
Didalam kegamangan Maya, perempuan itu menatap Mawangsa yang masih tergeletak pingsan di atas ranjang, dia masih menimbang Apakah harus mengganti celana laki-laki yang pernah menjadi suaminya tersebut atau tidak. Apakah dia akan membiarkan Mawangsa menggunakan celana basah yang basah nya, atau dia menggantinya saat ini juga.
Hingga pada akhirnya setelah kegemangan panjang yang menghantam dirinya, perempuan itu memutuskan untuk mengganti celana Mawangsa. Suka tidak suka dia pikir dia harus melakukannya karena jika tidak dia takut Mawangsa akan semakin mendapatkan demam yang tinggi dan itu akan semakin menyulitkan dirinya juga.
dia tidak ingin laki-laki tersebut terlalu lama di kediamannya, menghubungi salah satu keluarga Mawangsa Maya pikir malah akan semakin menyulitkan dirinya, menghubungi Shinta jelas saja dia tidak sudi, bukan karena dia takut dan lain sebagainya terhadap perempuan tersebut melainkan dia jijik dan benar-benar berpikir tidak ingin lagi bertemu dengan perempuan itu dan juga keluarganya.
jangan keputusan Maya adalah berada di titik finalnya untuk mengganti celana laki-laki tersebut saat ini dengan caranya sendiri.
******
Disisi lain,
Kediaman Hertanto.
di sebuah ruangan mendominasi berwarna putih terlihat leher televisi sejak tadi mengeluarkan gambar dan suaranya, suasana di sana cukup nyaman, hanya terlihat layar televisi yang terus mengeluarkan gambarnya dengan suara yang tidak kencang, suaranya seolah-olah sengaja dipelankan agar tidak mengganggu siapapun yang ada di ruangan tersebut secara berlebihan.
di depan televisi tersebut di atas kursi sofa ruang tamu, sepasang suami istri tampak menikmati teh dan kopi mereka, tidak ada obrolan sama sekali yang terjadi karena sang perempuan sibuk dengan kegiatannya begitu juga dengan laki-laki tersebut yang tidak lain adalah tuan Hertanto dan nyonya Dina.
__ADS_1
Laki-laki tersebut duduk di dalam ruangan tamu bersama istrinya di mana sang istri tanpa sibuk membolak-balikkan majalah yang ada di tangannya. Tuan Hertanto pada akhirnya sengaja mematikan televisinya secara perlahan di mana bisa dilihat sang istrinya sama sekali tidak terganggu dengan keadaan tersebut mengingat nyonya Dina cukup fokus dengan majalah yang ada di tangannya saat ini.
Tuan Hertanto terlihat memperhati kan wajah istrinya dengan sesama untuk beberapa waktu, meneliti wajah wanita tersebut dari mata, hidung, bibir, dagu bahkan dari bagian samping wajah wanita tersebut.
Ada sebuah kegamangan yang terjadi di balik wajah laki-laki tua tersebut saat ini di mana dia seolah-olah sedang berpikir dengan keras akan sesuatu.
"Bu," pada akhirnya tuan Hartanto mulai membuka suaranya, dia memanggil wanita tersebut dan menunggu sang istrinya menetap ke arah dirinya dan melepaskan konsentrasinya pada majalah yang ada di tangannya tersebut.
Nyonya Dina langsung menoleh ke arah suaminya sembari mengerutkan keningnya dia menutup majalah yang ada di hadapannya tersebut kemudian bertanya.
"Ada apa? apakah ada masalah yang terjadi? aku lihat wajah ayah tidak baik-baik saja," wanita tersebut pada akhirnya bertanya seolah-olah dia memahami betul bagaimana wajah gelisah suaminya.
Tuan Hartanto pada akhirnya kembali bicara dan menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut.
"Tidak kah kamu merasakan nya?," tanya laki-laki tersebut dengan tiba-tiba.
