
Kediaman utama Keluarga Hertanto.
Nyonya Dina terlihat sangat marah setelah menutup panggilan dari seseorang di seberang sana yang tidak lain Mawangsa, bola matanya terlihat sedikit memerah dimana wanita tersebut tampak mengeratkan rahangnya untuk beberapa waktu.
"Kenapa kau selalu saja bergerak melampaui batasan?," dia bergumam tapi sambil mengeram.
Wanita tersebut bergerak dengan cepat keluar dari kamarnya menuju ke arah lantai atas di mana Shinta berada. Dia tahu putrinya ada di kamarnya dan wanita tersebut tidak bisa menahan kemarahannya saat ini.
Begitu tiba di depan kamar Shinta, nyonya Dina langsung membuka pintu kamar tersebut dengan cepat, bisa dilihat putrinya tengah berbaring di atas kasur saat ini sembari bersantai memainkan handphonenya.
Mendengar pintu kamarnya dibuka dengan sedikit keras membuat Shinta langsung menoleh dan baru sadar jika itu adalah ibunya.
"Ibu?," Shinta membenahi posisi dari berbaring menjadi duduk, dia menatap wanita tersebut sembari bertanya.
"Ada apa, Bu?," pertanyaannya sedikit menggantung sembari dia meletakkan handphonenya saat ini. Shinta masih bisa mengembangkan senyumannya sembari menatap ke arah ibunya tersebut.
Tapi hal terduga tidak terjadi karena tiba-tiba saja nyonya Dina n langsung bergerak dengan cepat mendekati perempuan tersebut dan dipetik berikutnya Allah tidak terduga terjadi.
plakkkkkkkk.
sebuah tamparan mendarat di pipi kanan perempuan tersebut hingga membuat Shinta langsung terbelalak kaget dan dia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang ibunya.
"Ibu?," dia bicara sembari membiarkan telapak tangan kanannya menyentuh pipinya tersebut, nada suaranya jelas bergetar, bola matanya terlihat berkaca-kaca dan rasa nyeri di pipinya membuat dia merasa mengeluarkan air matanya saat ini juga.
"apa kau gila hingga membuat sebuah perihal baru dan mencoba untuk mencelakai orang lain karena ambisimu?," wanita paruh baya tersebut bicara dengan nada yang cukup tinggi kemarahan jelas saja terlihat di balik wajah tersebut.
"aku mendidikmu hingga sebesar ini tidak mengajarkanmu untuk berbuat jahat melampaui batasan, Kau harus tahu bagaimana cara bermain dengan baik tapi bukan berarti harus mencelakai orang lain, Shinta." lanjut wanita itu lagi kemudian.
__ADS_1
"Apa kau gila?," lanjut wanita tersebut lagi kemudian masih dengan nada suara yang cukup tinggi bicara membentak ke arah putrinya.
Begitu nyonya Dina berkata seperti itu seketika membuat Shinta langsung menyadari tentang kemarahan ibunya saat ini, ini pasti karena ulahnya hampir mencelakai Maya kemudian dia membayar seseorang untuk merampas bukti yang ada dari Maya atas seluruh kejahatannya.
"Ibu aku-," Shinta bicara dengan nada gemetaran di mana bola matanya terlihat berkaca-kaca, ini untuk pertama kalinya dia melihat ibunya begitu marah kepada dirinya dan bicara dengannya dalam nada yang begitu tinggi dan dalam seumur hidupnya ini kali pertama dia telah tampar oleh wanita di hadapannya tersebut.
Ibu nya tidak pernah berlaku begitu buruk pada dirinya dan selalu memanjatkan dirinya selama ini, jadi begitu mendapatkan tamparan dari wanita tersebut seketika membuat Shinta gemetaran, sedih, kecewa dan marah. Rasanya sungguh luar biasa saat menyadari orang yang begitu dia cintai dan hormati melempar wajahnya.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu melampaui batasan saat menyakiti seseorang meskipun sebenarnya kamu membencinya, aku juga tidak begitu menyukai Maya dan benci kepada dirinya tapi tidak pernah terpikirkan oleh ibu untuk mencelakainya atau bahkan berbuat curang sejauh itu." wanita itu terus bicara dalam nada penuh kemarahan memperingati putrinya jika tindakan Shinta jelas saja salah besar dan tidak masuk akal.
Dia memang memendam dendam besar atas ulah keluarga Maya yang menculik putri di masa lalu, tapi lihat tidak pernah memikirkan untuk mencelakai Maya atau membunuh perempuan itu, dia hanya ingin menyulitkan Maya dan membiarkan keluargamu yang tahu bagaimana rasanya jika dia menyakiti Putri mereka balik tidak lebih.
Dan perbuatan Shinta jelas saja menurut nya cukup terlalu melampaui batasannya jadi wajar saja dia langsung marah dan histeris.
