Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Nonton bioskop


__ADS_3

"Ken, maaf, kamu duluan saja. Aku ada keperluan mendadak." Gendis mundur dua langkah dari mobil Ken. Kini, dia bersandar tepat di pintu mobil Eser.


"Tidak mengapa, aku bisa mengantarkan ke mana pun kamu mau," paksa Ken.


"Tidak usah, Ken! Kamu duluan saja, ini aku pesan taksi online. Ada sesuatu yang penting, sangat pribadi." Bola mata Gendis masih mencari keberadaan Eser.


"Ya sudah, aku duluan. Besok kita ketemu lagi, Jangan lupa bawa nasi goreng trasi." Ken melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobilnya.


Setelah memastikan mobil Ken menjauh, Gendis pun mengelus dadanya karena lega.


"Minggir." Eser tiba-tiba muncul menepuk pundak Gendis.


Gendis mencebikkan bibirnya. "Bisa tidak sedikit manis pada perempuan?"


"Lihat-lihat perempuannya. Coba kamu lembut sedikit, pasti aku lebih manis. Sudah sana masuk!" Eser melewati Gendis, sengaja menyenggolkan bokongnya dengan kuat, membuat Gendis terhuyung sesaat.


"Jangan protes, hanya mulut dan tangan yang tidak boleh menyentuh bukan? masih ada bagian tubuh yang lain." Eser tersenyum licik masuk ke dalam mobilnya.


Gendis menghentakkan kakinya, memutari kao depan mobil dan masuk ke dalam mobil.


"Mau kemana, Mhiu?" tanya Eser.


"Mau ke tempat kursus mengemudi mobil."


"Kamu bener-bener cepat memanfaatkan keadaan. Baru sebentar menjadi nyonya Eser Sevket, kamu langsung bergerak menaikkan kemampuan dan kekayaan diri." Eser melirik Gendis sekilas, lalu melajukan mobilnya perlahan menjauhi area parkir kampus.


"Tentu saja, aku harus bergerak cepat. Aku sudah kehilangan hakku untuk menolak. Menikah denganmu bukanlah pilihan, tapi sebuah paksaan. Setidaknya, aku harus memastikan kalau aku tidak terlalu rugi. Aku tidak tahu berapa lama pernikahan ini akan bertahan. Tapi aku akan memastikan hidupku dan Damar terjamin apapun yang terjadi nanti." Gendis menatap Eser dengan berani.


"Kita akan bertahan, karena sumpah kita bukan main-main. Tidak peduli apa pun masalahnya, janji di hadapan Tuhan harus kita taati. Aku memang brengs3k, tapi ketika aku sudah mengambil sumpah. Aku tidak akan main-main."


"Semoga ucapanmu bisa dibuktikan, Phiu. Setahuku, kamu memiliki banyak perempuan. Bisa setiakah kamu hanya pada satu perempuan ini? Kita lihat saja nanti." Gendis menunjuk dirinya sendiri.


Eser hanya diam, percuma berdebat. Dia hanya akan membuktikan kalau dirinya tidak seburuk pikiran Gendis. Tapi tidak lama kemudian, Eser teringat akan sesuatu.

__ADS_1


"Satu lagi, aku bukan bapak gulamu. Kulitku masih kencang, aku masih kuat berlari keliling lapangan kampus, bahkan dua kali putaran sambil menggendongmu tanpa sesak napas, dan aku juga sangat tampan. Jangan sampai aku mendengarmu mengatakan pada orang lain kalau aku sudah kisut."


Gendis hanya tersenyum santai mendengar protes dari Eser.


.


.


Kini, mereka sudah sampai di tempat kursus mengemudikan mobil. Gendis turun sendiri, sementara Eser menunggu di dalam mobil. Sesungguhnya, Eser memang tidak terlalu senang berinteraksi dengan banyak orang.


Menjadi Dosen, hanyalah pengadian dan satu caranya agar awet muda. Tentu saja karena terus bertemu dengan mahasiswi-mahasiswi yang masih belia. Tapi setelah Gendis lulus, dia akan memutuskan untuk berhenti.


Gendis tidak terlalu lama berada di dalam kantor jasa kursus, setelah membayar dan membuat jadwal. Dia pun langsung kembali ke mobil suaminya.


"Mau kemana lagi?" Eser bertanya seolah dia adalah seorang driver.


Gendis menjawab dengan menyebut sebuah nama bank swasta ternama.


"Aku ingin membuka rekening baru, prioritas juga seperti kamu. Aku ini Nyonya Eser Sevket, apa jadinya kalau orang tahu, semua rekening prioritas atas nama suami. Lagi pula nanti kalau selingkuhanmu jahat dan tidak tahu diri, hidupku bisa sengsara karena tidak ada aset atas namaku." Gendis menjawab dengan lugas tanpa basa basi.


