Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Berharap menjadi menantunya


__ADS_3

Julian langsung mengangkat panggilan dari ibunya dengan cepat karena dia takut jika terlambat mengangkatnya ibunya pasti akan kesal dan marah. Laki-laki itu pada akhirnya langsung menggeser layar handphonenya dan mengangkat panggilan dari ibunya tersebut.


"Halo, Bu?," laki-laki tersebut buru-buru menyapa sembari satu tangannya terlihat fokus pada setir mobil sedangkan tangan satunya lagi mencoba memegang handphone miliknya.


"Ya aku baru keluar dari pengadilan bersama Maya saat ini,"dia kembali bicara menjawab pertanyaan dari ibunya di seberang sana di mana sang ibu bertanya apakah dia bersama Maya dan sudah pulang dari pengadilan.


"Oh.. tunggu sebentar," Julian langsung menoleh ke arah Maya kemudian dia menatap gadis tersebut dengan cepat lantas berkata.


"ibu ingin bicara denganmu," ujar laki-laki itu.


Maya langsung mengganggukan kepalanya kemudian dia menerima handphone yang diberikan oleh Julian kepada dirinya.


"Halo, bibi?," buru-buru gadis tersebut menyapa ibu Julian di seberang sana, dia tahu dan sangat mengenal wanita tersebut sejak dulu hingga kini dan keramahtamahan ibu Julian jelas tidak bisa dia ingkari lagi.


"Apakah kalian sudah makan? jika belum datang lah kemari untuk ikut makan, dan lagi bibi sangat merindukanmu dan ingin bicara denganmu saat ini," wanita itu bicara dengan cepat di seberang sana.


"Itu belum di rencana bi, baru ingin pergi makan bersama," Maya menjawab dengan cepat pertanyaan dari wanita di ujung sana dan begitu mendengar ucapan mayat seketika ibu Julian berkata.


"itu bagus datanglah kemari bersama Julian aku menunggu kalian," setelah berkata seperti itu wanita tersebut buru-buru langsung menutup panggilannya membuat Maya langsung mengembangkan senyumannya.


Julian yang melihat ekspresi Maya seketika menaikkan ujung alisnya, dia melirik ke arah gadis tersebut untuk beberapa waktu kemudian kembali menatap ke arah depan memfokuskan pandangannya.


"Apa kata ibu?," dia bertanya penasaran ingin tahu.


"Bibi ingin kita segera datang ke rumah untuk makan bersama dan tidak ada penolakan." ucap Maya sambil menatap Julian dengan cepat.


Laki-laki tersebut terlihat kembali melirik ke arah Maya kemudian Julian tertawa terkekeh kecil.


"Ibu memang selalu seperti itu jika setiap kali berhadapan denganmu atau mendengar soal kamu, beliau langsung bersemangat dan tidak suka ada penolakan," ucap Julian kemudian.


Yah ibunya jelas sangat menyukai Maya sejak zaman dulu sebelum Maya menikah dengan Mawangsa, setiap kali membicarakan Maya wanita itu pasti sangat bersemangat dan tidak ada bosannya untuk membicarakan gadis tersebut dalam keadaan apapun bahkan sering menanyakan kabarnya jika Maya tidak terlihat.


Ibu nya pernah bermimpi untuk menjadikan Maya menantunya tapi sayangnya Maya lebih memilih Mawangsa ketimbang dirinya pada masa itu, tidak dipungkiri jika ibunya kecewa berat karena itu dan bahkan tempat langsung sakit drop begitu mendengar berita tentang pernikahan Maya dan Mawangsa. Entahlah seolah-olah ibunya masih mengharapkan gadis di sampingnya tersebut untuk menjadi pendamping hidupnya.


Meskipun sebenarnya dirinya pun mengharapkan soal Maya tapi dia jelas tidak bisa berharap banyak karena tahu mungkin main tidak menyukainya mengingat bagaimana gadis tersebut menutup hatinya untuk saat ini, perceraian dengan mangsa seolah-olah menyisakan satu trauma untuk mempercayai laki-laki di sekitarnya saat ini.

__ADS_1


meskipun tidak dipungkirim juga dia berharap masih ada sedikit saja kesempatan untukmu diantara para laki-laki yang menyukai gadis tersebut saat ini.


Maya yang mendengar cerita dari Julian seperti tadinya dia tidak mengeluarkan lagi suaranya hanya menatap laki-laki itu untuk beberapa waktu sembari mencoba untuk menarik nafasnya sejenak, dia ingin bagaimana baiknya dulu ibu Julian kepada dirinya bahkan wanita itu berulang kali sering bertanya soal hubungan mereka berdua namun sayangnya mereka memang tidak pernah pacaran sebelumnya.


