
Maya jelas terkejut saat tahu Mawangsa mencoba melindungi nya, bola basket menghatam punggung laki-laki tersebut dengan cukup keras.
Kericuhan terjadi kala bola menghantam Mawangsa, orang-orang pada barisan penonton yang mendukung Elsa jelas terlihat kesal saat mengetahui jika bola menghantam orang yang tidak bersalah dan seketika semua orang berpikir jika bola itu dilempar dengan sengaja oleh musuh.
Elsa tentu marah besar pada lawannya saat ini, seketika dia mengambil bola basket dan ku coba untuk melempar balik kepada lawannya tersebut tapi Mawangsa buru-buru berteriak dan melarang Elsa untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu karena itu akan merusak reputasi adiknya sendiri.
Elsa yang baru akan menghajar lawannya dengan bola yang ada di tangan nya seketika langsung menghentikan gerakan nya saat dia mendengar Mawangsa berteriak dan mencoba untuk menghentikan gerakan nekat nya.
"Mereka melakukan kecurangan." Elsa terlihat mencoba untuk bicara dengan gerakan bibir nya.
Mawangsa menggeleng kan kepala nya, dia berharap Elsa tidak melakukan kebodohan saat ini.
Pada akhirnya Elsa perhatikan gerakan dia dekat cepat.
Di atas kursi penonton, Maya cukup terkejut, dia buru-buru menanyakan keadaan laki-laki dihadapan tersebut.
"Apa kamu baik-baik saja?, " tanya Maya cukup bingung dan khawatir.
"jangan khawatir soal apapun, aku baik-baik saja," Mawangsa menjawab cepat.
"Kenapa kamu melakukan nya? itu bisa melukai mu." lanjut Maya lagi.
"Bukan masalah, ini karena Elsa berteriak dan meminta ku melindungi kamu, jika tidak-," Mawangsa menghentikan kata-kata nya, menggantung kalimatnya tersebut.
Maya yang mendengar apa yang diucapkan oleh Mawangsa seketika diam, dia pikir Mawangsa tidak benar-benar ingin melindungi nya. Dia pikir dia terlalu berlebihan dalam berpikir.
"Sebaiknya kita pergi ke ruang istirahat, untuk melihat apakah punggung kamu baik-baik saja, kita akan minta seseorang untuk memeriksa nya." Ucap Maya kemudian.
******
Ruang istirahat.
Seorang laki-laki membantu membuka pakaian Mawangsa dan melihat apakah punggung laki-laki tersebut baik-baik saja, nyata nya bisa Maya lihat punggung laki-laki tersebut memerah, hal tersebut seketika berbuat Maya merasa sedikit bersalah. Hanya saja dia tidak bisa mengekspresikan rasa bersalah nya, memilih diam dan tidak bicara.
Mawangsa sendiri membiarkan salah satu panitia kegiatan membantu mengoleskan obat pada punggung nya, dia pikir cukup merah dan nyeri. Ditengah rasa sakit yang menghantam dirinya tiba-tiba handphone dia berdering, laki-laki tersebut buru-buru mengangkat panggilan tersebut dimana rupanya Shinta yang menghubungi dirinya.
"Aku melihat siaran langsung kamu menonton permainan Elsa." suara Shinta terdengar di seberang sana.
"Iya aku menonton pertandingan nya." jawab Mawangsa cepat.
"Aku akan datang ke saya saat ini juga,. untuk menyusul kamu." Ucap Shinta lagi.
Mawangsa terlihat diam sejenak.
"Itu bukan masalah." pada akhirnya laki-laki tersebut menjawab dengan cepat membiarkan perempuan itu untuk menyusui dirinya saat ini.
Setelah mereka melakukan percakapan pada akhirnya memaksa penutup panggilannya
Di sisi lain Maya dan Dave bicara melalui handphone nya, bisa didengar Dave berkata,
"Seseorang merekam keadaan kalian, dan seseorang membuat berita pecah soal kedekatan kamu dan Mawangsa, mereka berkata kamu adalah pelakor." Dave bicara dengan cepat dari arah seberang sana dan hal itu jelas saja berbuat Maya mengerutkan keningnya.
