
Disisi lain.
Mawangsa baru saja ingin menepikan mobilnya saat ini, berpikir untuk kembali ke rumah dan membersihkan diri, mungkin melewati waktu makan dengan baik dan setelah itu memilih untuk beristirahat. Tapi baru saja dia ingin menepikan mobilnya di halaman rumah, tiba-tiba saja handphone yang berdering memekakkan telinga dan mengejutkan dirinya. Mawangsa langsung melirik ke arah handphonenya yang dia letakkan di atas dasbor mobil, memilih untuk melihat siapa yang melakukan panggilan kepada dirinya saat ini. Memangsa mengernyitkan keningnya saat tahu siapa yang menghubungi dirinya.
"Halo?, ada apa?." Laki-laki tersebut bertanya dengan cepat.
Dia diam untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya bisa dia dengar suara dari seberang sana.
"Apa?." ekspresi wajah Mawangsa langsung berubah.
*******
Kembali ke kediaman Maya.
Bola mata Mawangsa langsung bergerak menatap kearah pintu depan kediaman Maya setelah dia membelokkan mobilnya dengan cepat kearah halaman rumah kediaman Maya, bisa dia lihat Elsa duduk di depan pintu rumah tersebut dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Hal tersebut membuat Mawangsa menghela panjang nafasnya untuk beberapa waktu.
"Apa lagi ini?," Laki-laki tersebut membatin, dia pikir kenapa Elsa selalu datang ke kediaman Maya belakangan ini.
Mawangsa terlihat memijat kepalanya untuk beberapa waktu kemudian dia mematikan mesin mobilnya lantas bergerak dengan cepat bergerak ke arah dimana Elsa berada.
Begitu dia sudah sampai di hadapan Elsa, di mana adiknya terlihat duduk sambil berdokukar kedua lututnya seketika langsung terkejut kehadiran Mawangsa, dia mendongakkan kepalanya dan membulatkan bola matanya dengan sempurna.
"Kak," Elsa tercekat.
"Bagaimana kakak bisa ada disini?." Elsa bertanya takut, berdiri dari posisi nya dan mencoba memundurkan langkahnya.
"Seharusnya kakak yang bertanya, kenapa kamu ada disini, Elsa?." Laki-laki tersebut balik bertanya sembari mengerutkankan kening nya, mempertanyakan hal tersebut kepada adik perempuannya.
Dia menatap wajah adiknya tersebut, bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Elsa saat ini bahkan bola mata gadis tersebut terlihat memerah sepertinya habis menangis betapa begitu sangat sedih seketika Hal itu membuat Mawangsa merasa bersalah.
"Aku....." Elsa terlihat menundukkan kepalanya, merasa takut dengan Mawangsa.
"Ibu mengusir ku dari rumah, jadi aku pikir ingin tinggal dengan kak Maya." Pada akhirnya dia menjawab secara perlahan, masih menundukkan kepalanya karena takut menatap kakak laki-laki nya tersebut.
Mawangsa terlihat diam, dia pikir lagi-lagi sifat buruk ibu nya muncul.
"Bawa barang-barang mu ke mobil." Pada akhirnya laki-laki tersebut bicara, dia meminta Elsa untuk mengangkat seluruh barang-barang nya ke mobil.
__ADS_1
Elsa sebenarnya tidak rela untuk pulang ke rumah mereka lagi karena baginya dia ingin tinggal bersama Maya saat ini tapi melihat Mawangsa menatapnya seperti itu dan memberikan perintah membuat dia seketika terdiam. Elsa terpaksa patuh dan menuruti perintah kakak laki-laki nya tesebut.
Dengan langkah gontai gadis tersebut pada akhirnya berusaha untuk menyeret tas miliknya secara perlahan menuju ke arah mobil Mawangsa, meskipun terasa berat dia memaksakan diri untuk tetap melakukannya.
Mawangsa terlihat menetap ke arah pintu rumah Maya di mana pintu itu jelas tertutup dengan rapat, laki-laki itu secara perlahan mengetuk pintu tersebut. Cukup lama dia melakukan ketukan hingga pada akhirnya pintu rumah tersebut di buka, Maya terlihat menatap tajam kearah dirinya.
Mawangsa menatap Maya yang menggunakan tongkat pada kakinya, dia pikir sepertinya kaki yang terkilir Kemarin cukup parah hingga membuat gadis dihadapannya harus menggunakan tongkat untuk berjalan.
"Apa kaki mu baik-baik saja?," Mawangsa bertanya dengan ekspresi khawatir.
