Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Tertekan keadaan


__ADS_3

Bayangan bagaimana terkejut nya Maya saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Mawangsa.


"Sahabat pena?," dia bicara didalam hatinya, menggerutkan keningnya dan terlihat agak bingung.


"Kamu baik-baik saja sayang?," Julian bertanya panik, membuat Maya seketika membuyarkan pemikiran nya.


Dia masih sedikit terbatuk-batuk karena keadaan, mencoba meminum air putih yang ada dihadapannya tersebut. Sambil menepuk-nepuk dada nya, Maya mencoba untuk menetralisir batuknya yang agak bandel tidak mau berhenti.


"Aku baik-baik saja" Maya akhirnya menjawab pertanyaan Julian.


"Sayang aku seperti nya sakit perut, bisa aku kebelakang sebenarnya?," Shinta berusaha memanfaatkan kesempatan, ingin melarikan diri dari sana secepat nya.


Dia berusaha untuk mencoba kabur, takut mengkonsumsi mangga yang ada dihadapannya tersebut.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Shinta, membuat Elsa berkata.


"Kak, kenapa tidak mencoba meminum sedikit dulu jus mangga nya? setelah itu baru ke kamar mandi." Elsa bicara dengan cepat, sengaja berkata begitu untuk memancing Shinta.


Mendengar apa yang diucapkan Elsa benar-benar membuat Shinta kembali tercekat, dia ingin sekali berteriak pada gadis sialan itu, apakah tidak bisa menjaga sedikit mulutnya dan di ajak berkompromi? bagaimana bisa gadis itu bisa-bisanya mendukung ucapan Mawangsa.


"Itu...aku..." ucap Maya gelagapan.


"Minumlah." dan Mawangsa kembali ikut mendesak nya, bicara begitu kemudian langsung melirik kearah Maya.


Bisa dia lihat Maya terlihat lahap menikmati jus mangga dihadapan nya, menyeruput nya hingga tetes terakhir.


Dia baru tahu betapa gadis tersebut menyukai mangga, tapi dia tidak pernah melihat Shinta sekalipun menikmati mangga atau jus mangga nya selama di mengenal perempuan tersebut.


Bahkan beberapa kali mencoba meminta nya minum terlalu aneh Shinta tidak pernah mau menikmati jus nya dihadapan nya.


Mawangsa kembali melirik kearah Shinta, bisa dia lihat perempuan itu tampak menatap jus Mangga yang ada di hadapannya.


Shinta melirik kearah Mawangsa secara perlahan, dengan gerakan ragu-ragu dia meraih jus mangga dihadapan nya, secara perlahan meraih gelas jus tersebut, menggenggam nya kemudian dia mencoba untuk menyeruput jus mangga itu secara perlahan.


Dia gemetaran tapi berusaha untuk menahan perasaan nya saat ini, dia tahu dia pasti mati jika meminum jus mangga tersebut.


Shinta memejamkan bola matanya sambil berusaha menikmati apa yang ada dihadapannya tersebut.


Elsa terlihat menaikkan ujung bibirnya sambil menatap kearah Shinta, kemudian pandangan nya beralih ke arah Julian, pandangan mereka secara perlahan saling menabrak antara satu dengan yang lainnya.


Seolah-olah berkata.


"Kita sampai pada titik ini saat ini."


*******


Catatan \=


Mak jangan lupa mampir disini yah, kisah berbeda yang mungkin sesuai selera. Dibawah barisan kisah mereka, selanjutnya bisa cari di pro'fil, yang malas baca tinggalkan saja.


SATU ATAP TANPA CINTA.



Rumah sakit xxxxxxx


Jakarta pusat


Terdengar suara sepatu kets yang terus bergesekan diantara lantai rumah sakit yang mendominasi berwarna putih tersebut, seorang gadis berusia sekitar 22 tahunan tampak mengejar langkah para perawat saat membawa sebuah branker dorong rumah sakit di mana terbaring lemah tubuh seorang wanita paruh baya yang setengah tidak berdaya.


Wajah gadis itu jelas terlihat begitu panik dan takut jika terjadi hal buruk terhadap wanita itu yang tidak lain adalah mama nya sendiri, sambil terus mengejar langkah sesekali gadis itu mengeluarkan suara nya diiringi Isak tangisan nya yang sedikit tertahan.


Sang mama tiba-tiba jatuh tumbang dan pingsan si dapur belakang rumah saat mereka sibuk berkutat membuat makanan untuk makan malam bersama.


Tidak tahu kenapa wanita paruh baya itu bisa tiba-tiba pingsan tanpa sebab, sebab sebelumnya sang mama baik-baik saja.


Saat para perawat dan dokter membawa sang mama masuk menuju ke ruangan UGD, seketika satu perawat mencoba menghentikan diri nya agar tidak bergerak ikut masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan bola mata berkaca-kaca dia mencoba mundur dan menatap pintu ruangan UGD tersebut ditutup secara perlahan.


Satu berita mengerikan harus dia telan dari pihak rumah sakit tersebut, ibu nya harus melakukan operasi secepat nya.


"Kita harus segera melakukan operasi katup jantung pada ibu anda,dimana prosedur yang dilakukan untuk memperbaiki atau mengganti katup jantung yang mengalami kerusakan agar jantung dapat berfungsi normal kembali.


