Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Terus membantu nya


__ADS_3

Mawangsa jelas terkejut mendengar percakapan di seberang sana antara ayah Shinta tuan Hertanto dan Maya, dia memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu sembari menatap handphone nya yang terus menyala di atas meja.


"Bagaimana cara aku menghadapi nya?"


Bisa dia dengar suara Maya diseberang sana, dia sengaja menyalakan load speaker milik nya, mendengar kan pertanyaan Maya kepada dirinya.


"Ancaman nya jelas tidak main-main, dia pernah menggagalkan proyek kerjasama ku di masa Kemarin, jadi kali ini ancaman nya jelas tidak main-main"


Lagi Maya bicara, bertanya dengan sungguh-sungguh pada Mawangsa yang dia kira bebek tersebut.


"Ini membuat ku cukup cemas"


Dan saat Maya bicara begitu pada bebek nya dia pikir kenapa dia jadi curhat panjang lebar dengan laki-laki yang baru dia kenal belum lama, hanya karena kejadian malam itu seolah-olah merasa begitu akrab, belum lagi Ingat ketika bebek membantu nya dengan direktur Accord untuk mendapatkan kontrak kerja sama mereka membuat Maya tidak enak karena malu atas bantuan besar bebek.


"Maaf seharusnya aku tidak terlalu banyak merepotkan kamu, biar aku bicara dengan rekan bisnis dan teman baik ku"


.


Maya pada akhirnya kembali bicara, dia pikir sebaik nya dia bertanya pada Julian atau Dave saja bukan pada bebek.


Dan siapa sangka saat Maya berkata begitu, membuat Mawangsa jadi mengeram kesal, mendengar Maya berkata soal rekan bisnis dan teman baik, dia pikir itu pasti kekasih baru Maya.


Kau meminta bantuan laki-laki lain? dasar!.


Mawangsa mengumpat didalam hati nya.


"Aku akan membantu memberikan solusi, jangan terlalu banyak bicara dengan orang-orang disekitar yang belum tentu bisa di percaya"


Dan Mawangsa berkata dengan cepat, tidak suka jika Maya berhubungan dengan laki-laki manapun yang ada di sekitar gadis tersebut.


Tidak dipercaya?!.


Diseberang sana Maya terlihat berpikir.


Dia pikir Julian dan Dave cukup bisa di percaya, mereka orang-orang yang ada dibelakang diri nya dan terus mendukung nya selama ini.


"Aku akan memberikan solusi terbaik"


Dan Mendengar ucapan bebek Maya jelas saja terkejut, sangat bahagia mendengar apa yang di ucapkan oleh bebek.


"Benarkah? katakan pada ku bagaimana?"


Dia bertanya dengan antusias.


"Coba bekerja sama dengan departemen xxxxxxx, biarkan mereka membangun disana, dengan begitu saat kamu ingin membangun perusahaan di samping departemen, itu akan cukup memudahkan perusahaan kamu di bawah perlindungan mereka hingga tidak membuat umbrella company berani masuk untuk mengacaukan segalanya"


Ucap Mawangsa kemudian.

__ADS_1


Dan saat gadis tersebut mendengar ucapan Mawangsa, dia seketika diam dan berpikir.


Benar juga, perusahaan lainnya jelas akan kesulitan jika berurusan dengan departemen pemerintahan, untuk macam-macam mereka jelas kesulitan, maka tuan Hertanto pasti tidak berani untuk berbuat macam-macam dan menghentikan keinginan Maya membuat perusahaan di tanah nya.


"Selain itu, bekerjasama dengan departemen pasti cukup menguntungkan mereka pasti akan membantu dana tambahan untuk pembangunan perusahaan nanti nya"


Lanjut Mawangsa lagi kemudian.


"Cukup memberikan lahan sewa secara cuma-cuma beberapa tahun, kamu akan mendapatkan banyak keuntungan"


Ucap Mawangsa lagi kemudian.


dan saran bebek benar-benar cukup mengejutkan Maya, dia pikir bebek benar-benar pintar dalam memberikan solusi dan jalan keluar untuk persoalan nya.


