Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kekacauan pagi


__ADS_3

Mendengar suara pintu dibanting jelas saja membuat Maya langsung bangun dari posisi tidurnya, tanpa berpikir dua kali dia menaikkan tingkat kewaspadaannya saat ini dan cukup terkejut dengan apa yang dia dengar di pagi hari.


Gadis tersebut dengan cepat langsung mencari sesuatu di lemari nakas di samping kasur dimana dia tidur, dengan gerakan yang begitu hati-hati dia mencoba mencari sesuatu di sana dan mengambilnya secara perlahan. Sebuah pisau kini berpindah ke tangannya.


Maya bergerak perlahan dari posisinya mencoba mendekat ke arah pintu kamarnya tersebut di mana bisa dia dengar dobrakan pintu terdengar dari arah depan tadi, dia berusaha untuk merapatkan telinganya di daun pintu, mendengar siapa yang datang dan membuat kekacauan di pagi hari.


Samar-samar dia mendengar suara seseorang yang terdengar tidak asing dibalik telinganya tersebut.


"Ibu berhenti melakukan ini dan membuat kekacauan, ibu hanya salah sasaran dan ini tidak ada hubungannya dengan kak Maya." Itu suara Elsa, adik Mawangsa.


"Kak Maya tidak mungkin mencelakai Shinta, kita tahu betul bagaimana sosok kak Maya selama ini ketika dia menikah dengan kak Mawangsa, ibu sebaiknya tidak perlu ikut campur pada urusan mereka bertiga, ini hanya akan menyulitkan ibu sendiri." Elsa terus mengeluarkan suaranya di luar sana, dia berusaha untuk mengingatkan ibunya jika tindakan ibunya adalah salah.


Seharusnya wanita tua itu tidak ikut campur urusan Maya atau juga Shinta, tidak tahu siapa yang menculik cinta tapi dia yakin Maya tidak mungkin melakukannya karena dia tahu betapa lembutnya hati Maya selama gadis tersebut menikah dengan kakak laki-lakinya.


"Kau pikir ja_lang itu tidak terlibat?, dia tidak mungkin tidak terlibat dalam penculikan Shinta, sebagai seorang calon ibu mertua aku harus membela calon menantuku, aku yakin gadis jalan itu juga terlibat dalam penculikan calon kakak iparmu." alih-alih dia mendengarkan ocehan putrinya, diam yakinkan diri jika Maya terlibat atas penculikan Shinta.


Sebagai seorang calon ibu mertua bagaimana bisa dia mengabaikan kejadian yang menimpa Shinta kemarin, karena itu dia memutuskan untuk datang ke tempat ketinggalan Maya dan berusaha untuk melabraknya dan juga memberikannya pelajaran.


Maya yang mendengarkan perdebatan dua orang di luar sana seketika mengernyitkan keningnya, dia bergegas langsung membuka pintu kamarnya tanpa rasa takut sedikitpun sembari tangan kanannya masih memegang pisau yang dia peroleh dari lemari nakas.

__ADS_1


Begitu Maya membuka pintu kamarnya sang mantan ibu mertua jelas saja langsung senang dan berencana untuk menjambak rambut gadis tersebut, tapi saat dia ingin mengeksekusi tindakannya tiba-tiba saja tanpa diduga Maya terlihat keluar buru-buru dan menabrak tubuhnya hingga membuat wanita itu terjatuh dan tersungkur ke lantai.


Maya tentu saja setengah jam melakukannya di mana pada akhirnya nyonya Dina terlihat tengah bersimpuh di bawah kakinya.


"Oh ya ampun,apa yang anda lakukan bibi?, anda jadi persis seperti seorang budak, yang memohon untuk meminjam uang kepadaku atau bahkan belas kasihan dari ku saat ini." Maya pura-pura mengeluarkan ekspresi terkejutnya dia mendekati wanita tersebut kemudian kembali berkata.


"ibu memberikanku salam yang luar biasa pada pagi hari ini dan itu membuatku cukup tersentuh." lanjut gadis itu lagi dengan penuh ke pura-puraan.


mendengar apa yang diucapkan oleh Maya jelas saja membuat wanita paruh baya tersebut berang dan marah.


"kau pikir aku sengaja melakukannya?, ini karena ulama datang tiba-tiba dan mendorong ku hingga membuatku tersungkur ke lantai." dia benar-benar marah dan kesal kemudian meminta Elsa untuk menopang tangannya dan membangunkannya dari posisinya saat ini.