"Jika katup jantung masih dapat dipertahankan, dokter akan melakukan perbaikan pada katup jantung dengan beberapa cara, seperti menutup lubang pada katup jantung, menghubungkan kembali katup jantung yang terpisah, dan memperkuat jaringan di sekitar katup jantung"


"Namun bila katup jantung tidak dapat diperbaiki, dokter akan melakukan penggantian katup jantung. Katup jantung yang rusak dapat diganti dengan katup jantung mekanis atau katup jantung dari pendonor, dan katup jantung ibu anda tidak bisa lagi dilakukan perbaikan"


Seketika bola mata gadis itu berkaca-kaca.


"Aku harus bagaimana?"


Ucap gadis itu pelan sambil terduduk dilantai.


Dia fikir jika hal buruk terjadi pada ibu nya, bagaimana dia melewati segala nya? bahkan untuk membayar biaya rumah sakit saat ini pun bagaimana cara nya? apalagi harus mencari uang untuk Opera katup jantung ibu nya.


Sejak ayah nya bangkrut dan terkena stroke, dia dan ibu nya benar-benar berjuang untuk hidup dengan cara mereka.


Sejenak bola mata nya terpaku pada satu sosok laki-laki yang menatap panik ke arah nya.


"Paman?"


Ucap gadis itu pelan.


"Bagaimana?"


Yang dia panggil paman bertanya dengan ekspresi panik.


"Mereka harus melakukan prosedur operasi katup jantung"


Seketika laki-laki itu mundur kebelakang.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


Laki-laki itu tampak diam sejenak.


"Lakukan pernikahan dengan cucu kakek Narayan, itu bisa membantu mu untuk menyelamatkan ibu mu"


Seketika gadis itu tercekat, dia kembali kehilangan kata-kata nya.


"Bagaimana mungkin aku menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal? pernikahan jelas bukan perkara mudah dan bukan pula perkara main-main paman"


Yang ditanya tampak diam, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa kita punya pilihan lain."


Tanya nya dengan suara parau.


Gadis itu tampak membeku


"Kami bisa memikirkan nya dengan baik, tapi ibu mu tidak bisa menunggu dalam waktu yang begitu lama"


"Paman"


"Kamu paling tahu harus membuat keputusan yang bagaimana"


ucap paman nya pelan sambil menepuk-nepuk lembut punggung gadis itu.


*********


Disisi lain


Rumah sakit xxxxxxx xxx


Jakarta pusat


Seorang laki-laki dengan wajah tampan mendominasi perpaduan timur tengah, eropa dan Indonesia itu menatap tajam ke arah pintu ruang UGD yang ada dihadapan nya itu, bola matanya tidak beranjak sedikit pun dari sana meskipun telah berjam-jam Waktu telah berlalu sejak tadi.


Bahkan orang-orang yang lalu lalang pun telah mulai menghilang satu persatu namun dia tetap bertahan disana.


Bola mata laki-laki itu terpejam sejenak, kedua tangannya tampak memijat-mijat kepalanya nya untuk beberapa waktu, rasa pening Seketika menghantam fikiran nya.


Satu tekanan yang dia dapatkan hari ini dari sosok yang baru saja mendapatkan perawatan intensif di ruang UGD tersebut sebelum sosok tua itu Tumbang.


"Menikah dengan gadis pilihan ku dan mendapatkan semua kekayaan Narayan atau menikah dengan gadis pilihan mu dan lepaskan semua hak mu di Narayan company"


"Tapi bagaimana mungkin aku menikahi perempuan yang sama sekali tidak aku cintai? apa kakek sedang bercanda dengan ku? kami bahkan tidak saling mengenal Antara satu dengan yang lainnya"


Laki-laki itu jelas menolaknya.


Dia fikir pernikahan macam apa yang akan terjalin di abad se modern sekarang, bagaimana caranya Dua orang asing yang Bahkan tidak saling mengenal harus menjalani ikatan pernikahan tanpa cinta.


"Ini bukan drama, sinetron atau Novel percintaan remaja, ini tentang masa depan yang seharusnya kami bisa mengatur nya sendiri"


"Kau fikir pilihan mu itu perempuan yang tepat? pilihan mu jelas tidak tepat, satu hari pilihan mu bisa menjatuhkan diri mu seenak hatinya, bisa jadi dia hanya menginginkan harta kekayaan Narayan kemudian berpaling dari mu dengan sesuka hati nya"


Laki-laki tua itu bicara sambil mencoba menekan amarah nya terhadap sang cucu nya.


"Apakah kakek selalu menilai perempuan dari sudut pandang yang seperti itu? tidak semua perempuan sama seperti masa lalu kakek"


Mendengar ucapan sang cucu jelas saja laki-laki tua itu murka.


"Kau.... berani sekali kau berkata pada ku seperti itu..."


"Kau bisa memilih hidup miskin bersama perempuan itu dan kehilangan semua fasilitas serta jabatan mu, pergi...kau boleh pergi sesuka hati mu"


laki-laki tua itu mencoba mengacungkan jari nya dengan penuh kemarahan, namun tiba-tiba sepersekian detik kemudian tangan kanan nya tahu-tahu memegang erat dada nya.


"Kakek.. kakek?"


Brakkkk


laki-laki tua itu tumbang seketika.


