
Maya secepat kilat menyambar berkas yang berhamburan, merebutnya dari tangan laki-laki dihadapan nya tersebut yang tidak lain adalah Mawangsa.
"Berikan pada ku, aku bisa mengurus semuanya." Maya langsung mengeluarkan ekspresi tidak suka nya pada laki-laki tersebut.
Alih-alih peduli dengan ekspresi Maya, Mawangsa malah berkata.
"Kenapa berjalan tanpa melihat kedepan? kamu begitu ceroboh belakangan." Mawangsa protes, sengaja memarahi Maya karena dia pikir Maya belakangan sangat ceroboh.
Perempuan itu selalu saja terluka karena kecerobohan nya dan terkadang hal itu membuat nya khawatir.
"Kenapa kamu harus peduli dengan kecerobohan ku?," Maya menaikkan ujung alisnya, menatap Mawangsa dengan ekspresi wajah yang mengejek.
"Aku pikir mau seceroboh apapun aku, kamu tidak lagi berhak peduli." berapa kali dia menekankan kalimat seperti itu pada Mawangsa, karena baginya setiap perhatian yang diberikan laki-laki tersebut membuatnya sakit kepala dan dia merasa ini semakin menyulitkannya karena semakin Mawangsa memperhatikan dirinya dan dekat padanya pada akhirnya hanya membuat Shinta semakin marah dan cemburu padanya dan itu jelas membahayakan Maya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Maya sedikit membuat Mawangsa tersinggung, pada akhirnya dia melirik karena berkas-berkas yang ditarik dan diambil paksa oleh Maya dari tangannya, Mawangsa mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu sakit?," saat dia menyadari berkas itu adalah berkas pemeriksaan di rumah sakit dia fikir apakah mungkin Maya sakit.
"Itu bukan lagi menjadi urusan mu, Mawangsa." Maya berusaha mengabaikan Mawangsa.
"Dan jika pun aku sakit ini bukan lagi harus jadi urusan mu atau beban mu." lanjut perempuan itu lagi kemudian.
Maya menghela kasar nafasnya, dia kemudian melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi dari hadapan laki-laki tersebut. tapi Mawangsa mencoba menghentikan langkah kaki Maya.
__ADS_1
"Maya biarkan-," Mawangsa baru saja ingin bicara namun tiba-tiba saja sebuah tangan mencekal Mawangsa, membuat laki-laki tersebut cukup terkejut.
Julian rupanya yang melakukan hal tersebut, laki-laki itu mencengkeram tangan mawangsa yang mencoba menahan tangan Maya, tatapan laki-laki itu terlihat sangat tidak suka melihat mawangsa mencoba untuk menyentuh Maya yang jelas sudah tidak lagi atau bukan lagi berstatus sebagai istrinya. Bola mata Julian menampilkan ketidaksukaan dan juga kecemburuan yang cukup besar, seolah-olah mengatakan berhenti menyulitkan Maya. Tatapan nya penuh dengan permusuhan dan mengingatkan pada Mawangsa agar laki-laki tersebut tidak lagi mendekati Maya.
Mawangsa langsung mengerutkan keningnya saat menyadari kehadiran Julian di antara mereka.
"Kenapa kamu disini dan ada bersama Maya?," Julian bertanya tidak suka.
Mawangsa yang tahu gosip tentang Julian dan Maya seketika langsung menatap balik penuh ketidaksukaan pada Julian.
"Aku hanya berusaha bertanya, seperti nya Maya tidak baik-baik saja." Mawangsa berusaha menjelaskan.
Mendengar penjelasan Mawangsa membuat Julian mendengus.
Perhatian demi perhatian juga kepedulian Mawangsa terlihat menjijika di matanya, apalagi Maya jelas sangat tidak suka atas perlakuan Mawangsa belakangan terhadap dirinya.
Mendengar apa yang diucapkan Julian seketika membuat Mawangsa terdiam, seolah-olah mendapatkan tamparan keras dia merasa cukup malu atas ucapan laki-laki tersebut. Seolah-olah lupa bagaimana status antara dirinya dan Maya saat ini, padahal di masa lalu dia memperlakukan perempuan itu dengan sangat buruk, maka dia tidak pernah menganggap hal yang sebagai istrinya. Lalu kenapa semua rasanya berubah setelah perceraian mereka, dia pikir bagaimana bisa dia memberikan perhatian dia tidak pernah melihat terima dari dirinya di masa lalu ketika mereka masih menjadi suami istri.
Laki-laki tersebut kini menoleh kearah Maya, dimana bisa dilihat Maya tampak tidak nyaman dengan perlakuan nya.
"Maafkan aku, aku kemari hanya untuk bicara soal Shinta." pada akhirnya Mawangsa berkata seperti itu.
"Dia mengidap kepribadian ganda, saat menyerang mu dia tidak sadar sama sekali dengan apa yang dilakukan nya, karena itu aku ingin kamu tidak membuat laporan penangkapan Shinta untuk saat ini, Maya." dan pada akhirnya hanya itu yang mampu Mawangsa katakan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mawangsa membuat Maya mendengus tidak percaya.
"Apa kau sedang bercanda?," Maya jelas saja tidak setuju.
Julian yang mendengar ucapan Mawangsa jelas langsung berang dan marah, tanpa ba-bi-bu laki-laki tersebut langsung bergerak dengan cepat dan.
Bugggggg.
Dia memukuli wajah Mawangsa secara tiba-tiba. Bayangkan betapa terkejutnya Maya dan Mawangsa sendiri saat ini, beberapa orang terlihat menonton mereka dan sedikit ricuh.
Mawangsa menyentuh bibirnya untuk beberapa waktu dia pikir bibirnya terluka dan berdarah.
Maya secepat kilat mendekati Julian, lucunya Maya malah memperhatikan tangan julian dan bertanya dengan panik juga khawatir.
"Apakah kamu terluka?," tanya Maya pada Julian, perempuan tersebut meraih tangan Julian dan melihat tiap sisi kepalan tangan nya.
"Apa kau bercanda?," Mawangsa bicara didalam hatinya, dia menatap marah kearah Maya tapi tidak mengekspresikan perasaan nya secara langsung.
siapa yang dipukul, siapa yang ditanya tidak apa-apa?.
Mawangsa meradang dan marah, jutaan kecemburuan menghantam dirinya, dia benar-benar benci dengan posisi mereka saat ini. Laki-laki tersebut mencengkeram erat telapak tangan nya dan menatap Julian dalam kecemburuan yang begitu mendalam.
Sial.
__ADS_1