
Elsa jelas Langsung menoleh ke asal suara ketika dia mendengar satu teriakan menggelegar di sisi kirinya, seketika seulas senyuman penuh kebahagiaan diiringi bola mata yang berkaca-kaca terlihat dari balik wajah Elsa.
"kakak..."
Dia buru-buru berlarian mendekati Maya yang berjalan mendekati semua orang, bayangkan bagaimana perasaan Elsa, ketika harapan nya mulai pupus rupanya Maya tiba-tiba menjadi Dewi penyelamat untuk dirinya.
Dia seolah-olah ingat kelakuan buruknya pada Maya di masa lalu dan hal tersebut seketika membuatnya malu, dia pikir seandainya saja dia jauh lebih baik di masa itu mungkin Maya tidak akan kesepian dan...
Ah... Elsa menggelengkan kepalanya perlahan.
Dia buru-buru memeluk Maya dengan penuh kebahagiaan, bercampur sedikit penyesalan.
satu-satunya yang memang peduli pada nya di masa lalu hingga kini benar memang Maya, bukan kakak nya Mawangsa atau bahkan ibu nya. Lalu kenapa dia sangat tidak berakhlak di masa lalu?!.
"Terimakasih banyak karena kakak menyempatkan waktu dan mau datang kemari, kak"
Ucap Elsa cepat.
"Sogokan yang kamu berikan membuat ku tidak bisa tidak untuk datang kemari"
Maya bicara sambil pura-pura menampilkan ekspresi wajah terpaksa tapi Elsa tahu betul Maya memiliki sifat yang begitu peduli dengan orang lain Karena itu dia masih memeluk Maya dan enggan melepaskan nya.
"Sayang kau membuat ku tidak bisa bernafas"
ucap Maya cepat ke arah Elsa.
gadis tersebut jelas terharu mendengar Maya menyebutnya dengan kata sayang dia terlihat mengulum senyumannya sembari buru-buru langsung melepaskan pelukannya.
begitu pelukan terlepas Maya langsung menoleh ke arah sekitarnya, dia baru sadar jika Elsa mengikuti pelatihan basket saat ini.
__ADS_1
bola matanya menurut sekarang semua orang bisa dilihat beberapa teman Elsa yang mungkin sebenarnya bukan temannya meratap tidak suka ke arah garis tersebut sembari sedikit mencibir belum lagi pandangan orang tua para teman di sekolahnya ya kelihatan kurang bersahabat.
Maya tanpa cuek dengan keadaan tersebut dia buru-buru menoleh para seorang laki-laki yang ternyata adalah sang pelatih tim basket tersebut.
"Anda adalah wali dari Elsa?"
pelatih laki-laki itu bertanya pada Maya dengan cepat.
Maya jelas langsung menundukkan kepalanya dan berkata dia adalah wali Elsa.
"Ya anda benar, pak"
"itu bagus dengan begitu aku akan menjelaskan, kita akan mencoba dalam tiga ronde permainan, jika Elsa bisa memenangkan dua ronde dalam tiga roda permainan maka kita akan pastikan untuk memasukkan Elsa ke dalam tim dan pergi ikut berlomba bersama dengan yang lainnya."
"baiklah aku akan melihatnya dan akan terus mensuport adikku untuk hal tersebut"
mendengarkan ucapan perempuan tersebut jelas saja membuat Elsa sedikit kehilangan kata-katanya.
Pada akhirnya Elsa dan beberapa orang teman sekolah nya mulai bergerak untuk melewati prosesi pertandingan basket dalam tiga ronde sesuai dengan apa yang diucapkan oleh pelatih.
Maya memilih menepi berdiri di bagian barisan kursi para penonton, bisa jaringan para orang tua dari murid-murid yang ikut bertanding tanpa melirik ke arahnya sembari menatapnya dengan tatapan yang kurang bersahabat.
selama pertandingan berlangsung dia bisa mendengar dan juga bisik-bisik tetangga yang dilontarkan oleh para orang tua di mana mereka mengatakan soal Elsa.
beberapa berkata Elsa terlihat arogan dan juga kurang sopan terhadap orang lain, beberapa berkata Elsa hanyalah anak yang sok cari perhatian dan juga sebenarnya tidak pintar namun terlalu pandai merayu para gurunya.
awalnya mungkin Maya hanya diam dan mendengarkan,tapi entahlah Maya tidak tahu kenapa omongan demi omongan tersebut lama-lama malah membuatnya sedikit tidak suka.
Hingga pada akhirnya gadis tersebut membalas ucapan para orang tua ketika mereka berkata Elsa sebenarnya tidak punya kemampuan untuk memenangkan pertandingan bahkan bersaing dengan anak-anak mereka.
__ADS_1
"bukankah jadi orang tua yang lebih baik itu tidak banyak bicara? aku percaya sifat seorang anak mencerminkan bagaimana orang tuanya begitu juga dengan anak kalian"
Ucap Maya sambil melirik satu persatu ke arah orang-orang yang ada di sisi kirinya tersebut.
"ketika seseorang meremehkan orang lain mereka lupa jika kemampuan seseorang diberikan oleh Tuhan, jangan terlalu sombong karena ketika Tuhan murka dan tidak menyukainya kita akan jatuh tanpa sisa"
nada yang diucapkan oleh Maya jelas terlihat begitu datar dan dingin, tatapannya cukup membunuh orang-orang yang ada di sekitarnya.
mendengar ucapan gadis yang ada di samping mereka seperti kamu membuat para ibu-ibu tersebut sedikit kesal dan jengkel dibuatnya.
"Kau..."
"aku bukan tipe seorang pendebat tetapi ketika seseorang benar-benar ingin mengajakku berdebat aku bisa melakukannya dan meladeninya hingga akhir"
"Kenapa kau tidak sopan sekali?"
Salah satu dari mereka terlihat marah sambil meninggikan suaranya.
"siapa yang sebenarnya lebih tidak sopan? bicara soal anak orang lain tepat dihadapan wali nya atau menjawab ucapan manusia tidak berkelas seperti kalian karena merendah kan orang lain? bahkan seekor anjing pun tahu cara menghargai anjing lainnya meskipun dia tidak memiliki akal pikiran seperti manusia, bagaimana kalian yang manusia malah tidak berakal seperti anjing?"
Maya sebenarnya tidak ingin mengucapkan hal tersebut, tapi sepertinya dia harus mengucapkan hal itu karena rasa marahnya yang luar biasa saat ini.
bayangkan bagaimana ekspresi para ibu-ibu yang ada di samping Maya, mereka ingin menjawab tapi seolah-olah kehilangan kata-kata untuk menjawab ucapan Maya.
"kau..."
"Benar-benar.."
Masing-masing dari mereka mengeratkan rahang mereka.
__ADS_1