Seketika laki-laki itu menghembuskan kasar nafasnya, sejenak dia meraup wajah nya kasar, dia fikir apa yang harus dia lakukan saat ini.


Menerima pernikahan itu atau mundur dengan teratur?.


******


Violet masih sibuk berkutat di dapur menyiap kan sarapan pagi sejak tadi, saat tangan kanan nya menyiapkan makanan, tangan kirinya meraih gelas kecil teh di atas kitchen set dengan cekatan.


Lalu Secara perlahan gadis cantik itu mulai menggeser tubuh nya, dia mulai menyedu secangkir teh dan secangkir kopi di atas meja di hadapannya itu, sembari bola matanya sesekali melirik ke arah samping kanan nya dimana dia masih menunggu roti panggang di dalam alat penanggung nya matang.


ini adalah kegiatan baru yang cukup rutin dia lakukan belakangan ini setelah menikah dalam beberapa bulan ini bersama seorang laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal.


Dulu saat masih SMA violet selalu bermimpi untuk menikah dengan laki-laki yang dia cintai, mendapatkan sesi lamaran romantis penuh cinta mungkin ditemani jutaan lampu tamaram dan musik romantis seperti di drama-drama percintaan yang sering dia tonton, bisa jadi menjelang pernikahan mendapatkan jutaan godaan usil dari para teman-teman nya, lalu dia menggunakan gaun pengantin impian nya, seluruh kaki dan tangan nya dihiasi hena, akad nikah yang manis dan pesta pernikahan sesuai dengan impian nya.


Tapi.....


Benar kata orang tua, berkhayal boleh tapi jangan terlalu, bermimpi boleh namun hati-hati terjatuh kemudian terbangun tanpa sengaja, juga apa yang kamu harapkan belum tentu jadi kenyataan.


Realita kehidupan ini kejam, jadi jangan terlalu banyak berkhayal sebab sekalinya sadar rasanya begitu menyakitkan.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba seorang laki-laki tampan tampak baru saja turun dari arah tangga, berjalan dengan langkah tegap sambil menatap tajam ke arah Violet untuk beberapa waktu.


Laki-laki itu melengos, membuang pandangan nya sejenak dari violet kemudian menoleh ke arah atas meja di mana beberapa hidangan telah di siapkan violet di sana.


Kalau ada yang tanya siapa laki-laki tampan dihadapan nya itu dengan aksen wajah timur tengah dan bola mata indah itu? Karan bin Narayan, penerus Al Humairah Group yang menjadi idola banyak kaum hawa.


Siapa lagi dia di kehidupan Violet? Hanya suami di atas kertas nya, yah suami Di atas yang tiba-tiba terikat karena perjodohan yang di buat oleh kakek Karan yang kritis di rumah sakit kala itu bersama Paman Violet.


Sejak awal mereka tidak saling mengenal, tidak pernah bertemu, tidak saling suka apalagi pernah saling jatuh cinta.


Mereka hanya melakukan pernikahan demi untuk saling mendapatkan keuntungan, istilah nya tinggal Satu Atap Tanpa Cinta.


Dan Selama pernikahan, Sedingin apa laki-laki itu terhadap nya, seperti itulah violet pada nya, se diam apa laki-laki itu pada nya, seperti itu pula violet.


Prinsip violet....


Dia memang tengah mengejar surga, tapi bukan berarti dia harus menurunkan harga diri nya.


Tapi meskipun begitu bukan kah violet telah menjadi seorang istri? Ada aturan nya didalam agama Islam jika seorang istri wajib melayani kebutuhan suami?.


Realita nya dia tetaplah seorang istri yang harus 


-Taat pada Suami. 


-Menjaga Diri saat Ditinggal Pergi. 


-Memperlakukan Suami dengan Benar. 


-Melayani Suami.


Atau bahkan harus rela


-Memenuhi Hasrat Suami.


Tapi violet cukup harus merasa bersyukur sebab hingga hari ini Karan sama sekali belum pernah menyentuh diri nya, sejati nya lagi mereka tinggal di kamar yang terpisah dan saling mengabaikan antara satu dengan yang lain nya.


Saat laki-laki itu menyelesaikan sarapan nya dan mulai membersihkan mulut nya dengan tisu, beberapa waktu kemudian Karan berkata dengan dirinya.


"Aku akan menikahi Rasty"


Ucap laki-laki itu dengan nada suara yang begitu tenang.


Violet yang tengah membuat sarapan roti panggang untuk dirinya sendiri Seketika menghentikan kegiatan tangan nya.


******


Dan satu baris kalimat yang meluncur dari bibir Karan pagi ini yang membuat violet diam sejenak.

__ADS_1


"Aku akan menikahi Rasty"


Menikahi Rasty? Apa Dia kenal nama itu?.


Tentu saja sangat kenal sekali, kakak ipar nya Ghanem pernah memberitahukan kepada nya soal gadis cantik bernama Rasty itu, jika dia adalah dunia Karan, kehidupan Karan dan cinta sejati Karan sejak màsih kanak-kanak.


"Mereka dekat untuk waktu yang sangat lama sekali, berpisah juga cukup lama lalu bertemu kembali, gadis itu bisa mengalihkan dunia Karan dengan caranya sendiri, karena itu berhati-hatilah dalam melangkah, juga hati-hati terhadap hati mu"


Ucap sang kakak ipar nya saat itu.


