
Mawangsa mengerutkankan keningnya, cukup kecewa saat dia tahu Maya tidak mengenali suaranya bahkan telah menghapus nomor handphonenya. Dia jelas membedakan antara suaranya dan suara ketika dia menjadi bebek, dan dia benar-benar menggunakan suara aslinya saat ini juga menggunakan nomor handphone yang aslinya tapi nyatanya perempuan itu malah bertanya siapa dirinya.
"Ini siapa?," Maya kembali mengulangi pertanyaannya pada dirinya, ingin tahu siapa yang menghubunginya.
Mawangsa terlihat menghela panjang nafasnya untuk beberapa waktu, dia pada akhirnya berkata.
"Ini aku." Ucap Mawangsa pelan.
"Mawangsa." Maya cukup terkejut saat tahu siapa yang menghubungi.
"Aku merasa mendengar kejutan pada hari ini ketika kamu menghubungiku secara tiba-tiba." Suara ejekan terdengar dengan jelas dari seberang sana, di mana Maya terlihat terkekeh kecil pada saat ini.
Mendengar apa yang diucapkan Maya dan juga kakehannya membuat Mawangsa sejenak terdiam, kemudian pada akhirnya laki-laki itu berkata.
"Soal ibu, maafkan aku," sungguh tidak enak hati saat dia mengatakan hal tersebut di mana seolah-olah kalimat yang dia ucapkan sebuah permohonan agar Maya memaafkan ibunya saat ini dan tidak memperpanjang persoalan yang akan menjadi keruh dan rumit.
"Hahahaha aku sudah bisa menebaknya jika kamu menghubungiku karena memiliki sebuah keinginan demi tindakan ibu mu yang sangat mengerikan." Maya benar-benar mengejeknya.
"Seharusnya ibu juga tahu diri sebelum dia datang ke rumahku dan membuat kekacauan, mestinya dia berpikir dua tiga kali untuk mendatangi ku. Ditambah lagi apa kau lupa dan ibu juga lupa jika kita sudah mencerai?, pada dasarnya semua orang yang telah bercerai tidak saling mengganggu antara satu dengan yang lainnya." bisa dia dengar kalimat penuh kemarahan dari Maya di seberang sana dimana gadis tersebut terlihat sangat geram dengan kelakuan ibunya. Mungkin Maya terpaksa melampiaskan kekesalannya terhadap ibunya kepada dirinya atas kebodohan dan kelakuan ibunya tersebut.
"Maya, aku-,"
"Kam laki-laki yang berpendidikan bukan?, bahkan kamu memiliki segalanya, seharusnya kamu lebih memperhatikan ibumu dengan baik, jika tekanan darahnya tinggi bawalah dia ke dokter spesialis darah tinggi, jika dia mengalami stres karena keadaan maka bawalah ke dokter psikologi atau psikiater,"
"Dan katakan padanya kita sudah bercerai Mawangsa, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, seharusnya hidupku sudah sangat tenang sekali tanpa pernah lagi terlibat dengan urusan keluarga kalian." Maya bener-bener lepas kontrol, karena itu dia mengucapkan hal-hal tersebut kepada Mawangsa, bisa laki-laki tersebut dengar betapa gadis tersebut merasa sangat marah dan kesal sekali saat ini.
Dan demi apapun kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Maya cukup menyinggung perasaan Mawangsa seolah-olah gadis tersebut memang ingin melepaskan diri dari mereka dan benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan dirinya.
__ADS_1
"Ibumu yang katanya juga berpendidikan nyatanya sangat tidak beretika, mulutnya sangat mengerikan dan bahkan dia lebih terlihat rendahan daripada wanita perempuan malam." kembali gadis itu bicara seperti itu.
Mawangsa seketika merasa Maya benar-benar sudah lepas kendali saat bicara, hingga pada akhirnya dia berkata.
"Kamu tidak seharusnya bicara seperti itu terhadap ibu, bagaimanapun dia tetap pernah menjadi ibu mertua mu."
