Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Tidak akan mampu menandingi nya


__ADS_3

hari ini


Setelah kembali dari toko pakaian


Dina masuk kedalam rumah dengan ekspresi wajah penuh kemarahan,dia merengut dan mulai mengoceh saat melihat Elsa putri nya.


"Perempuan sialan itu mengertak Ku bersama selingkuhan nya, sungguh sialan"


Geram Dina dengan perasaan kesal ketika dia ingat kejadian tadi di toko pakaian.


"Aku benar-benar jijik dan benci pada nya"


Ucap Dina lagi sambil terus mengeram.


Suara Dina yang kencang membuat semua orang menoleh, bahkan memangsa dan Sinta yang baru saja turun dari anak tangga langsung menurunkan keningnya mendengar ocehan dan kemarahan Dina.


"Ada apa Bu?"


Mawangsa bertanya cepat, dia menatap dalam wajah ibunya tersebut untuk beberapa waktu.


Dia pikir tumben-tumben ibunya pulang-pulang marah dalam keadaan tidak jelas.


"kau tahu aku bertemu Maya dan 2 selingkuhan nya, aku bilang dia menggunakan uang mu bersama selingkuhan nya dan meminta nya agar sadar diri, tapi bukannya menurut dia malah menggertak ku"


Dina mulai bercerita dan berkeluh kesah panjang lebar, berharap Mawangsa paham dengan kedongkolan hati nya Tersebut.


Mendengar cerita ibu nya seketika membuat Mawangsa diam untuk beberapa waktu.


Shinta melirik kearah Mawangsa dan menelisik ekspresi wajah laki-laki tersebut.


Perempuan itu terlihat diam.


"Bu berhentilah membuat masalah dengan nya, kami sudah bercerai, jangan memprovokasi Maya lagi jika bertemu dengan nya"


Mawangsa terlihat sedikit marah dengan ibu nya.

__ADS_1


"Apa? Kau membela nya?"


Dina jelas mengerutkan keningnya sembari masih meninggikan suaranya, Shinta yang melihat ekspresi mawangsa berpikir reaksi laki-laki tersebut terlihat berlebihan.


"Aku tidak membela nya Bu, tapi aku harap ibu tidak lupa, kami sudah bercerai"


Kembali Mawangsa berusaha untuk mengingatkan.


Mendengar ucapan nuansa dan ekspresi putranya jelas membuat Dina tidak suka dan kesal, wanita tua itu mengumpat di dalam hatinya dengan perasaan dongkol.


Dia pikir bisa-bisanya putra nya masih membela Pela..cur tersebut.


Tapi Dina mencoba untuk menetralisir perasaannya, dia kemudian menatap Shinta untuk beberapa waktu, bisa dia lihat calon menantunya tersebut telah berpenampilan rapi dan cantik.


"Sayang kamu begitu cantik hari ini"


Puji Dina sambil mengubah ekspresi wajah kesal nya menjadi Penuh senyuman.


Shinta yang mendengar pujian tersebut terlihat tersipu-sipu malu.


Jawab nya pelan.


"kalian mau kemana?"


Dina kali ini bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Kami akan menjenguk nenek yang sakit"


Shinta kembali menjawab dengan malu-malu.


"Ah...itu bagus, kalian pergilah, Pastikan nenek benar-benar menyukai mu dan akan memberikan restu hubungan kalian"


Dina bicara cepat dengan nada antusias.


Pada akhirnya mereka bergerak pergi menuju kearah rumah nenek, meninggalkan semua orang dan fokus pada tujuan untuk membawa Shinta mengambil hati nenek.

__ADS_1


Begitu tiba di rumah nenek, mereka memberikan salam terbaik, bahkan Shinta membawa berbagai macam Kado untuk nenek tua keluarga Heri jaya Tersebut.


Ekspresi yang ditampilkan nenek jelas tidak sebaik menyambut kehadiran Maya.


Mawangsa sebenarnya tahu ini menjadi kunjungan pertama mereka, nenek jelas merasa asing dengan kehadiran Shinta karena di hati nenek hingga sejauh ini yang ada hanya Maya.


Dia tahu Shinta tidak akan mampu menandingi Maya dalam memperebutkan perhatian neneknya, sebab tidak akan ada gadis termasuk Shinta yang bisa menggeser posisi Maya di hati wanita tua tersebut.


Meskipun Shinta membawa jutaan kado sekalipun untuk mengambil hati nenek dan disiapkan khusus selama seharian kemarin, ini tidak akan membuat nenek menyukai nya.


Apalagi saat shinta membawa kado sup vitamin dari Gongseng terbaik Korea yang jelas baik untuk kesehatan wanita tua, nenek malah berkata dengan nada yang begitu dingin.


"Aku tidak pernah meminum apapun dari orang asing, hanya cucu menantu kepercayaan Maya yang berani memberikan aku minuman seperti ini"


Kalimat ini benar-benar sangat menyinggung dan menyindir Shinta.


"Nek Shinta berniat baik dan menyayangi nenek karena itu membawa hadiah untuk Nenek"


Ucap Mawangsa sambil menatap dalam wajah tua nenek nya.


"Nenek hanya Belum mengenali Shinta, dia sangat baik dan berhati mulia"


Lanjut Mawangsa lagi.


Mendengar ucapan Mawangsa, wanita tua itu kemudian menjawab.


"Baik? Perempuan baik tidak akan mendorong dan membuang perempuan lainnya agar suami mereka meninggalkan teman nya"


Ucap nenek dengan pedas.


"Bahkan dia tidak akan mungkin tega menjauh kan aku dari menantu kesayangan ku"


Lanjut Nenek lagi.


Mendengar ucapan nenek seketika membuat Mawangsa terdiam.

__ADS_1


__ADS_2