Kabar nya hubungan mereka Berawal dari sejarah masa lalu yang tidak violet pahami apa, sebab violet enggan bertanya soal kehidupan orang lain, hingga berakhir pada perasaan cinta yang tidak berujung di antara dua sosok manusia itu.


Tapi kabar lain nya berkata Hubungan mereka di tentang habis-habisan oleh kakek Karan, alasan nya tidak banyak, Rasty memang tidak cocok untuk Karan dan jelas tidak sepadan menikah dengan Karan, bagi kakek nya, Karan jelas butuh seorang gadis seperti violet yang mampu mengikuti dan membantu Karan dalam banyak hal.


Rasty tidak mampu untuk berdiri disamping Karan layak nya istri pada umum nya, sedangkan violet mampu melakukan nya, bahkan dia memiliki kemampuan untuk mengelola seluruh urusan dengan cara yang begitu cekatan.


Dan dapat violet tebak alasan Karan tidak bisa membantah ucapan Kakek nya untuk menikahi violet, selain bisa kehilangan seluruh fasilitas, saham, kekayaan dan masa depan nya, apa lagi alasan paling logis untuk laki-laki itu menolak pernikahan mereka.


Terlihat cukup serakah? tentu saja.


Laki-laki itu menginginkan gadis itu, juga aset Narayan secara bersamaan dan Itu realita nya soal manusia, mereka serakah karena keadaan, menginginkan semuanya secara bersamaan meskipun harus mengorbankan orang lain dan violet fikir termasuk juga dengan dirinya.


Realita nya meskipun pernikahan mereka palsu namun sebagai seorang istri mendengar ucapan laki-laki tidak berhati dan sedingin kutub Utara itu cukup membuat violet kehilangan kata-kata nya.


Bahkan yang lebih lucunya lagi laki-laki itu selalu menyakiti perasaan violet selama pernikahan mereka dan suka tidak suka violet harus selalu menerima nya.


Sama seperti pagi ini ketika laki-laki itu untuk kedua kali nya mengulang kembali kata-kata nya yang tadi .


"Aku akan menikahi Rasty"


Violet sejenak diam, tangan nya sempat menghentikan aktivitas nya sejenak, meskipun tidak ada cinta, tapi tidak tahu kenapa mendengar ucapan Karan tetao saja membuat violet kecewa dan kehilangan kata-kata.


Gadis itu menghela nafasnya pelan, dia kembali melanjutkan aktivitas nya.


"Kamu bebas menikahi siapapun yang kamu mau, bukan kah pernikahan kita hanya sekedar sandiwara? Sejak awal tidak ada yang perlu di bahas di Antara kita bukan? Kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan mu sama seperti diri ku"


Barisan kata-kata itu meluncur dengan jelas dari balik bibir indah violet tanpa mau menoleh ke arah laki-laki di belakang nya itu.


"Sembunyikan persoalan ini hingga perceraian kita nanti, aku mungkin akan menikah dalam waktu dekat dengan Rasty, jadi saat aku tidak kembali dan kakek kemari, belajar lah untuk menipu diri soal dimana aku berada untu sementara waktu nanti"


Setelah berkata begitu laki-laki itu langsung melesat pergi meninggalkan violet di dalam keheningan.


*******


Violet tampak memejamkan perlahan bola matanya, dia menarik pelan nafasnya sejenak.


Kenapa hidup sebercanda ini?


Batin nya pelan.


Dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat ini, tapi dia jelas tidak bisa melakukan nya.


Violet fikir Mereka benar-benar menjalani pernikahan tanpa cinta, jika bukan gila apa nama nya? tidak ada satu perempuan pun yang mau menikah dengan laki-laki yang tidak di cintai bahkan malah di madu pula.


Sangat lucu sekali bagi nya.


Violet ingat betul bagaimana tiba-tiba hari itu entah bagaimana caranya laki-laki itu bisa datang menemui violet, menatap nya dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat.


Lalu tahu-tahu menawarkan dirinya sebuah kesepakatan pernikahan dengan banyak pertimbangan.


"Bukankah kondisi kamu dalam keadaan terjepit? kalau begitu mari melakukan pernikahan nya, mari sama-sama mendapatkan keuntungan Antara satu dengan yang lainnya"


Ucap laki-laki itu dengan tatapan yang begitu dingin.


Violet menatap bola mata laki-laki itu secara bergantian, dia menelisik wajah itu untuk beberapa waktu.


"Apa keuntungan yang bisa aku peroleh dengan menyetujui pernikahan nya? bukankah terlalu sederhana keuntungan yang akan aku dapatkan dalam pernikahan kita jika hanya sekedar untuk mendapatkan biaya operasi atas ibu ku? sangat tidak sepadan mengingat apa yang akan kamu dapatkan nantinya setelah perceraian kita"


Ucap violet dengan nada tidak kalah dingin nya.


Mendengar perkataan violet, laki-laki itu mendengus.


"Kau bahkan ingin bernegosiasi dengan ku?aku baru tahu betapa picik nya Fikiran mu"


Ejek laki-laki itu sambil menatap begitu dingin wajah violet.


"Lalu kau tidak sama picik nya dengan ku?"


Tanya violet balik.