Hubungan antara dirinya dan Julian tidak lebih daripada sekedar teman baik yang begitu baik.


"He em aku sudah lama tidak bertemu dengan bibi dan aku sudah sangat merindukan bibi saat ini," ucap Maya pada Julian perlahan.


********


Kediaman utama keluarga Julian.


Begitu mereka tiba di kediaman Julian bisa mereka lihat seorang wanita paruh baya berlarian berhamburan mendekati mereka, begitu melihat Maya wanita itu langsung memeluk Maya dengan erat dan mendekapnya dalam penuh kerinduan.


"Oh ya tuhan." wanita itu bicara tidak percaya pada akhirnya kembali melihat Maya setelah sekian lama.


Entah kapan terakhir kali dia melihat Maya wanita itu lupa yang jelas sudah sangat lama sekali.


Setelah memeluk Maya wanita itu langsung mencium pipi Maya di kiri dan kanannya kemudian dia berkata.


"Ayo masuk kedalam," ucapnya dengan cepat penuh semangat.


"Katakan pada bibi, apa yang terjadi selama 6 tahun pernikahan kalian? Julian berkata keluarga Mawangsa tidak memperlakukanmu dengan manusiawi, bahkan laki-laki bodoh itu menyia-nyiakanmu?," wanita itu bertanya dengan bola mata yang berkaca-kaca, begitu tulus dia menyayangi Maya, dulu pernah bermimpi jika Maya akan menjadi menantunya, dan mimpi itu sempat kandas di tengah jalan begitu Maya memilih Mawangsa dan menikah dengan laki-laki tersebut. Tapi kini harapannya yang lama seolah-olah kembali di mana dia pikir putranya ya pasti memiliki harapan untuk bisa mendapatkan gadis baik hati di hadapannya tersebut


Dia pikir orang tua memangsa pasti sudah buta tidak bisa membedakan antara gadis tulus dan gadis yang hanya pura-pura dan berakal bulus. Maya dan Shinta jelas saja seperti langit dan bumi, seperti air shower dan air got di gorong-gorong saking berbeda nya mereka berdua, dia tidak habis pikir apa yang ada di pikiran nyonya Dina mau melepaskan Maya demi menerima Shinta.


Wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mendengar pertanyaan dari ibu Julian sejenak membuat Maya terdiam, dia menundukkan kepalanya untuk beberapa waktu kemudian secara perlahan gadis tersebut mengalami nafasnya untuk beberapa waktu kemudian pada akhirnya Maya menjawab.


"Aku cukup salah memilih untuk menjadi menantu keluarga Heri jaya seharusnya dulu aku berpikir dua tiga kali untuk menikah dengan memangsa karena pada dasarnya mencintai sebelah pihak cukup menyakitkan, bi." Maya bercerita kepada wanita di hadapannya tersebut, meskipun sebenarnya tidak perlu dia bercerita kepada wanita tersebut sudah jelas ibu Julian tahu bagaimana penderitaannya selama menikah dengan putra keluarga heri Jaya, Mawangsa.


"seharusnya dulu sebelum menikah aku berpikir dengan matang, tidak tahu jika aku hanya menghabiskan waktu selama 6 tahun dengan sia-sia dan mengorbankan masa mudaku yang menghilang begitu saja di mana para teman-temanku masih menikmati hidup mereka dengan tenang dan penuh kebahagiaan." lanjut nggak di situ lagi kemudian.


"Mereka saja yang bodoh, apalagi nyonya Dina, wanita penyihir itu benar-benar bodoh karena melepaskanmu hanya untuk mendapatkan putri dari keluarga umbrella, mereka tidak tahu saja jika Shinta memiliki watak yang begitu mengerikan, aku tidak habis pikir bagaimana bisa Dina melepaskanmu hanya untuk mendapatkan Shinta yang kejam." wanita tersebut jelas saja membela Maya karena dia tahu sekali siapa Shinta dan orang tua nya.

__ADS_1


Mendengar kemarahan yang dilontarkan oleh ibu Julian membuat Maya merasa bahagia seolah-olah dia mendapatkan dukungan dari seorang ibu, Maya tiba-tiba saja jadi merindukan ibunya, dia pikir mungkin seandainya orang tuanya masih hidup dia tidak akan diperlakukan dengan buruk oleh keluarga Heri Jaya. Seketika air mata Maya jatuh tanpa sebab, kesedihan menghantam hatinya saat ini.


