
Kediaman utama Keluarga umbrella.
Saat polisi menggeret tuan Hertanto dan menggelandang nya ke kantor polisi, bayangkan bagaimana ekspresi nyonya Hertanto.
"Tidak, apa yang terjadi? pak....pak polisi, ada apa ini?," wanita itu jelas saja histeris, bertanya tidak percaya ketika suaminya di seret paksa untuk masuk ke dalam mobil polisi ketika mereka tengah menikmati makan bersama.
Dia sama tidak tahu apa yang salah pada suaminya, yang jelas polisi datang, memberikan surat perintah kemudian menangkap suaminya itu.
"Pa ada apa ini?,"
"Suami anda tertangkap karena berusaha mencelakai nyawa seseorang, membuat kekacauan, menghancurkan pembangunan perusahaan lain, mencoba untuk memanipulasi perusahaan lain dan membuat kerugian besar pada perusahaan the Malaka company," salah satu polisi menjadi dengan cepat pertanyaan dari wanita yang ada di hadapannya tersebut.
Mendengar apa yang diucapkan oleh sang polisi seketika membuat nyonya Hertanto terkejut.
"Apa? Malaka company?," dia jelas saja bertanya dengan nada tidak percaya.
"Ini berdasarkan laporan dari rubah putih, dia mengirim banyak informasi di kantor polisi dan bukti-bukti kecurangan suami anda nyonya."
"Rubah putih?," nyonya Hertanto semakin terkejut mendengar nama rubah putih disebutkan.
wanita itu masih ingin bicara tapi polisi tidak lagi mengamini diri nya, meletakkan suaminya kata semoga kemudian mereka bergerak dengan cepat pergi dari sana.
Shinta yang ingin menangis seketika langsung memeluk ibunya.
"Ibu..apa yang terjadi?," dia bertanya bingung saat ini ketika ayahnya ditangkap oleh polisi.
"Ini karena ulah Maya, perempuan sialan itu benar-benar membawa sial di dalam keluarga kita," ibunya berteriak penuh kemarahan saat tahu ini adalah perbuatan Maya.
Mendengar nama Maya, jelas saja membuat Shinta menjadi berang dan marah.
"Dia benar-benar sialan, seharusnya dia mati dengan cepat sehingga tidak perlu menyusahkan keluarga kita." ucap Shinta dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Shinta, pergilah temui Mawangsa dan minta laki-laki itu untuk membantu ayahmu keluar dari penjara," Nyonya Hertanto memerintahkan putrinya untuk segera pergi saat ini juga mencari alternatif dan juga menjadi cara untuk membebaskan suaminya .
"kita harus bergerak dengan cepat jika tidak semuanya akan hancur dan kacau balau, saham perusahaan bisa anjlok saat semua orang tahu ayahmu berada di penjara," lanjut wanita itu lagi kemudian.
"Ibu tidak tahu siapa rubah putih, tapi ibu yakin dia pasti orang yang cukup berpengaruh dan berbahaya, minta Mawangsa bicara pada rubah putih dan bebaskan ayah mu." perintah wanita itu lagi kemudian.
Shinta langsung mengganggukan kepalanya begitu mendengar permintaan ibunya, dia tahu saat ayahnya masuk ke dalam penjara itu akan berpengaruh pada kepemimpinan ayahnya, lihat aku hal tersebut benar-benar akan menghancurkan situasi.
Tanpa berpikir lama dia bergegas bergerak menuju ke area bagasi, meraih kunci mobilnya dan bergerak dengan cepat menuju ke kediaman Mawangsa.
********
Kediaman keluarga Heri Jaya.
Mawangsa yang baru saja turun dari mobilnya sejenak menatap ke arah teras rumah, dimana bisa dia lihat ibunya dan Shinta tengah bicara serius bersama, laki-laki tersebut mengehela kasar nafas nya sembari menarik dasi kerjanya, bergerak turun dari mobilnya dengan perasaan enggan, mau tidak mau melesat masuk menuju ke arah teras rumah dan ke dalam rumah.
Shinta yang menyadari kepulangan Mawangsa langsung berhamburan memeluk laki-laki tersebut dan mengeluarkan air mata buayanya meminta calon suami nya untuk membantu membebaskan ayahnya.
"Sayang aku mohon sesuatu yang buruk terjadi pada ayah, lakukan sesuatu untuk membebaskan ayah saat ini karena jika tidak aku takut kedudukan ayah akan lengser dan mempengaruhi saham keluarga umbrella." perempuan tersebut memohon dengan teramat sangat, meminta kepada mawangsa untuk menyelamatkan ayahnya.