"Kamu fikir ini drama televisi? gadis nya harus menjadi lemah demi uang ratusan juta? demi pengobatan ibu nya atau demi menyelamatkan perusahaan orang tua nya? aku jelas bukan gadis seperti itu, sebab kita tengah tinggal di dunia nyata, dimana segala sesuatu didunia ini diukur dengan lembaran kertas yang di sebut UANG?"


Ucap violet sambil terus menatap bola mata Karan.


"Kau benar-benar gadis yang unik"


Ucap laki-laki itu sambil melipat kedua belah tangannya.


Itulah kesan pertama yang masing-masing dari mereka dapat kan saat itu.


Dan sebelum pernikahan mereka digelar, laki-laki itu kembali berkata.


"Mari kita berpura-pura menerima pernikahan ini, kamu bisa melakukan apapun yang kamu ingin kan begitu juga sebaliknya aku"


"Tapi ingat jangan membuat malu diri ku dengan selalu tampil di samping ku tanpa persetujuan dari ku"


Ucapan pedas laki-laki itu benar-benar menyakiti perasaan Violet.


"Aku tidak tertarik untuk berbaur dengan relasi bisnis mu, Sebab aku bukan type gadis yang suka dengan suasana baru, kau bisa mengatur nya sesuai kemauan kamu"


Mendengar Jawaban violet laki-laki itu Tampak menatap datar ke arah wajah gadis itu.


"Kau ini gadis yang bagaimana sebenarnya?"


Tanya Karan cepat.


Violet sama sekali tidak tertarik untuk menjawab.


Seketika lamunan violet terpecahkan saat sebuah suara mengejutkan dirinya.


Bel depan mengeluarkan suara yang cukup memekakkan telinga, dengan gerakan cepat violet berjalan menuju kke arah depan, membuka pintu secara perlahan.


Sejenak violet membeku saat menyadari Seorang laki-laki Tampak berdiri di ambang pintu sambil mengulas senyuman indah yang mampu memecah suasana.


"Aku membawakan makanan kesukaan mu"


Ucap laki-laki itu.


Gadis itu tampak membeku, bola mata nya menatap sosok yang dihadapan nya itu dengan jutaan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.


******


Wajah tampan mendominasi itu selalu muncul tiba-tiba dihadapan violet.


Tanya violet setelah mempersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam mansion mereka.


Yang ditanya hanya mengulas senyuman, meletakkan Kantong makanan ke atas meja makan lantas mulai membuka nya.


"Aku akan pergi setelah memastikan perut kamu kenyang"


Ucap laki-laki itu cepat.


"Aku akan memakan sandwich ku"


Jawab violet cepat.


"Aku yang akan memakannya"


Laki-laki itu bicara lantas meraih sandwich buatan violet.


"Eh?"


Gadis itu tampak sedikit bingung.


"Tapi kak..."


Secepat kilat laki-laki itu memakan sandwich milik violet.


Gadis itu tampak kebingungan sejenak, lantas seulas senyum mengembang di balik wajah nya.


Jika ada yang bertanya siapa laki-laki tampan dihadapan nya itu, dia adalah Ghanem sang kakak ipar violet, saudara laki-laki dari sang suami yang selalu memperlakukan violet dengan sangat baik dan hangat.


Apakah violet mengenal laki-laki itu setelah pernikahan nya dengan Karan?


Tidak.


Mereka saling mengenal jauh sebelum violet tahu dengan Karan dan menikah dengan laki-laki itu.


Mereka Sekolah di SMA juga kuliah di tempat yang sama, jika Ghanem kuliah karena punya uang, maka violet bisa kuliah karena beasiswa. Ghanem adalah kakak kelas nya.


tapi violet sama sekali tidak tahu jika laki-laki itu adalah anak konglomerat, dia bahkan tidak menyangka jika laki-laki itu akan jadi kakak ipar nya, dan realita pahit nya violet pernah begitu menyukai laki-laki itu di masa lalu kemudian menepis perasaan nya demi seorang teman, tapi siapa sangka dia masuk ke keluarga Narayan dan kembali bertemu dengan laki-laki itu dengan kondisi memalukan.


Bahkan sang kakak ipar tahu bagaimana kondisi pernikahan diri nya dan karan.


"Hari ini tidak pergi ke perpustakaan?"


Tanta Ghanem tiba-tiba, mengejutkan pemikiran violet.


"Ah? itu .. tidak"


Jawab violet gelagapan.


Ghanem tampak tersenyum, beranjak dari posisi duduknya lantas mencuci tangan nya di wastafel cucian piring.


"Aku akan pergi ke perusahaan"


Ucap laki-laki itu lantas menyentuh lembut kepala violet, seketika gadis itu menundukkan kepalanya karena malu.


"Baik-baik di rumah"


"Ya,kak"


Laki-laki itu langsung melangkah pergi meninggalkan violet dalam keheningan.


Sejenak gadis itu menghela pelan nafasnya, dia menutup pintu depan setelah Ghanem menghilang dari pandangan nya.


Violet fikir kenapa takdir begitu Kejam mempermainkan dirinya, bahkan dia masih ingat bagaimana keran bicara pada nya sebelum hari pernikahan mereka.


jangan pernah bermimpi untuk jatuh cinta pada ku atau aku jatuh cinta pada mu"


Dimana itu adakah pertemuan kedua mereka di saat pernikahan.