.
"Apa?," Maya cukup terkejut mendengar ucapan Dave.
"Jangan terlalu dekat dengan nya, ini bisa memperburuk pandangan orang terhadap dirimu," Lanjut Dave lagi.
Maya memilih diam, dia pada akhirnya mematikan panggilan nya.
"Ada apa?" Mawangsa tiba-tiba saja mengejutkan dirinya.
"Aku pikir seseorang menyebarkan berita tentangku yang buru-buruk juga tentang kamu pada acara hari ini," Ucap Maya cepat.
"Apa?,"
"Aku pikir seperti nya itu ulah Shinta."
mendengar apa yang diucapkan oleh Maya Mawangsa jelas saja mengernyitkan dahinya.
"Itu tidak mungkin." Dia pikir mana mungkin Shinta melakukan hal seperti itu.
Mendengar Mawangsa mencoba membela Shinta, Maya mencibir.
"Dia terlalu banyak membuat berita buruk soal aku, kau pikir siapa yang paling tahu tentang persoalan 6 tahun yang lalu? dia satu-satunya orang yang tahu bukan? jadi apa kamu pikir ada tersangka lain yang bisa melakukan hal itu untuk menjelek-jelekkan aku?," tanya Maya dengan nada tidak suka.
"Dia jelas tersangka paling besar yang selalu bekerja untuk menghancurkan nama baik ku bukan?,"
Dan Mawangsa seketika terdiam mendengar ucapan Maya.
*******
Catatan \=
Jangan lupa mampir di kisah lain Mak, sudah ending dan ga perlu peras otak kek Mawangsa, ga rumit kek Mawangsa juga 🥰.
...THE BETRAYAL...
cari di pro'fil atau di beran'da ya mak.
Galeri Pengantin xxxxxxx
pusat kota.
Seorang gadis menatap perempuan yang usia nya hanya selisih beberapa tahun dari nya dengan bola mata berkaca-kaca, dia berusaha untuk menulikan pendengaran nya, berharap apa yang dia dengar barusan merupakan sebuah kesalahan,atau dia berharap saat ini dia sedang bermimpi,dia hanya butuh seseorang menepuk-nepuk wajah nya atau bahkan mengguncang-guncang bahu nya untuk membangunkan nya dari alam mimpinya.
Beberapa menit yang lalu dia masih tersenyum dengan senang, menatap Perempuan dihadapan nya dengan jutaan kebahagiaan, bahkan dia masih menatap sosok laki-laki yang kini berdiri disamping mereka yang membeku tanpa suara.
"Aku...apa... maksud ku.... aku pasti salah dengar"
Tiffany bicara dengan bibir bergetar.
Dia berusaha untuk berdiri dengan goyah, terlihat Ling lung sambil menahan tangisannya, dia masih berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Aku hamil"
__ADS_1
Itu yang di ucapkan Jessica pada nya beberapa menit sebelumnya.
Dihadapan Tiffany adalah Jessica, saudara angkat yang di ambil mama dan papa nya belasan tahun yang lalu untuk dijadikan bagian dari pada keluarga mereka.
Mama nya cukup kesulitan memiliki seorang anak pada masa nya, untuk mendapat kan Tiffany dan Khan kakak kembar Tiffany, mama nya nyonya Ayana dan papa nya tuan Gao Han menggelontorkan dana yang tidak sedikit, 8 tahun berjuang untuk mendapatkan anak berakhir pada bayi yang menggunakan rahim orang lain.
Pada masa itu, rahim pengganti bukan lah hal yang selumrah saat ini dan sudah diketahui oleh para khalayak ramai, dulu sistem rahim pengganti baru di keluarkan Secara diam-diam dan di anggap ilegal.