"Soal?,"nyonya Dina jelas aja mengerutkan keningnya semakin mendalam, dia tidak paham apa yang dimaksud oleh suaminya tersebut saat ini.
__ADS_1
pertanyaan yang dilontarkan membuat dia sedikit bingung dengan keadaan.
"Mungkin aku sedikit berlebihan tapi aku pikir tidakkah kamu menyadarinya jika wajah Maya terlihat mirip denganmu?," kali ini nada suara tuan Hartanto jelas terdengar begitu serius dan gelisah, di mana laki-laki itu berpikir sejak pertemuan terakhirnya dengan Maya, dia baru menyadari tentang sesuatu jika wajah perempuan itu cukup mirip dengan istrinya dari berbagai macam sudut.
Nyonya Dina terlihat diam mendengar ucapan suaminya tersebut, dia terlihat berpikir sejenak hingga pada akhirnya wanita tersebut berkata.
"He em aku baru menyadarinya saat pertemuan malam kemarin, tapi aku mencoba untuk menepisnya dan tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak." pada akhirnya wanita tersebut bicara secara perlahan dia meletakkan majalah yang ada di tangannya atas meja dan mata nya serius menatap ke arah suaminya tersebut.
"ketika kita bicara dengan serius soal Shinta, menatap wajah anak itu kemarin membuatku sedikit khawatir dan cukup penasaran ." wanita tersebut kembali melanjutkan kata-katanya dalam sedikit keadaan cemas, di mana bola matanya tidak lepas menatap ke arah suaminya tersebut.
dia juga merasakannya jika wajah Maya memiliki sedikit kesamaan dengan dirinya entahlah dia tidak tahu apakah sedikit atau banyak karena dia tidak berani menebak lebih jauh lagi dan hal itu cukup membuatnya gelisah kemarin, dia tidak ingin mengatakannya pada sang suaminya karena dia takut dianggap gila oleh Hertanto nantinya hingga hari ini dia masih ingin mencari tentang keberadaan putrinya yang dia yakini putrinya tersebut pasti masih hidup.
karena di masa lalu mereka sama sekali tidak menemukan mainan dari Putri mereka melainkan tiba-tiba dinyatakan hilang dan tanpa kabar sama sekali, meskipun pihak kepolisian telah dikerahkan nyatanya dia sama sekali tidak bisa mendapatkan informasi soal putrinya bahkan suaminya tidak berhasil mendapatkan informasi tersebut dari pihak bermuazim atau bahkan mendapatkan titik terang dari sisa pencarian yang terjadi di masa lalu.
dia nyaris gila masa itu bahkan berpikir apakah mungkin dia akan dijebloskan ke rumah sakit jiwa mengingat kondisi psikis yang kala itu sangat buruk sekali. tapi untungnya support dari suaminya yang baik membuat dia sedikit mendapatkan kesadaran di Bali ke histerisannya kehilangan Putri mereka kemudian mereka mendapatkan Shinta untuk dijadikan Putri mereka sebagai pengganti putri kandung mereka.
Mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya membuat laki-laki tersebut terlihat diam dia menatap wajah nyonya Dina untuk beberapa waktu dan keheningan terjadi di antara mereka. Entahlah apa yang dipikirkan oleh Tuhan Hartanto saat ini tapi yang jelas lagi-lagi tersebut terlihat mengencangkan pegangannya dan seolah-olah tengah memikirkan sesuatu di dalam pikiran dan juga hatinya.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang aku ucapkan, aku pikir hari cukup malam sebaiknya pergilah beristirahat." dan laki-laki tersebut pada akhirnya berkata seperti itu pada istrinya, dia mencoba tidak lagi membahas soal wajah yang mirip antara Maya dan istrinya, dia cukup takon jika istrinya akan memikir kan hal yang tidak tidak.
Alih-alih ingin melanjutkan pembicaraan mereka pada akhirnya dia mengembangkan senyumannya dan membiarkan istrinya beranjak pergi menuju ke arah kamar mereka.