyembulkan kepala dan tubuh nya, berjalan tergopoh-gopoh di usia yang hampir setengah baya, wajah pucat dengan tubuh tidak terlalu gemuk bergerak membawa sekotak nasi dan sebotol air minum untuk dua bawa.


"Pulang nya jangan terlalu malam" Ibu nya berpesan dengan cepat, menyerahkan kotak nasi dan botol minum ke tangan putranya.


"Ada acara di tetangga belakang, tidak enak kalau kita tidak datang, lumanyan bisa makan gratis disana" Ucap ibu nya lagi cepat.


Biasanya kalau ada acara hajatan dan lain sebagainya para tetangga akan datang untuk ikut merayakan termasuk mereka, sudah tidak aneh lagi orang susah seperti mereka membawa amplop dengan uang seadanya dan makan mengenyangkan perut untuk mereka bertiga dengan gulai mewah menurut mereka. Ayam menjadi menu paling mewah dalam kehidupan mereka, jika tidak ada hajatan beli makanan seperti itu harus pikir-pikir dua tiga kali, mungkin dalam 3 bulan merogoh kantong pribadi membeli barang mewah sekelas ayam, ikan apalagi udang dan cumi tidak akan mereka lakukan.


tahu, tempe, bayam atau sayuran paling murah yang bisa dibagi dan dibeli dengan uang paling minim adalah makanan terbaik mereka, telur menjadi menu spesial di akhir Minggu untuk mereka dan itu akan terjadi sesekali saja. Biasanya yang paling membuat bahagia jika Wiraditya membawa jatah nasi kotak dari perusahaan setelah acara rapat akan menjadi hari paling bahagia sedunia, itu menjadi rejeki tidak terhingga untuk mereka karena laki-laki tersebut akan membawa 2 kotak nasi sekaligus untuk dibagi bertiga.


Wiraditya harus hemat karena dia satu-satunya tulang punggung yang berkerja, adiknya sakit-sakitan, ibunya tidak baik-baik saja dengan kesehatan yang terus menurun drastis. Gaji tidak lebih dari 2 juta harus bisa di gunakan dengan baik dan benar di tengah kehidupan kota besar. Minyak motor, berbagai kebutuhan dapur dan kamar mandi, listrik, potongan BPJS, biaya tidak terduga lainnya juga cicilan hutang. Untung nya Wiraditya bukan type laki-laki perokok, dia tidak pernah mencicipi barang satu itu sejak dulu hingga kini, cukup tahu diri dengan kehidupan nya, meskipun dulu saat sekolah sambil berjuang mencari uang, teman-teman selalu berkata.


"laki-laki Cemen, yang perokok itu laki-laki hebat dan mampu melakukan segalanya" Banyak teman-teman mencoba menjadi provokator dalam hidup nya.


Tapi Alhamdulillah Wiraditya sama sekali tidak tergiur atau tersinggung dengan ucapan mereka.


"Aku tidak bisa membakar uang ku demi kepuasan ku dan mengabaikan ibu juga adik-adik ku" Jawabannya begitu sederhana, melebarkan senyumannya sambil berusaha menghela pelan nafas nya.


Ada banyak perut yang harus dia isi tanpa harus mementingkan egonya sendiri.


"InsyaAllah, Abang bakal pulang dengan cepat" Jawab Wiraditya, menerima kotak makanan dari tangan ibunya, memasukkan nya ke dalam tas butut yang sudah dijahit berkali-kali dengan tangan, sebenarnya sudah sangat tidak layak digunakan seharusnya sudah harus diganti tapi dia tidak berani menggunakan sembarangan uang nya, takut kebutuhan lain jauh lebih penting daripada membeli tas yang harganya di atas 35 ribuan. Laki-laki tersebut menyalami ibu nya dan bergegas pergi dari sana.


Sang ibu hanya menatap punggung anak laki-laki nya tersebut, dengan bola mata berkaca-kaca membiarkan Wiraditya berlalu dari hadapan nya. Nyatanya dia selalu kasihan membebankan banyak hal pada putranya tersebut sejak Wiraditya SMP dan dia mulai kesulitan mencari uang, namun apalah daya dia tidak memikirkan kemampuan untuk membantu banyak putra nya dibalik tubuh ringkih yang terus sakit-sakitan nya. Hanya saja dalam setiap sujud malamnya dia selalu memanjatkan doa, berharap kesusksesan menghampiri Wiraditya.


