Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Membuat nya Naik darah


__ADS_3

Begitu Maya menyadari pakaiannya terangkat ke atas hingga menampilkan pinggang rampingnya dan juga tato yang ada di pinggangnya tersebut hingga menyembul keluar, Maya buru-buru langsung menurunkan pakaiannya tersebut dengan perasaan yang sedikit kacau balau, dia cukup takut jika Elsa melihat tato nama mawangsa di pinggangnya tersebut.


Hal tersebut jelas membuat Maya cukup malu jika Elsa melihatnya saat ini, sebab sejauh ini tidak pernah ada yang tahu soal tato yang dia buat bertahun-tahun yang lalu jauh sebelum dia menikah dengan laki-laki tersebut.


Nama mawangsa jelas terukir indah di bagian pinggang ramping itu dengan pertimbangan yang matang kala itu.


Maya dengan cepat melirik ke arah gadis yang ada di samping nya tersebut, takut jika Elsa menatap pinggang nya, namun ternyata bisa Maya lihat Elsa tampaknya tidak menyadari tato yang ada di pinggangnya itu.


Itu cukup membuat dia merasa lega.


"Maafkan aku, aku sama sekali tidak berpikir akan mendorong dan menjatuhkan kakak hingga ke belakang ke arah kursi sofa"


Kali ini busa Maya dengar nada penyesalan dari balik bibir Elsa, gadis tersebut menatap Maya dengan penuh perasaan bersalah sembari mencoba untuk menyentuh dirinya.


melihat ekspresi mantan adik iparnya tersebut yang penuh dengan rasa bersalah membuat Maya mengulumkan senyumannya, dia buru-buru menggelengkan kepalanya sembari langsung membenahi posisi nya kemudian berkata.


"Itu bukan salah mu, akulah yang terlalu ceroboh hingga akhirnya tersandung dan jatuh dengan sendirinya"


ucapnya dengan cepat kemudian Maya buru-buru mencoba untuk melangkah menjauhi Elsa, namun baru beberapa langkah dia berjalan menjauhi gadis tersebut tiba-tiba saja bel di depan rumah berbunyi, membuat Maya seketika langsung menghentikan langkahnya lantas dia menggerutkan keningnya.


dia pikir siapa yang bertamu di waktu malam seperti ini!?.


Maya buru-buru langsung melangkah ke arah depan mencoba untuk membuka pintu dan melihat siapa yang ada di depan sana.


seketika bola matanya membulat dengan sempurna ketika dia menyadari siapa yang kini tengah berdiri di depan pintu tempat tinggalnya.


Wow..?!.

__ADS_1


apakah dia harus terkejut dengan keadaan atau merasa ini sangat luar biasa?!.


mawangsa dan Shinta ternyata sudah berdiri tepat di depan teras rumah nya, tatapan mawangsa terlihat sedikit cemas dan penuh dengan tanda tanya, sedangkan tatapan Sinta sendiri jelas menatapnya dengan tatapan yang sangat bermusuhan.


kedua orang tersebut benar-benar menjadi tamu istimewa bagi Maya.


"aku cukup terkejut melihat kalian ada di sini tepat di depan rumahku, apakah itu karena kau tidak bisa melupakanku hingga kamu terus menguntitku hingga ke tempat tinggalku?"


gadis tersebut bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, dia sengaja mengeluarkan kalimat pedas seperti itu selain untuk membuat nuansa sedikit sadar diri dia ingin Shinta sadar bahwa dia sudah tidak memiliki hati lagi pada laki-laki tersebut.


Agar gosip yang menyebar soal kejadian hujan di malam tempo hari tidak membuat dirinya harus dipermalukan lagi oleh nyonya Dina di mana dia sama sekali tidak tertarik untuk meminta bantuan mawangsa atau dibantu oleh laki-laki tersebut.


karena baginya hubungan mereka jelas telah berakhir dan tidak perlu lagi untuk diingat atau dikembalikan seperti semula lagi.


mawangsa cukup berdiam mendengar ucapan Maya, sedangkan Shinta yang tadinya wajahnya dipenuhi dengan senyuman seolah-olah membanggakan dirinya yang berdampingan dengan memangsa saat ini langsung kehilangan senyumannya tersebut.


