Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Gengsi gede-gedean


__ADS_3

Kini, semua sudah duduk di tempat masing-masing. Sebuah ballroom hotel bintang lima sudah disulap dengan suasana pesta yang hangat untuk mengenang masa-masa kuliah yang sudah tahunan yang lalu mereka lewati.


Tapi tidak lagi hangat karena rengekan Gendis yang menganggu di telinga Eser. Dari tadi istrinya itu minta dikenalkan dengan Bastian, teman seangkatan yang tadi berani menggagalkan niatnya mencium Gendis.


Eser lupa, kalau Bastian beberapa kali juga pernah menjadi pembicara seminar di kampus istrinya itu.


"Phi, ayolah! Sekali foto saja, pasti teman-teman yang sering merendahkanku akan terdiam seketika." Gendis mencoba merayu suaminya.


"Tidak, pengen temanmu diam dan tidak memandang rendah kamu lagi, cukup tunjukkan siapa suamimu. Reaksi mereka tentu jauh lebih tidak terduga. Kalau suami sendiri lebih keren, kenapa harus menggunakan orang lain?" Eser monowel hidung Gendis dengan gemas, hingga membuat sang istri seketika terdiam.


Semua itu tidak luput dari perhatian Ozge, Vivian dan Bastian. Ozge berdiri, tidak tahan dengan apa yang dilihatnya. Pria itu memutuskan pergi meninggalkan Vivian begitu saja.


Semakin malam, acara semakin panas, Vivian yang mengira saingannya hanya Gendis harus berusaha ekstra lagi begitu bastian keluar menjemput Prita, teman satu angkatan mereka yang juga mantan dari Eser, sama seperti dirinya.


Sepertinya Bastian sang penggagas acara, memiliki kuasa yang lebih pada pengaturan acara. Dia sengaja memanggil Prita dan Eser naik ke panggung, sekedar mengingatkan kembali bahwa kedua orang yang mereka saksikan saat ini adalah idola di kampus pada jamannya.


Hal itu tentu sedikit membuat Gendis tidak nyaman. Vivian menggunakan kesempatan itu untuk mengacau pikiran Gendis. "Apa kamu yakin, suamimu sesetia itu? Di antara semua wanita yang pernah hadir di dalam hidupnya, hanya kamu yang nampak sangat sederhana."


Gendis berusaha melempar senyuman setenang mungkin sembari menatap ke atas panggung dengan tegar. "Aku percaya penuh pada suamiku."


Eser tampak tidak tenang di atas panggung, dia hanya sedang berusaha terlihat biasa saja dan cuek. Dia tahu tatapan Gendis padanya, bukan tatapan biasa.


Bastian ikut mendekati Gendis. Sesungguhnya dia penasaran, bagaimana seorang Eser Sevket berani berkomitmen dalam pernikahan dengan seorang perempuan yang masih terlihat seperti gadis kuliahan itu.


Secara fisik, jelas pilihan Eser tidak salah. Gendis bisa menarik perhatian siapa pun laki-laki yang memandangnya. Tapi selain itu, tentu ada hal lain yang membuat Eser berani menyudahi kesempatannya untuk berpetualang.


Pemandu acara terdengar menantang Eser dan Prita melakukan dansa. Keraguan jelas seketika nampak di wajah Eser.


Vivian dan Bastian kompak menatap Gendis yang terlihat santai memandangi suaminya dengan senyuman tipis.

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua melihatku? Kalian berharap aku berdiri dan Menarik paksa suamiku turun dari sana? Tentu saja tidak akan." Gendis menjawab dengan santai, lalu meneguk segelas minuman sampai tandas.


Mendengar ucapan Gendis, Vivian hanya mencebikkan bibirnya. Sedangkan Bastian menjadi semakin penasaran dengan Gendis. Dia semaqqkin mendekatkan bangkunya pada Gendis.


"Apa lagi?" Tanya Gendis begitu to the point.


"Apa kamu tidak cemburu sama sekali? Suamimu berdansa dengan mantan pacarnya." Bastian menegaskan pertanyaannya sembari menunjuk tangannya ke panggung.


Ya, Eser melakukannya. Seorang Eser, tentu akan memilih menjaga gengsinya, meski dalam hati dia sedang berharap dia tidak mendapatkan hukuman apapun dari sang istri. Dia tidak mengharapkan itu terjadi. Tapi dia tidak mau dianggap takut terbawa perasaan jika menolak dansa itu. Sama sekali dia tidak memiliki rasa apapun lagi pada Prita.


"Cemburu? Kamu benar-benar penasaran dengan siapa yang lebih pencemburu di antara kami? Kenapa tidak mengajakku berdansa juga? Bukankah yang lain banyak yang bergabung bersama mereka?" Gendis mengulurkan tangannya pada Bastian dengan tatapan yang amat tajam, membuat pria itu tidak kuasa menolak.