Dan kelahiran Tiffany serta saudara kembar nya tidak semudah membalikkan telapak tangan, sangat sulit dan rumit juga butuh ke Istiqomah'an luar biasa dari kedua orang tua nya.
Setelah kelahiran mereka, mama nya pada akhirnya menemukan seorang anak kecil tanpa orang tua, ditelantarkan di depan sebuah panti asuhan dan di ambil oleh keluarga Hillatop untuk dijadikan putri di keluarga mereka.
Dia dan Jessica, tidak ada perbedaan sama sekali di antara mereka berdua, apa yang dimiliki oleh Tiffany maka Jessica juga pasti memiliki nya, bahkan meskipun hanya seujung kuku nya, tidak ada perlakuan berbeda yang diberikan, semua benar-benar disetarakan.
Dan Tiffany sama sekali tidak menganggap Jessica sebagai orang asing, bagi nya Jessica sudah persis seperti saudara kandungnya sendiri, apalagi selisih usia mereka hanya beberapa Minggu saja.
Tiffany jelas mengerutkan keningnya, sejenak bola mata Tiffany tidak sengaja menangkap satu sosok laki-laki yang turun dengan tergesa-gesa dari mobil nya di area parkiran depan, bisa dia lihat dengan jelas sosok laki-laki tersebut karena posisi galeri yang tembus pandang karena dikelilingi kaca di seluruh bagian tiap sisi nya.
Itu adalah Sean, tunangannya.
"Sean bergerak kemari mencoba untuk menghentikan ku bicara"
Tiba-tiba Jessica kembali Bicara, entahlah apa yang diucapkan Jessica membuat Tiffany agak bingung.
"Dia baru turun dari mobilnya"
Tiffany masih berusaha mengembangkan senyuman nya, masih melirik kearah Sean yang berlarian tergesa-gesa seperti di kejar oleh waktu.
"Aku ingin bilang jika aku hamil"
Ucap Jessica tiba-tiba, menatap Tiffany dengan tatapan yang tidak dia pahami, satu kegelisahan menghantam perempuan dihadapan nya, tapi ada amarah pandangan lain di sekitar bola matanya.
Tiffany jelas saja terkejut mendengar pernyataan Jessica,dia sama sekali tidak menaruh kecurigaan, gadis tersebut masih menggunakan pakaian pengantin nya, dimana hari ini dia melakukan fitting pakaian untuk pernikahan nya yang akan diselenggarakan beberapa Minggu lagi, semua persiapan telah matang, tidak ada yang belum dilakukan.
Bahkan undangan sudah di sebarkan, dua keluarga benar-benar bahagia dalam jutaan harapan untuk dirinya, Tiffany terlihat begitu cantik dengan balutan pakaian pengantin nya, meskipun belum di sapu make up dari MUA pilihan para aktris dan pengusaha kelas atas Jakarta, realitanya dia memang sudah cantik dari lahir nya.
Dia dan Sean telah lama menjalin ikatan asmara, sejak SMA sudah cukup membuat mereka dekat dan mengenal antara satu dengan yang lainnya, jadi dia pikir ketika Sean melamar nya dia langsung menerima nya dan berpikir ini memang waktu yang paling tepat untuk melepaskan masa lajang nya.
"Anak siapa? kau gila,mama dan papa bisa membunuh mu"
Tiffany bicara cepat, cukup terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Jessica, bola mata nya jelas langsung beralih pada Jessica.
Dia pikir Jessica tidak pernah memiliki kekasih yang benar-benar dia sukai, saudara angkat nya itu memang memiliki banyak teman laki-laki, lebih aktif dan supel dari dirinya, tapi tidak pernah berkencan dengan satu laki-laki pun hingga sejauh ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan Tiffany, Jessica buru-buru berkata.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi keadaan yang membuat ku terpaksa mengatakannya, anak yang ada didalam perut ku adalah anak dari Sean"
Seketika ekspresi wajah Tiffany berubah, dia yang awal nya masih tersenyum bahagia, berganti keterkejutan karena Jessica berkata dia hamil kini langsung berubah drastis memucat dan gemetaran.