Alih-alih peduli dengan pertanyaan Mawangsa, Maya malah berkata.
"Bawa kembali adik mu dan pastikan dia tidak kembali lagi kemari." Begitu cetus dan dingin cara Maya bicara,. membuat Mawangsa terlihat diam dan menatap dalam bola mata Maya.
Dia pikir gadis tersebut sudah sangat berubah saat ini, tidak lagi sehangat saat mereka masih bersama dulu. Maya seperti orang asing yang tidak dia kenali lagi.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku, apa kaki mu baik-baik saja?"
"Berhentilah sok perhatian pada ku Mawangsa, apa kamu lupa kita sudah bercerai dan tidak memiliki hubungan apapun saat ini," Maya terlihat mulai jengah dengan perhatian palsu Mawangsa.
"Aku harap setelah ini sesuai dengan status kita yang sudah bercerai, aku ingin seluruh keluarga kamu tidak lagu terhubung dengan ku dan tercerai berai tanpa harus mengganggu lagi ketenangan hidup ku." Lanjut Maya lagi kemudian.
"Maya."
"Jika tidak ada lagi kepentingan, pulanglah dan pastikan Elsa tidak datang membuat kekacauan atau mengganggu kehidupan tenang ku."
Dan setelah berkata begitu.
Brakkkkkkkkkk.
Maya menutup pintu dengan cara yang begitu kasar, dia merasa sangat muak tiap hari harus berhadapan dengan memangsa atau dengan orang-orang yang terhubung pada laki-laki tersebut itu membuatnya muak dan ingin sekali mengumpat.
Mawangsa terlihat mematung untuk beberapa waktu ketika dia menyadari jika Maya membanting pintu dan menutupnya dengan cara yang cukup kasar, ditambah lagi ekspresi wajah Maya yang seolah-olah berkata jika gadis tersebut sudah sangat muak bertemu dengan dirinya dan juga seluruh anggota keluarga nya.
Tidak tahu kenapa, hati Mawangsa terasa begitu sakit, tiba-tiba dia merasa Maya benar-benar membenci nya dan sekarang dia baru merasakan arti sebuah kehilangan. Dia seakan-akan merasa kehilangan sesuatu yang begitu penting didalam hidup nya.
*******
__ADS_1
Masih di kediaman Maya,
Pagi.
Gadis tersebut menggeliat pelan dari dalam tidurnya saat dia mendengar handphone nya terus berdering sejak tadi, masih dengan perasaan cukup mengantuk dia mencoba untuk membuka bola matanya dengan bersusah payah, meraih handphone nya secara perlahan mengangkat panggilan dari seberang sana.
"Halo?."
"Nona ini aku." Terdengar sahutan dari seberang sana, itu adalah sekretaris Maya.
"Hmm ada apa?."
"Ada berita bagus," perempuan di sebelah sana bicara dengan cepat, nada bicaranya penuh dengan semangat.
"Katakan." Maya mengernyitkan dahinya.
"Kita berhasil soal pinjaman yang di ajukan perusahaan, semua berjalan di luar rencana, mereka meng'acc berkas permohonan pinjaman perusahaan the Malaka company."
Begitu mendengar apa yang diucapkan sekretaris nya, Maya langsung membuka bola matanya dengan sempurna.
"Oh god, syukurlah." Maya jelas saja langsung menjawab dengan penuh kebahagiaan tidak menyangka jika semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Meskipun sempat ada drama karena orang lain yang ikut campur dalam urusan perusahaan nya, Ayunda dan Shinta. Pada akhirnya semua berjalan sesuai keinginan, ini sungguh luar biasa.
"Aku akan pergi keperusahaan sebentar lagi, kita bisa merayakan keberhasilan ini dengan minum kopi dan makan pagi bersama." Ucap Maya dengan penuh kebahagiaan.
*******
Disisi lain.
Ayunda terlihat mengeram penuh kemarahan, dia mencoba menghubungi Shinta dengan wajah yang dipenuhi kebencian dan kemarahan yang mendalam.
"Kau benar-benar sialan, karena membantu mu aku dan keluargaku harus tertimpa masalah serius," Ayunda terdengar membentak ke seberang sana, dia benar-benar benci dan kesal pada Shinta.
"Kau akan menerima pembalasan nya nanti saat aku sudah menyelesaikan semuanya huh." Setelah berkata begitu, dia menutup kasar panggilan nya, dan didetik berikutnya dia langsung mengeratkan rahangnya.
Dia pikir dia akan membuat perhitungan pada Shinta satu hari nanti.
__ADS_1