Eser mengernyitkan keningnya. Langkahnya sudah kacau, beberapa kali dia menginjak kaki Prita, dia melihat Bastian menuntun Gendis mendekati panggung. Setelah sejajar dengan posisinya, pria itu memegang pinggul Gendis dengan santai.


Gendis baru saja mau meletakkan tangannya di pundak Bastian, tapi tangan Eser buru-buru menepisnya. "Ini tidak lucu, Mhi." Suaranya tertahan tapi penuh kekesalan.


"Es, ayolah! Lihat yang lain juga melakukannya." Bastian mencekal lengan Eser.


"Kita pulang, Mhi. Aku mengajakmu ke mari, bukan untuk membuatmu menarik perhatian temanku," Ingat Eser dengan egoisnya dia menarik tangan Gendis.


Bastian mengernyitkan keningnya, dia bisa merasakan betapa cengkraman tangan itu pastilah kuat dirasakan Gendis. Dia bahkan belum memulai apa pun, tapi Eser sudah menghalangi niatnya untuk mengetahui kelebihan istri mantan casanova itu lebih banyak.


Gendis mengikuti saja langkah lebar Esar tanpa mengucapkan protes. Perempuan itu tahu persis bagaimana sang suami kalau dipancing rasa cemburunya.


"Jangan pergi sebelum meminum satu gelas kehormatan dariku, Es." Prita berlari mengejar Eser dan Gendis sembari membawa segelas minuman beralkhohol untuk mantan kekasihnya itu.


Eser hendak menerima, tapi tangan Gendis lebih cekatan untuk menerimanya. "Biar aku saja yang mewakili."


Gendis sudah mendekatkan bibir gelas ke mulutnya tapi Eser menyahut gelas itu, dan mengembalikannya pada Prita. Lalu buru-buru mengajak Gendis melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa kalau sedang hamil, Mhi?" Eser memencet hidung Gendis dengan gemas.


"Seperti kamu yang lupa sudah punya istri saat berdansa di atas sana. Kamu pikir karena aku tersenyum. Jadi semua baik-baik saja? Aku ini perempuan, Phi. Punya perasaan juga. Aku juga bisa cemburu." Gendis menjawab tegas namun lirih.


"Kalau cemburu bilang dong, Mhi. Kan aku seneng. Berarti, Mhiu memang cinta sama aku."Eser malah semakin menggoda Gendis.


Tiba di lobby, Eser dan Gendis langsung disambut oleh Vivian. "Syukurlah, Es, aku boleh menumpang tidak? Mamaku kambuh, aku harus segera kembali ke rumah sakit. cowok yang bersamaku tadi sudah pulang lebih dulu.


Eser menatap Gendis, hanya ingin meminta persetujuan. Dia sendiri yakin, untuk alasan kebaikan, istrinya tentu tidak akan menolak.


Saat mobil Eser sudah di depan lobby, tanpa menunggu persetujuan. Vivian masuk ke dalam mobil bagian depan begitu saja.


"Biar aku yang kemudikan, Phi." Gendis mengambil posisi kemudi. Secepat kilat, Vivian berpindah ke jok belakang di samping Eser.


Gendis yang kepalang tanggung sudah memasang seatbelt langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Eser memajukan duduknya, memegangi pundak Gendis sembari mengusap-usapnya lembut. Vivian hanya bisa mendengus kesal dalam hati, karena tidak berhasil juga menarik perhatian Eser. aaaa


"Rumah sakit mana, Kak?" Tanya Gendis dibuat seramah mungkin pada Vivian.


Perempuan itu menyebut nama rumah sakit di mana mamanya berada. Karena tidak terlalu jauh dari lokasi, tidak sampai 30 menit, mereka sampai di lobby rumah sakit yang dimaksud.


"Es, bisa antar aku sampai ke ruangan mamaku, tidak? Aku agak takut kalau berjalan sendirian semalam ini di koridor rumah sakit," pinta Vivian dengan manja.


"Antar saja, Phi. Kalau nggak di antar bisa-bisa kita malah nginep di sini," sahut Gendis dengan cepat.


"Kamu ikut saja, Mhi. Jangan sendirian di mobil, aku lebih tidak tenang." Eser turun dari mobil, diikuti oleh Vivian.


Gendis pun ikut turun. Ketiganya berjalan menuju lorong lift yang beroperasi selama 24 jam. Beberapa kali tangan Vivian hendak menggandeng tangan Eser, tapi pria itu berhasil menepisnya.


Sampai di depan ruangan rawat mamanya Vivian. Ketiganya kompak berhenti.

__ADS_1


"Sebentar, Es." Vivian membuka pintu ruangan itu hati-hati. Seperti dugaannya, sang mama belum juga tidur.


"Vi? Sama siapa kamu? Ajak masuk," ucap perempuan itu sembari menaikkan bantalan brankarnya.


__ADS_2