Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Mencari tahu soal masa lalu


__ADS_3

Disebuah ruangan kerja mendominasi berwarna putih dimana semua penataan ruangan tersebut terlihat begitu apik dan Indah, Mawangsa terlihat berdiri tepat di depan meja kerjanya.


Tangan kiri laki-laki tersebut menggenggam erat kertas yang ada di depan nya sedangkan tangan kanan nya masih menggenggam Handphone milik nya, sembari Mawangsa memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu laki-laki tersebut mengeratkan rahangnya, sejenak dengan jutaan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, Mawangsa terlihat melempar kan akte perceraian dirinya dan Maya kedalam kotak sampah.


"Aku dengar kecelakaan Shinta 6 tahun yang lalu ada kaitannya dengan Maya"


Sebaris pertanyaan tersebut meluncur dari balik handphone nya, itu adalah suara ayah Shinta.


Mawangsa pikir berita nya telah sampai ke telinga ayah Shinta hingga sejauh itu soal kecelakaan dimasa lalu.


Bagaimana bisa??.


"Apa kau tahu soal itu selama ini?"


Lagi ayah Shinta bertanya seolah-olah berusaha menekan nya.


Mawangsa mengeratkan rahangnya.


"iya, ini ada hubungannya dengan Maya"


dia menjawab sambil berusaha menahan gejolak dihatinya.


Mawangsa Begitu sulit ditebak, ekspresi yang di timbulkan berupa kemarahan atau rasa bersalah, laki-laki tersebut hanya menampilkan rahangnya yang saling beradu untuk beberapa waktu..


"Kau tahu? Aku paling tidak suka sesuatu yang buruk terjadi pada putri kesayangan ku, jadi berhati-hatilah lah dan awasi pandangan mu, jika tidak aku tidak segan-segan untuk bertindak lebih cepat dari perkiraan mu"


Ayah Shinta berusaha untuk memperingati dirinya.


"Yah paman, jangan khawatir kan soal apapun, aku akan melindungi Shinta dan memastikan dia baik-baik saja"


Setelah menjawab pertanyaan dari ayah Shinta, Mawangsa mematikan handphone nya.


Tidak lama kemudian laki-laki tersebut pribadinya, begitu sang asisten nya masuk ke ruangan kerjanya Mawangsa berkata.

__ADS_1


"cari kan aku sesuatu yang bersangkutan dengan kejadian kecelakaan 6 tahun yang lalu"


setelah berkata begitu, Mawangsa langsung membuang pandangannya, dia membalikkan tubuhnya secara perlahan kebelakang.


"baik tuan"


sang asisten nya menjawab sambil menundukkan kepalanya secara perlahan.


******


Maya sejenak berdiri menatap gedung yang menjulang tinggi dihadapan nya tersebut, memilih tidak Bicara dengan jutaan pemikiran didalam kepalanya.


Dia ingat betul dimasa lalu tempat ini menjadi tempat nya hilir mudik nyaris setiap hari, dia akan datang ke perusahaan tersebut demi bisa bertemu dengan laki-laki yang begitu dia sayangi.


orang-orang bilang ayah adalah cinta pertama para anak gadis nya, dan Maya jelas begitu mencintai ayahnya tanpa terkecuali.


tapi dimasa 6 tahun yang lalu semua nya berubah, dia kehilangan orang yang begitu dia cintai tersebut dan benar-benar merasa terluka.


"Bergerak lah sesuai rencana"


ucap Maya kemudian kepada Julian dan Dave, bola mata nya menatap bergantian dua laki-laki disampingnya tersebut.


Ini adalah kesempatan besar nya untuk menangkap siapa yang telah menjebak ayah nya dimasa lalu, memang tidak gampang untuk melakukan nya tapi ini jelas akan menjadi salah satu jalan nya untuk membersihkan nama baik keluarga mereka.


Julian dan Dave bersedia membantu nya untuk membuka kedok kasus penipuan pencurian dana dimasa lalu, dengan cara masuk menjadi pemegang saham baru di perusahaan tersebut Maya akan menggunakan 51% saham milik nya yang dia peroleh dari Kakek nya untuk melangkah dan berdiri di perusahaan dimana dia baru saja melangkah kan kaki meninggalkan perusahaan tersebut tadi.


Maya bersumpah akan menemukan kebenaran atas peristiwa yang terjadi pada 6 tahun yang lalu, menyeret para pelaku yang menjebak ayah nya dan menghancurkan keluarga mereka hingga ke akar-akarnya tanpa sisa.


"Jangan khawatir soal apapun, kami akak bergerak perlahan untuk membantu mu hingga titik penghabisan"


ucap Dave sambil mengembangkan senyuman nya.


mendengar ucapan Dave membuat Maya mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


"sekarang kita Mulai dengan mencari pakaian yang terbaik untuk dirimu, seorang pemegang saham baru harus memiliki barang berkelas layak nya seorang wanita kelas atas yang sesungguhnya"


Dave bicara lantas mengulurkan tangannya kearah Maya.


mendapatkan ajakan seperti itu, Maya terlihat menaikkan ujung alisnya.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"


Tanya Maya kemudian.


melihat keraguan di hati Maya,  seketika membuat Julian terkekeh kecil.


"Kamu selalu menganggap sesuatu yang penting terlihat berlebihan sayang, itu baik untuk penampilan mu, saat ini penampilan mu memang cantik tapi sedikit kurang elegan"


ucap Julian kemudian.


Mendengar ucapan Julian seketika Maya ikut tertawa kecil.


"Yeah baiklah, aku memang buruk soal penampilan"


Jawabnya lantas dia membalas uluran tangan Dave yang menunggunya sejak tadi.


Pada akhirnya disini lah mereka saat ini, disebuah toko pakaian dengan merk brand ambassador terbaik di kota mereka, seperti sepasang kekasih yang membuat banyak orang iri, Dave dengan setia menemani Maya dalam memilih kan pakaian yang terbaik untuk penampilan nya sedangkan Julian menjadi sang pemilik mata yang terus memberikan pendapat atas pakaian pilihan nya.


Namun siapa sangka ditengah-tengah kesibukan mereka dalam memilih pakaian, suara seseorang mengejutkan dirinya.


"Wah...wah wah... rupanya sang pelacur murahan membawa dua gigolo dan pelakor nya untuk menghabiskan uang Mawangsa di tempat seperti ini"


Maya jelas terkejut saat mendengar suara wanita yang jelas tidak asing lagi di telinga nya, dia membulatkan bola matanya saat menatap sosok seseorang yang kini telah berdiri angkuh dihadapan nya sembari menepuk-nepuk tangannya dengan gaya yang pongah.


cihhhh kamu lagi rupanya.


Batin Maya tidak percaya. 

__ADS_1


__ADS_2