Eser menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu sibuk dengan dirimu. Jangan lupa mengurusku juga."


"Tenang saja, makan tiga kali sehari akan kulayani. Urusan yang lain pun hayuk, aku tidak akan menolak. Selama perjanjian dipegang, mau di mobil, mau seperti kemarin di dapur, atau nanti mau di ruang tamu juga hayuk." Gendis seperti tanpa beban saat mengatakannya.


Eser mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak tahu harus berbuat apa. Bagi Gendis, semua masih dijalani sebatas kewajiban saja . Sungguh, Eser menginginkan hubungan yang mengalir. Yang dijalani dengan sebuah perasaan bernama cinta.


Hampir satu jam Eser menunggu Gendis di parkir ground salah satu gedung bank ternama. Akhirnya Gendis muncul juga. Anehnya, Eser tidak banyak mengeluh atau pun merasa lama.


"Kita pulang," ajak Gendis.


"Siapa bilang? Sekarang giliranmu yang mengantar aku. Kita nonton." Eser kembali melajukan kendaraannya menuju bioskop yang ada di dalam sebuah mall.


"Phiu, orang kaya kan biasanya punya home theater sendiri di rumah. Kenapa harus di bioskop?"

__ADS_1


"Kalau di rumah tidak ada seninya, Mhiu. Kayak tidak pernah ke bioskop saja. Atau jangan-jangan memang tidak pernah," ledek Eser.


"Pernah, Phiu. Tapi tidak sering. Uang masuk sana bisa aku belikan empat bungkus nasi untuk makan sehari bersama Damar. Itu pun bioskop yang murahan. Kalau yang mahal, entahlah. Tidak pernah. Dulu Ken selalu mengajak, tapi aku menolak." Gendis mulai sedikit terbuka.


Eser mengeraskan suara musik dari tape yang ada di dashboard mobilnya. Dia sama sekali tidak tertarik mendengar cerita Gendis yang berhubungan dengan pria lain.


Setelah sampai, Eser menyuruh Gendis berjalan di depannya. Karena istrinya itu tidak mau berjalan beriringan.


Eser tentu saja memilih bioskop dengan fasilitas Velvet Class, di mana mereka serasa sedang tiduran di rumah. Ini adalah kali pertama Gendis masuk ke dalam bioskop dengan fasilitas seperti ini.


Setelah ada panggilan film akan segera dimulai, Gendis dan Eser ke dalam ruangan. Karena tidak pernah, dengan terpaksa Gendis memegang lengan Eser. Membuat suaminya itu tersenyum senang.


Eser dan Gendis menempati bagian belakang sendiri. Tempat duduk yang hampir mirip-mirip dengan springbed itu berjejer dua-dua lengkap dengan bantalnya.


Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa, di saat bersamaan Ozge juga datang bersama Jia. Gendis seketika berpikir keras. Karena masih lekat diingatannya, kalau perempuan itu adalah Gia. Perempuan yang tadi siang bercinta dengan dosen pembimbingnya dan mempunyai rencana licik untuknya.


Gendis melepas alas kakinya dan naik ke sofa bed, pikirannya bertambah lagi sekarang, karena dia teringat, Ozge baru membatalkan pernikahannya beberapa hari yang lalu. Tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Dan kini, Ozge malah sudah bersama perempuan lain, bahkan perempuan itu terkesan sangat mengumbar kemesraan.


Eser hanya melirik arah tatapan Gendis dengan ekor matanya. Gendis tampak tidak bisa mengalihkan pandang dari mantan calon suaminya itu.


Ozge tidak kalah kaget saat melihat ada Gendis dan juga Eser di sana. Tapi dia mencoba pura-pura biasa saja. Ozge malah membuat dirinya semakin mesra dengan Jia.


Di tengah seru-serunya film yang diputar, gerakan Jia dan Ozge yang bercumbu dengan semakin mengganggu konsentrasi Gendis, yang sesekali memang melirik mereka.


Hati istri Eser itu sakit, merasa semua memang hanya permainan. Baik Ozge dan Eser sama-sama mempermainkannya. Tapi, tanpa Gendis sadari, dia menggenggam tangan Eser dan meremasnya kuat. Seolah menyalurkan kegelisahan di sana.


Eser memberanikan diri merangkul dan merengkuh pundak Gendis dalam pelukannya. "Kita mulai lembaran baru, Mhiu. Lupakan prosesnya. Kita bisa memperbaiki dan membawa hubungan kita menjadi lebih baik."


...Bioskop Velvet Class...



__ADS_1


__ADS_2