Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Selalu menyakiti nya


__ADS_3

setelah meminum jus mangga yang ada di hadapannya shinta terlihat mengembangkan senyumannya di hadapan Mawangsa.


Laki-laki itu balik mengembangkan senyumannya kemudian dia terlihat berbicara dengan ayah Shinta.


Cukup lama waktu berlalu hingga Sinta merasa tiba-tiba leher nya seolah-olah tercekik sesuatu saat ini, bisa dia rasakan tubuhnya gemetaran dan dia berpikir dia butuh tempat untuk beristirahat saat ini juga.


dengan cepat perempuan tersebut berkata ke arah mawangsa.


"Aku harus segera pergi ke toilet"


Bisik nya pelan sambil menahan perasaan tidak menentu ditubuhnya.


Mawangsa langsung mengangguk kan kepala nya, dia mengabaikan Shinta dan kembali kearah calon ayah mertua nya Tersebut, mereka melanjutkan obrolan mereka tentang bisnis yang akan mereka jalani.


kembali terlihat obrolan serius di antara mereka berdua di dalam pesta yang masih berlanjut tersebut, sesekali Mawangsa terlihat menganggukkan kepalanya atau menggengkan kepalanya sembari dia menunggu Shinta kembali dari toilet duduk di sampingnya


Disisi lain Shinta terlihat berjalan cukup kepayahan menuju ke arah toilet, dia pikir seperti yang mungkin dia akan roboh dan pingsan saat ini juga.


melihat gelagat dan ekspresi Shinta, sang ibu nya jelas dengan cepat langsung mengejar langkah putrinya tersebut yang berjalan kepayahan menuju ke arah toilet.


begitu wanita tua tersebut mendekati tubuh putrinya dia langsung membantu putrinya untuk berjalan menuju ke arah toilet sembari mengoceh.


"Ada apa dengan kamu ini? apa kamu ingin cari mati, Shinta?"


Ibu nya mulai kehilangan kesabaran nya, terlihat begitu marah saat menyadari keadaan putri kesayangan nya tersebut.


"Ibu aku pikir aku butuh dokter saat ini juga"


Ucap Shinta sambil berusaha berpegangan pada ibunya, bola mata nya saat ini terasa berputar-putar, dia pikir dalam hitungan detik dia pasti akan roboh saat ini juga dan di tempat tersebut.


"Ibu segera Carikan aku dokter, dan aku mohon jangan sampai Mawangsa tahu soal keadaanku"


Ucap Shinta lagi.


Bayangkan betapa paniknya ibu Shinta saat ini, dia ingin kembali marah dan mengoceh namun tiba-tiba satu hal yang tidak terduga terjadi.


Brakkkkkkk.


"Shinta"


Wanita itu berteriak dengan nada tertahan saat dia sadar putrinya kini jatuh tumbang tidak sadarkan diri.


"Ya Tuhan...."


Dia jelas histeris, mencoba menghubungi dokter dengan cepat, meminta bantuan seseorang disana untuk membawa putrinya menuju ke ruangan yang berbeda.

__ADS_1


entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan mendominasi berwarna putih, di sana seseorang membaringkan Shinta di atas kursi sofa.


Bisa dilihat seseorang tengah memeriksa perempuan tersebut dengan seksama.


Cukup lama ibu Shinta menunggu, hingga akhirnya laki-laki berusia sekitar 45 tahunan tersebut selesai memeriksa putrinya.


"Apa dia baik-baik saja?"


ibu Shinta secepat kilat bertanya kepada laki-laki tersebut.


"Apa hal buruk terjadi?"


tanya nya sekali lagi.


Mendengar pertanyaan dari wanita tua tersebut seketika membuat dokter laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.


"Nyonya, bukankah Shinta dan anda sudah tahu jika Shinta alergi makan buah mangga? kenapa Nona muda masih nekat untuk mengkonsumsinya?"


tanya laki-laki tersebut dengan nada sedikit keberatan, dia pikir apakah perempuan itu ingin cari mati saat ini karena dengan beraninya mengkonsumsi buah Mangga, padahal jelas-jelas perempuan itu alergi terhadap buah tersebut.


Ibu Shinta terlihat diam sambil memejamkan bola matanya.


*****


Disisi lain


sesekali bola matanya melirik ke arah belakang dia pikir apakah terjadi sesuatu yang buruk terhadap perempuan tersebut, sebab ini jelas telah melewati 20 menit dari di mana perempuan itu berkata untuk pergi ke toilet.


pada akhirnya karena dia merasa gelisah laki-laki tersebut mulai berpamitan dengan calon ayah mertuanya itu, Mawangsa berjalan dengan cepat menuju ke arah toilet di mana seharusnya Shinta berada.


namun belum juga dia sampai ke tujuannya tiba-tiba saja dia melihat calon ibu mertuanya berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah dirinya.