"Oh ayolah Mawangsa, apa kau tahu bagaimana cara ibu bicara padaku pada pagi hari ini?, bahkan dia mengatai aku yang tidak-tidak, kau bisa bicara dan mempertanyakannya pada Elsa, atau kamu mau aku mengirimkan rekaman cctv-nya?. Cihhh bagaimana caranya aku bersihkan sopan dan santun kepada ibumu jika dia saja tidak pernah bersikap baik padaku bahkan dimulai sejak kita menikah selama 6 tahun ini, aku begitu tersiksa hidup bersama ibumu. Tapi aku selalu mencoba untuk menjaga etika dan sopan santun, menjaga akal warasku,tapi pagi ini wanita itu yang kamu sebut ibu sudah bicara melampaui batasannya." ini untuk pertama kalinya Mawangsa mendengar seorang Maya membantah ucapannya, tidak lagi menjadi patuh seperti dulu saat Maya menjadi istrinya.
Mungkin benar apa yang dikatakan Maya, ibunya sudah sangat keterlaluan memperlakukan gadis tersebut dan seolah-olah dia ingat bagaimana cara mereka memperlakukan Maya selama 6 tahun pernikahan mereka.
"Maya aku-,"
Klikkkk.
"Halo, Maya?."
Oh shi-t, Mawangsa mengumpat didalam hatinya, tanpa aba-aba gadis tersebut mematikan panggilannya secara sepihak. Laki-laki tersebut meletakkan handphonenya secara perlahan ke atas meja kemudian dia memijat-mijat kedua pelipisnya untuk beberapa waktu.
Seketika Mawangsa stress dan bingung dengan semua keadaan.
*******
Rumah sakit xxxxxxx.
"Apa semua terasa lebih baik?." Mawangsa bertanya pada Shinta, ketika dia duduk tepat dihadapan Shinta.
Alih-alih menjawab wanita tersebut memeluk nya dengan cepat.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Mawangsa." Ucap Shinta sambil memeluk erat tubuh laki-laki tersebut.
"Hmmm, berbaring lah dengan baik." Mawangsa sama sekali tidak menjawab ucapan Shinta, dia meminta perempuan tersebut untung kembali membaringkan tubuhnya dengan baik.
Shinta secara perlahan patuh.
"Aku dengar ibu mendatangi kediaman Maya?." Perempuan tersebut bertanya soal nyonya Dina.
"Hmm." Mawangsa menjawab seadanya, dia hanya melebarkan senyumannya untuk beberapa waktu.
Melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Mawangsa membuat Shinta cukup gelisah, dia pikir Mawangsa sepertinya benar-benar masih mengharapkan Maya. Dia mengeram sambil mencengkram erat telapak tangannya.
"Aku harus memiliki cara untuk melenyapkan gadis sialan itu secepatnya." Dia membatin.
Membiarkan Maya tetap hidup jelas akan merusak keinginan nya bersama Mawangsa.
"Apa kamu sudah menemukan identitas laki-laki bertopeng itu yang menculik Shinta?." Ini Shinta bertanya, dia duduk di sudut ruangan terlihat sibuk mengupas buah.
"Belum, Bu." Jawab Mawangsa pelan.
"Ini cukup membuat ku takut jika kamu belum menemukan pelakunya, aku yakin ini pasti perbuatan Maya, dia pasti memendam dendam pada ku." Shinta sengaja bicara seperti itu, mengompori Mawangsa agar membenci Maya.
"Jangan menuduh yang tidak-tidak, Maya sama sekali tidak terlibat dalam penculikan mu, Shinta." Laki-laki tersebut terlihat pusing dengan tuduhan demi tuduhan yang dilayangkan semua orang kepada Maya, dia hanya berusaha untuk bicara tentang kenyataan jika Maya sama sekali tidak terlibat pada penculikan Shinta.
"Aku yakin orang lain yang melakukannya dan aku sedang menyelidikinya." Lanjut laki-laki tersebut lagi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh mawangsa jelas saja membuat ibu Shinta marah besar, wanita tersebut langsung berkata.
__ADS_1
"Apa kamu sedang mencoba untuk membela mantan istrimu itu?, dari segi apapun dan dari aspek apapun dia pasti terlibat dalam penculikan tersebut dan dia begitu iri kepada Shinta, bagaimana bisa kau lebih memilih untuk membela perempuan sialan itu ketimbang calon istrimu sendiri." Wanita tersebut mulai marah dan menatap kesal kearah Mawangsa.
Laki-laki tersebut seketika hanya bisa menghela kasar nafasnya.