Violet jelas hanya mengulas senyuman.


Kau fikir aku akan jatuh cinta pada mu dengan begitu mudah? jangan bercanda.


kemudian Karan Kembali berkata setelah pernikahan mereka.


"ini adalah batasan kita, kamu jangan pernah masuk ke dalam kamar ini bahkan hingga akhir kita menikah, dan aku tidak akan masuk ke dalam kamar mu hingga nanti kita mengakhiri pernikahan"


Dan itu pertemuan ke tiga saat mereka pindah rumah.


Violet lagi-lagi hanya bisa mengulas senyuman sambil berkata.


"Kamu jangan khawatir soal itu, aku tidak minta banyak, bersikap baiklah pada kedua orang tua ku dan jangan menyakiti perasaan mereka, cukup hanya seperti itu"


Violet kadangkala berfikir, kenapa ada type manusia seperti Karan di dunia ini.


******


Keputusan kakek pagi ini terlalu mendadak, meminta violet hadir didalam pesta ulangtahun perusahaan dan meminta violet menghadirinya bersama Karan tanpa boleh meletakkan alasan apapun untuk menolak nya.


Sejenak violet menatap ke arah cermin yang ada dihadapan nya, setelah melewati sesi membersihkan diri. Gadis itu masih menggunakan handuk mandi yang mendominasi berwarna putih, rambut basah nya Tampak tergerai masih mengeluarkan tetesan air dari ujung-ujung rambut nya, wajah enggan dengan tatapan datar itu terlihat begitu tidak cukup enak di pandang.


Violet sedang berfikir bagaimana cara nya untuk menolak menghadiri acara tersebut.


Dia hanya tidak merasa nyaman untuk berbaur dengan banyak orang saat ini, entahlah violet hanya merasa enggan orang-orang tahu jika violet adalah istri dari seorang Karan.


Fuhhhhhh


Gadis itu menghela pelan nafasnya, lantas dia beranjak dari sana menuju ke walk in closed milik nya.


Saat tangan violet tengah sibuk meraba-raba pakaian mana yang harus dia gunakan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Sejenak violet menghentikan gerakan tangannya, dia tampak mengerutkan keningnya.


"Ya?"


Tanya violet pelan.


"Maaf Miss, kami datang membawa pesanan"


Terdengar suara seorang perempuan di balik pintu kamarnya.


Seketika violet membeku, dia semakin mengerutkan keningnya.


Pesanan?.


Dia fikir tidak memesan apa-apa sejak kemarin, kenapa tiba-tiba ada yang datang dan berkata membawa pesanan nya?.

__ADS_1


Sejenak violet beranjak dari posisi nya, gadis itu membuka pintu secara perlahan sambil mengintip.


Dua perempuan muda tampak mengembang kan senyuman mereka dihadapan violet, masih dengan ekspresi bingung violet membiarkan dua perempuan itu masuk sambil membawa kotak kontainer box di tangan mereka.


Violet masih menatap bingung, menutup pintu secara perlahan.


"Aku fikir tidak memesan apapun"


Ucap violet pelan.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba satu perempuan itu memberikan headset bluetooth nya kepada violet.


"Tuan ingin bicara dengan anda, Miss"


"Ya?"


Violet jelas bertanya dengan ekspresi terkejut.


Tuan? tuan yang mana?.


Gadis itu bertanya dalam hati sambil menerima headset bluetooth dari tangan perempuan di hadapannya itu, meletakkan nya ke balik telinga nya lantas bicara dengan ragu-ragu.


"Maaf tuan, saya fikir..."


Violet baru saja ingin meneruskan kata-katanya, namun suara seorang laki-laki di seberang saja seketika membuat nya kehilangan kata-kata, violet fikir bagaimana bisa laki-laki itu memberikan diri nya sebuah fasilitas yang berlebihan untuk dirinya.


Make up artist dan gaun indah untuk ke acara pesta nya.


"Tapi ini sedikit berlebihan"


Ucap violet sambil menggigit pelan bibir bawahnya.


Seketika gadis itu menghela nafasnya pelan, violet fikir bahkan Karan sang suami tidak memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa, bagaimana mungkin laki-laki diseberang sana bisa memperlakukan dirinya bak seorang Cinderella.


"Aku takut berhutang Budi terlalu banyak pada mu, ini benar-benar berlebihan"


Ucap violet pelan.


Seketika violet kembali terdiam.


"Baiklah"


Ucap violet lagi pelan.


Sepersekian detik kemudian sambungan telpon mereka terputus, masih dengan tatapan bingung violet menatap dua perempuan di hadapannya itu, secara perlahan violet mengembalikan headset bluetooth ke arah perempuan dihadapan nya itu.


"Anda sudah siap Miss?"


Tanya salah satu dari kedua perempuan itu.


Violet mengangguk secara perlahan.


Dua Perempuan itu tampak mengembangkan senyuman mereka.


"Kita akan mulai menyulap anda menjadi sesuatu yang begitu berkesan Dimata semua orang"


Setelah berkata begitu kedua perempuan itu mulai bergerak menyulap violet menjadi sosok yang diinginkan seperti yang tuan mereka harapkan.


******


Dua perempuan itu terus sibuk menyulap violet sejak tadi, gadis itu tampak pasrah dengan apa yang akan dilakukan pada dirinya oleh kedua perempuan itu.