Shinta pikir berani-beraninya gadis sialan di depan nya itu berkata seperti itu dihadapan nya.


Satu kecemburuan besar dan kemarahan besar tertanam didalam hati nya saat ini.


"Kau salah paham, memangsa sama sekali tidak berniat untuk menguntit mu, kami kemari karena kami mencari Elsa yang tidak kembali ke rumah sejak tadi Sore"


Shinta buru-buru langsung menjelaskan niat dan tujuannya datang ke sana.


"Kau tahu? kami sedang berkumpul di rumahku, Antara aku, mawangsa dan kedua orang tuaku juga orang tua memangsa sedang sibuk untuk merancang pernikahan kami"


Demi apapun Shinta sengaja berkata seperti itu agar Maya tahu diri jika mereka akan segera menikah dan Maya hanyalah bukan sampai yang telah dibuang oleh mawangsa demi dirinya, berharap gadis dihadapannya itu Sadar diri jika mereka telah bercerai dan tidak lagi memiliki hubungan apapun.

__ADS_1


mendengar ucapan dari Shinta membuat Maya seketika tersenyum mengejek, dia pikir cara orang bodoh yang bahkan tergila-gila dengan bekas orang lain benar-benar sangat unik untuk memamerkan pernikahan yang entah akan berjalan kapan.


Shinta hanya berusaha untuk membela dirinya sendiri tapi memangsa sama sekali tidak mencoba ikut memberikan penjelasan.


"kami mendiskusikan pernikahan kami sejak sore namun saat malam tiba kami mencoba untuk menghubungi Elsa nyatanya gadis itu mematikan handphonenya, yeah kau tau bukan aku sebagai calon kakak iparnya jelas saja khawatir dan meminta Mawangsa untuk melacak keberadaan Elsa, dan rupanya GPS handphone Elsa menunjukkan keberadaannya di tempat tinggalmu ini"


Shinta kembali melanjutkan ucapannya hingga selesai, dia sengaja menekankan kalimat soal pernikahan dia dan mawangsa juga soal jika dia adalah calon kakak ipar Elsa, jadi sah-sah saja jika dia khawatir dan mencari gadis tersebut hingga ke rumah Maya.


mendengar ucapan perempuan yang ada di hadapannya itu membuat Maya tampak enggan melihatnya, kemudian garis tersebut berkata.


"itu benar Elsa ada di sini, kalian bisa menjemputnya dan mengambilnya sekarang juga kemudian membawanya pulang, aku cukup khawatir karena mantan adik iparku masih sangat menyukaiku dan berkata ingin tidur di sini dan enggan kembali ke rumah"


Maya bicara kemudian langsung membuka pintu nya dengan sempurna.


"Dia bilang orang-orang di rumah kurang memperhatikannya bahkan dia tidak pernah lagi menikmati masakan enak di dalam rumah, dia merindukan perhatianku dan juga merindukan makanan buatan tanganku"


lanjut Maya lagi sembari menaikkan ujung bibirnya, dia berusaha mengembangkan senyumannya kemudian membentangkan tangan kanannya dan meminta kedua orang tersebut mengambil Elsa yang ada di dalam rumahnya.


bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Shinta saat mendengar Maya berkata seperti itu?!.


Wajahnya jelas langsung merah padam, api kemarahan serasa membuncah di dalam dadanya. Jika saja tidak ada memangsa saat ini di hadapan mereka, bisa dipastikan dia telah meremas dan menjambak rambut gadis yang ada di hadapannya tersebut.


Dia pikir bagaimana bisa Maya sekarang begitu pandai bicara, bahkan dia hampir kehilangan kata-katanya saat gadis itu begitu pandai dan membuat dia kehilangan kata-kata.


Kau..!.


Shinta mengeram Sembari menggenggam erat telapak tangan nya.

__ADS_1


__ADS_2