
Melihat ekspresi Shinta yang terlihat tidak mengenakan karena ucapan dari Maya, pada akhirnya mawangsa memutuskan untuk langsung membawa Elsa pulang pulang.
selama di dalam perjalanan mereka terlihat diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali, bola mata memangsa fokus menatap ke arah depannya sembari tangannya terus mengendalikan stir mobil miliknya.
pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya kepada adik perempuannya itu, soal luka yang ada di wajah Elsa.
"Apa kamu membuat masalah lagi?"
tanya laki-laki itu sembari mengintip wajah Elsa yang duduk di barisan kursi belakang melalui kaca tengah mobil.
Elsa yang mendengarkan pertanyaan kakak laki-lakinya tersebut diam sejenak, pada akhirnya beberapa waktu kemudian dia menjawab.
"ini bukan salahku tapi mereka yang melakukan kesalahan lebih dulu....."
Gadis itu mulai bercerita soal duduk persoalan yang terjadi, kenapa dia dan teman-teman sekolahnya bisa bertengkar hingga masuk ke kantor polisi.
memangsa hanya mendengarkan ucapan Elsa sembari dia masih tetap fokus pada jalanan, Shinta sendiri hanya mengerut kan keningnya.
"untungnya kak Maya datang menyelamatkanku dan mengeluarkan aku dari tempat tersebut"
puji Elsa mengingat bagaimana kebaikan gadis tersebut kepada dirinya tadi.
"dan apakah kakak tahu saat aku diajak ke rumah kak Maya? dia sama sekali tidak pernah membawa laki-laki ke sana aku bisa melihatnya dengan jelas, tapi kenapa orang-orang selalu berkata jika dia berselingkuh di belakang kakak?"
gadis itu bicara dengan cepat sembari melirik kakak-kakak laki-laki nya tersebut, Elsa sebenarnya menyinggung mawangsa sebab kakak laki-lakinya itu pernah mencurigai Maya jika gadis itu berselingkuh di belakangnya, bahkan dia pikir bahkan ibunya pun menuduhkan hal yang sama, berkata jika Maya adalah seorang gadis murahan.
melihat bagaimana keadaan rumahnya tadi Elsa seketika merasa jika Maya jelas bukan orang yang seperti itu.
"bahkan aku berani menjamin jika kak Maya tidak pernah membawa laki-laki ke rumahnya sama sekali"
lanjut gadis tersebut lagi.
mendengar ucapan Elsa seketika membuat Mawangsa menghela pelan nafasnya, entah kenapa tapi dia merasa cukup lega saat mengetahui Maya tidak pernah bersama laki-laki manapun setelah mereka berpisah.
__ADS_1
Sedangkan sedangkan Shinta sendiri langsung mencibir dan melirik kearah Elsa dengan perasaan kesal, dia pikir bagaimana bisa calon adik iparnya masih memuji mantan kakak iparnya tersebut.
dia membuka handphonenya lalu kemudian melihat sesuatu di sana, Shinta pikir ini kebetulan sekali.
pada akhirnya perempuan itu berkata.
"Tidak kah kau lihat? ketika ibu pergi ke perusahaan Maya Maya benar-benar memperlakukan ibu dengan sangat buruk, seseorang merekamnya dan melihat bagaimana cara Maya memperlakukan ibu Dan juga bagaimana cara karyawan yang memperlakukan ibu"
Shinta langsung bicara dengan cepat ke arah mawangsa sembari dia memperlihatkan sebuah video rekaman di mana nyonya Dina mendatangi perusahaan Maya dan sedikit terjadi keributan di sana.
tidak tahu apa yang terjadi tapi tiba-tiba Maya marah-marah kepada ibu Mawangsa lantas beberapa karyawan mengusir wanita tua tersebut keluar.
"coba lihat bukankah dia sangat tidak terpelajar dan juga dia membuat karyawannya memperlakukan seorang wanita tua dengan semena-mena, dia benar-benar terlihat licik dan kotor"
Oceh Shinta kemudian sembari menarik handphonenya dengan cepat, dia yakin Mawangsa telah melihat video rekamannya sepintas bagaimana cara Maya memperlakukan ibunya.
mendengar ucapan calon kakak iparnya seperti kak Elsa merasa tidak senang, dia tahu betul bagaimana wata Maya selama menikah dengan kakaknya, meskipun selama itu dia tidak menyukai Maya tapi selama 6 tahun dia sangat paham sekali bagaimana sifat dan watak mantan kakak iparnya itu, bahkan dia juga tahu bagaimana watak ibunya dan kebencian ibunya terhadap Maya.