"Ibu, dimana Shinta?"


Mawangsa jelas langsung bertanya cepat kearah wanita tua tersebut.


mendapat pertanyaan seperti itu dari Mawangsa jelas saja membuat wanita itu sedikit panik, tapi dia berusaha untuk menetralisir perasaannya serta ekspresinya agar tidak dicurigai oleh memangsa.


Jika mau wisata apa yang terjadi pada Sinta dan jika dia tahu putrinya itu alergi pada buah mangga maka habislah sudah putri nya.


pada akhirnya perempuan tersebut berkata.


"Shinta cukup kelelahan karena padatnya jadwal menjelang pesta hingga malam ini, dia memilih untuk pergi pulang dan beristirahat lebih dulu"


mendengarkan ucapan calon ibu mertuanya membuat mawangsa mengerutkan keningnya, dia pikir itu agak aneh karena Shinta tidak pergi dengan berpamitan lebih dulu atau mengirimnya pesan singkat lewat WhatsApp.

__ADS_1


"Kamu kembali lah juga, ibu pikir kamu juga pasti merasa lelah"


Ibu Shinta kembali bicara.


pada akhirnya mendengar wanita tersebut berkata seperti itu, alih-alih mawangsa mau memperpanjang pertanyaan, dia pada akhirnya mengangguk kan kepala nya, memilih untuk menyetujui usulan dari wanita yang ada di hadapannya tersebut kemudian dia menundukkan kepala secara perlahan untuk pamit.


Mawangsa pada akhirnya melangkah menjauh dari sana, dia bergerak menuju ke arah area parkiran.


begitu tiba di area parkiran dia langsung masuk ke dalam mobilnya, laki-laki tersebut secara perlahan memilih menyandarkan tubuhnya di kursi mobil tersebut.


sejenak mawangsa memejamkan bola matanya, realitanya dia cukup lelah dengan keadaan ini , namun ketika dia memejamkan bola matanya tiba-tiba dia ingat dengan Maya ketika muncul di pesta di mana gadis tersebut berdampingan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.


mawangsa langsung membuka bola matanya kemudian dia melirik ke arah asistennya.


"Coba kamu periksa siapa laki-laki yang ada di samping Maya tadi"


perintah mawangsa cepat.


asisten nya jelas langsung mengerutkan keningnya, dia pikir cukup aneh tuannya masih ingin mengetahui soal mantan istrinya.


pada akhirnya laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya, dia dengan cepat mengambil tablet miliknya dan mengetik sesuatu di sana, tidak butuh waktu begitu lama laki-laki tersebut bergerak sesuai dengan perintah hingga akhirnya dia menoleh ke arah mawangsa.


"Dia adalah Dave Kenan, laki-laki tersebut lahir di salah satu kampung yang cukup terpencil dan jauh dari ibukota, dia cukup kompeten dan pintar semasa di kuliahnya, beberapa orang berkata Nona Maya membiayai semester kuliahnya hingga selesai dan tanpa diduga laki-laki tersebut kini menjadi seorang model dan juga seorang aktor yang sangat terkenal di sebuah agensi dengan bayaran yang mahal"


Laki-laki tersebut bicara cepat bicara mawangsa.


"Dan Ada yang berkata kini laki-laki tersebut membantu nona Maya untuk naik ke sebuah perusahaan besar dan menjadi pemegang saham di perusahaan tersebut"


lanjut laki-laki itu lagi.


mendengar ucapan sang asistennya sejenak mawangsa terlihat diam, laki-laki tersebut sama sekali tidak menjawab atau merespon balik ucapan asistennya itu.


alih-alih membuka suaranya, Mawangsa memilih untuk mengeluarkan sesuatu dari kantong celana yang digunakannya, sebuah cincin kini berada di dalam genggamannya.


itu adalah cincin pernikahan dirinya dan Maya.


"Cincin itu dibeli nona Maya sendiri pada saat pernikahan kalian, tuan"


Sebaris kalimat itu pernah dia dengar dari asistennya.


dia baru sadar jika selama ini dia terlalu banyak menyakiti Maya, padahal gadis tersebut tidak pernah meminta apapun dari dari nya selama 5 tahun pernikahan mereka.


Bahkan tidak pernah Maya memperlakukan dirinya dengan buruk meskipun dia memperlakukan gadis tersebut dengan sangat buruk selama ini.


belum lagi betapa baiknya gadis tersebut memperlakukan neneknya hingga membuat dia berpikir kenapa di masa lalu dia berlaku seburuk itu kepada Maya.

__ADS_1


laki-laki itu secara perlahan memejamkan bola matanya kembali.


__ADS_2