Sean dengan bersusah payah menggapai pintu galeri, berlarian mendekati kedua sosok yang sangat dia kenal, satu sisi adalah calon pengantin nya, yang satu nya lagi perempuan yang mengandung anak nya.
Dua orang tersebut duduk saling berhadapan di atas sebuah kursi, dimana Jessica tidak menampilkan emosi nya sama sekali sedangkan Tiffany mencoba untuk memahami keadaan berikutnya saat ini.
*******
Tiffany terlihat mencoba untuk menahan dirinya, dia bergetar,bola matanya terasa memanas saat ini, entahlah rasanya dia mencoba untuk menyadarkan dirinya dari mimpi buruk nya hari ini, tapi nyata nya saat dia mencoba untuk mencubit paha nya, rasa nya begitu sakit.
Pada akhirnya Tiffany secara perlahan mencoba menoleh kearah Sean, dimana laki-laki tersebut kini berdiri memucat menatap Tiffany dan Jessica.
"Sean.... Jessica?"
Dia ingin bicara, tapi suaranya seolah-olah terhalang sesuatu, tenggorokan nya sakit dan tercekat. Tiffany berusaha menatap Sean kemudian menatap Tiffany, dia menaikkan jemari tangan nya dan telapak tangan nya, mencoba untuk bicara dimana dia pikir nafasnya masih tercekat dan dia tidak bisa benar-benar mampu mengeluarkan suaranya.
"Sean....., aku pikir.....aku......mendengar sesuatu yang salah"
Tiffany mencoba bertanya dengan nada bergetar, menahan gemuruh di dada nya, dia menatap Sean dan berharap jawaban dari laki-laki tersebut tidak seperti apa yang di katakan oleh Jessica.
Dia berharap Sean mengklarifikasi ucapan Jessica kepada dirinya, tapi dia menunggu namun nyatanya laki-laki tersebut hanya mematung, seolah-olah hendak bicara tapi terpaksa menahan kata-kata nya.
"Tiffany...aku"
Sean mencoba melangkah mendekati Tiffany.
"Jangan berpikir soal apapun, Jessica bukankah aku...."
"Kau melarang ku mengatakan nya? aku sudah memberikan kamu kesempatan selama ini"
Jessica langsung memotong ucapan Sean.
"Jes...."
Sean sedikit membentak.
"Berhenti..."
Tiffany berteriak marah, menatap kedua orang tersebut histeris.
"aku hanya ingin tahu apa itu benar?"
Dia berteriak kearah Sean, membuat laki-laki itu seketika membeku, dia memejamkan bola matanya sejenak kemudian berkata.
"maafkan aku tiff, aku akan menjelaskan..."
"Penjelasan ku cukup, aku hamil anak Sean"
Jessica bicara cepat, memotong ucapan Sean.
"Apakah ini prank? maksud ku siapa yang ulang tahun?"
Tiffany memotong ucapan Jessica,dia masih berharap ini bohong masih berharap semua hanya sebuah tipuan untuk mengerjainya, tapi kedua orang tersebut terlihat menundukkan kepala mereka dan membisu, Tiffany jelas memucat, menancapkan kuku-kuku nya ke paha nya untuk beberapa waktu dimana tubuh nya masih terbalut gaun pengantin.
Tanpa diduga Tiffany menampar pipi kanan nya berkali-kali, air matanya tumpah, dia berharap bangun saat ini juga.
"Tiffany..."
Sean Panik, gadis tersebut terus menampar wajahnya dengan histeris berkali-kali tanpa henti.
__ADS_1
"Ini mimpi bukan ? ini pasti mimpi? tidak....kalian berbohong.....Akhhhhhhhhhh"
Gadis tersebut menjerit histeris, hati nya terasa tercabik-cabik, dia merasa di khianati secara terang-terangan, dia marah, dia kecewa, dia patah hati, dia bahkan tidak tahu bagaimana melampiaskan kemarahannya.