"Maafkan aku ibu." kali ini Sinta mendekati wanita tersebut dan berusaha untuk meminta maaf, dia langsung menangis merasakan begitu sakit saat ditampar oleh ibunya.
"aku hilaf saat melakukannya karena aku merasa kesal dan benci pada Maya." dia bicara dengan cepat kepada wanita tersebut sembari mencoba untuk menggenggam erat telapak tangan ibunya.
"sebenarnya aku tidak memikirkan hal tersebut tapi tiba-tiba saja semua masuk ke dalam kepalaku dan membuatku cukup khilaf untuk melakukannya." lanjut perempuan itu lagi kemudian.
mendengar apa yang diucapkan oleh putrinya membuat nyonya Dina segera diam dan menatap kearah Shinta, dia tidak menjawab apa-apa namun mencoba untuk memejamkan bola matanya sejenak.
"lakukanlah sesuatu sesuai dengan kapasitas mu, Kau boleh memberinya pelajaran dan membuatnya jera, tapi tidak dengan mencoba untuk mencelakai orang lain dan membuatnya sampai harus bertaruh nyawa, Shinta." pada akhirnya wanita tersebut berkata seperti itu, dia menatap putrinya dan menyentuh kedua belah pipi Shinta.
"jika kau adalah putriku maka kau tidak akan melakukan kejahatan yang mengerikan, ibu benci saat mengetahui kau melakukan hal di luar pemikiran." lanjut nya lagi kemudian.
******
__ADS_1
Disisi lain.
Arif hanya bisa menghela nafasnya saat mendapatkan perintah dari Mawangsa, perlahan dia menutup panggilannya dan memasukkan handphonenya ke dalam kantong celananya.
pada akhirnya laki-laki tersebut buru-buru masuk ke dalam mobilnya lantas ia secara perlahan menggerakkan mobilnya tersebut menuju ke arah rumah sakit di mana Maya berada, dia harus mengawasi perempuan tersebut dan memastikan jika Maya baik-baik saja persis seperti apa yang diperintahkan oleh Mawangsa. kemudian dia ingin memastikan Apakah perempuan itu baik-baik saja mengingat bagaimana Maya tadi meringis dan mencoba untuk memegang perutnya.
dia cukup khawatir dengan keadaan perempuan tersebut tadi, berharap jika Maya baik-baik saja dan hal buruk tidak terjadi kepadanya.
begitu masuk ke area rumah sakit dengan cepat Arif langsung memarkirkan mobilnya, dia bergegas turun dari mobilnya tersebut kemudian berlari menuju ke dalam rumah sakit. bola mata laki-laki tersebut mencoba untuk mencari sosok Maya dan dia menebak-nembak ke mana perempuan itu akan memeriksakan dirinya. sembari dia terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit, kemudian dia menatap ke arah meja resepsionis dan juga beberapa penjuru arah lainnya.
cukup lama dia memperhatikan area sekitarnya dan mencari Maya, bahkan dia mendongakkan kepalanya dan mencari keberadaan perempuan tersebut di lantai atas, berharap jika matanya menangkap keberadaan Maya saat ini juga, kemudian ingin memastikan jika perempuan itu baik-baik saja.
hingga pada akhirnya bola mata nya menangkap ke arah mana Maya berada, dia melihat perempuan tersebut bergerak menuju ke arah dokter kandungan.
"Apa?," Arif jelas aja mengerutkan keningnya dan cukup terkejut saat melihat Maya masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
dia pikir apa yang dilakukan oleh perempuan itu? masuk ke tempat seperti itu jelas saja menyatakan Jika seorang perempuan tengah hamil, Arif secepat kilat berlarian mencoba untuk mengejar langkah dan memastikan bahwa apakah mungkin Maya saat ini hamil.
dia berhenti mengatakan kakinya begitu tiba di depan ruangan dokter kandungan tersebut, dan seketika laki-laki itu mencoba untuk mencari seseorang hingga pada akhirnya dia menemukan seorang perawat yang mengembangkan senyumannya kepada dirinya dan bertanya.
"Anda ingin mendaftar untuk istri anda, tuan?," sang perawat bertanya masih sambil mengembangkan senyumannya.
Arif terlihat diam untuk beberapa waktu, hingga pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya.
"Nona Maya barusan masuk ke dalam sini?," tanyanya dengan cepat pada perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
"Ahhh Apakah anda suaminya? benar Nona Maya baru saja masuk ke dalam, katanya perutnya terbentur dan dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada kandungannya." lanjut perawat tersebut lagi kemudian.
__ADS_1
Dan bayangkan bagaimana ekspresi Arif saat dia mendengar apa yang di ucapkan oleh perempuan di hadapan nya tersebut.
"Apa?," dia bertanya sambil membulatkan bola matanya.