
"Dia itu terlalu gila,main basket? yang benar saja, dia pikir dia memiliki masa depan jika bermain dengan basket? seharusnya dia berpikir untuk bagaimana caranya menaikkan nilai mata pelajaran ini menjadi lebih baik sehingga setelah lulus SMA dia bisa kuliah dan mengambil jurusan yang menguntungkan untuk perusahaan," Nyonya Dina terdengar terus mengucek bicara pada masa berkata betapa kesalnya dia dengan Elsa yang memilih untuk fokus pada urusan basket ketimbang urusan sekolahnya..
Mawangsa sama sekali tidak menjawab ucapan ibunya dia lebih memilih diam dan naik menuju ke arah lantai atas mengabaikan wanita tersebut saat ini. Dia tahu bagaimana keras kepala ibunya ketika dia tidak mendukung anak-anaknya wanita itu tidak akan pernah mengubah keputusannya bahkan soal apapun itu sejak dulu hingga kini memang betul dengan sifat orang tuanya tersebut.
begitu tiba di lantai atas laki-laki itu segera bergerak menuju ke arah kamar adik perempuannya, bisa dia lihat pintu kamar Elsa tampak tertutup membuat laki-laki itu secara perlahan mencoba untuk mengetuk pintu kamar dengan gerakan hati-hati sembari dia berkata.
apa kamu ada di dalam ini aku," ucap laki-laki tersebut kepada Elsa yang ada di dalam sana.
Elsa terlihat meringkuk di sisi ranjang, dia masih dalam kondisi menangis, tidak terima atas apa yang diucapkan oleh ibunya kepada dirinya di mana wanita itu melarangnya untuk terus bermain basket dan ikut dalam kompetisi kejuaraan padahal basket adalah dunianya dan dia tidak bisa melepaskan basket di dalam hidupnya.
Mawangsa mencoba untuk membuka secara perlahan pintu kamar tersebut yang rupanya tidak dikunci dia mengintip dan mencoba untuk menyembulkan kepalanya sejenak. Bisa dia lihat sang adiknya meringkuk di samping ranjang, terlihat sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Laki-laki tersebut pada akhirnya bergerak masuk mendekati adiknya tersebut, dan dia mencoba untuk menjodohkan tubuhnya tepat dihadapan Elsa.
"katakan pada ku, apa yang terjadi?," laki-laki itu bertanya perlahan, menyentuh lembut puncak kepala adiknya dengan gerakan hati-hati.
Elsa secara perlahan mendengarkan kepalanya dan menetap ke arah mawangsa dengan tatapan berkaca-kaca, sisa isak tangisnya jelas terlihat dan terdengar.
"Ibu melarang ku untuk bermain basket, itu adalah duniaku dan aku mencintai apa yang menjadi hobi ku, apakah salah jika aku memilih untuk fokus pada kegiatan basket? kak aku tidak akan meninggalkan urusan sekolahku sedikitpun, asalkan aku diizinkan untuk terus bermain basket." Elsa pada akhirnya bicara sambil terus mengeluarkan air matanya, nada bicaranya terlihat bergetar dan isak tangis yang tidak mampu dia hentikan.
"aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya." Dia berharap Mawangsa mengerti jika dia sangat mencintai kegiatan basket.
Mawangsa yang melihat tangisan adiknya pecah seketika hanya mampu terdiam sembari berusaha untuk menghapus air mata gadis di hadapannya tersebut secara perlahan, kemudian laki-laki itu berkata.
"jangan menangis lagi kakak akan mencoba untuk bicara pada ibu,"
"beda mungkin dia mau mendengarkan kakak, apakah kau tidak tahu bagaimana kerasa sifat ibu bahkan saat ibu berkataan siapa yang bisa membantahnya?," Elsa jelas tidak percaya jika kakaknya mampu membujuk ibu mereka.
Buktinya saat ibu mereka mendesak Mawangsa untuk menceraikan Maya, kakak nya menuruti nya.
Mawangsa terlihat dia sembari berpikir hingga akhirnya dia berkata,
"kakak akan bicara pada nenek, percayalah nenek pasti bisa membongkar ibu dan kembali mengizinkanmu untuk bermain basket." Dia ingat satu-satunya orang yang tidak berada di bantah oleh ibu mereka adalah nenek, jadi nenek jelas kakak udah jadi senjata paling ampuh ibu mereka bungkam dan membiarkan Elsa terus bermain basket.
Mendengar kata nenek, seketika membuat gadis tersebut terdiam, dia baru ingat jika ibu mereka takut kepada nenek. Elsa langsung menghentikan tangisannya dan langsung menganggukkan kepalanya.
Mawangsa menghapus sisa air mata adiknya secara perlahan kemudian kembali berkata.
__ADS_1
"Sekarang berhentilah menangis dan tersenyum lah." Bujuk laki-laki tersebut kemudian.
Elsa langsung berusaha mengembangkan senyuman nya untuk beberapa waktu.