"Bantu untuk menghubungi rubah putih, dia yang membuat laporan dan membuat ayah tertangkap, aku tahu kamu bisa melakukannya dan bisa membuat ayah ku keluar dari penjara, bantu membujuk rubah putih untuk berdamai dan bernegosiasi." Shinta terus memohon kepada laki-laki tersebut agar Mawangsa membantu ayah nya.
Bola mata Shinta menatap Mawangsa dengan penuh harapan, membiarkan bola mata mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya.
Nyatanya Mawangsa malah menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata.
"Maafkan aku Shinta, menghubungi rubah putih sama saja dengan menunjukkan kelemahanku kepada dia, bisa jadi dia akan menekanku karena satu hari nanti karena berusaha untuk menyelamatkan paman, aku tidak mungkin menjatuhkan diriku di hadapan berubah putih." laki-laki itu bicara dengan cepat ke arah Shinta, sama sekali tidak bisa membantu perempuan di hadapan nya tersebut.
Shinta yang mendengar ucapan Mawangsa langsung terlihat sedih, Shinta pada akhirnya menundukkan kepalanya, dia menangis dan berkata.
"Maafkan aku, seharusnya aku memikirkan nya, aku akan mencari cara lain untuk membebaskan ayah."
__ADS_1
Shinta benar-benar merasa kecewa atas jawaban yang diberikan oleh laki-laki tersebut, dia langsung meraih tas nya dan bergegas pergi dari sana, memetik rasa kekecewaan yang besar terhadap Mawangsa. sebenarnya masih berharap laki-laki tersebut mengejar dan meminta maaf padanya, nyatanya Mawangsa sama sekali tidak mengejar langkah nya.
Elsa yang sejak tadi mengintip dari dalam rumah dibalik jendela kaca, langsung keluar dan bertanya pada kakaknya.
"Kenapa tidak mengejarnya dan membantunya, kak?," gadis itu bertanya penasaran.
Alih-alih menjawab, Mawangsa langsung masuk kedalam rumah, bergerak menuju ke lantai atas ke arah kamarnya.
"Aku tidak perlu melakukannya," jawab Mawangsa pelan, ada sesuatu yang disimpan di balik kalimatnya tersebut, dan dia memiliki alasan tersendiri kenapa tidak berniat untuk membantu ayah Shinta.
"Melihat Shinta seperti itu, aku penasaran kenapa kakak jatuh cinta padanya?," tiba-tiba saja Elsa bertanya pada Mawangsa, ingin tahu kenapa kakak laki-lakinya jatuh cinta kepada Mendengar pertanyaan Elsa.
Mawangsa yang bergerak menuju ke kamar nya, baru akan memutar handle pintu kamar langsung menghentikan gerakan tangannya. dia diam sejenak kemudian menatap kearah adiknya tersebut.
"Entahlah, dulu aku jatuh cinta dengannya karena saat berkirim surat dia merupakan wanita yang begitu hangat dan pengertian, tidak lebay dan juga manja, tapi ketika kami berada di dunia nyata, dia seperti orang asing yang sama sekali tidak aku kenali," jawab laki-laki tersebut sembari menatap dalam bola mata adiknya.
"Aku sama sekali tidak mengenali dan semua perasaan itu kini menghilang bagaikan angin." lanjut Mawangsa lagi kemudian.
Elsa mengerutkan keningnya.
"Jadi kakak tidak lagi mencintainya sekarang? lalu bagaimana dengan kak Maya?" gadis tersebut bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Alih-alih menjawab apa yang dipertanyakan oleh Elsa, laki-laki itu langsung membuang pandangannya, memilih untuk diam kemudian memutar handle pintu kamarnya secara perlahan. Dia lebih suka diam dan tidak memberikan jawaban nya secara langsung.
Mawangsa langsung menutup pintu kamar nya, menyandarkan tubuhnya secara perlahan ke daun pintu, dia mendongak kan kepala nya kemudian mencoba memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu.
Yah perasaan itu sebenarnya kemarin perlahan menghilang dan kini dia sadar semua benar-benar sudah menghilang, dia merasa Shinta bukan orang yang dia kirimi surat dulu, terlalu berbeda dan benar-benar tidak sama. Apapun yang dia kenal soal sahabat pena nya, tidak ada satupun yang dimiliki Shinta.
Dia berpikir melepaskan nya tapi Mawangsa butuh waktu untuk membuka sesuatu saat ini, dia masih butuh waktu untuk memastikan sesuatu, dia masih harus membuat dirinya terlibat dengan keluarga umbrella karena dia sedang berusaha menyelidiki sesuatu yang terus menghantuinya selama ini.
Apakah mungkin kecurigaan nya akan terbongkar sesuai harapan nya.
__ADS_1