Nyonya Dina langsung bangun dari posisinya sembari berpegangan pada tangan putrinya tersebut, kini dia berniat untuk menghajar Maya dan menjabat rambut gadis di hadapannya tersebut, namun sekali lagi dia terkejut di mana bola mata nyonya Dina langsung terbelalak nyaris keluar saat dia menyadari Maya membawa sebilah pisau di hadapannya, persis seperti orang juling, kedua bola matanya langsung terarah pada pisau yang digenggam oleh Maya.


"A-pa yang kau lakukan?, kau-," wanita tersebut bicara terbata-bata, masih menatap pisau yang ada di hadapannya tersebut dengan perasaan takut.


Yah dia cukup takut jika Maya melukainya dengan pisau tersebut saat ini.


"Ada apa bibi pagi-pagi datang kemari?, ini terlalu pagi buta dan aku baru saja bangun juga aku ingin pergi ke perusahaan." gadis tersebut masih mengacungkan pisau nya, sengaja membuat wanita di hadapannya tersebut cukup ketakutan melihatnya.

__ADS_1


Seolah-olah sadar dengan tujuannya hanya jadi nasa ketika langsung menatap tajam ke arah Maya.


"kau pikir apalagi tujuanku kemari?, aku yakin kau terlibat pada penculikan cinta dan kau adalah orang yang merupakan eksekutor dan memerintahkan orang lain untuk mencelakai calon menantu." wanita tersebut berang bicara dengan suara yang begitu tinggi dan dia mencoba untuk menunjuk-nunjuk wajah Maya.


Mendengar ucapan dari nyonya Dina jelas saja membuat Maya mendengus.


"apa Bibi memiliki bukti untuk menuduhku?, aku bisa membuat sebuah laporan jika bibi telah menuduhku tanpa bukti." Maya bicara dengan cepat sembari menatap tajam balik bola mata wanita yang pernah menyakitinya bertahun-tahun selama dia menikah dengan Mawangsa tersebut, rasanya setiap kali melihat wajah nyonya Dina, membuat darahnya menjadi mendidih dan ingin sekali rasanya dia mengajar wanita itu sesekali.


tapi Maya jelas saja harus bermain cantik dia tidak pernah melakukan hal di bawah akal warasnya untuk menghadapi orang-orang gila sekelas nyonya Dina.


"Kau pikir aku tidak tahu pela_cur?, kau hanya berusaha untuk berkilah dan kau tahu menantuku sampai masuk rumah sakit karena dirimu dan kejahatanmu, kau benar-benar seorang iblis." wanita itu bicara dengan nada yang tinggi dan semakin menjadi-jadi.


Elsa berusaha untuk menarik lengan ibunya dan jangan membuat kekacauan, dia cukup malu dengan tindakan wanita tersebut saat ini yang datang ke rumah Maya menuduh Maya yang tidak-tidak.


"Apa?, menuduh ku, pela_cur?, iblis?. Bibi kau datang ke rumahku pagi-pagi, menuduhku yang tidak-tidak dan bahkan kini kau bicara dengan bahasa yang sangat mengerikan pada diriku, di mana etikamu sebagai orang tua?, aku pikir ini sudah melampaui batasan dan aku akan melapor kamu pada polisi karena ulah mu yang mengganggu ketenanganku dan juga membuat sebuah tuduhan palsu." Maya jelas saja langsung marah besar dia mengambil handphonenya dan berusaha untuk menghubungi pihak kepolisian di nomor darurat.


Tapi belum juga dia sempat melakukan hal tersebut tiba-tiba saja wanita itu langsung berusaha untuk merebut handphonenya dengan cara yang begitu kasar. Kemudian, setelah mendapatkan handphonenya wanita itu langsung membantingnya ke lantai begitu saja hingga membuat Maya langsung membulatkan bola matanya dan Elsa seketika terkejut setengah mati atas perbuatan ibunya.


Maya jelas semakin marah dan dia langsung menekan suara sirine di bagian rumahnya yang menghadap langsung ke arah depan dan dia memerintahkan orang-orangnya dan juga para security didepan rumah nya untuk datang mengeksekusi wanita gila dihadapan nya tersebut.

__ADS_1


"Kau membuat kesabaran ku habis." Ucap Maya dengan bola mata yang cukup memerah karena marah.


__ADS_2