"InsyaAllah kamu akan sukses nak, hidup dalam kemewahan juga kebahagiaan yang di ridhoi Allah, memiliki istri yang baik dan juga Solehah " Barisan doa nya terus menggema di sepertiga malam untuk putra nya.


Dan nyatanya doa seorang ibu adalah doa yang selalu dinanti anak-anaknya dan doa yang mujarab. Hal ini karena seorang ibu memiliki banyak keutamaan yang tentunya Allah mengangkat derajat tinggi seorang ibu yang telah berjuang keras dan berjihad untuk membesarkan anak-anaknya dengan ilmu dan kasih sayang. Doa ibu adalah pemberian yang sangat berharga untuk seorang anak dan digolongkan sebagai doa yang paling mustajab. Bahkan, para ulama mengatakan hanya doa ibu yang dapat menembus bumi dan langit.


Rasulullah SAW bersabda yang artinya:


“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang terdzalimi.” (HR. Abu Dawud)


Wanita itu perlahan membalikkan tubuhnya, membiarkan suara deru motor Vespa milik suaminya mulai menghilang di telan angin dibawa oleh putranya.


*****


HILLATOP COMPANY.


"Wi...bantu fotocopy kan ini..."


"Dit bantu antara kan berkas ini ke...."


"Bang bantu buatkan kopi...."


"Aduhhh mas ini salah, coba ulangi lagi"


"Mas belikan nasi..... minumannya...."


"Pakai grab kenapa sih?"


"Kan ada Wira..."


"Kan dia punya pekerjaan lain?"


Itu barisan perintah yang di berikan pada Wiraditya dalam tiap waktu nya, dia patuh dan tidak membantah nya sama sekali, membiarkan beberapa orang terkadang berdebat dalam perbedaan karena memberikan dia perintah di luar pemikiran nya.


Laki-laki tersebut pada akhirnya diam mematung, menatap seluruh orang-orang di ruangan yang ada dihadapan nya, jika saja dia bukan lulusan SMA, mungkin di salah satu meja itu dia duduk saat ini, bekerja dengan sepenuh hati, fokus bekerja bersama orang-orang yang berpakaian rapi dengan deadline padat juga gaji yang cukup memuaskan. Nyatanya dia tidak mungkin ada dibarisan sana, khayalan nya terlalu tinggi.


"Bersihkan ruangan rapat, hari ini ada rapat dadakan yang akan dilakukan Queen W" Suara seseorang mengejutkan dirinya, seorang perempuan berusia sekitar 35 tahunan lebih bicara, sedikit berbisik dibalik telinga Wiraditya, membuat laki-laki tersebut terkejut dibuatnya.


Dia berbalik, mencoba menggeser posisi, menundukkan kepalanya dengan cepat saat sadar siapa yang kini berdiri disampingnya.


Arlina, Perempuan tersebut merupakan Chief Financial Officer (CFO), dia menyebut nama CEO Hillatop dengan panggilan Queen W yang berarti Queen Wilhelmina. Di perusahaan mereka menyebut penerus kejayaan Hillatop tersebut dengan panggilan Queen W, yang berarti Ratu dengan simbol W Wilhelmina nya. Ratu di atas ratu karena gadis penerus Hillatop memiliki sifat yang sedikit dingin juga datar, sulit di ajak bicara oleh siapapun dan sekalinya tidak menyukai seseorang gadis tersebut tanpa banyak bicara akan memecat orang tersebut tanpa berpikir dua tiga kali.


Desas-desus berkata sifatnya dulu tidak separah itu, tapi setelah pembatalan pernikahan atas pengkhianatan dari tunangan nya, gadis tersebut berubah semakin mengerikan, apalagi terhadap kaum laki-laki, dia begitu membenci nya.


"Pukul 2.30 rapat diadakan" Lanjut Perempuan tersebut lagi.