"Itu benar juga, jika setengah tanah berada di bawah naungan pemerintah mereka pasti mampu membantu kami untuk mendirikan perusahaan, bisa saling menguntungkan antara satu dengan yang lainnya dimana kami juga pasti mudah untuk mendapatkan berbagai macam akses pembangunan juga tambahan dana"


Dan Maya jelas langsung paham dengan berbagai macam keuntungan yang akan didapatkan dalam kerjasama dengan pihak pemerintah.


Dia langsung berterima kasih dengan saran bebek.


"Aku benar-benar bahagia memiliki teman seperti kamu, bagaimana cara membalas kamu? ini benar-benar luar biasa"


Maya memuji dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.


"Jangan sungkan, jika kamu masih membutuhkan bantuan ku, kamu bisa kembali menghubungi aku"


Ucap Mawangsa cepat.


Maya masih ingin bicara tapi nyata nya bebek benar-benar memutus obrolan mereka, dia pikir laki-laki selalu saja tidak terduga.


Dia menghela nafas nya, menyingkir kan handphone nya dengan cepat. Dan di beberapa detik berikutnya tiba-tiba saja pintu depan ruang kerjanya terbuka. Julian masuk ke dalam ruang kerjanya dengan kondisi tergesa-gesa, terlihat khawatir menatap kearah dirinya.


"Aku dengar Hertanto kemari? laki-laki tersebut pasti sudah gila"


Julian mendengar laki-laki tua itu berkunjung ke perusahaan Maya jelas saja dia terkejut mendengar nya, dia cemas dan takut sesuatu yang buruk terjadi dan ayah Shinta berlaku macam-macam pada Maya.


"Dia datang dan menginginkan tanah yang diberikan Mawangsa"


Gadis tersebut menjawab, terlihat begitu tenang dan santai.


"Hanya sedikit mengancam, berkata akan menggagalkan rencana ku untuk membangun perusahaan jika tidak menjual tanah kepada dirinya"


Dan itu jelas mengejutkan Julian.


"Bajingan itu"


laki-laki tersebut mengeram kesal.

__ADS_1


"Lalu bagaimana selanjutnya?"


Dia menatap Maya, bertanya dalam pemikiran gelisah nya.


"Jangan khawatir soal apapun, aku sudah mendapatkan solusi nya"


Dan saat mendengar apa yang diucapkan Maya membuat Julian mengerut kan Kening nya.


*****


Di sisi Mawangsa.


Dia menatap handphone nya untuk beberapa waktu saat dia telah mematikan handphone nya tersebut, dan tanpa sadar seseorang berkata di hadapannya.


"Kau saling berhubungan dengan Maya?"


Seketika Mawangsa terkejut, mendongakkan kepalanya saat mendengar suara dihadapan nya.


"Heru?"


Dia mengerut kan keningnya.


"Kau kapan datang?"


Heru bertanya sambil menaikkan ujung alisnya dan percayalah tanpa sengaja Heru mendengar percakapan Mawangsa dengan Maya, melirik ke layar handphone Mawangsa yang masih menyala


"Maya? kau berhubungan dengan nya di handphone?"


Laki-laki tersebut bertanya penasaran.


Alih-alih menjawab pertanyaan Heru, Mawangsa berkata.


"Bantu aku mempermudah urusan Maya kedepan nya"


Dan percaya lah Heru seketika menaikkan Kembali ujung alisnya.


"Kau masih mencintai nya?"


Dia pikir Mawangsa benar-benar terlalu berlebihan saat ini.


Dan mendengar ucapan Heru jelas saja membuat Mawangsa mengelak.


"Kau jangan membual"


dia mengelak.


"Kau terlalu jauh berpikir"

__ADS_1


Lanjut Mawangsa lagi kemudian.


Heru jelas saja mendengus mendengar apa yang di ucapkan oleh Mawangsa.


__ADS_2