Ibu Julian yang melihat Maya meneteskan air matanya jelas saja bersedih, dia langsung memeluk gadis tersebut dan berkata.


"Jangan bersedih, kamu bisa menganggapku seperti ibu kandungmu sendiri berceritalah pada diri dan bibi pastikan akan selalu ada untukmu dan menerima ceritamu juga memberikan solusi yang mungkin cukup berguna untukmu seandainya kamu meminta pendapat dan juga solusi kepada bibi." wanita tersebut bicara dengan cepat dan memberi sedikit kelegaan di hati Maya, meminta gadis itu menganggapnya sebagai seorang ibu bukan sebagai seorang bibi atau orang tua dari Julian saja.


Maya tentu saja terharu mendengarnya dia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan berhasil bahagia dengan apa yang diucapkan oleh ibu Julian di mana wanita itu secara perlahan menghapus air mata nya yang membasahi pipi.


Obrolan terjadi cukup lama diantara mereka hingga pada akhirnya ibu Julian berkata.


"Tunggu disini, ibu akan menyiapkan makan malamnya, ini tidak lama." ucap wanita tersebut cepat kemudian dia hendak beranjak dari sana.


"Biar aku bantu, bi." Maya mencoba untuk langsung berdiri dan berniat untuk membantu wanita tersebut tapi ibu Julian langsung berkata.


"untuk hari ini tidak usah, ini adalah makan pertama kita bersama, jika sekali lagi datang untuk makan kamu boleh membantu, tapi untuk kali ini bibi sudah mempersiapkan semuanya, hanya menyelesaikan sedikit saja di belakang dan kita siap untuk makan." wanita tersebut jelas menolak dengan cepat, dia tidak ingin Maya mengotori tangannya saat ini.


"Tapi bi,"


"ini tidak lama hanya sekitar 5 menit, ada pelayan di dapur yang sudah menyiapkan yang lainnya, sayang mari bantu ibu sejenak." dan ibu Julian bicara dengan cepat tetap menolak Maya untuk bergerak ke dapur saat ini, dia meminta Julian pergi ke dapur untuk membantu menata beberapa piring karena makanan telah disiapkan di belakang sana.


Julian yang mendengar perintah ibunya langsung bergerak menuju ke arah dapur mengikuti instruksi dari ibunya.


laki-laki tersebut terlihat berusaha membantu menyusun piring di dapur namun tiba-tiba ibunya mengejutkan dirinya.


"Katakan pada ibu," wanita itu bertanya tepat di balik telinga kanannya membuat Julian langsung spontan terkejut dan langsung memberikan tubuhnya serta bergerak mundur ke belakang.


"Ibu jangan mengejutkan aku," Julian sedikit protes.


"Ckck ibu hanya terlalu bersemangat, katakan pada ibu apa kamu masih mencintai Maya?," wanita tersebut bertanya penasaran.


"Jika iya, cari waktu untuk menembaknya kemudian pergi lakukan lamaran, ibu takut akan ada laki-laki lain yang mendahului kamu lagi." ibu Julian bicara dengan cepat kepada putranya, menyatakan jika dia masih sangat setuju jika Julian menikah dengan Maya.


"Aku tentu saja masih sangat mencintai Maya Bu, meskipun waktu berlalu selama bertahun-tahun tapi hingga hari ini aku masih mencintainya secara diam-diam, aku tidak berani mengambil risiko ditolak oleh Maya jika aku nekat untuk menembaknya dan melamarnya." laki-laki itu bicara dengan cepat dan tentu saja dia tidak punya keberanian sebesar itu untuk mendekati Maya, jangankan untuk melamarnya menyatakan cintanya saja dia tidak berani.


"Aish kamu ini payah sekali, kamu harus mencobanya, jika tidak mencobanya mana pernah tahu bagaimana perasaan Maya pada dirimu, bersemangat dan jadilah Julian yang penuh percaya diri." sang ibu jelas memberikan support paling terdalam dan terbesar untuk putranya tersebut.

__ADS_1


Dia berharap jadian bergerak cepat karena dia takut akan ada laki-laki lain yang mungkin saat ini tengah berencana untuk menembak Maya atau melamarnya.


Julian sama sekali tidak menjawab ucapan ibunya dia hanya memperhatikan wajah dari wanita di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu di mana kegalauan hati terus menghantamnya selama beberapa hari ini.


__ADS_2