Tangis nya pecah, menimbulkan kehebohan disana, Sean panik, berusaha meraih tubuh nya dan Jessica tidak menyangka respon yang diberikan Tiffany akan seburuk itu, gadis tersebut benar-benar histeris di luar pemikiran nya.
Sekuat apapun Sean mencoba untuk meraih tubuh gadis tersebut, tapi Tiffany terus berteriak histeris seperti orang gila.
Jessica mematung, menatap kearah Tiffany dengan tatapan nanar.
******
Bakal mansion utama Sean dan Tiffany.
(Rencana Kediaman setelah pernikahan).
Sean berusaha mengejar langkah Tiffany yang tiba lebih dulu ke bakal kediaman mereka, dimana mansion tersebut dirancang dan dibangun 1 tahun yang lalu, dan rencananya akan mereka tempati setelah pernikahan.
Barang-barang gadis tersebut telah berpindah ke sana dan kini Tiffany memaksa untuk mengeluarkan nya.
Bisa dia lihat gadis tersebut begitu masuk ke sana, dengan tangan gemetaran, sambil menangis tanpa henti mem packing seluruh pakaiannya, membuang seluruh kenangan tentang mereka, bahkan tidak mampu menghentikan isakan nya yang keluar dari bibirnya, tubuh nya bergetar dan masih berharap semua hanya mimpi, nyata nya itu realita yang harus dia terima.
Sean berusaha untuk menggapai tangan dan tubuh Tiffany, berharap gadis tersebut menatap nya dan mendengar kan penjelasan nya, tapi Tiffany menganggap dia tidak ada, mengabaikan nya dan membuang pandangannya, memasukkan pakaian miliknya yang dipindahkan sejak tiga kemarin dimana kala itu kebahagiaan menghantam nya, Sean baru selesai melamar nya dan membuat perencanaan hidup bersama.
Mimpi mereka terlalu indah, sampai-sampai Tiffany nyaris lupa, ada Allah SWT yang mengatur semuanya, manusia hanya berencana, tapi yang memberikan garis finish nya hanya Allah SWT, bahkan 1 jam lagi akad nikah pun, bisa jadi berubah menjadi kabar duka, dia lupa istighfar, lupa jika ada Allah maha pengatur segalanya.
Berulang kali gadis tersebut menyeka air matanya, tubuhnya tidak berhenti bergetar sembari dia terisak-isak tanpa henti, gaun pengantin yang menjadi kebanggaan nya telah berganti dengan pakaian biasa, dia berkata pada sang pemilik galeri,
"Hancurkan gaun nya, aku tidak ingin melihat nya"
Apakah dia egois melakukan nya?.
Tiffany pikir gadis manapun akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih histeris dari dirinya.
"Tif.... dengarkan aku..."
Sean mencoba meraih tubuh nya, mencoba menyentuh wajah Tiffany, berharap gadis tersebut melihat nya, tapi Tiffany dengan cepat memundurkan langkahnya, dia menahan tangan nya kearah Sean dan meminta laki-laki tersebut tidak mendekati nya.
"don't touch me, Sean"
Dia berusaha tidak berteriak histeris seperti di galeri, memangkas hatinya yang hancur berkeping-keping,.dia menyentuh dada atas nya sembari menepuk-nepuk dadanya pelan.
"Aku hanya manusia biasa, aku memang tidak sempurna Sean, tapi aku menekan sikap egoisme ku selama bersama kamu, aku tidak pernah menjadi kekasih over protective, tidak mengatur mu, memberikan kamu kebebasan, seluruh perhatian ku jatuh pada mu, dari ujung kaki hingga ujung kepala...."
Tiffany mengentikan kata-kata nya sejenak, mencoba menahan tangis nya, dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"semua aku...aku memperhatikan semua nya dan mengurus semuanya tanpa mengeluh, bahkan aku....aku memberikan kamu tempat seperti keinginan kamu, aku bahkan menuruti semua ucapan mu, tapi jika tidur bersama sebelum menikah...aku tidak bisa...."
