Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Perempuan tidak tahu malu


__ADS_3

Bayangkan bagaimana perasaan Shinta ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh Heru, bahkan temannya tampak ternganga dan kaget saat mendengar Heru berkata dengan sangat terus terang soal Shinta.


"Kau... bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada temanmu sendiri?." teman Shinta terlihat begitu marah dia benar-benar ingin sekali rasanya mencari gara-gara dengan Maya atau Heru.


"Kau terlihat sangat lucu sekali, kamu terlihat sangat membela Shinta seolah-olah dia adalah Dewi untuk dirimu." Maya bicara mengejek ke arah perempuan tersebut.


"Yakkkk apa kau tidak sadar Heru? Kau dan Mawangsa berteman dengan baik bagaimana bisa kau menyukai wanita yang telah diceraikan oleh temanmu sendiri, itu artinya yang kamu dapatkan barang bekas dan juga di mana rasa malumu terhadap Mawangsa." Shinta langsung memotong ucapan semua orang dia terlihat berapi-api dan juga sangat kesal sekali dengan semua keadaan yang terjadi.


dia pikir apapun yang dikatakannya selalu saja Maya atau Heru memiliki jawaban hingga membuat dia kehilangan kata-katanya.


"Seharusnya kau cukup malu berhadapan dengan Mawangsa ketika kau ingin berkencan dengan mantan istrinya, kau hilir mudik ke tempatnya setiap saat dan bahkan terkadang kalian sering melakukan banyak hal bersama lalu bagaimana kau bisa menikah memangsa dan mengambil mantan istrinya?." kali ini nada suaranya terlihat sangat meninggi di mana dia ingin sekali rasanya memukul Heru atau menjambak Maya yang ada di hadapannya.


Mendengar apa yang diucapkan Shinta, jelas saja membuat Maya mendengus dan dia menatap tidak percaya ke arah perempuan tersebut.


"kau bagaimana bisa sangat tidak tahu malu?" Maya bertanya pada Shinta sembari mengernyitkan dahinya.


"Bisa-bisa nya kamu mengatakan Heru adalah sahabat mawangsa dan merebut mantan nya? apa kau lupa diri atau kau pura-pura lupa atau kau memang tidak punya urat malu sama sekali tentang hubungan kita sebelumnya? kau dan aku adalah teman baik di masa kuliah bahkan kita tinggal satu kamar dan bahkan apapun yang aku lakukan kau tahu termasuk soal Mawangsa adalah orang yang pernah dekat denganku meskipun hanya melalui selembar surat?." Kini Maya bener-bener harus mengatakan semuanya, dia pikir bagaimana di dunia ini ada perempuan tidak tahu malu seperti Shinta.


"Kau adalah sahabat baikku dulu dan kau adalah orang yang tahu betul dengan keadaanku begitu juga sebaliknya aku, kau menikamku dari belakang seolah-olah kau tidak menyukai Mawangsa tapi realitanya kau cinta mati kepada dirinya bahkan hingga hari ini kau menikung ku diam-diam bahkan setelah hampir mati pun kau merebut mantan suamiku yang saat itu belum menjadi mantan ku sama sekali." Maya bicara dengan nada ditekan dia langsung melotot tajam ke arah Shinta, mencoba mensejajarkan dirinya dan Shinta, membuat perempuan di hadapannya tersebut cukup terkejut sembari menelan salivanya.


"Apa?"


"aku cukup terkejut pernah memiliki teman yang sangat tidak tahu malu sepertimu bahkan kotoran anj_ing pun tidak se mengerikan dirimu, Shinta." Lanjut gadis tersebut lagi kemudian.


Dia tidak akan pernah lagi mengalah pada perempuan yang ada di hadapannya tersebut dan kepalang basah kenapa dia harus takut untuk bicara soal kenyataan tentang keburukan Shinta. Baginya perempuan itu jelas sangat menjijikan dan tidak tahu malu dan dia cukup menyesal kenapa dulu pernah berteman dengan perempuan yang seperti itu.


Mendengar hal tersebut teman Shinta cukup terkejut dan Shinta jelas cukup kehilangan kata-katanya.


Maya mencoba untuk beranjak membawa Heru untuk pergi dari hadapan Shinta, sangat puas sekali saat dia bisa mengatakan hal tersebut di hadapan perempuan tidak tahu malu itu. Dia pikir ini saatnya dia pergi dan tidak usah lagi memperpanjang persoalan karena jika perempuan itu tahu malu maka seharusnya Shinta tidak lagi ingin membuat masalah dengannya.


Namun belum sempat diam beranjak dari sana bersama Heru tiba-tiba saja suara seseorang membaca keadaan.

__ADS_1


"Wow daebak, rupanya ada nona Maya di sini?." Itu adalah Ayunda dia berjalan bergerak mendekati semua orang, dia bersama seorang perempuan bergerak mendekatinya.


Sengaja mengambil posisi bersejajarkan dirinya pada Maya, menatap tajam ke arah gadis tersebut sembari berkacak pinggang.


"Aku dengar kau terlibat penculikan yang terjadi kepada temanku Shinta?" perempuan itu bicara dengan tidak tahu malu berusaha untuk mengintimidasi Maya.