"itu tidak benar bagaimana mungkin kak Maya melakukan hal kotor dan licik seperti itu tanpa alasan yang jelas"
"itu pasti ibu yang lebih dulu membuat masalah kenapa juga mendatangi perusahaan kak Maya, aku tahu betul kamu yang tidak mungkin melakukan hal seperti itu"
lanjut Elsa kemudian.
mendengar ucapan Elsa seketika Shinta langsung menoreh ke belakang dengan wajah masam dan memerah, dia pikir bagaimana bisa Elsa sekarang tiba-tiba berubah?!.
bukankah Elsa begitu menyukainya dan bahkan sangat membenci Maya?!, lalu Shinta berpikir bagaimana bisa tiba-tiba gadis kecil itu memuji Maya dan berkata jika Maya itu orang yang baik.
"bagaimana kau berfikir Maya tidak melakukan hal yang buruk kepada ibu? kok bisa menonton video rekamannya secara langsung, aku akan mengirimkannya lewat pesan Whatsapp, coba lihat bagaimana buruknya Maya memperlakukan ibu kalian"
Shinta kembali mengomel sembari mengeratkan genggamannya.
"itu karena ibu pasti membuat ular terlebih dahulu, coba bayangkan bagaimana mungkin kamu yang tidak marah ketika ibu tiba-tiba datang ke perusahaannya dan membuat sebuah kekacauan di sana, aku tahu betul bagaimana sifat ibu terhadap kak Maya selama 6 tahun pernikahannya dengan kak mawangsa"
__ADS_1
kembali Elsa tidak mau mengalah, dia sangat tidak suka ketika Shinta memburuk-burukan soal Maya.
Kau ...?!.
Shinta rasanya ingin marah dan membentak Elsa saat ini juga, tapi mengingat ada mawangsa bahkan mereka belum melewati resepsi pernikahan, dia mana mungkin menampilkan watak buruknya di hadapan laki-laki tersebut.
pada akhirnya perempuan itu memilih untuk diam dan tidak melanjutkan ucapannya.
*******
begitu tiba di rumah Sinta buru-buru masuk ke dalam dengan perasaan masih begitu kesal.
"Aku akan bersiap untuk pulang"
ucap Shinta dengan raut wajah yang sangat tidak mengenakkan.
"Aku akan pergi membersihkan diri terlebih dahulu"
"tidak usah mengantarku aku akan minta sopir untuk menjemputku"
saat Mawangsa menawarkan diri untuk mengantarnya pulang nanti Shinta buru-buru berkata seperti itu.
pada akhirnya Mawangsa memilih diam, laki-laki itu mengganggukan kepalanya lantas bergerak melesat ke dalam kamarnya dan memilih untuk membersihkan dirinya.
setelah dia membersihkan dirinya laki-laki itu langsung mengganti pakaiannya dan bergerak menuju ke arah laci lemari nakas yang ada di depan kasurnya.
saat Mawangsa tengah mencari sesuatu di dalam laci lemari di hadapannya tersebut, seketika gerakan tangan laki-laki tersebut terhenti ketika dia melihat tumpukan kertas yang ada di dalam sana.
seketika rasa lelah laki-laki tersebut menghilang saat dia menatap kertas demi kertas yang ada di hadapannya itu, itu adalah kertas surat ketika dirinya dan Shinta dulu sering berkirim surat pena.
dia pikir cukup tidak menyangka ternyata sahabat penanya adalah Shinta, rasanya hal tersebut begitu luar biasa.
seolah-olah dia merindukan momen di mana dulu mereka saling berkirim surat antara satu dengan yang lainnya tapi sama sekali tidak saling mengenali wajah.
__ADS_1
"Rupanya itu kamu Hmmmm"
ucap Mawangsa pelan sembari mengembangkan senyuman nya.