Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Mari melupakan masa lalu


__ADS_3

setelah Julian pergi dari ruangan Maya sejenak gadis tersebut duduk di kursi kerjanya sembari mencoba meminjam-mijar kepalanya untuk beberapa waktu, Maya pikir kepalanya cukup pusing memikirkan banyak hal belakangan ini belum lagi soal audio dan juga kejadian pagi tadi.


sejenak dia mahalan makasih untuk beberapa waktu kemudian dia mencoba untuk mengingat kejadian semalam.


apa aku telah kehilangan keperawanan ku?!.


gadis itu membatin di dalam hatinya, meskipun dia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian semalam tapi rasanya sangat sulit sekali sebab tidak ada sedikitpun sekelabat ingatan yang bisa mengarahkan dia pada ingatan soal semalam.


yang dia ingat hanya sedikit sepertinya dia bicara dengan seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengan Mawangsa, bicara ngelantur soal laki-laki tersebut yang tidak bisa berdiri dan tidak bisa memuaskan dirinya.


setelah itu dia sama sekali tidak memiliki ingatan sedikitpun soal apa yang terjadi berikutnya.


pada akhirnya Maya hanya bisa menghela kasar nafasnya, gadis tersebut buru-buru menyambar handphonenya kemudian dia mencoba mengirimkan pesan pada laki-laki yang bersamanya semalam dan pagi tadi.


*aku harap kau melupakan kejadian semalam, aku cukup mabuk marah dan melupakannya jadi kau juga harus melupakannya dengan cepat, kirimkan nomor rekeningmu dan aku akan memastikan untuk mengirimkanmu uang sebagai ucapan rasa terima kasih karena telah memuaskan ku semalam*


setelah dia menuliskan hal tersebut di atas handphonenya, Maya buru-buru mengirimkan pesan itu ke nomor telepon laki-laki asing semalam.


"aku pasti sudah gila"


batin Maya di dalam hatinya.


******


rumah sakit xxxxxxx


ruang kamar inap Shinta


setelah insiden jatuh dari tangga


Mawangsa terlihat cukup fokus merawat Shinta sejak tadi, dia memperlakukan perempuan tersebut dengan sangat hati-hati, merawat luka di kakinya namun dengan pemikiran yang cukup jauh melayang entah kemana.

__ADS_1


Shinta mencoba menelisik wajah mawangsa untuk beberapa waktu, perempuan itu menggolongkan senyumannya dan menata puas para laki-laki yang ada di hadapannya itu.


dia pikir sangat tidak sia-sia sandiwaranya untuk menarik mawangsa pulang dan memperhatikan dirinya.


di tengah keseriusan laki-laki itu merawatnya tiba-tiba handphone mawangsa berdiri, bola mata Shinta langsung melirik ke arah mangsa yang mengambil handphonenya dari atas nakas kecil di samping kasur di mana dia berbaring saat ini.


Mawangsa sejenak tidak bergeming, dia menerima sebuah pesan dari seseorang, awalnya dia pikir siapa namun begitu dia melihat isi dari pesan tersebut seketika mawangsa langsung bisa menebak siapa yang mengirimnya pesan.


bisa dilihat bagaimana ekspresi lagi-lagi tersebut saat ini, wajahnya seketika menjadi masam dan dia langsung mengerat kan rahangnya.


berani-beraninya.


Mawangsa mengeram didalam hati, buru-buru mematikan handphone kemudian meletakkannya kembali ke atas nakas.


dia pikir kekesalannya akan berakhir namun siapa tahu ketika Shinta menyalakan televisi suatu berita membuat dia semakin marah dan kesal.


seorang laki-laki mengumumkan soal hubungan percintaan Maya dan laki-laki tersebut.


kata-kata laki-laki tersebut cukup membuat nya jijik.


Shinta cukup terkejut menonton acara televisi yang ada dihadapan nya, dia mengembang kan senyuman licik nya lantas langsung melirik kearah Mawangsa, berharap laki-laki tersebut sadar jika hubungan mereka benar-benar telah berakhir.


"syukurlah akhirnya Maya menemukan kebahagiaan nya"


ucap Shinta penuh trik dan intrik.


setelah dia berkata begitu dia mencoba menelisik bola matamu Mawangsa, namun sayangnya laki-laki tersebut sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun, masa hanya terlihat diam sembari masih terus mengurus luka di kakinya.


pada akhirnya Shinta memutuskan untuk mematikan televisi, kemudian perempuan itu berkata.


"aku cukup lapar dan ini makan sesuatu sayang, bisakah kamu memesankanku makanan online? aku mohon jangan berikan aku makanan rumah sakit yang membosankan"

__ADS_1


ucap perempuan tersebut dengan cepat.


mendengar permintaan sang kekasihnya mawangsa terlihat menganggukkan kepalanya, dia pada akhirnya memesan makanan online sesuai dengan kemauan Shinta.


cukup lama mereka menunggu sembari kedua orang tersebut saling bercerita, namun yang terjadi berikut ini cukup mengejutkan Shinta, laki-laki itu memesan makanan yang bukan merupakan makanan kesukaannya.


"ini adalah makanan kesukaan mu, aku memesannya berdasarkan apa yang sering kamu tuliskan di dalam surat pena kita"


ucap Mawangsa cepat.


mendengar ucapan laki-laki itu sontak membuat Shinta langsung mengeluarkan ekspresi wajah masamnya.


Maya lagi ..Maya lagi...Maya lagi.


dia berteriak di dalam hatinya, rasanya perempuan itu ingin berteriak di hadapan memangsa jika dia adalah Shinta bukan Maya sialan itu.


seketika mood booster makannya serasa turun dengan drastis, tapi kemarahan terlihat tersulut dari dalam balik bola matanya, dan kecemburuan besar menghantam diri nya.


"kau tahu sayang aku tidak lagi menyukai makanan seperti dulu, selera makanku sekarang sudah mulai berubah setelah pasca koma ku selama 5 tahun ini"


Shinta bicara dengan cepat.


"mari melupakan soal kisah masa lalu pena kita, aku ingin kita menatap kedepan dan melupakan semua hal yang hampir aku lupakan"


Shinta bicara dengan cepat dengan wajah yang masih masam.


mendengar ucapan perempuan tersebut sejenak membuat mawangsa terdiam.


"aku menyukai makanan xxxxxxx"


Shinta mulai menyebutkan makanan kesukaan nya.

__ADS_1


alih-alih berdebat dengan perempuan yang ada di hadapannya itu pada akhirnya laki-laki tersebut hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan setuju.


__ADS_2