"Kau harus minta maaf kepada Shinta karena kau telah membuatnya terluka dan berencana untuk membunuh nya, jika tidak mungkin kami semua akan menaikkan kasus ini ke pengadilan." Terlalu sok tahu dengan keadaan, dia bicara dengan terlalu percaya diri sembari terus berusaha untuk mengintimidasi Maya.


Alih-alih takut Maya malah mendengus kasar saat mendengar ucapan dari Ayunda.


"Bagaimana kau bisa begitu percaya diri berpikir jika aku yang merencanakan penculikan Shinta, Ayunda?." tanya Maya dengan nada tidak kalah ditekan, dia berkacak pinggang balik di hadapan perempuan tersebut sembari menatap tajam ke arah Ayunda.


"Sebelum kau memintaku untuk meminta maaf kepada teman terbaikmu tersebut, kau yang seharusnya memikirkan tentang keselamatanmu lebih dulu." Dan tiba-tiba saja ucapan Maya membuat Ayunda cukup membulatkan bola matanya.


"Apa?."


"Kau yang mengakibatkan pinjaman di perusahaan kami terhambat dan kau membuat beberapa bank melakukan penagihan secara paksa,aku masih memiliki sedikit toleransi untuk membuatmu bernafas dengan tenang saat ini."


"Jadi daripada kau terlalu sibuk mengurusi urusan Shinta dan aku, sibuklah pada urusanmu sendiri karena aku sedang tidak dalam kondisi main-main saat ini tentang perbuatanmu kepada perusahaanku."


Heru yang mendengar Maya bicara dengan penuh kepastian jika pelaku yang membuat kesulitan pada keuangan perusahaan the Malaka jelas saja langsung terkejut dan dia pikir bagaimana bisa Maya berkata begitu yakin atas segala hal. Karena jika mayat telah berkata dengan penuh keyakinan itu artinya tidak meleset lagi Ayunda adalah pelaku utamanya.


"Apa yang kau katakan?." Teman Shinta dan Ayunda bicara dengan cepat sembari menata tidak percaya apa yang diucapkan oleh Maya.


"Hati-hati dengan ucapanmu karena itu hanya akan menyeretmu ke penjara karena tuduhan palsu." teman Ayunda dan Shinta menganggap apa yang diucapkan oleh Maya adalah bualan yang belakang jadi mereka jelas tidak percaya.


Alih-alih menjawab ucapan kedua perempuan tersebut, Heru lebih suka membawa Maya menjauh dari sana karena baginya lawan mereka terlalu banyak dan dia sebagai seorang laki-laki tidak pantas untuk memukul seorang perempuan dalam rasa kesalnya kepada Ayunda, Shinta juga teman-teman mereka.


Maya sebelum beranjak berkata.


"Hati-hati atas tiap langkahmu."

__ADS_1


Ayunda terlihat begitu kesal dan dia berusaha untuk ingin kembali membentak Maya dan menariknya agar gadis tersebut tidak pergi dari hadapan mereka namun tiba-tiba handphonenya berdering hingga membuat Ayunda mengurungkan niatnya.


Perempuan itu buru-buru mengangkat panggilannya seiring menjauh nya Maya dan Heru sedangkan Shinta cukup kehilangan kata-kata atas apa yang diucapkan Maya.


"Halo?." dia bertanya.


"Ma, ada apa?" rupanya yang menghubunginya adalah ibunya.


Ayunda terlihat mengeringkan keningnya untuk beberapa waktu di mana bisa didengar kemarahan dari arah seberang sana.


"Kau...anak tidak tahu diri, apa yang telah kau lakukan pada keluarga kita? apa kamu buat masalah dengan seseorang? kau benar-benar.... bagaimana bisa saat ingin melakukan sesuatu kamu tidak menggunakan otakmu dengan baik, kau tahu keluarga kita saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja atas ulah bodoh mu Ayunda." suara ibunya terdengar penuh dengan kemarahan sembari membentak dirinya dengan perasaan kesal.


"Apa?." Ayunda jelas saja terkejut dan tercekat.


"Mama bicara apa?."


"kau tahu seseorang melaporkan kita dan semua dimulai dari apa yang kau lakukan, kau benar-benar sudah gila karena sok menjadi pahlawan untuk orang lain." kali ini suara ibunya terdengar berteriak histeris dari arah seberang.


"Papa mu ditangkap polisi atas tindakan itu, sekarang pulang ke rumah secepatnya dan selesaikan ini semua, kau membuat keluarga kita akan dipenjara, kau benar-benar anak yang tidak menggunakan kepalamu dengan baik saat ingin melakukan sesuatu Ayunda."


"Apa? ma, wait, tunggu-"


Klikkkk.


Tuttttttttt.


tuttttttttt.


tuttttttttt.


Dan belum sempat Ayunda bicara tiba-tiba panggilannya langsung terputus begitu saja, dan bisa dilihat wajah Ayunda langsung pucat pasi saat ini, dia menatap ke arah Shinta dan teman-temannya.

__ADS_1


"Oh shi-t, ini benar-benar gila aku tidak akan membuat masalah lagi dengan Maya kau benar-benar membuatku berada dalam keadaan yang terdesak Shinta." Dan Ayunda bicara dengan nada tertahan, dia bingung harus berkata apa, melesat pergi meninggalkan semua orang tanpa berpikir dua tiga kali.


__ADS_2