Arlina, perempuan dihadapannya itu merupakan Chief Financial Officer atau yang biasa dikenal CFO adalah orang yang mengepalai semua divisi yang berkaitan dengan finansial di sebuah perusahaan. Tugas CFO umumnya mengawasi finansial perusahaan. Tugas CFO meliputi mengembangkan rencana budget tahunan perusahaan, kepatuhan finansial perusahaan, perencanaan finansial perusahaan dalam jangka panjang, analisis risiko, serta menangani status finansial perusahaan secara keseluruhan.


Sebenarnya perempuan dihadapan nya itu sudah memiliki suami yang bekerja di tempat yang berbeda, nyatanya meskipun memiliki segalanya kehidupan orang-orang kaya membuat Wiraditya sedikit meremang dibuatnya, mereka pasangan yang berkecukupan dan memiliki apapun yang mereka inginkan, tapi suaminya berselingkuh dan membuat perempuan dihadapan nya tersebut ikut melakukan hal yang sama, dan yang paling mengerikan perempuan tersebut berkali-kali mencoba menggoda nya. Itu membuat Wiraditya sedikit jijik dibuatnya.


"Baik nona" Dia menundukkan kepalanya, mencoba membuat posisi paling tepat untuk menghindari Perempuan dihadapan nya.


"Jangan terlalu lama, Queen W akan datang dalam 20 menit" Perintah perempuan itu lagi, menatap Wiraditya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Wiraditya, Laki-laki miskin yang memiliki ketampanan paripurna, dia begitu sempurna dengan kulit putih dan tubuh besar tinggi nya, katakan siapa yang tidak menyukai nya, para laki-laki di perusahaan acapkali merasa iri dengan ketampanan nya, karena itu sering memberikan perintah tidak masuk akal karena geram melihat para perempuan menginginkan nya, beberapa pegawai sering mencuri pandang atau ada yang terang-terangan menyukainya, nyatanya tidak membuat Wiraditya merasa harus jadi laki-laki playboy yang mau mempermainkan perasaan perempuan atau memanfaatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan uang dari ketampanan atau tubuh nya.


Tidak heran jika Arlina begitu tergila-gila padanya.


"Hati-hati dengan perempuan itu, dia suka bermain licik untuk mendapat kan mangsanya" Satu suara berbisik kembali dibalik telinga nya setelah Arlina bergerak menjauhi nya.


Wiraditya tidak terkejut, tahu siapa yang baru saja bicara, itu pak Ram, laki-laki keturunan Pakistan-arab tersebut bicara dengan cepat, menepuk-nepuk punggung Wiraditya agar hati-hati dengan Arlina.


"Zulaikha suka menggoda Yusuf, kau tahu nak? tidak memupus kemungkinan dia menjebak mu untuk menikahi nya" Kata-kata pak Ram membuat Wiraditya sedikit meremang.


"Hahaha ini bukan jaman nabi Yusuf pak, InsyaAllah Bu Arlina tidak sepicik itu " Dia terlalu polos, mempercayai siapapun yang ada disekitar nya tanpa pernah sadar banyak yang memanfaatkan nya.


"Bapak cuma mengingatkan saja" Ucap laki-laki tersebut lagi, dia mengembangkan senyumannya kemudian melanjutkan ucapannya.


"Bergegas bereskan ruang rapat, ibu sebentar lagi tiba, dia paling tidak suka meja nya kotor, ah jangan lupa dia suka aroma kesturi, berikan itu di sekitar ruangan, dia pasti menyukai nya, nak" Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian sambil bergerak berlalu dari hadapan Wiraditya.


"Yes sir" Laki-laki itu menjawab penuh kepatuhan dan semangat, kata sir dirasa keren untuk pak Ram dan dia suka memanggil laki-laki bijaksana dan baik hati itu dengan julukan sir, laki-laki tersebut sering memprioritaskan dirinya untuk beberapa hal, bahkan sering membawa nya kemana-mana sepulang bekerja untuk memperlihatkan dia pada dunia baru yang tidak pernah Wiraditya lihat sebelumnya.

__ADS_1


Dia menundukkan kepalanya dengan senang kearah laki-laki paruh baya lebih tersebut yang kini bergerak menjauhi dirinya, Wiraditya bergegas berbalik dari tempat tersebut menuju ke meja ruang rapat.


Mana dia tahu, Arlina si Zulaikha tengah membuat rencana untuk menjatuhkan nya di atas kekuasaan dan juga dibawah kungkungan nya dalam waktu dekat.


__ADS_2