Mawangsa pada akhirnya berdiri dari posisi nya, dia berniat untuk pergi dari kamar tersebut dan kembali ke lantai bawah, tapi tiba-tiba fokus matanya tertuju pada sebuah surat yang dia pikir mirip dengan surat dari sahabat pena nya, Shinta dimasa lalu.
"Itu surat siapa?," dia bertanya penasaran.
Elsa yang menyadari soal surat yang dia curi dari Maya, seketika langsung mengambil dan memasukkan nya kedalam laci meja belajar.
"Ini bukan milik ku, tapi milik temanku." Dia menjawab cepat dan gugup.
Elsa tidak ingin Mawangsa berpikir yang tidak-tidak soal Maya, laki-laki tersebut akan berpikir jika Maya memiliki kekasih rahasia saat menikah dengan kakak nya, Elsa tidak mau imaje Maya menjadi rusak dihadapan kakak nya tersebut. Dia ingin Maya terlihat baik dan tidak buruk lagi dimata kakak nya.
"Kalau begitu kakak keluar lah, aku harus segera mandi sekarang juga." Elsa terus bicara, mendorong Mawangsa agar segera pergi dari sana.
Dia takut Mawangsa ingat soal surat itu dan berpikir kak Maya nya merupakan gadis yang sering berkirim surat dengan laki-laki asing.
Mawangsa agak bingung dengan perlakuan Elsa, dia pikir apakah adiknya dapat surat cinta dari seorang laki-laki? karena itu terlihat malu-malu? dia mengulumkan senyumannya, langsung mengikuti perintah Elsa dan keluar dari kamar tersebut.
Hingga pada akhirnya bisa dia dengar jawaban dari seberang sana.
"Kak?," Elsa bicara dengan cepat ketika dia yakin Maya yang mengangkat teleponnya.
"Ini aku." ucap gadis tersebut lagi kemudian.
"Aku tidak sengaja mengambil surat milik kakak, aku akan datang untuk mengembalikan dia saat aku punya waktu nanti." dia langsung bicara pada intinya kepada gadis di seberang sana.
******
The Malaka company,
Ruang kerja Maya.
Gadis tersebut mengernyitkan keningnya saat dia mendengar apa yang di ucapkan Elsa.
__ADS_1
Surat?.
Maya tampak diam.
"Buang saja, aku tidak lagi membutuhkannya." Ucap Maya kemudian.
Dia pikir dia memang tidak lagi membutuhkan surat-surat tersebut jadi membiarkan Elsa untuk membuangnya saat ini karena baginya segala sesuatu tetap masa lalu hanyalah hal yang sudah berlalu dan tidak penting lagi.
"Itu hanya sahabat pena yang sudah terlupa, aku dan dia bahkan tidak pernah bertemu." jawab Maya kemudian.
Setelah itu, gadis tersebut mematikan handphone nya dengan cepat.
Disampingnya Julian terlihat mengernyitkan keningnya saat dia mendengar Maya bicara soal surat dari sahabat pena nya. Dia tahu cerita itu, tapi tidak tahu siapa laki-laki nya.
"Sahabat pena mu yang dulu?," tanya Julian saat Maya mematikan panggilannya.
Maya menatap kearah Julian untuk beberapa waktu, dia mengangguk kan kepalanya.
"Kamu kenapa tidak pernah mencoba menghubungi nya? sudah enam atau tujuh tahun berlalu." lanjut Julian lagi kemudian.
Mendengar ucapan Julian, membuat Maya terlihat diam, dia memilih untuk tidak berjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut.
Enam tahun berlalu, dan dulu mereka berkirim surat untuk terakhir kalinya dan berkata tidak akan pernah saling mengirim surat kembali.
******
Kediaman Maya.
Begitu menepikan mobilnya, Maya terlihat langsung mematikan mesin mobilnya secara perlahan, kemudian gadis tersebut turun dari sana dan memilih untuk masuk kedalam rumah nya.
Mungkin setelah membersihkan diri, tidur menjadi pilihan terbaik setelah bekerja seharian dan lembur. Dia cukup lelah saat ini, apalagi setelah perjuangan panjang menyelesaikan seluruh persoalan yang tidak kunjung usai kemarin. Pada akhirnya semua selesai meskipun sedikit dengan cara tidak terduga.
Gadis tersebut masuk kedalam rumah, memilih melepaskan sepatu, blazer dan tas nya secara perlahan. Bergerak meraih handuk dan berniat untuk masuk ke arah kamar mandi. Tapi tiba-tiba bola matanya tertuju pada tumpukan surat yang ada di meja yang sering dia gunakan untuk bekerja.
Entah kenapa, tiba-tiba dia rindu pada masa-masa itu, masa dia berkirim surat dengan sahabat pena nya tersebut.
__ADS_1
"Sudah enam dan hampir 7 tahun berlalu." gumam gadis tersebut pelan.