Beberapa kali bahkan violet sempat menghela nafasnya, dia fikir kapan berakhirnya.


Fikiran violet pun saat ini berkecamuk menjadi satu, dia fikir ini terlalu berlebihan untuk dirinya, dia mungkin sebenarnya tidak pantas diperlakukan seistimewa ini, apalah Dirinya hanya gadis biasa-biasa saja yang bukan siapa-siapa.?


Setelah melewati beberapa sesi waktu yang cukup lama, akhirnya dua perempuan itu mulai memasang kan gaun 👗 kepada dirinya, meminta nya memutar beberapa waktu, memasang peticoat kemudian meluruskan gaunnya.


Beberapa waktu kemudian akhirnya mereka menyelesaikan semuanya dengan begitu sempurna, memasangkan sepatu Cinderella kekaki jenjang dan putih mulus milik violet.


"Sempurna"


Mereka berdua tampak berdecak kagum.


"Oke anda bisa melihat nya di cermin sekarang, miss"


Ucap salah satu perempuan itu sambil mengembangkan senyuman nya.


Violet maju beberapa langkah, mendekati cermin besar disisi kirinya, Sejenak violet terpaku menatap diri nya didalam cermin tersebut.


The magic 🪄



Kekuatan make up memang luar biasa, dia bisa mengubah seseorang yang biasa menjadi begitu luar biasa, bahkan ditambah dengan pakaian yang menunjang.


Tidak heran orang kaya meskipun wajah nya pas-pasan bisa disulap bak Dewi ketika memiliki segala-galanya.


Batin violet.


"Anda benar-benar cantik miss, tanpa polesan sudah sangat cantik, ditambah lagi dengan polesan serta gaun Indah nya"


"Anda terlihat begitu bersinar"


Puji mereka ke arah violet


"Tangan kalian yang begitu luar biasa"


Jawab violet sambil mengembangkan senyuman nya.


"Kita bersiap untuk berangkat?"


"Mobil jemputan nya sudah menunggu dibawah"


"Ya?"


Violet jelas saja kaget.


"Jemputan? tapi aku fikir..."


Yah dia fikir bagaimana dengan Karan? apa mereka harus pergi dengan jalur masing-masing? memisahkan diri? lalu saat kakek melihat nya nanti bagaimana?.


"Suami anda telah pergi lebih dulu sejak 20 menit yang lalu"


Ucap salah satu perempuan itu.


"Ya?"


Lagi-lagi violet terkejut.


Dia cukup tidak percaya jika Karan telah pergi lebih dulu ke acara pesta nya.


Satu perempuan itu langsung membuka pintu kamar violet, menunggu gadis itu untuk segera beranjak dari sana.


Fuhhhhhh.


Sejenak violet menghela nafasnya, terasa begitu berat dan sulit.


Dia fikir andai saja dia bisa bertukar tempat dengan seseorang saat ini.


Gadis itu tampak berjalan secara perlahan menuju ke arah pintu, keluar dari kamarnya diikuti oleh dua perempuan tadi.


Dia berjalan perlahan menuruni anak tangga satu persatu hingga berakhir melewati pintu Mansion itu dan keluar dengan gerakan anggun.


Tampak sebuah mobil mendominasi berwarna hitam dihadapan nya tersebut ternyata memang benar telah menunggu nya sejak tadi, tiba-tiba seseorang membukakan pintu samping kemudi mobil tersebut, menundukkan kepalanya dan menunggu violet beranjak dari depan pintu besar utama mansion tersebut menuju ke arah nya.


Dengan langkah sedikit ragu-ragu violet berjalan ke arah sana, menapakkan kaki nya ke jalanan aspal tersebut Secara perlahan.


Dia masih berfikir ini benar-benar terlalu berlebihan untuk nya, dia terlalu takut menerima kebaikan yang di lakukan laki-laki itu untuk nya dalam beberapa waktu ini.


Begitu violet mendekati pintu mobil tersebut, dia melangkah kan kakinya untuk masuk kedalam sana secara perlahan.


Namun begitu dia duduk didalam mobil itu, dia baru sadar siapa sosok lain yang tengah menunggu nya, duduk disampingnya di bangku kemudi, menatap dirinya dengan penuh cinta.


"Tarik nafas mu, lalu buang. Semua akan baik-baik saja"


Ucap laki-laki itu sambil mengembangkan senyuman nya, laki-laki itu bergerak pelan, memasangkan sabuk pengaman di tubuh violet, aroma wangi laki-laki itu tercium jelas dibalik hidung nya, bahkan mereka nyaris tidak memiliki jarak sama sekali.


Jantung violet jelas berdetak begitu kencang, kedua tangan nya secara perlahan menggenggam erat ujung gaunnya dengan jutaan perasaan berdebar-debar.


******


Mendengar ucapan Ghanem violet mencoba tersenyum, mengikuti langkah Ghanem menuju ke pintu elevator yang berbeda, seolah-olah laki-laki itu paham bagaimana caranya membuat violet dan Karan agar tidak bertemu secara kebetulan, sang kakak ipar berusaha untuk menjaga betul perasaan nya.


Saat masuk ke satu ruangan yang dihuni oleh jutaan lautan manusia, Ghanem berkata pada nya.