Lagi Tiffany menghentikan kata-kata nya.
"Satu itu aku tidak bisa memberikan nya, maafkan aku Sean...tapi kenapa? seandainya memang itu prioritas utama mu, aku.... tidak apa-apa kamu melakukan nya dengan orang lain, tapi bukan Jessica"
Yah mungkin Tiffany masih bisa lapang hati, membatalkan pernikahan dengan alasan rasional, Sean bosan dan dia mengubah keinginan nya, tapi jika Sean melakukan itu pada Jessica bayangkan bagaimana hancurnya dia saat ini?!.
"Bagaimana bisa kalian menikam ku dari belakang Sean? andaikan kamu sejak awal berkata tidak mencintai ku dan lebih...."
Tiffany membuang pandangannya, tidak sanggup mengatakan kalimat selanjutnya.
Seandainya dia tahu mereka melakukan Affair dibelakang nya, mungkin dia akan mengikhlaskan nya, dan rencana pernikahan ini tidak akan terjadi.
Semua telah siap, undangan telah disebarkan, dan beberapa Minggu lagi pernikahan....?!.
"Aku khilaf, maafkan aku tiff...aku"
Sean mencoba memajukan langkahnya, berusaha kembali mendekati Tiffany.
"Khilaf?"
Tiffany kembali membalikkan tubuhnya, menatap Sean dengan air mata berlinang.
"Gampang sekali kamu mengatakan nya Sean?"
Bibir nya bergetar, menatap nanar kearah laki-laki yang dia cintai segenap hati sejak SMA itu.
"kalau aku tahu rasanya sesakit ini, seharusnya kita tidak pernah memulai nya Sean"
Ucap Tiffany kemudian, dia menaikkan telapak tangan secara perlahan, mengarah nya kearah laki-laki dihadapan nya tersebut.
"Aku seperti orang bodoh, jatuh cinta pada mu dan jatuh seperti hari ini"
Lagi bahu gadis tersebut bergetar.
"kalau aku tahu kau menghianati aku seperti hari ini dengan Jessica, seharusnya kau tidak meminta ku untuk Jatuh cinta pada mu Sean, seharusnya sejak awal kau memilih dia"
Dia kembali berteriak histeris, menatap Sean dengan jutaan kemarahan.
"aku berharap orang yang aku cintai bukan kamu, aku berharap aku tidak jatuh cinta pada mu hingga sejauh ini"
Dia terus berteriak histeris.
Sean berusaha untuk menggapai tubuhnya, tapi Tiffany langsung histeris, menolak sentuhan laki-laki tersebut dan dia terduduk di lantai sambil menangis histeris.
"Pergi dari hadapan ku, tolong...kau tidak tahu betapa hancur nya hati ku saat ini Sean, tolong pergi dari hadapan ku, aku tidak ingin lagi melihat mu"
Pada akhirnya Tiffany berusaha menahan ke histeris'an nya, duduk dilantai sambil memejamkan bola matanya.
Sean membeku, menatap Tiffany untuk beberapa waktu, tidak berani melanjutkan langkahnya untuk meminta Tiffany mendengarkan nya, dia beranjak dari sana dalam kebisuan dimana Tiffany menggenggam erat telapak tangan sambil menangis didalam diam.
Dia memukul berkali-kali dadanya, melepaskan beban kemarahan yang tidak bisa dia tahan.
"Mommmm..."
Tiba-tiba dia merindukan mommy nya, wanita tersebut merupakan satu-satunya orang yang memang bisa dia percaya setelah Allah SWT.
*****
Andaikan aku tahu jatuh cinta itu menyakitkan, mungkin aku lebih suka membiarkan orang lain yang jatuh cinta pada ku.
__ADS_1
Dan Kehilangan Seseorang Tak Pernah Mudah karena Semua Tak Lagi Sama.
Tiffany.