"Kamu bisa berbaur sejenak, aku akan menemui kakek tua Narayan"


Ucap Ghanem.


Laki-laki itu jelas tidak bisa menemui sang kakek bersamaan dengan violet, akan jadi tanda tanya besar untuk sang kakek kenapa dua orang yang status nya ipar bisa datang bersamaan.Dimana realita nya Karan datang bersama gadis lain dari arah yang berbeda.


Violet hanya mengangguk, paham maksud dari laki-laki itu, dia ingin mereka menemui kakek tua Humairah Secara bergantian.


Violet mencoba sedikit menepi dari semua orang, dia sama sekali tidak mengenal siapun yang ada di sana, bahkan violet merasa menjadi orang asing yang dikelilingi oleh manusia-manusia yang berpakaian mewah.


Sejenak gadis itu menghela nafas nya, rasa tidak nyaman mulai menyeruak kedalam diri nya.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba pundak nya disentuh oleh seseorang.


"Nyonya Karan bin Narayan?"


Suara seorang wanita memenuhi gendang telinga nya.


Ketika violet menoleh, gadis itu jelas membulatkan bola matanya.


"Bibi Melly?"


Itu adalah bibi tua Hurairah, wanita paling ingin tahu urusan orang lain yang lupa berkaca pada kehidupan nya sendiri yang begitu hancur berantakan.


Memiliki hubungan yang payah dengan suami nya karena perangai buruknya, diluar terlihat akur, didalam sebenarnya mereka lebih tepatnya saling tidak menginginkan, suami yang memiliki simpanan, dia yang menjalin kasih dengan sang sopir kepercayaan, anak-anak yang kacau balau dimana yang laki-laki seorang penjudi dan pemabuk, sedangkan sang putri begitu liar tidak terkendali.


Violet jelas paling enggan bertemu dengan wanita tua itu, tapi apa hendak dikata takdir harus mempertemukan mereka saat ini.


"Halo bibi"


Violet menundukkan kepalanya secara perlahan, memberikan tanda sebagai penghormatan.


"Dimana Karan?"


Bola mata wanita itu mulai menyusuri seluruh ruangan, mencari sosok Karan yang belum juga terlihat di antara semua orang.


Violet enggan menjawab pertanyaan wanita itu, dia lebih memilih diam.


"Kau ini seharusnya mengikuti kemana ekor suami mu bergerak, bukan nya menyelinap dan memilih untuk berada di sudut ruangan seperti ini, bahkan bukan nya datang menemui orang tua, kau malah mendekati meja makan di waktu yang begitu awal?!"


Mulut pedas nya memang seperti itu, bicara tanpa berfikir terlebih dahulu.


Violet baru sadar jika dia ternyata berdiri tidak jauh dari meja katering.


"Aku Fikri akan menemui semua keluarga tertua setelah Karan ada, akan sangat aneh jika aku menemui kalian sendirian, bi"


Ucap violet dengan suara serendah mungkin.


"Cihh... anak muda sekarang begitu banyak membuat alasan"


Violet mencoba membuang nafasnya.


Dia fikir dulu menikah saja sudah cukup, tidak Pernah terpikir kan jika didalam keluarga suami akan ada seorang nenek sihir yang harus dengan sabar untuk bisa dihadapi.


"Maafkan aku,bi"


Violet mencoba menundukkan kepalanya.


"Ckckckck benar kata bipashu, kau tidak cocok menjadi menantu keluarga Hurairah, Hahhhh entah apa yang difikirkan laki-laki tua itu?"


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Violet saat wanita itu berkata seperti itu, sakit!. Tapi gadis itu sejak dulu telah terbiasa hidup dengan lingkaran keras seperti itu dan berhadapan dengan type manusia seperti itu sejak usia kecilnya.


Saat wanita itu ingin kembali bicara, tiba-tiba Ghanem mengejutkan wanita tersebut.


"Kenapa bibi ada disini?"


Laki-laki itu menatap datar kearah bibi Melly, ekspresi nya terlihat begitu dingin dan seram.


"Oh... keponakan tertua, hari ini rupanya kami datang juga?"


Ekspresi wajah wanita itu seketika berubah begitu ramah dan penuh ketakutan, seolah-olah Ghanem adalah singa yang harus dia hindari keberadaan nya.


"Kau apa kah datang dengan menantu muda? dimana saudara laki-laki mu?"


Suara wanita itu seketika melembut sempurna, bicara seolah-olah siap menjilati sepatu yang laki-laki dihadapan nya itu gunakan saat ini.


"Apakah kehidupan ku saat ini, akan jadi urusan bibi juga?"


Tanya Ghanem sambil menaikkan ujung alisnya.


Wanita itu tampak begitu malu, bisa violet lihat getaran di telapak tangannya.


Alih-alih mempedulikan wanita itu, tiba-tiba Ghanem meraih telapak tangan Violet dan menariknya agar segera menjauhi bibi tua Hurairah itu.

__ADS_1


"Eh?"


Violet jelas saja terkejut, seketika Violet menatap Ghanem lantas menatap telapak tangan nya yang di genggam erat oleh laki-laki itu, membawa nya menjauh dari wanita penyihir itu dan mulai menyeruak masuk di Antara kerumunan orang-orang yang di ada di tengah-tengah gedung.


__ADS_2